May 29, 2016

Preview Film: Green Room (2016)


Di antara sejumlah film blockbuster yang menguasai layar lebar bulan ini, sebenarnya terselip satu film horror-thriller berjudul Green Room yang terlalu menarik untuk dilewatkan. Sayangnya, hanya segelintir bioskop di Indonesia yang menayangkannya.

Film besutan sutradara Jeremy Saulnier ini menceritakan tentang empat ababil yang tergabung dalam band punk rock 'The Ain't Rights'. Mereka adalah Pat (Anton Yelchin), Sam (Alia Shawkat), Reece (Joe Cole), dan Tiger (Callum Turner. Yang berkeliling ke seantero Amerika dengan menggunakan mobil van tua.

Suatu ketika, mereka mendapat job tampil di sebuah bar di tengah hutan, di Pacific Northwest. Yang ternyata menjadi markas kelompok neo-Nazi skinhead, pimpinan Darcy (Patrick Stewart). Yang menganut aliran white supremacist. Alias menjunjung tinggi supremasi para kulit putih.

Usai tampil, sialnya, keempat anak punk tersebut menyaksikan pembunuhan yang terjadi di green room, alias ruang ganti band. Bersama saksi mata lainnya, yaitu Amber (Imogen Poots), mereka akhirnya dikurung di bar tersebut. Dengan dalih untuk menunggu polisi datang.

Namun, kelima pemuda tersebut akhirnya sadar, bahwa itu hanya alasan bagi kelompok skinhead untuk mengulur waktu. Geng pimpinan Darcy itu memang berencana untuk membantai mereka satu-persatu dengan menggunakan senapan dan parang.

Di sinilah suasana mencekam mulai terjadi. Mampukah para anak punk yang tanpa senjata itu melarikan diri dan lolos dari maut? Teror seperti apa yang bakal mereka hadapi di bar kecil tersebut?

Setelah diputar di Festival Film Cannes 2015, Green Room memang menuai banyak pujian. Festival Film Internasional Toronto 2015 juga menahbiskannya sebagai film terbaik ketiga berdasarkan suara audiens. Sutradara Jeremy Saulnier dianggap berhasil membangun teror hingga membuat penonton ikut merasa tertekan. Padahal, di awal film, tidak tampak tanda-tanda bahwa film ini bakal begitu mencekam.

Ketegangan memang baru tampak saat film berdurasi 95 menit ini menginjak paruh kedua. Namun, setelah itu, hampir setiap detiknya dipenuhi thriller yang intens hingga akhir. Para penonton juga dibuat penasaran untuk menebak teror apa yang terjadi selanjutnya.

Aksi pertarungan dan pembantaian yang ditampilkan di film ini juga tampak brutal. Liar. Seperti tanpa koreografi. Yang ada hanya kekerasan. Semacam tawuran. Tapi, hal itulah yang membuat film berbujet USD 5 juta ini tampak begitu nyata dan memikat perhatian para pengamat.

Faktor lain yang membuat Green Room menarik adalah Patrick Stewart. Yang dulu bermain di serial Star Trek: The Next Generation sebagai Captain Jean-Luc Picard. Yang oleh generasi sekarang mungkin lebih dikenal sebagai mutan tua botak di franchise X-Men.

Berbeda dengan film-film sebelumnya, Patrick Stewart kali ini tampil sebagai tokoh antagonis yang sadis dan bengis. Tentu saja ini sangat bertolak belakang dengan karakter Professor Charles Xavier, yang baik hati dan bijaksana, yang biasa dia perankan.

Awalnya, aktor bergelar Sir itu merasa takut dan canggung setelah membaca naskahnya. Namun, kemudian Stewart merasa tertantang untuk memerankan sosok pemimpin yang keji dan kejam, untuk pertama kali dalam karirnya, karena alur cerita Green Room yang memang menarik dan menegangkan.

Alhasil, Stewart akhirnya mampu memerankan sosok Darcy dengan sangat baik. Kualitas aktingnya menjadi salah satu faktor penentu kesuksesan Green Room. Sejumlah situs review pun memberikan rating positif untuk film yang sudah tayang sejak 15 April 2016 di Amerika ini.

Bagi penggila film suspense-thriller, yang memacu adrenalin, Green Room memang tidak boleh dilewatkan. Karena kabarnya bukan hanya ketegangan yang bakal penonton rasakan, tapi juga teror. Semoga masih ada bioskop di Indonesia yang menayangkannya.

***

Green Room

Sutradara: Jeremy Saulnier
Produser: Neil Kopp, Victor Moyers, Anish Savjani
Penulis Skenario: Jeremy Saulnier
Pemain: Anton Yelchin, Imogen Poots, Alia Shawkat, Joe Cole, Callum Turner, Patrick Stewart
Musik: Brooke Blair, Will Blair
Sinematografi: Sean Porter
Penyunting: Julia Bloch
Produksi: Broad Green Pictures, Film Science
Distributor: A24
Budget: USD 5 juta
Durasi: 95 menit
Rilis: 15 April 2016 (Amerika Serikat), 18 Mei 2016 (Indonesia)

Ratings

IMDb: 7,7
Rotten Tomatoes: 7,7
Metacritic: 7,9


May 28, 2016

Preview Film: Money Monster (2016)


Selama ini Jodie Foster dikenal sebagai aktris kawakan pemenang Piala Oscar. Tidak banyak yang tahu bahwa lawan main Anthony Hopkins di The Silence of the Lambs (1991) itu juga seorang sutradara. Salah satu karya terbarunya bisa kita nikmati lewat Money Monster yang tayang di Indonesia mulai hari Jumat (27/5) ini.

Film yang mengusung bintang-bintang ternama tersebut mengisahkan tentang acara televisi “Money Monster”. Membahas tentang perkembangan jual beli saham Wall Street. Bertindak sebagai host adalah Lee Gates (George Clooney) yang sangat karismatis dan mampu menarik perhatian penonton. Sementara itu, Patty Fenn (Julia Roberts) adalah produsernya.

Dalam perkembangannya, acara televisi ini sukses meraih rating tinggi. Para penonton di seluruh dunia menyaksikannya. Banyak investor yang akhirnya menanam saham berdasarkan saran dari Money Monster. Lee Gates pun menjadi sangat terkenal.

Namun, ternyata, di balik kesuksesan tersebut. Ada satu sosok hater bernama Kyle Budwell (Jack O’Connell) yang tidak suka. Dia adalah seorang investor yang merasa dirugikan dan dibohongi karena menuruti Money Monster. Sakit hati, Kyle lalu menyelinap ke dalam stasuin televisi. Dengan bersenjatakan pistol dan bom C4, dia menyandera Gates yang sedang melakukan siaran live.

Kepanikan pun terjadi. Kyle lalu memasang bom baju ke tubuh Gates dan memaksanya untuk membongkar konspirasi di balik Money Monster ke penonton. Dengan dibantu oleh polisi, sang produser Patty Fenn pun berencana membebaskan Gates. Mampukah mereka menyelamatkan Gates? Kebohongan apa yang sebenarnya disembunyikan oleh program televisi terkenal tersebut?

Di film ini, Jodie Foster selaku sutradara dianggap mampu menampilkan dapur produksi sebuah acara televisi dengan detail. Selain itu, aktris berusia 53 tahun tersebut juga berhasil mengelola konflik yang terjadi di antara tokoh-tokohnya dengan apik. Tak heran, Money Monster mendapat sambutan positif di Festival Film Tribeca dan Festival Film Cannes ke-69 yang lalu.

Jodie Foster pun mendapat banyak pujian. Tak banyak film besutan sutradara perempuan yang mampu memikat perhatian penonton. Apalagi di festival internasional semacam Cannes. Money Monster dinilai mampu menyajikan cerita yang mendalam dan menghadirkan thriller yang mencekam.

Selaku sutradara wanita, Jodie Foster sebenarnya tidak ingin diistimewakan. Selain itu, dia juga berusaha mengusung kesetaraan gender dengan mengangkat tema feminis dalam filmnya. Maka dari itu, ditampilkanlah sosok produser dalam diri Patty Fenn yang tegas. Yang diperankan secara apik oleh Julia Roberts.

Kehadiran dua bintang papan atas semacam Julia Roberts dan George Clooney memang menjadi salah satu kekuatan utama Money Monster. Ditambah lagi, ada Jack O’Connell, tokoh antagonis yang membuat film ini semakin menarik.

Meski tergolong muda jika dibandingkan dengan Clooney dan Roberts, O’Connell mampu bekerja sama dengan baik. Aktingnya bisa mengimbangi dua bintang kawakan tersebut. Mungkin itu ditunjang oleh pengalamannya yang pernah tampil bareng Clooney di Ocean Eleven (2001).

Secara garis besar, setelah dirilis sejak tanggal 13 Mei 2016 di Amerika Serikat, Money Monster mendapat rating yang lumayan dari sejumlah situs review. Di tengah himpitan blockbuster semacam Captain America: Civil War, film berdurasi 98 menit ini juga berhasil mengumpulkan pemasukan yang melewati bujetnya, USD 27 juta. Sayangnya, di Indonesia tampaknya masih sedikit bioskop-bioskop yang menayangkannya.

***

Money Monster

Sutradara: Jodie Foster
Produser: Lara Alameddine, George Clooney, Daniel Dubiecki, Grant Heslov
Penulis Skenario: Alan Di Fiore, Jim Kouf, Jamie Linden
Pengarang Cerita: Alan Di Fiore, Jim Kouf
Pemain: George Clooney, Julia Roberts, Jack O’Connell, Dominic West, Caitriona Balfe, Giancarlo Esposito
Musik: Dominic Lewis
Sinematografi: Matthew Libatique
Penyunting: Matt Chesse
Produksi: The Allegiance Theater, IM Global, Smoke House Pictures
Distributor: TriStar Pictures
Budget: USD 27 juta
Durasi: 98 menit
Rilis: 13 Mei 2016 (Amerika Serikat), 27 Mei 2016 (Indonesia)

Ratings

IMDb: 6,8
Rotten Tomatoes: 5,9
Metacritic: 5,4



May 26, 2016

Preview Film: Warcraft (2016)


Setelah The Angry Birds, satu lagi film yang diadaptasi dari game online meramaikan bioskop tanah air. Warcraft, judulnya. Tayang mulai hari Rabu, tanggal 25 Mei 2016, pekan ini. Setelah versi novelnya dirilis pada tahun 2000, game besutan Blizzard Entertainment tersebut memang sudah dinanti-nantikan versi live-action-nya oleh para penggemar.

Setelah bertahun-tahun, Legendary Pictures akhirnya berhasil mendapatkan hak untuk memfilmkan Warcraft. Sedangkan, Universal Pictures bertindak sebagai pihak yang mendistribusikan film ini ke seluruh dunia. Sebagai sutradara, awalnya ditunjuk Sam Raimi. Namun, karena satu dan lain hal, sosok yang sukses dengan trilogy Spider-Man (2002, 2004, dan 2007) itu digantikan oleh Duncan Jones.

Untuk mengangkat game yang pertama kali dirilis pada tahun 1994 ini ke layar lebar, harapan besar tentu saja disematkan pada Duncan Jones yang juga dikenal sebagai Zowie Bowie tersebut. Bowie? Bagi yang bertanya-tanya, iya, dia adalah anak almarhum David Bowie. Yang bernama asli David Robert Jones. Penyanyi Inggris yang legendaris itu.

Selama ini, Jones dikenal sebagai sutradara film sci-fi Moon (2009) dan Source Code (2011). Secara prestasi, sutradara kelahiran London itu cukup lumayan karena pernah memenangkan BAFTA Award untuk kategori Outstanding Debut by a British Writer, Director or Producer pada tahun 2009. FYI, BAFTA Award adalah Academy Award alias Oscar versi Inggris.

Maka dari itu, wajar saja para pencinta game Warcraft berharap sutradara berusia 44 tahun tersebut mampu menghidupkan karakter dari dunia fantasi. Yang selama ini hanya bisa mereka nikmati dalam bentuk animasi.

Warcraft sendiri mengambil tema sesuai dengan game edisi perdana yang berjudul Orcs and Humans. Blizzard Entertainment selaku pencipta kemudian melakukan beberapa perubahan agar ceritanya tidak terlalu mirip dengan The Lord of the Rings. Alhasil, proyek film berdurasi 123 menit ini pun mengalami penundaan beberapa kali. Dari awalnya bakal dirilis pada tahun 2009, sampai akhirnya baru terealisasi tahun ini.

Secara garis besar, film Warcraft yang diberi subjudul The Beginning ini mengangkat kisah peperangan antara bangsa orc dan manusia. Dunia Azeroth, dipimpin manusia, yang awalnya hidup damai dan tentram, tiba-tiba terancam setelah Dark Portal terbuka akibat kekuatan sihir dari Gul’dan (Daniel Wu), panglima perang bangsa orc. Dua dunia yang berbeda itu pun akhirnya terkoneksi satu sama lain.

Gul’dan yang bengis itu kemudian ingin menyerbu dan menguasai Azeroth yang dipimpin oleh Raja Llane Wrynn (Dominic Cooper). Untungnya, ada ksatria karismatis, Sir Anduin Lothar (Travis Fimmel), yang siap mengorbankan segalanya demi mengembalikan kedamaian di Azeroth. Dengan dibantu oleh seorang penyihir putih, Khadgar (Ben Schnetzer), dan cewek separuh manusia separuh orc, Garona Halforcen (Paula Patton), Lothar pun bertempur untuk mengusir Gul’dan dkk.

Selain pertempuran yang dahsyat, Warcraft juga menyajikan konflik internal di antara tokoh-tokohnya. Misalnya, tentang Durotan (Toby Kebbell), seorang orc, pemimpin suku Horde, yang ternyata memilih untuk membantu manusia. Sebaliknya, juga ada Medivh (Ben Foster), sang Pelindung Azeroth, memiliki kekuatan sihir, yang ternyata membelot ke Gul’dan. Dengan konflik-konflik tersebut, cerita Warcraft diharapkan tidak monoton dan membosankan karena dihiasi perang melulu.

Dengan bujet jumbo mencapai USD 160 juta, Warcraft memang ditargetkan bisa sukses di pasaran. Selama ini, film yang diadaptasi dari video game memang kurang berhasil. Ambil contoh Street Fighter (1994) dan Mortal Kombat (1995). Sebelum The Angry Birds, yang saat ini sedang tayang (sudah mengumpulkan USD 150 juta secara global), satu-satunya film adaptasi game yang berhasil menembus pemasukan di atas USD 100 juta di pasar domestik Amerika adalah Lara Croft: Tomb Rider (2001).

Sayangnya, setelah dirilis lebih awal di beberapa negara, Warcraft sejauh ini mendapat rating yang kurang positif dari beberapa situs review. Bagi para penggemar game, film yang di Amerika baru akan diputar mulai tanggal 10 Juni 2016 ini dirasa kurang sesuai dengan harapan mereka. Namun, bagi yang bukan pencinta game, tidak ada salahnya untuk menonton. Apalagi, jika Anda menyukai kisah-kisah semacam The Hobbit dan The Lord of the Rings.

***

Warcraft

Sutradara: Duncan Jones
Produser: Thomas Tull, Jon Jashni, Charles Roven, Alex Gartner, Stuart Fenegan
Penulis Skenario: Charles Leavitt, Duncan Jones
Pengarang Cerita: Chris Metzen
Diadaptasi dari: Warcraft by Blizzard Entertainment
Pemain: Travis Fimmel, Paula Patton, Ben Foster, Dominic Cooper, Toby Kebbell, Ben Schnetzer, Robert Kazinsky, Daniel Wu
Musik: Ramin Djawadi
Sinematografi: Simon Duggan
Penyunting: Paul Hirsch
Produksi: Legendary Pictures, Blizzard Entertainment, Atlas Entertainment
Distributor: Universal Pictures
Budget: USD 160 juta
Durasi: 123 menit
Rilis: 25 Mei 2016 (Indonesia), 10 Juni 2016 (Amerika Serikat)

Ratings

IMDb: 8,8
Rotten Tomatoes: 4,0
Metacritic: 2,9


May 19, 2016

Preview Film: X-Men: Apocalypse (2016)


Film kesembilan dari franchise X-Men akhirnya dirilis bulan ini. Mengambil tajuk Apocalypse, seri ketiga kisah para mutan pasca di-reboot ini menjanjikan aksi pertempuran yang lebih dahsyat dibandingkan dua seri sebelumnya, First Class (2011) dan Days of Future Past (2014). Para moviegoers di Indonesia, lagi-lagi, beruntung karena bisa lebih dahulu menyaksikan karya sutradara Bryan Singer ini mulai tanggal 18 Mei 2016. Sekitar sepuluh hari lebih cepat daripada di Amerika Serikat.

Berbicara mengenai jadwal perilisan, 20th Century Fox selaku distributor sebenarnya sempat ketar-ketir. Pasalnya, film produksi Marvel Entertainment ini harus bersaing dengan Captain America: Civil War yang belum turun dari layar. Di Indonesia sendiri, ada satu lagi pesaing dari produk lokal, yaitu Ada Apa dengan Cinta? 2 yang masih mendominasi bioskop-bioskop di tanah air.

Bulan depan, di awal Juni, juga bakal muncul sejumlah film blockbuster. Antara lain, Teenage Mutant Ninja Turtles 2, The Conjuring 2, Now You See Me 2, dan Warcraft. Maka, wajar saja banyak pengamat yang meragukan Apocalypse mampu menghancurkan para pesaingnya untuk mencetak box office yang tinggi.

Meski demikian, sutradara Bryan Singer tetap pede. Pria 50 tahun yang sudah membesut franchise X-Men sejak seri pertama tahun 2000 ini yakin Jennifer Lawrance dkk mampu menarik perhatian para penonton. Adegan-adegan action yang dipadu dengan special effect canggih menjadi andalannya. Jika melihat trailer-nya, Apocalypse memang penuh dengan ledakan dan penghancuran.

Selain itu, kehadiran sejumlah bintang tenar menjadi salah satu poin plus. Meski Hugh Jackman hanya tampil sebagai cameo (di trailer cuma kelihatan cakarnya di bagian akhir), Apocalypse tetap mengusung Michael Fassbender dan James McAvoy sebagai dua aktor utama untuk berpasangan dengan J-Law dan Rose Byrne. Jangan lupakan juga pendatang baru di X-verse, yaitu Oscar Isaac, yang lebih dulu dikenal sebagai Poe Dameron di Star Wars: The Force Awaken (2015).

Dari segi cerita, seri terbaru franchise X-Men ini mengambil setting tahun 1983, melanjutkan timeline dari First Class (1962) dan Days of Future Past (1973). Professor Charles Xavier (James McAvoy) yang di dua film sebelumnya masih gondrong, kali ini sudah berubah menjadi “Gunawan” alias si gundul nan menawan. Seperti yang bisa kita lihat di posternya. Lawannya juga tak main-main, yaitu Apocalypse (Oscar Isaac), mutan terkuat, sekaligus yang pertama dan tertua di dunia. Usianya sudah ribuan tahun.

Dikisahkan, si Apocalypse, atau yang di peradaban Mesir kuno dikenal sebagai En Sabah Nur, terbangun dari hibernasinya. Melihat dunia yang sudah modern dan tidak lagi menyembah dirinya, mutan bengis ini ingin kembali berkuasa dan menciptakan sebuah orde baru. Caranya adalah dengan membinasakan umat manusia yang dia anggap lemah. Sejak jaman dulu, Apocalypse yang memiliki kekuatan bak dewa tersebut adalah dalang di balik berbagai bencana dan wabah yang  menghancurkan dunia.

Untuk memuluskan misinya, Apocalypse pun mencari anak buah. Sejumlah mutan dia rekrut untuk menjadi pengikut. Yang kemudian disebut sebagai the Four Horsemen. Antara lain, Storm (Alexandra Shipp) yang berasal dari Kairo, Angel (Ben Hardy) dari Berlin, si sexy Psylocke (Olivia Munn) dari balik Tirai Besi, dan si Magneto (Michael Fassbender) yang legendaris itu.

Singkat cerita, Apocalypse dan pengikutnya berhasil menculik Professor Xavier dan berniat memanfaatkan kemampuan telepatinya untuk melucuti senjata nuklir. X-Men pun kehilangan sosok pemimpin. Untungnya, ada Mystique (Jennifer Lawrence). Si bunglon sexy ini kemudian mengumpulkan para mutan bau kencur untuk melawan sang dewa En Sabah Nur.

Dengan dibantu oleh Hank McCoy alias Beast (Nicholas Hoult) dan agen CIA, sekaligus pacar lama Charles Xavier, Moira MacTaggert (Rose Byrne), Mystique mulai merekrut dan melatih Scott Summers (Tye Sheridan), Alex Summers (Lucas Till), Jean Grey (Sophie Turner), Jubilation Lee (Lana Condor), Peter Maximoff (Evan Peters), dan Nightcrawler (Kodi Smit-McPhee). Mutan-mutan ingusan itu menjadi generasi terbaru X-Men yang siap menyelamatkan dunia dari kehancuran. Mampukah mereka menghentikan Apocalypse?

Oh, iya. Di film ini, asal usul dari Peter Maximoff, alias Quicksilver, akan diungkap. FYI aja, Peter adalah saudara kembar dari Wanda Maximoff, alias Scarlet Witch, anggota The Avengers. Karena sama-sama berasal dari komik Marvel, X-Men dan Captain America cs memang berada dalam satu universe. Begitu juga dengan Guardians of the Galaxy. Dan Fantastic Four.

Jadi, secara cerita, mereka memang berhubungan. Namun, karena franchise X-Men dan Fantastic Four dikuasai oleh 20th Century Fox, serta Marvel Studios sudah dimiliki oleh Disney, kita masih harus bersabar dalam menanti film crossover antara para mutan dan superhero tersebut. Mungkin, seperti sesabar menunggu Spider-Man yang akhirnya kembali ke pangkuan Marvel dalam Captain America: Civil War kemarin.

Meski demikian, para fans X-Men tidak perlu galau. Sutradara Bryan Singer kabarnya sudah menyiapkan sekuel selanjutnya. Judulnya, kemungkinan, adalah The Dark Phoenix Saga. Setting-nya di tahun 1990-an, meneruskan timeline Apocalypse yang terjadi pada tahun 1983. Kisahnya akan berfokus pada Jean Grey. Yang bertransformasi menjadi mutan super. Dengan julukan Phoenix.

Sementara itu, Apocalypse sendiri sebenarnya sudah tayang perdana di London pada tanggal 9 Mei 2016. Sayangnya, sejumlah pengamat dan situs review memberi rating yang kurang positif. Menurut mereka, terlalu banyak action yang ditampilkan. Tokoh jahatnya sangat dominan, sehingga menutupi karakter-karakter lainnya. Lalu, temanya juga klise. Ceritanya tergolong dangkal. Tidak sekuat dan sekelam First Class maupun Days of Future Past.

***

X-Men: Apocalypse


Sutradara: Bryan Singer
Produser: Lauren Shuler Donner, Simon Kinberg, Bryan Singer, Hutch Parker
Penulis Skenario: Simon Kinberg
Pengarang Cerita: Bryan Singer, Michael Dougherty, Dan Harris, Simon Kinberg
Diadaptasi dari: X-Men by Stan Lee & Jack Kirby
Pemain: James McAvoy, Michael Fassbender, Jennifer Lawrence, Oscar Isaac, Nicholas Hoult, Rose Byrne, Tye Sheridan, Sophie Turner, Olivia Munn, Lucas Till, Evan Peters, Kodi Smit-McPhee, Alexandra Shipp, Ben Hardy, Lana Condor, Josh Helman
Musik: John Ottman
Sinematografi: Newton Thomas Sigel
Penyunting: John Ottman, Michael Louis Hill
Produksi: Marvel Entertainment, Bad Hat Harry Productions, The Donners' Company, Hutch Parker Productions, Kinberg Genre
Distributor: 20th Century FOX
Budget: USD 234 juta
Durasi: 144 menit
Rilis: 9 Mei 2016 (London), 18 Mei 2016 (Indonesia), 27 Mei 2016 (Amerika Serikat)

Ratings

IMDb: 8,3
Rotten Tomatoes: 5,8
Metacritic: 5,1



May 13, 2016

Preview Film: The Angry Birds Movie (2016)

Anda penggemar video game The Angry Birds? Jika iya, maka Anda wajib menonton versi filmnya yang bakal tayang mulai tanggal 13 Mei 2016 di Indonesia. Jika Anda bukan penggemar, atau, bahkan, tidak pernah memainkan game-nya (seperti saya.. hehehe..), tidak ada salahnya juga untuk menonton film animasi produksi Rovio Entertainment dan Sony Pictures Imageworks ini.

Kabarnya, The Angry Birds Movie mampu menghadirkan sisi komedi yang cerdas dan tak terduga melalui dialog para tokohnya yang didominasi oleh berbagai jenis burung. Duo sutradara Fergal Reilly dan Clay Kaytis dinilai berhasil menyajikan cerita yang menarik dan tidak membosankan bagi orang dewasa. Karena film ini sebenarnya memang bukan film untuk anak-anak.

Meski The Angry Birds Movie ini merupakan karya pertamanya sebagai sutradara, kemampuan Fergal Reilly memang tidak perlu diragukan. Sebagai animator yang dulu bekerja di Walt Disney Studios, Reilly sudah berpengalaman dalam menggarap Cloudy with a Chance of Meatballs (2009) dan Hotel Transylvania (2012) yang cukup sukses itu. Begitu juga dengan Clay Kaytis yang pernah membesut Tangled (2010) dan film animasi terbaik yang memenangkan Piala Oscar, Frozen (2013).

Hanya saja, di film-film animasi tersebut, Reilly dan Kaytis hanya bertindak sebagai animator. Baru di The Angry Birds Movie inilah keduanya menjadi sutradara. Dan, itu tidak mudah. Karena memang banyak sekali tantangan untuk membuat film rilisan Columbia Pictures ini bisa sukses dan menarik minat penonton. Salah satunya adalah bagaimana menghidupkan karakter burung yang menjadi tokoh utamanya.

Setelah melalui berbagai proses, The Angry Birds Movie pun akhirnya menampilkan tiga sosok utama yang memiliki kepribadian berbeda. Yang pertama adalah Red (Jason Sudeikis), burung berwarna merah suka marah-marah. Bertolak belakang dengan burung-burung terbang lainnya seperti Chuck (Josh Gad) dan Bomb (Danny McBride) yang hidup bahagia di sebuah pulau yang indah.

Pada suatu hari, ketenangan burung-burung tersebut diusik oleh kehadiran sekawanan babi yang dipimpin Leonard (Bill Hader). Semula, Red dkk menyambut baik kedatangan tamu mereka. Namun, akhirnya misi jahat Leonard terbongkar. Bersama para anak buahnya, yaitu Ross (Tony Hale) dan Earl (Blake Shelton), si boss babi itu berniat mencuri telur para burung.

Tak pelak, rencana busuk tersebut membuat para penghuni pulau meradang. Dipimpin oleh Red, mereka memutuskan untuk melawan Leonard dkk. Mampukah burung-burung yang sedang marah itu mengalahkan para babi licik yang bertujuan menguasai dan mengeksploitasi surga kecil mereka?

Sesuai dengan tagline-nya, “It’s okay to be angry,” The Angry Birds Movie memang ingin menyampaikan pesan bahwa kadang-kadang marah itu dibutuhkan. Film berdurasi 97 menit ingin mengubah pandangan masyarakat yang selalu menilai negatif sosok pemarah semacam Red. Padahal, amarah tidak selalu buruk. Bahkan, sering kali diperlukan jika kita ingin mencapai tujuan-tujuan yang positif, seperti memberantas para begundal semacam Leonard dkk.

Di Amerika Serikat, The Angry Birds Movie baru akan tayang pada tanggal 20 Mei 2016. Namun, sejak seminggu yang lalu, aksi Red dkk sudah bisa dinikmati di Paris. Sejumlah situs review untuk sementara memberi rating yang tidak terlalu negatif untuk film animasi berbujet USD 80 juta ini.

Bagi para penggemar game, ada baiknya untuk menonton hingga credit title selesai. Karena, di bagian akhir film, bakal ada cheat code untuk membuka level eksklusif pada game Angry Birds Action!. Hal ini merupakan strategi marketing dari Rovio. Selaku produsen Angry Birds, perusahaan asal Finlandia itu memang ingin memancing para penonton untuk memainkan kembali game yang cukup legendaris tersebut. 

***

The Angry Birds Movie


Sutradara: Fergal Reilly, Clay Kaytis
Produser: John Cohen, Catherine Winder
Penulis Skenario: Jon Vitti
Diadaptasi dari: Angry Birds by Rovio Entertainment
Pemain: Jason Sudeikis, Josh Gad, Danny McBride, Maya Rudolph, Bill Hader, Kate McKinnon, Sean Penn, Tony Hale, Keegan-Michael Key, Peter Dinklage, Blake Shelton
Musik: Heitor Pereira
Penyunting: Kent Beyda, Ally Garrett
Produksi: Rovio Entertainment, Sony Pictures Imageworks
Distributor: Columbia Pictures
Budget: USD 80 juta
Durasi: 97 menit
Rilis: 5 Mei 2016 (Paris), 13 Mei 2016 (Indonesia), 20 Mei 2016 (Amerika Serikat)

Ratings

IMDb: 6,4
Rotten Tomatoes: 5,3
Metacritic: 4,6



Preview Film: Midnight Special (2016)


Di saat layar bioskop dan perhatian filmania didominasi oleh Captain America: Civil War dan Ada Apa dengan Cinta? 2, sebenarnya juga terselip Midnight Special yang sayang untuk dilewatkan. Film drama sci-fi besutan sutradara Jeff Nichols ini baru mendapatkan layar di Indonesia pada tanggal 11 Mei 2016. Sekitar dua bulan lebih lambat daripada di Amerika Serikat.

Jika dilihat dari daftar pemainnya, Midnight Special ini dibintangi oleh sejumlah nama yang cukup terkenal, antara lain aktor kawakan Michael Shannon yang baru saja muncul sebagai General Zod di Batman v Superman: Dawn of Justice. Lalu, juga ada duo Star Wars, si Kylo Ren, Adam Driver, dan si Owen Lars, Joel Edgerton. Sebagai pemanis, Kirsten Dunst menjadi satu-satunya aktris di film yang didistribusikan oleh Warner Bros. ini.

Midnight Special sendiri mengisahkan tentang Roy Tomlin (Michael Shannon) dan anaknya, Alton Meyer (Jaeden Lieberher) yang memiliki kemampuan spesial layaknya superhero. Kedua mata bocah berusia 8 tahun itu bisa memancarkan sinar biru yang mampu menghancurkan semua benda yang dilihatnya. Semacam alien. Calon Superman.

Tak pelak, karena keistimewaannya itu, Alton pun diburu oleh banyak pihak. Sekte keagamaan menganggapnya sebagai seorang nabi yang menghasilkan mukjizat. Tak ketinggalan, FBI juga ikut menyelidiki dan berniat menangkapnya. Analis Paul Sevier (Adam Driver) terobsesi ingin mengobservasi bocah dengan kemampuan supernatural tersebut.

Roy, dengan dibantu oleh sobatnya yang seorang tentara, Lucas (Joel Edgerton), akhirnya memutuskan untuk melarikan anaknya. Alton harus dibawa ke lokasi khusus, pada tanggal yang sudah ditentukan, sebelum terjadi peristiwa besar yang bisa mengguncang dunia. Selain itu, sang ibu, Sarah Tomlin (Kirsten Dunst), juga ingin bertemu dengan putra semata wayangnya itu. Mampukah Roy menyelamatkan Alton dari kejaran para pemburunya?

Dari segi cerita, Midnight Special ini kabarnya cukup menarik dan menyajikan kejutan di ending-nya. Sutradara Jeff Nichols, yang merangkap sebagai penulis naskah, dianggap mampu menghadirkan drama sci-fi yang menegangkan. Bahkan, banyak pengamat yang menyamakan film berbujet USD 18 juta ini dengan film sci-fi legendaris Close Encounters of the Third Kind (1977) garapan Steven Spielberg. Secara visual, special effect yang ditampilkan oleh sutradara muda berusia 37 tahun itu juga sangat oke.

Para aktor yang bermain di Midnight Special ini juga dinilai mampu menunjukkan akting yang memukau. Terutama Michael Shannon yang berperan sebagai seorang ayah yang ingin melindungi anak satu-satunya. Film berdurasi 111 menit ini juga merupakan kolaborasi keempat antara aktor berusia 41 tahun tersebut dengan Jeff Nichols, setelah Shotgun Stories (2007), Take Shelter (2011), dan Mud (2012).

Bisa dibilang, sepanjang karirnya sebagai sutradara yang sudah menghasilkan lima film, Jeff Nichols selalu memakai Michael Shannon sebagai aktornya. Setelah Midnight Special ini, kolaborasi keduanya bisa dinikmati di film Loving (2016) yang sudah selesai diproduksi. Michael Shannon and Jeff Nichols, still, a better love story than Twilight. Hehehe..

Keandalan Jeff Nichols dalam menggarap Midnight Special juga diakui oleh sejumlah situs review yang memberi rating cukup positif. Sayangnya, setelah dirilis hampir dua bulan secara global, film produksi Tri-State Pictures dan Faliro House Productions ini hanya mampu mengumpulkan pemasukan USD 5,5 juta. Mungkin kesulitan mendapatkan layar karena jadwal tayangnya digencet oleh film-film blockbuster, mulai dari Batman v Superman, The Jungle Book, Civil War, hingga AADC 2.

***

Midnight Special


Sutradara: Jeff Nichols
Produser: Sarah Green, Brian Kavanaugh-Jones
Penulis Skenario: Jeff Nichols
Pemain: Michael Shannon, Joel Edgerton, Kirsten Dunst, Adam Driver, Jaeden Lieberher, Sam Shepard
Musik: David Wingo
Sinematografi: Adam Stone
Penyunting: Julie Monroe
Produksi: Faliro House Production, Tri-State Pictures
Distributor: Warner Bros. Pictures (Amerika Serikat), Entertainment One (Inggris)
Budget: USD 18 juta
Durasi: 111 menit
Rilis: 18 Maret 2016 (Amerika Serikat), 8 April 2016 (Inggris), 11 Mei 2016 (Indonesia)

Ratings

IMDb: 7,0
Rotten Tomatoes: 7,4
Metacritic: 7,6


 

May 05, 2016

Preview Film: Criminal (2016)


Mengusung sejumlah nama besar seperti Kevin Costner, Gal “Wonder Woman” Gadot, Gary Oldman, Tommy Lee Jones, dan Ryan Reynolds, Criminal seharusnya bisa memikat perhatian para moviemania. Sayangnya, film action yang tayang mulai tanggal 15 April 2016 di Amerika Serikat ini dirilis berbarengan dengan The Jungle Book. Tak lama kemudian, Captain America: Civil War dan Ada Apa Dengan Cinta? 2 juga mendominasi layar bioskop. Tak heran, film berdurasi 113 menit ini baru mendapat tempat pada tanggal 4 Mei 2016 di Indonesia.

Dilihat dari segi cerita, Criminal sebenarnya cukup menarik. Berkisah tentang seorang agen rahasia CIA bernama Bill Pope yang “semula” diperankan oleh Ryan “Deadpool” Reynolds. Iya, “semula”. Karena selanjutnya, si Bill Pope ini menjalani proses body swap alias bertukar tubuh. Premis unik inilah yang membuat Criminal berbeda dengan film-film action sejenis lainnya.

Awalnya, Bill Pope (Ryan Reynolds) yang berbasis di London sedang menjalankan misi dari CIA untuk mengawasi Xavier Heimdahl (Jordi Molla), seorang industrialis anarkis yang berencana meretas kode peluncuran senjata nuklir di seluruh dunia. Sialnya, demi melindungi hacker Jan Stroop alias The Dutchman (Michael Pitt) yang membelot dari Heimdahl, Pope tertangkap dan kemudian disiksa oleh para begundal Heimdahl hingga tewas.

CIA pun kalang-kabut. Pope adalah agen terpenting yang mereka miliki. Misinya dalam menangkal serangan nuklir terhadap pemerintah masih belum selesai. Masalahnya, CIA tidak memiliki agen lain yang setangguh Pope untuk melanjutkan misi tersebut. Selain itu, hanya Pope yang mengetahui letak persembunyian The Dutchman, hacker yang sedang diburu oleh Heimdahl untuk meretas kode peluncuran nuklir.

Di tengah kegalauan dan keputusasaan, Supervisor CIA, Quaker Wells (Gary Oldman), meminta bantuan Dr. Mahal Franks (Tommy Lee Jones), seorang ilmuwan yang sedang mengembangkan cara untuk mencangkok memori dari orang yang sudah mati. Otak Bill Pope yang sudah tewas pun menjadi objek percobaan. CIA akan mentransfer memori salah satu agen terbaik mereka yang sudah isdet ke pria lain yang kriteria fisiknya sesuai.

Dr. Franks kemudian mengajukan nama Jericho Stewart (Kevin Costner), seorang narapidana hukuman mati, untuk menerima memori dari almarhum Bill Pope. Jericho dipilih karena memiliki perilaku kriminal yang disebabkan trauma otak di masa kecil. Jadi, diharapkan, bakal lebih mudah bagi Dr. Franks untuk mencangkok memori Pope ke dalam pikiran Jericho. Karena sudah tidak memiliki harapan hidup, si kriminal itu pun menerima tawaran dari CIA untuk menjadi kelinci percobaan.

Seusai menjalani pencangkokan memori, yang ternyata tidak begitu sukses, Jericho secara otomatis mendapat keahlian dari almarhum Pope. Kemampuan bela diri dan menembak dari sang agen CIA, tanpa dia sadari, tertanam dalam pikirannya. Jericho juga teringat pada istri Pope, yaitu Jillian (Gal Gadot), dan putrinya, Emma. Rasa cinta pun tumbuh di antara mereka.

Selanjutnya, dengan modal memori dari mendiang Bill Pope, Jericho harus menjalankan tugas yang diembankan oleh CIA untuk menemukan The Dutchman dan menghentikan Heimdahl. Kali, bukan hanya nyawanya yang menjadi taruhan, melainkan juga Jill dan putrinya. Mampukah sang kriminal Jericho Stewart menuntaskan misinya?

Sebelum akhirnya tayang di Amerika Serikat pada 15 April 2016 yang lalu, pada mulanya, film yang disutradarai oleh Ariel Vromen ini direncanakan rilis pada 22 Januari 2016. Bintang senior semacam Gary Oldman, awalnya, juga optimistis film ini bakal sukses. Apalagi, pemeran Dracula itu bakal reuni dengan aktor-aktor kawakan angkatan 1990-an seperti Kevin Costner dan Tommy Lee Jones.

Namun, setelah hampir sebulan tayang secara global, Criminal ternyata hanya mampu mengumpulkan pemasukan USD 17 juta. Padahal, bujet produksinya mencapai USD 31,5 juta. Jangankan menuai profit, untuk balik modal pun masih jauh. Sejumlah situs review juga memberikan rating yang negatif. Meski dibanjiri oleh sejumlah bintang top berpengalaman, produksi Millenium Films ini tampaknya gagal memenuhi harapan para penonton.

***

Criminal


Sutradara: Ariel Vromen
Produser: Chris Bender, Christa Campbell, Boaz Davidson, Mark Gill, Lati Grobman, Matthew O’Toole, Trevor Short, J. C. Spink, John Thompson
Penulis Skenario: Douglas Cook, David Weisberg
Pemain: Kevin Costner, Gary Oldman, Tommy Lee Jones, Alice Eve, Gal Gadot, Michael Pitt, Jordi MollĂ , Antje Traue, Scott Adkins, Amaury Nolasco, Ryan Reynolds, Robert Davi
Musik: Brian Tyler, Keith Power
Sinematografi: Dana Gonzales
Penyunting: Danny Rafic
Produksi: BenderSpink, Campbell-Grobman Films, Millennium Films
Distributor: Summit Entertainment
Budget: USD 31,5 juta
Durasi: 113 menit
Rilis: 15 April 2016 (Amerika Serikat), 4 Mei 2016 (Indonesia)

Ratings

IMDb: 6,5
Rotten Tomatoes: 4,4
Metacritic: 3,7