May 02, 2017

Preview Film: Kartini (2017)


Untuk memperingati Hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April, film Kartini mulai tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai hari Rabu (19/4) yang lalu. Film biopik yang menampilkan kisah nyata dari sang pahlawan emansipasi wanita tersebut dibesut oleh sutradara ternama, Hanung Bramantyo, dan merupakan film ketiga tentang Kartini setelah R.A. Kartini (1984) dan Surat Cinta Untuk Kartini (2016).

Proyek film yang diproduksi oleh Legacy Pictures ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2014 yang lalu. Kala itu, Hanung bertemu sang produser, Robert Ronny, dan mengutarakan niatnya untuk membuat film biografi yang tidak hanya mengisahkan perjuangan Kartini dalam mengangkat derajat kaumnya, namun juga mengungkap hal-hal yang selama ini jarang diketahui khalayak umum.

Hanung paham, bahwa Kartini adalah sosok legendaris di Indonesia, tetapi juga kontroversial pada masanya. Pemikiran putri bupati Jepara tersebut sangat revolusioner, jauh melampaui zamannya. Dia tidak hanya menuntut persamaan hak antara wanita dengan pria, namun juga ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

Oleh karena itu, Hanung pun memutuskan untuk memberi nilai plus pada kisah dan karakter Kartini. Film yang naskahnya dia tulis bersama Bagus Bramanti ini bukanlah film biopik biasa. Melainkan, film yang mengekspos perjuangan Kartini di masa muda, yang sisi kepahlawanannya begitu kuat bagi kaum wanita.

Masa perjuangan Kartini, yang meninggal di usia muda (25 tahun) setelah melahirkan anaknya, terjadi saat dia berusia 18 hingga 23 tahun. Sebelum dinikahi oleh Bupati Rembang R.M. Adipati Joyodiningrat (Dwi Sasono) pada usia 24 tahun, Kartini memang sangat gencar memperjuangkan kesetaraan gender. Dia melawan tradisi dan budaya patriarki yang kala itu dikuasai oleh laki-laki.

Perjuangan Kartini (Dian Sastrowardoyo) untuk mengangkat derajat kaum wanita dimulai saat dia menjadi Raden Ayu. Semula, dia tidak mau mengikuti ayahnya, Bupati Jepara R.M. Ario Sosroningrat (Deddy Soetomo), untuk hidup di lingkungan bangsawan yang sarat tradisi dan membatasi kebebasannya sebagai seorang perempuan. Selain itu, jika hidup sebagai ningrat, Kartini harus meninggalkan ibunya, M.A. Ngasirah (Nova Eliza/Christine Hakim), yang hanya rakyat biasa.

Namun, Kartini akhirnya bersedia menjadi Raden Ayu demi mendapatkan pendidikan yang layak. Kala itu, para perempuan yang boleh bersekolah hanyalah dari kaum bangsawan, itupun hanya sampai bangku sekolah dasar. Dengan menjadi Raden Ayu, Kartini pun bisa belajar membaca, menulis, berhitung, dan, bahkan, berbahasa Belanda dengan fasih. Kemampuan tersebut nyaris mustahil diperoleh jika dia hanya menjadi rakyat jelata, seperti Ngasirah, ibunya.

Proses untuk menjadi Raden Ayu itulah yang disorot secara mendalam oleh film Kartini. Menurut sang sutradara, Hanung Bramantyo, pergumulan batin Kartini saat hendak menjadi bangsawan itu memang jarang diketahui oleh publik karena memang tidak pernah ditulis dalam buku pelajaran sejarah yang kita baca di sekolah. Padahal, keputusan Kartini untuk menjadi Raden Ayu itu, bisa dibilang, merupakan keputusan yang krusial dalam hidupnya karena menjadi awal dari gerakan emansipasi wanita yang ia perjuangkan.

Hal lain yang juga jarang diketahui adalah upaya gigih Kartini dalam memberikan pendidikan untuk rakyat kecil. Selain itu, dia juga getol mengangkat perekonomian masyarakat di sekitarnya. Dalam suatu kesempatan, Kartini pernah mengajak para pengrajin ukiran asal Jepara untuk memamerkan hasil karya mereka di negeri Belanda.

Semua perjuangan Kartini tersebut akhirnya terancam tamat setelah dia dilamar oleh bupati Rembang. Kartini sangat sedih karena dia harus menjalani masa "dipingit" sebelum menikah, sesuai tradisi Jawa. Hal itu membuat kebebasannya terpasung. Dia tidak lagi bisa bertemu dan berdiskusi dengan koleganya, para feminis dari Belanda, seperti Wilhelmina (Rianti Cartwright).

Hanung pun berusaha menampilkan dengan gamblang kegalauan yang dialami oleh Kartini. Di film ini, pergumulan emosi Kartini yang naik turun memang digambarkan dengan jelas. Banyak adegan di mana dia merasa sedih, tidak terima, tapi akhirnya hanya bisa diam, tanpa kata-kata.

Untuk menyajikan sosok Kartini yang apa adanya tersebut, Hanung melakulan riset hingga dua tahun lamanya. Dengan dibantu oleh komunitas Rumah Kartini, suami Zaskia Adya Mecca tersebut pergi ke Jepara, melihat rumah masa kecil Kartini, menelusuri perjalanan hidupnya, hingga mengunjungi makamnya.

Sebagai bahan untuk menulis skenario, Hanung juga melahap berbagai macam literatur. Yang paling utama adalah buku Habis Gelap Terbitlah Terang, yang merupakan kumpulan dari surat-surat yang ditulis oleh Kartini. Selain itu, juga ada Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer dan buku biografi Kartini yang ditulis oleh Elizabeth Keesing dan Joost Cote.

Proses syuting film Kartini sendiri berlangsung selama 45 hari di Jakarta, Jogjakarta, dan Belanda. Tim produksi juga membangun set khusus di daerah Ceger, Jakarta Timur untuk menampilkan pendapa dan rumah yang ditinggali keluarga Kartini. Lokasi aslinya yang ada di Jepara, saat ini, kondisinya sudah berbeda jauh jika dibandingkan dulu. Hal lain yang menarik, para kru juga sampai membuat sendiri kereta kuda yang digunakan untuk syuting.

Sementara itu, para pemain yang terlibat dalam film Kartini sebelum syuting diharuskan untuk belajar bahasa Jawa dan Belanda. Mereka juga harus mempelajari logatnya supaya tidak kaku saat berbicara. Khusus untuk para aktris, agar lebih menghayati peran, mereka diwajibkan memasang sanggul sendiri sebelum syuting.

Dian Sastrowardoyo, yang menjadi bintang utama dari film Kartini, tak luput dari kewajiban tersebut. Bersama dengan Acha Septriasa yang memerankan Roekmini dan Ayushita Nugraha yang memerankan Kardinah, keduanya adalah adik Kartini, mereka bertiga harus rela bersanggul dan berkebaya setiap menjalani syuting.

Menurut Dian, peran sebagai Kartini merupakan peran tersulit sepanjang karirnya. Meski sudah berpengalaman membintangi berbagai judul film, Kartini adalah film biografi sekaligus film bertema sejarah pertama bagi ibu dua anak yang masih terlihat sangat manis tersebut.

Seperti halnya Hanung, untuk menghayati peran sebagai Kartini, Dian pun melakukan riset sebelum syuting. Buku Habis Gelap Terbitlah Terang dan Panggil Aku Kartini Saja dia baca hingga habis. Dian juga belajar budaya Jawa beserta bahasa dan logatnya. Begitu pun dengan bahasa tubuh yang anggun dan lemah gemulai ala kaum ningrat dan bangsawan.

Beruntung, ada komunitas Rumah Kartini yang banyak membantu Dian dalam melakukan penelitian. Mereka sering menggelar diskusi dan dialog untuk mengupas jasa, karakter, serta pemikiran R.A. Kartini. Dian pun akhirnya memiliki wawasan dan pemahaman yang lebih kaya mengenai sosok pahlawan yang dikaguminya tersebut.

Menurutnya, peran sebagai Kartini bukan sekadar akting biasa, melainkan sebuah tugas mulia. Dian mengaku harus bisa memerankannya dengan sempurna untuk menghargai jasa Kartini yang sangat besar. Untuk ukuran perempuan pada abad ke-19, apa yang dilakukan Kartini memang sangat revolusioner. Bagi Dian, jasa Kartini tersebut harus dirayakan dan dihargai setiap hari, bukan cuma setahun sekali.

Selain menonjolkan perjuangan Kartini, Dian juga dituntut untuk mampu menampilkan kegalauan batinnya. Alhasil, sebelum syuting, bintang Ada Apa dengan Cinta? tersebut sering mendengarkan lagu-lagu klasik untuk memancing perasaannya agar lebih emosional dalam berakting.

Yang menarik, sutradara Hanung Bramantyo semula mengeplot Dian Sastro sebagai Ngasirah, ibu Kartini. Namun, Distro akhirnya meminta sendiri kepada Hanung untuk memilihnya sebagai pemeran Kartini.

Meski sempat ragu, terutama karena perbedaan umur (Kartini dalam film berusia 18-23 tahun, sedangkan Dian sudah 35 tahun), Hanung kemudian memberikan peran tersebut. Kualitas akting dan jam terbang Dian Sastro yang sudah tinggi menjadi pertimbangan utamanya.

Selain Dian, film produksi Legacy Pictures ini juga diperkuat oleh berbagai aktor dan aktris papan atas tanah air. Mereka berperan sebagai ayah, ibu, kakak, dan adik-adik Kartini. Sebut saja nama-nama seperti Deddy Soetomo, Christine Hakim, Djenar Maesa Ayu, Reza Rahadian, Denny Sumargo, Adinia Wirasti, Acha Septriasa, hingga Ayushita Nugraha.

Dalam hidup Kartini, keluarga memang sangat berperan. Ada yang mendukung perjuangannya, seperti sang kakak, R.M. Panji Sosrokartono (Reza Rahadian), yang bersekolah di Belanda dan membuat Kartini suka membaca dan berpikiran luas. Serta kedua adiknya, Kardinah (Ayushita), yang enggan menikah, dan Roekmini (Acha Septriasa), yang membantu Kartini mengupayakan pendidikan untuk kaum wanita dan rakyat jelata.

Namun, juga ada anggota keluarga yang tidak sependapat, seperti sang ayah, R.M. Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Soetomo), yang meragukan pemikiran Kartini. Selain itu, sang kakak tertua, R.M. Slamet Sosroningrat (Denny Sumargo), bahkan memberikan tekanan keras. Dia dengan tegas melarang Kartini surat-suratan dengan teman-teman feminisnya dari Belanda.

Upaya para pemain dan tim produksi untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang sosok Kartini dan keluarganya, tampaknya, cukup berhasil. Setelah tayang hampir seminggu, film biopik ini mendapat respon sangat positif dari para kritikus. Bahkan, disebut-sebut sebagai salah satu film terbaik Indonesia tahun ini.

***

Kartini

Sutradara: Hanung Bramantyo
Produser: Robert Ronny
Penulis Skenario: Hanung Bramantyo, Bagus Bramanti
Pemain: Dian Sastrowardoyo, Deddy Sutomo, Christine Hakim, Acha Septriasa, Ayushita Nugraha, Reza Rahadian, Adinia Wirasti, Nova Eliza, Djenar Maesa Ayu, Denny Sumargo, Dwi Sasono, Rianti Cartwright
Musik: Andi Rianto, Charlie Meliala
Sinematografi: Faozan Rizal
Penyunting: Wawan I. Wibowo
Produksi: Legacy Pictures, Screenplay Films
Durasi: 122 menit
Rilis: 19 April 2017 (Indonesia)

Rating (hingga 24 April 2017)
IMDb: 8,1/10


April 22, 2017

Preview Film: Aftermath (2017)


Tanggal 1 Juli 2002 awalnya menjadi hari yang ditunggu-tunggu oleh 45 siswa sekolah dari Kota Ufa, Rusia. Dengan ditemani oleh sebagian orang tua, mereka terbang menuju ke Costa Dorada, Spanyol, untuk mengikuti karya wisata yang digagas oleh sebuah komite UNESCO lokal.

Namun, menjelang tengah malam, keceriaan anak-anak sekolahan tersebut berubah menjadi tragedi. Saat melintas di atas udara Uberlingen, sebuah kota kecil di Jerman, pesawat jet Tupolev Tu-54 milik maskapai Bashkirian Airlines yang mereka tumpangi bertabrakan dengan pesawat jet kargo Boeing 757 milik DHL.

Kecelakaan udara yang kemudian dikenal sebagai Tragedi Uberlingen tersebut menewaskan total 71 orang (60 penumpang yang mayoritas masih abege, sembilan orang kru pesawat Bashkirian Airlines Flight 2937, dan dua orang kru pesawat kargo DHL Flight 611). Hasil investigasi dari BFU (Badan Penyelidik Kecelakaan Udara Jerman) menyatakan insiden maut tersebut disebabkan oleh kelalaian petugas air traffic controller.

Dua tahun kemudian, Peter Nielsen, air traffic controller yang bertugas saat tragedi tersebut terjadi, ditemukan tewas terbunuh. Hasil penyelidikan pihak berwajib menemukan fakta bahwa pembunuhnya adalah Vitaly Kaloyev. Warga Rusia tersebut melakukan aksi balas dend am setelah istri dan kedua anaknya menjadi korban dari Tragedi Uberlingen.

Tahun ini, kisah pilu yang terjadi lebih dari satu dekade yang lalu tersebut diangkat ke layar lebar oleh para produser film Hollywood dengan judul Aftermath. Hanya saja, nama-nama karakter di film rilisan Lionsgate ini diubah, tidak sama dengan orang-orang aslinya. Plot ceritanya juga sedikit berbeda.

Film yang semula diberi judul 478 ini dibintangi oleh Arnold Schwarzenegger. Aktor kawakan yang mulai terkenal gara-gara Conan the Barbarian (1982) itu memerankan sang tokoh utama, Roman. Karakter tersebut didasarkan pada sosok Vitaly Kaloyev, arsitek asal Rusia yang dianggap bertanggung jawab atas kematian Peter Nielsen, sang air traffic controller asal Denmark.

Di film Aftermath, Roman dikisahkan harus kehilangan istri dan anak perempuannya yang sedang hamil dalam sebuah kecelakaan pesawat. Pria yang berprofesi sebagai mandor bangunan itu kemudian menyalahkan air traffic controller yang bernama Jake Bonanos (Scoot McNairy) dan menuntutnya untuk bertanggung jawab.

Bagi Arnold, Aftermath ini merupakan film pertamanya setelah hampir dua tahun vakum sejak membintangi Terminator Genysis (2015) bareng Emilia Clarke. Mantan Mr. Olympia kelahiran Austria itu memang kembali aktif di Hollywood setelah tidak lagi menjabat sebagai Gubernur California. Di masa comeback-nya, pria 69 tahun ini juga tampil di franchise The Expendables (2010-2014), The Last Stand (2013), Escape Plan (2013) dan Sabotage (2014).

Sayangnya, meski diperkuat oleh Arnold, Aftermath gagal mendapat respon positif dari para kritikus. Film bergenre thriller ini dianggap kurang dramatis dan tidak cukup menawarkan ketegangan.

***

Aftermath

Sutradara: Elliott Lester
Produser: Darren Aronofsky, Peter Dealbert, Randall Emmett, Scott Franklin, George Furla, Eric Watson
Penulis Skenario: Javier Gullón
Pemain: Arnold Schwarzenegger, Scoot McNairy, Maggie Grace, Martin Donovan
Musik: Mark Todd
Sinematografi: Peter Vermeer
Penyunting: Nicholas Wayman-Harris
Produksi: Emmett/Furla/Oasis Films, Pacific View Management, Protozoa Pictures, thefyzz, Grindstone Entertainment Group
Distributor: Lionsgate Premiere
Durasi: 136 menit
Rilis: 7 April 2017 (Amerika Serikat), 21 April 2017 (Indonesia)

Rating (hingga 21 April 2017)
IMDb: 5,8/10
Rotten Tomatoes: 39%

Preview Film: The Last Word (2017)


Para moviemania masa kini mungkin tidak banyak yang mengenal Shirley MacLaine. Padahal, nenek-nenek berusia 82 tahun itu pernah enam kali masuk nominasi Academy Awards, sebelum akhirnya menyabet Piala Oscar kategori Aktris Terbaik lewat film Terms of Endearment (1983).

Tahun ini, kakak dari aktor senior Warren Beatty itu kembali menghiasi layar lebar melalui film The Last Word. Lawan mainnya adalah aktris supersexy yang foto-fotonya sering menjadi bahan fantasi cowok-cowok jomblo, Amanda Seyfried.

The Last Word sendiri mengisahkan kehidupan seorang wanita tua bernama Harriett Lauler (Shirley MacLaine) yang kaya raya, namun merasa hampa. Meski dikenal sebagai pengusaha wanita yang sangat energik dan sukses di masa mudanya, masa senja si Mbah Harriett ini sangat membosankan. Dia hanya bisa bengong di rumahnya yang megah.

Suatu ketika, dia membaca sebuah obituari di surat kabar yang ditulis oleh seorang jurnalis muda bernama Anne Sherman (Amanda Seyfried). Hal itu kemudian memantik sebuah ide yang tidak wajar di kepalanya. Harriett ingin Anne menulis obituari untuknya, saat dia masih hidup, alias sebelum dia meninggal.

Permintaan aneh itu pun terpaksa disanggupi oleh Anne mengingat Harriett adalah orang yang sangat berkuasa di tempatnya bekerja. Masalahnya, saat mengulik tentang hidup nenek tua itu, ternyata, hampir tidak ada hal baik dan inspiratif yang layak dituangkan ke dalam obituari.

Karena tidak melihat ada cara lain, di masa-masa akhir hidupnya, Harriett pun kemudian mulai melakukan hal-hal baru yang menggugah yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Obsesinya untuk membuat bahan obituari itu akhirnya juga membuat dia menjalin persahabatan dengan Anne, yang usianya jauh lebih muda.

Meski temanya tentang kata-kata terakhir sebelum kematian menjemput, The Last Word bukanlah kisah drama yang menguras air mata. Film rilisan Bleecker Street Media ini sebenarnya merupakan drama komedi yang renyah, banyak canda, mengundang tawa, dan mudah dicerna. Pesan moralnya pun jelas. Bahwa tidak ada kata terlambat untuk memulai hidup baru, meski kita sudah berusia senja.

Kematangan akting Shirley MacLaine, tentu saja, menjadi andalan utama film The Last Word. Aktris senior itu dituntut untuk menampilkan sosok Harriett yang menyebalkan, namun juga mengundang simpati. Selain itu, dia harus mampu memperlihatkan kehampaan yang dirasakan oleh si wanita uzur tersebut.

Sementara itu, bagi Amanda Seyfried, The Last Word adalah sebuah film yang sangat spesial. Selain beradu akting dengan Shirley MacClaine yang legendaris, cewek berukuran dada 34C itu akhirnya juga mendapat jodoh berkat drama komedi besutan Mark Pellington tersebut.

Ya, di The Last Word inilah, Amanda bertemu dengan Thomas Sadoski yang kini menjadi suaminya. Padahal, mereka tak pernah berkenalan sebelumnya. Lelaki yang sudah memberinya satu anak itu memerankan karakter Robin Sands dalam film berdurasi 108 menit ini.

Pada mulanya, sebenarnya sudah ada aktor lain yang terpilih untuk memerankan tokoh tersebut. Namun, lima hari sebelum syuting, sang aktor membatalkan diri. Thomas Sadoski yang ada di daftar cadangan kemudian dipanggil sebagai pengganti.

Selanjutnya, kalau sudah jodoh memang tak akan kemana, benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara Amanda dan Sadoski. Bahkan, Shirley MacLaine mengaku juga bisa mencium adanya dawai asmara di antara keduanya di lokasi syuting The Last Word.

Sayangnya, meski diperkuat oleh dua bintang ternama yang beda generasi, film yang dirilis di Amerika Serikat pada 3 Maret 2017 yang lalu ini mendapat respon kurang positif dari para kritikus. Di Indonesia, The Last Word sudah tayang mulai hari Rabu (19/4) di Cinemaxx dan CGV, sekaligus menjadi film perdana yang didistribusikan oleh Indonesia Entertainment Group (IEG) milik EMTEK (Elang Mahkota Teknologi).

***

The Last Word

Sutradara: Mark Pellington
Produser: Mark Pellington, Anne Marie MacKay, Kirk D’Amico, Aaron Magnani
Penulis Skenario: Stuart Ross Fink
Pemain: Shirley MacLaine, Amanda Seyfried
Musik: Nathan Matthew David
Sinematografi: Eric Koretz
Penyunting: Julia Wong
Produksi: Wondros, Myriad Pictures, Aaron Magnani Productions
Distributor: Bleecker Street Media
Durasi: 108 menit
Rilis: 24 Januari 2017 (Sundance), 3 Maret 2017 (Amerika Serikat), 19 April 2017 (Indonesia)

Rating (hingga 20 April 2017)
IMDb: 6,6/10
Rotten Tomatoes: 33%
Metacritic: 40/100


Preview Film: The Neighbor (2016)


Para moviemania mungkin belum banyak yang mengenal nama Marcus Dunstan. Padahal, sineas berusia 38 tahun itu adalah sosok penulis naskah di balik film horror sadis, Saw IV (2007) hingga Saw VI (2009), dan Saw 3D (2010). Selain itu, pria asal Macomb, Illinois, Amerika Serikat tersebut juga menggarap skenario franchise Feast (2005-2009).

Tahun 2016 yang lalu, Dunstan kembali menelurkan karya horror berjudul The Neighbor. Selain menulis naskahnya bersama Patrick Melton, kali ini dia juga menyutradarai sendiri film berdurasi 87 menit tersebut. The Neighbor pun tercatat sebagai film ketiga yang dibesut oleh Dunstan setelah The Collector (2009) dan The Collection (2012).

Kisahnya ber-setting di sebuah kota kecil bernama Cutter, yang terletak di negara bagian Mississippi. Tokoh utamanya adalah seorang pemuda bernama John (Josh Stewart), yang hidup bahagia bersama pacarnya, Rosie (Alex Essoe).

Seperti penduduk kota kecil lainnya, kebanyakan orang yang tinggal di Cutter memilih untuk hidup tenang dan damai. Mereka memilih untuk menyendiri atau mengurusi keluarga sendiri. Namun, ada satu orang yang menarik perhatian John dan Rosie, yaitu sang tetangga di rumah sebelah.

Meski dia hanya seorang pria renta yang hidup sendirian, semacam jomblo tua ngenes, John dan Rosie curiga dia menyimpan sebuah rahasia. Alhasil, setiap hari mereka pun selalu mematai-matai sang tetangga jones tersebut.

Suatu ketika, John pulang dan mendapati Rosie tidak ada di rumah. Panik karena pacarnya hilang, John langsung mencari ke rumah tetangga yang selama ini dia curigai. Di sana, cowok tersebut ternyata menemukan rahasia mengerikan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya..

Marcus Dunstan selama ini memang dikenal sebagai penghasil film horror thriller yang bersimbah darah. Seperti halnya franchise Saw, The Collector dan The Collection, The Neighbor juga menawarkan kengerian serupa.

Setelah dirilis lewat DVD di Amerika Serikat pada 5 September 2016 yang lalu, film produksi Fortress Features dan Salt Company International ini mendapat rating cukup lumayan dari para kritikus. Dunstan dinilai mampu menyajikan ketegangan yang intens dan membuat bulu kuduk penonton berdiri dalam menanti kejutan di setiap adegannya.

***

The Neighbor

Sutradara: Marcus Dunstan
Produser: Brett Forbes, Patrick Rizzotti, Narbeh Tatoussian
Penulis Skenario: Marcus Dunstan, Patrick Melton
Pemain: Josh Stewart, Luke Edwards, Bill Engvall, Jaqueline Fleming, Alex Essoe, Melissa Bolona, Heather Williams
Musik: Charlie Clouser
Sinematografi: Eric Leach
Penyunting: Andrew Wesman
Produksi: Fortress Features, Salt Company International
Durasi: 87 menit
Rilis: 5 September 2016 (Amerika Serikat), 19 April 2017 (Indonesia)

Rating (hingga 18 April 2017)
IMDb: 5,7/10
Rotten Tomatoes: 67%

Preview Film: Lavender (2016)


Tidak banyak penyanyi rap, apalagi cewek, yang punya karir cemerlang sebagai bintang film di Hollywood. Salah satunya adalah Abbie Cornish. Aktris supersexy asal Australia itu mulai dikenal secara internasional sejak memerankan karakter Sweet Pea di Sucker Punch (2011) garapan Zack Snyder.

Tujuh tahun sebelumnya, Cornish sebenarnya sudah menancapkan namanya sebagai aktris papan atas Negeri Kanguru lewat Somersault (2004), yang ia bintangi bersama Sam "Avatar" Worthington. Kala itu, film indie tersebut berhasil menyapu bersih seluruh penghargaan (total 13 kategori) dalam ajang Australian Film Institute Awards. Cornish sendiri menyabet kategori aktris terbaik.

Bulan Oktober tahun ini, cewek berukuran dada 34B tersebut bakal kembali tampil di film blockbuster Hollywood berjudul Geostorm bareng Gerard Butler. Temanya tentang bencana mahadahsyat yang meluluhlantakkan dunia. Diproduseri oleh Jerry Bruckheimer yang sudah pernah menelurkan judul-judul terkenal semacam Top Gun (1986), Armageddon (1998), Pearl Harbor (2001), Black Hawk Down (2002), hingga franchise Pirates of the Caribbean (2003-2017).

Namun, sambil menunggu Geostorm, para moviemania dan cowok jomblo di Indonesia bisa terlebih dahulu menikmati keseksian Abbie Cornish lewat Lavender, yang mulai tayang di CGV dan Cinemaxx mulai hari Rabu (19/4) ini. Psychological thriller rilisan Samuel Goldwyn Films tersebut sebenarnya sudah diputar di Amerika Serikat sejak 3 Maret 2017 yang lalu.

Kisahnya tentang seorang fotografer bernama Jane (Abbie Cornish) yang kehilangan sebagian memorinya setelah mengalami kecelakaan fatal. Untuk memulihkan ingatannya, sang psikiater, Liam (Justin Long), kemudian menyarankannya untuk mengunjungi rumah masa kecilnya. Rumah tersebut sebenarnya adalah rumah tempat keluarga Jane dibantai saat dia masih anak-anak.

Di sana, Jane kemudian menemukan petunjuk-petunjuk aneh dari foto-foto yang diambilnya. Jane pun mulai merasa bahwa mungkin dialah yang sebenarnya bertanggung jawab atas kematian seluruh keluarganya! Benarkah demikian?

Selain Abbie Cornish dan Justin Long, Lavender juga dihiasi oleh pemain yang cukup ternama, yaitu aktor kawakan Dermot Mulroney. Dia sudah berpengalaman membintangi berbagai genre film seperti My Best Friend's Wedding (1997), The Grey (2011), Insidious: Chapter 3 (2015), Dirty Grandpa (2016), hingga Sleepless (2017).

Sementara itu, Justin Long mulai dikenal sejak tampil di Jeepers Creepers (2001), Dodgeball: A True Underdog Story (2004), dan Herbie: Fully Loaded (2005) bareng si supersexy Lindsay Lohan. Mantan pacar Drew Barrymore dan Amanda Seyfried itu kemudian mencapai puncak kejayaan setelah menjadi lawan main Bruce Willis di Live Free or Die Hard (2007) dan mengisi suara Alvin Seville di franchise film animasi Alvin and the Chipmunks (2007-2015).

Sayangnya, meski diperkuat oleh sejumlah nama terkenal, Lavender yang tayang perdana di Tribeca Film Festival pada 18 April 2016 tersebut mendapat respon negatif dari para kritikus. Plot cerita, yang naskahnya ditulis sendiri oleh sang sutradara, Ed Gass-Donnelly, dianggap kurang logis, membosankan, dan gagal menyajikan ketegangan seperti yang diharapkan dari kisah misteri pada umumnya.

***

Lavender

Sutradara: Ed Gass-Donnelly
Produser: Ed Gass-Donnelly, David Valleau
Penulis Skenario: Colin Frizzell, Ed Gass-Donnelly
Pemain: Abbie Cornish, Dermot Mulroney, Justin Long, Diego Klattenhoff, Peyton Kennedy, Lola Flanery
Musik: Sarah Neufeld, Colin Stetson
Sinematografi: Brendan Steacy
Penyunting: Dev Singh
Produksi: South Creek Pictures, 3 Legged Dog Films
Distributor: Samuel Goldwyn Films
Durasi: 93 menit
Rilis: 18 April 2016 (Tribeca Film Festival), 3 Maret 2017 (Amerika Serikat),19 April 2017 (Indonesia)

Rating (hingga 17 April 2017)
IMDb: 5,1/10
Rotten Tomatoes: 33%


April 12, 2017

Preview Film: Fast & Furious 8 - The Fate of the Furious (2017)


Tak bisa dipungkiri, sejak pertama kali dirilis 16 tahun yang lalu, The Fast and the Furious telah menjelma menjadi salah satu franchise film tersukses sepanjang masa. Temanya pun mengalami metamorfosis, dari balapan jalanan, alias street racing, menjadi heist film (pencurian), hingga spy caper dengan misi agen rahasia ala Mission: Impossible.

Furious 7, yang tayang dua tahun lalu, tercatat sebagai yang terlaris di antara franchise Fast & Furious. Film yang menjadi perpisahan bagi mendiang Paul Walker itu bahkan menjadi film dengan pendapatan tertinggi keenam sepanjang masa. Pemasukan box office-nya yang mencapai USD 1,5 miliar hanya kalah dari The Avengers (2012), Jurassic World (2015), Star Wars: The Force Awakens (2015), Titanic (1997) dan Avatar (2009).

Semula, para fans mengira Furious 7 bakal menjadi seri terakhir dari franchise yang digawangi oleh Vin Diesel tersebut. Namun, dugaan itu ternyata salah. Meski Paul Walker sudah tiada, petualangan Dominic Toretto dkk bakal terus berlanjut. Bahkan, tidak tanggung-tanggung, pihak produser telah menyiapkan trilogi baru, alias tiga film sekaligus, F8, F9 dan F10, yang akan diawali dengan The Fate of the Furious yang mulai tayang hari Rabu (12/4) ini di Indonesia.

Dalam sebuah wawancara, Vin Diesel menyatakan ide film kedelapan ini sebenarnya berasal dari almarhum Paul Walker. Saat masih hidup, bintang film Hours (2013) itu sempat menjamin bahwa Fast 8 pasti bakal dibuat. Sebagai seorang "saudara", Vin pun merasa berkewajiban untuk mewujudkan "wasiat" Paul tersebut. Maka, lahirlah The Fate of the Furious. Karena film ini seperti sebuah takdir yang memang harus terjadi, meski tanpa kehadiran Paul.

Chris Morgan, sang penulis naskah, mengungkap, secara teknis, Furious 7 sebenarnya bisa menjadi akhir yang manis (sekaligus pahit, dengan tewasnya Paul Walker) dari franchise tersebut. Bisa dibilang, film yang disutradarai oleh James Wan itu merupakan tribute atau penghormatan yang sempurna untuk almarhum Paul.

Oleh karena itu, melanjutkan kisah Fast & Furious tanpa Paul, yang selama ini menjadi tokoh utama, sejatinya, merupakan hal yang sulit. Kegalauan pun sempat menghinggapi tim produksi. Apakah mereka harus berhenti? Apakah mereka harus terus melanjutkan meski tanpa Paul? Seperti apa nanti hasilnya?

Setelah melalui serangkaian proses dan diskusi, Chris Morgan akhirnya menyimpulkan bahwa Fast & Furious terancam tamat jika mereka tidak menyajikan sesuatu yang berbeda. Maka, tim produksi kemudian mengambil keputusan untuk lanjut dengan menampilkan kisah yang benar-benar lain dari pakem franchise tersebut.

Tidak ada lagi tema "keluarga" seperti yang selalu dikhotbahkan oleh tokoh Dom Toretto (Vin Diesel) selama ini. Oleh karena itu, tagline yang diusung oleh The Fate of the Furious ini adalah "Family No More", alias gak dulur-duluran maneh, kalau menurut arek-arek Jawa Timur.

Ya, berdasarkan trailer yang dirilis oleh Universal Pictures, sosok Dom, sang pemimpin, kepala keluarga dari Fast Family, memang digambarkan sudah berpaling dari "saudara-saudara"-nya gara-gara bujukan maut Cipher (Charlize Theron). Entah apa yang dibisikkan oleh cewek sexy itu sehingga Dom tega melawan teman-temannya dan, bahkan, meninggalkan sang istri tercinta, Letty Ortiz (Michelle Rodriguez).

Cipher sendiri merupakan tokoh antagonis baru di Fast & Furious. Sosok yang belum diketahui siapa nama aslinya tersebut merupakan dalang berbagai aksi kriminal dan seorang cyber-terrorist yang kejam. Charlize Theron menggambarkan karakter yang diperankannya tersebut sebagai seorang psikopat yang jahat. Pembawaannya tenang dan dingin, semacam Hannibal Lecter di The Silence of the Lambs (1991).

Charlize Theron juga mengaku beruntung bisa terlibat dalam The Fate of the Furious. MILF dengan ukuran dada 34B itu memang menyukai franchise tersebut. Meski demikian, awalnya dia sempat kaget waktu pihak produser menawarinya ikut bermain, sebelum akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan Fast Family.

Tampil dalam film action dan kebut-kebutan mobil sebenarnya bukan hal baru bagi Theron. Para moviemania pasti masih ingat dengan perannya yang brilian sebagai cewek bertangan buntung, Furiosa, di Mad Max: Fury Road (2015). Oleh karena itu, F8 ini sempat diplesetkan menjadi The Fate of the Furiousa.

Selain Furiosa, eh, Cipher, tokoh baru lainnya adalah Magdalene Shaw, yang merupakan nyokap dari kakak-beradik bajingan, The Shaw Brothers, Deckard (Jason Statham) dan Owen (Luke Evans). Pemerannya pun tidak main-main, aktris senior Helen Mirren.

Hingga kini, sosok Tante Magdalene ini memang masih misterius. Apakah dia sejahat dua anaknya? Dalam sebuah foto yang dirilis beberapa waktu lalu, tampak Dom sedang berbincang dengannya di sebuah pesta. Apa hubungan wanita paro baya tersebut dengan si Hot Cipher?

Yang pasti, di film ini, anak tertuanya, Deckard, bakal kembali muncul dan memiliki peran sentral. Sementara itu, adiknya, Owen, masih terbujur koma di rumah sakit. Dan, yang lebih mengejutkan, dalam trailer F8 terlihat Deckard dibebaskan dari penjara dan bergabung dengan bekas timnya Dom yang kini dipimpin oleh Luke Hobbs (Dwayne "The Rock" Johnson).

Sosok dibalik bersatunya dua musuh bebuyutan itu adalah Frank "Mr. Nobody" Petty (Kurt Russell), pemimpin pasukan khusus yang sudah pernah tampil di Furious 7 (2015). Tim baru bentukan Mr. Nobody yang terdiri dari Deckard, Hobbs, Letty dkk ini ditugaskan untuk menghentikan Dom, yang sedang berada di bawah pengaruh jahat Cipher.

Secara logika, bersatunya Deckard dengan bekas timnya Dom ini memang sulit diterima. Mantan anggota pasukan khusus Inggris itu adalah sosok di balik terbunuhnya Han (Sung Kang), anggota Fast Family yang sangat dicintai oleh Letty dkk. Pasti masih ada dendam di antara mereka. Jadi, tema film F8 ini semacam kawan menjadi lawan dan lawan menjadi kawan.

Btw, setelah proses syuting selesai bulan Agustus tahun lalu, publik sempat dikejutkan oleh The Rock yang mengungkapkan kekesalannya di media sosial. Mantan pegulat professional itu mengunggah sebuah foto di Instagram dan menulis caption bahwa salah satu lawan mainnya di F8 adalah seorang pecundang.

Saat diwawancarai, The Rock mengungkap ada aktor yang bersikap tidak professional saat proses syuting dilakukan. Semula, para fans mengira orang yang dimaksud itu adalah Scott Eastwood, yang kali ini memerankan karakter baru bernama Eric Reisner. Namun, kemudian dugaan mengerucut kepada Vin Diesel.

Saat proses pengambilan gambar dilakukan, rumornya, bintang franchise Riddick itu beberapa kali datang terlambat ke lokasi syuting dan membuat para kru dan pemain lainnya kesal, termasuk The Rock. Entah benar atau tidak kabar tersebut.

Vin Diesel sendiri, saat diwawancarai beberapa waktu yang lalu, membantah telah berseteru dengan Dwayne Johnson. Seperti di filmnya, dia menganggap semua pemain franchise Fast & Furious adalah keluarganya. Hubungannya dengan The Rock sendiri menurutnya cukup dekat. Bahkan, ketika di rumah, Vin memanggilnya sebagai Uncle Dwayne karena dia dianggap sebagai sosok paman di Fast Family.

Sementara itu, rumor ikut sertanya Cody Walker dipastikan tidak benar. Sebelum proses syuting dilakukan memang sempat beredar kabar adik mendiang Paul Walker itu akan tampil sebagai Brian O'Conner dengan bantuan efek CGI (computer-generated imagery) seperti di Furious 7 (2015).

Pihak Universal Pictures juga sudah membantah keterlibatan Cody Walker dan menghapus namanya yang sempat tercantum di daftar pemain F8 versi situs IMDb. Karakter Brian dikisahkan sudah pensiun dan hidup bahagia bersama istri tercintanya, Mia Toretto (Jordana Brewster), dan kedua anaknya.

Di lain pihak, Lucas Black juga batal tampil di F8 karena jadwal syutingnya bentrok. Padahal, pemeran Sean Boswell di The Fast and the Furious: Tokyo Drift (2006) itu dianggap paling pas sebagai sosok penerus almarhum Paul Walker. Bintang serial NCIS itu mungkin baru akan muncul kembali di F9 dan F10.

Berbicara mengenai proses syuting, seperti seri-seri sebelumnya, F8 juga melanjutkan tradisi dengan melakukan pengambilan gambar di berbagai tempat eksotik di seluruh dunia. Setelah Miami, Tokyo, Rio De Janeiro, London dan Dubai, kini yang kebagian jatah adalah Islandia dan Havana. Menariknya, F8 menjadi film Hollywood pertama yang melakukan syuting di Kuba setelah membaiknya hubungan negaranya Fidel Castro tersebut dengan Amerika Serikat.

Dengan durasi yang cukup panjang, hingga 136 menit, para penonton juga bakal tetap disuguhi adegan-adegan gila dan ekstrem khas Fast & Furious, seperti penghancuran ratusan mobil mewah, bola raksasa yang ditabrakkan ke mobil, hingga mobil yang bisa dikendalikan dari jarak jauh dengan remote control. Satu lagi yang membuat penasaran adalah cuplikan adegan mobil-mobil balap dikejar oleh sebuah kapal selam di daerah kutub yang diselimuti es membeku.

Sejumlah scene yang memacu adrenalin itu, tentu saja, membuat F8 semakin ditunggu. Dan, setelah menggelar world premiere di Berlin pada 4 April 2017 yang lalu, film besutan F. Gary Gray ini tampaknya cukup memuaskan bagi para penonton. Respon para kritikus, sejauh ini, cukup positif.

Memang, F8 dinilai tidak sebaik dan semenyentuh Furious 7. Meski demikian, F. Gary Gray dianggap berhasil menyuguhkan tontonan action yang fun dan menghibur. The Fate of the Furious juga dirasa mampu memberi energi baru bagi franchise Fast & Furious yang seakan meredup sepeninggal Paul Walker.

***

Fast & Furious 8 - The Fate of the Furious

Sutradara: F. Gary Gray
Produser: Neal H. Moritz, Vin Diesel, Michael Fottrell
Penulis Skenario: Chris Morgan
Berdasarkan: Para karakter ciptaan Gary Scott Thompson
Pemain: Vin Diesel, Dwayne Johnson, Jason Statham, Michelle Rodriguez, Tyrese Gibson, Chris Bridges, Nathalie Emmanuel, Kurt Russell, Scott Eastwood, Charlize Theron, Helen Mirren
Musik: Brian Tyler
Sinematografi: Stephen F. Windon
Penyunting: Christian Wagner, Paul Rubell
Produksi: Original Film, One Race Films, Perfect World Pictures
Distributor: Universal Pictures
Durasi: 136 menit
Rilis: 4 April 2017 (Berlin), 12 April 2017 (Indonesia), 14 April 2017 (Amerika Serikat)

Rating (hingga 11 April 2017)
Rotten Tomatoes: 79%
Metacritic: 61/100


Preview Film: Miss Sloane (2016)


Meski sudah terjun di panggung theater sejak 1998, Jessica Chastain baru melakoni debutnya di layar lebar pada 2008 lewat film drama berjudul Jolene. Nama aktris kelahiran Sonoma, California, tersebut kemudian menjadi terkenal setelah ikut main di enam film sekaligus pada tahun 2011. Bahkan, kala itu, dia berhasil masuk nominasi Piala Oscar kategori aktris pendukung terbaik lewat film The Help (2011).

Setahun berikutnya, Jessica Chastain mencapai puncak kejayaan setelah membintangi film thriller Zero Dark Thirty (2012). Aktingnya yang brilian sebagai seorang agen CIA membawanya kembali masuk nominasi Piala Oscar kategori aktris terbaik. Meski kembali gagal menang, cewek yang kini berusia 40 tahun itu akhirnya berhasil mendapat hadiah hiburan, menggondol Golden Globe Award kategori aktris drama terbaik.

Tahun lalu, Jessica Chastain kembali membintangi dua film, yaitu The Huntsman: Winter's War bareng Chris Hemsworth dan Miss Sloane, yang baru diputar di bioskop-bioskop Indonesia mulai hari Sabtu (8/4) ini. Lewat film rilisan EuropaCorp tersebut, cewek dengan ukuran dada 34B itu kembali masuk nominasi Golden Globe Awards kategori aktris drama terbaik.

Miss Sloane sendiri merupakan drama thriller bertema politik. Mengisahkan sepak terjang Elizabeth Sloane (Jessica Chastain), seorang negosiator ulung di Washington, D.C. Nama Sloane menjadi terkenal karena lobi-lobi politik yang dia lakukan selalu berhasil mengalahkan lawan-lawannya.

Suatu ketika, Miss Sloane harus menghadapi kasus yang sangat dilematis. Dia menjadi pelobi bagi salah satu pihak yang tengah berseteru dalam pengujian sebuah undang-undang yang kontroversial, yaitu tentang melegalkan atau mencabut hak kepemilikan senjata api.

Pengujian undang-undang tersebut membuat Kongres terbagi dua, antara yang setuju legalisasi kepemilikan senjata api dan yang menolak. Sloane pun harus menghadapi berbagai tekanan dari para politikus yang berseberangan dengannya. Bahkan, kali ini, karirnya yang moncer pun terancam tamat. Mampukah wanita cantik itu meloloskan pendapatnya meski dia hanya menjadi pihak minoritas di Kongres?

Setelah tayang di Amerika Serikat pada 25 November 2016 yang lalu, Miss Sloane mendapat respon positif dari para kritikus. Sutradara John Madden dianggap berhasil mengangkat tema drama politik yang lebih mengedepankan diskusi diplomatik, termasuk dengan lika-liku dan intrik-intrik politik di dalamnya yang digambarkan secara nyata.

Akting Jessica Chastain kabarnya juga sangat memukau. Aktris yang masuk dalam daftar 100 Most Influential People in the World pada tahun 2012 versi majalah TIME tersebut menjadi kekuatan utama dari film Miss Sloane. Tak heran, para juri Golden Globe Awards menobatkannya sebagai salah satu nominator aktris drama terbaik tahun 2016.

Sayangnya, meski mendapat review positif dan dipuji oleh para kritikus, Miss Sloane gagal total secara komersial. Film berbujet USD 13 juta itu, hingga kini, hanya meraup pemasukan USD 4,6 juta, alias belum balik modal. Bahkan, film yang juga dibintangi oleh Mark Strong ini masuk dalam daftar film dengan pendapatan opening weekend terendah sejak 1982 versi Box Office Mojo.

***

Miss Sloane

Sutradara: John Madden
Produser: Ariel Zeitoun, Ben Browning, Kris Thykier
Penulis Skenario: Jonathan Perera
Pemain: Jessica Chastain, Mark Strong, Gugu Mbatha-Raw, Michael Stuhlbarg, Alison Pill, Jake Lacy, John Lithgow, Sam Waterston
Musik: Max Richter
Sinematografi: Sebastian Blenkov
Penyunting: Alexander Berner
Produksi: FilmNation Entertainment, Archery Pictures, France 2 Cinema, Canal+, Ciné+, France Televisions
Distributor: EuropaCorp
Durasi: 132 menit
Budget: USD 13 juta
Rilis: 11 November 2016 (AFI Fest), 25 November 2016 (Amerika Serikat), 8 April 2017 (Indonesia)

Rating (hingga 9 April 2017)
IMDb: 7,2/10
Rotten Tomatoes: 71%
Metacritic: 63/100
CinemaScore: A-