May 26, 2009

Pilihlah dengan Bijaksana

Dua ekor katak tinggal di kolam yang sama. Saat kolam itu dikeringkan di bawah udara panas pada musim panas, mereka meninggalkannya dan berangkat bersama-sama untuk mencari rumah lain.

Saat mereka pergi, mereka kebetulan melewati sebuah sumur dalam yang diisi cukup banyak air, dan saat melihatnya, salah satu katak itu berkata pada katak satunya: “Ayo kita turun dan kita tinggal di dalam sumur ini, kerena sumur ini akan memberi kita tempat perlindungan dan makanan.”

Katak satunya menjawab dengan lebih hati-hati: “Tetapi andai air sumur itu habis, bagaimana lagi kita bisa keluar dari tempat sedalam itu?”

Jangan lakukan apa pun tanpa memperhitungkan konsekuensinya.

(FABLES, AESOP, ABAD ENAM SEBELUM MASEHI)

Di saat krisis seperti sekarang ini, seringkali kita mendapatkan tawaran yang kelihatannya menggiurkan. Banyak tawaran-tawaran yang sepertinya menguntungkan dan memberikan hasil yang besar. Biasanya tanpa pikir panjang kita menerimanya.

Apalagi menjelang masa kampanye pilpres seperti sekarang ini, semua capres/cawapres menjual janji-janji yang menarik. Semuanya menawarkan janji-janji surga yang meninabobokan.

Tawaran-tawaran tersebut ibarat sebuah sumur yang banyak airnya. Bila kita berpikir pendek, sepertinya itu adalah sebuah solusi yang masuk akal. Tetapi sekali lagi, sebelum benar-benar Anda lakukan, pikirkan dulu risiko atau konsekuensinya.

Betulkah apa yang ditawarkan sesuai dengan yang dijanjikan? Selidiki dulu dengan seksama karena apa yang kita pilih akan menentukan nasib kita ke depannya.

Hanya sebagai informasi, selama hampir 5 tahun terakhir, pemerintah kita tercinta sudah menghabiskan anggaran sampai 3000 triliun rupiah.

Hasilnya? Hutang luar negeri semakin menumpuk, penjualan asset negara dan kekayaan alam kepada pihak asing terus berlanjut, angka kemiskinan terus meningkat, jurang antara kaya dan miskin semakin lebar dan dalam, pembangunan infrastruktur macet, tidak ada jalan tol baru, transportasi amburadul, dimana-mana macet, pasokan listrik dan energi tersendat-sendat, harga BBM naik turun seperti yoyo, dan klimaknya hanya bagi-bagi BLT dengan dalih membantu rakyat miskin.

Hutang luar negeri yang semakin menumpuk ibarat sumur yang banyak airnya. Sekilas bisa memberi perlindungan dan bantuan untuk BLT rakyat miskin. Tetapi andai air sumur itu habis, bagaimana kita bisa keluar dari jeratan hutang tersebut? Ujung-ujungnya, rakyat kecil yang tetap menjadi korbannya.

Jadi, jangan gegabah dalam memilih. Kata hati saja tidak cukup, dibutuhkan logika dan pemikiran yang mendalam. Jangan sampai kita terjebak masuk ke dalam sumur seperti yang hampir dilakukan oleh kedua katak dalam cerita di atas, karena begitu kita terperosok, butuh waktu lama untuk keluar dari sumur tersebut, itu pun kalau bisa keluar.

Sudah cukup kita terperosok 32 tahun dalam sebuah sumur tua bernama Orde Baru. Apakah kita mau terperosok lebih lama lagi? Semua tergantung pilihan Anda.

No comments: