Sebagai aktor berbakat, James Franco sudah membintangi berbagai genre film. Aktingnya yang memukau sebagai Aron Ralston di 127 Hours (2010), yang didasarkan pada kisah nyata, membuatnya masuk nominasi Aktor Terbaik di Academy Awards 2011.
Tahun ini, kakak Dave Franco itu sebenarnya juga membintangi beberapa film. Namun, yang bisa dianggap "besar" hanya dua, yaitu film animasi Sausage Party, di mana dia menjadi salah satu pengisi suaranya, serta film komedi Why Him?, yang bakal tayang mulai hari Jumat (30/12) ini di Indonesia.
Bermain dalam film komedi romantis semacam Why Him? sebenarnya bukan hal yang baru bagi James Franco. Sebelum melejit lewat trilogi Spider-Man (2002-2007), bintang Rise of the Planet of the Apes (2011) ini melakoni debut layar lebarnya di Never Been Kissed (1999) bareng si sexy Drew Barrymore.
Di Why Him?, Franco bakal beradu akting dengan aktor kawakan Bryan Cranston, yang dikenal sebagai pemeran Walter White di serial televisi Breaking Bad (2008-2013). Selain itu, juga ada Zoey Deutch, aktris muda nan cantik yang sebelum ini pernah membintangi Beautiful Creatures (2013), Vampire Academy (2014), dan Dirty Grandpa (2016).
Kisah Why Him? sendiri tergolong sederhana. Tentang seorang ayah, Ned Fleming (Bryan Cranston), yang tidak setuju putrinya, Stephanie (Zoey Deutch), menikah dengan tunangannya, Laird Mayhew (James Franco).
Saat mengunjungi Stephanie yang sedang kuliah di Stanford University, Ned beserta istrinya, Barb (Megan Mullaly), dan putranya yang masih ababil, Scott (Griffin Gluck), diperkenalkan kepada pacar putrinya, Laird, seorang milyuner muda tapi urakan. Sikap Laird yang slengekan dan vulgar itu membuat Ned langsung ilfil. Apalagi, saat dia menyampaikan niatnya untuk melamar Stephanie.
Ned pun mencari segala cara agar anak gadisnya tidak jadi menikah. Sebaliknya, Laird yang kaya raya juga melakukan segala upaya untuk mengambil hati Stephanie beserta ibu dan adik laki-lakinya. Berbagai hal lucu dan kocak pun terjadi. Siapakah yang bakal menang, sang camer, Ned, atau sang calon mantu yang tak dirindukan, Laird?
Dengan mengusung nama James Franco dan menghabiskan bujet yang cukup besar, hingga USD 38 juta, Why Him? digadang-gadang menjadi salah satu film komedi tersukses tahun ini. Setelah tayang di Amerika Serikat sejak 23 Desember 2016 yang lalu, rilisan 20th Century Fox ini mampu meraup pemasukan USD 10 juta hanya dalam empat hari pemutaran. Sesuai dengan target para produser.
Sayangnya, sejumlah situs review dan kritikus memberi respon kurang positif. Penampilan James Franco dan Bryan Cranston memang tidak perlu diragukan. Namun, Why Him? dianggap agak membosankan karena mengandalkan formula bokap-vs-tunangan yang tidak ada habisnya.
***
Why Him?
Sutradara: John Hamburg
Produser: Stuart Cornfeld, Dan Levine, Shawn Levy, Ben Stiller
Penulis Skenario: John Hamburg, Ian Helfer
Pengarang Cerita: Jonah Hill, John Hamburg, Ian Helfer
Pemain: James Franco, Bryan Cranston, Zoey Deutch, Megan Mullally, Griffin Gluck, Keegan-Michael Key, Kaley Cuoco
Musik: Theodore Shapiro
Sinematografi: Kris Kachikis
Penyunting: William Kerr
Produksi: 21 Laps Entertainment, Red Hour Productions, TSG Entertainment
Distributor: 20th Century Fox
Durasi: 111 menit
Budget: USD 38 juta
Rilis: 17 Desember 2016 (Los Angeles), 23 Desember 2016 (Amerika Serikat), 30 Desember 2016 (Indonesia)
Paula Hawkins pada awalnya adalah seorang jurnalis yang lahir di Afrika, tepatnya di Salisbury, Rhodesia (kini Harare, Zimbabwe), 44 tahun yang lampau. Pada tahun 1989, putri seorang professor ekonomi dan finansial itu kemudian pindah ke London, Inggris, dan bekerja di koran The Times.
Di sela-sela kesibukannya sebagai wartawan bisnis, Hawkins juga menulis sebuah buku tentang panduan finansial bagi para wanita yang berjudul The Money Goddess (2006). Adapun, karirnya sebagai penulis fiksi baru dimulai sekitar tahun 2009. Dengan menggunakan nama pena Amy Silver, ia menelurkan empat buah novel komedi romantis, salah satunya adalah Confessions of a Reluctant Recessionista (2009).
Karir Hawkins sebagai penulis ternyata tidak berjalan semulus paha Emily Blunt. Novel-novelnya gagal laku di pasaran. Perempuan lulusan Keble College, Oxford itu pun mengalami masalah finansial. Dia terpaksa meminjam uang dari bokapnya.
Meski demikian, Hawkins tidak menyerah. Dia kembali menulis novel. Kali ini, kisahnya lebih serius dan kelam. Berjudul The Girl on the Train. Terbit tahun 2015 yang lalu. Dan, ndilalah, laku keras secara komersial. Terjual hingga 15 juta kopi dan nangkring di posisi pertama The New York Times Fiction Best Sellers of 2015 selama 13 pekan beruntun, mulai 1 Februari hingga April 2015.
Para produser di Hollywood langsung tertarik untuk mengangkat kisah The Girl on the Train ke layar lebar. DreamWorks Pictures dan Marc Platt Productions kemudian berhasil membeli hak untuk memfilmkannya. Tate Taylor, yang pernah menghasilkan The Help (2011), ditunjuk sebagai sutradara dan Emily Blunt menjadi bintang utamanya.
Ceritanya tentang seorang janda kembang alkoholik bernama Rachel Watson (Rachel Watson). Setiap pagi, dia berangkat kerja naik kereta dengan rute yang sama, melewati pinggiran Kota New York. Rachel pun menjadi hafal dan akrab dengan pemandangan dan suasana yang ia lalui setiap hari, termasuk dengan rumah yang pernah dia huni bersama mantan suaminya, Tom (Justin Theroux).
Rachel juga merasa dekat dengan Megan (Haley Bennett) dan Scott Hipwell (Luke Evans), pasangan suami-istri yang sebenarnya tidak ia kenal dan hanya dia lihat dari balik jendela kereta setiap hari. Meski belum pernah bertemu secara langsung sebelumnya, dia merasa sudah mengenal mereka sejak lama.
Suatu saat, Megan tiba-tiba menghilang. Rachel, yang sebenarnya tidak punya kepentingan apa-apa, tergerak untuk membantu mencarinya. Melalui kereta yang ia naiki setiap hari, Rachel sedikit demi sedikit mulai menemukan petunjuk untuk menguak misteri tersebut. Namun, sialnya, justru dia yang kemudian dituduh terlibat dalam kasus hilangnya Megan.
Jika dilihat dari plotnya, The Girl on the Train ini memang mirip dengan Gone Girl yang dikarang oleh Gillian Flynn. Tak heran, keduanya sering dibanding-bandingkan. The Girl on the Train pun dianggap mengekor Gone Girl, yang sudah sukses difilmkan pada tahun 2014 dengan bintang Ben Affleck dan Rosamund Pike yang seksi abis itu.
Meski temanya sama-sama psychological thriller, menurut Paula Hawkins, sang pengarang, karakter Rachel Watson sangat berbeda dengan Amy Dunne, seorang psikopat yang cerdas dan manipulatif dalam novel Gone Girl. Di The Girl on the Train, Rachel hanyalah cewek biasa dan pecandu alkohol.
Di versi novel, karakter Rachel Watson bahkan digambarkan sebagai janda gendut dengan penampilan yang tidak menarik. Bertolak belakang dengan sosoknya di versi film, yang meski ditampilkan kucel, masih tetap kelihatan cantik.
Paula Hawkins sendiri mengaku tidak menyangka karakter Rachel Watson diperankan aktris secaem Emily Blunt. Menurutnya, bintang Sicario (2015) itu terlalu sempurna sebagai Rachel, seorang pemabuk yang depresi dengan kehidupannya.
Selain sosok Rachel, hal lain yang berbeda dengan versi novel adalah setting-nya. Di film, kisah The Girl on the Train terjadi di Westchester, New York, bukan di London seperti yang diceritakan di bukunya. Proses syuting yang berlangsung dari 4 November 2015 hingga 30 Januari 2016 pun dilakukan di Kota Big Apple tersebut.
Meski tidak sesuai dengan gambaran di novelnya, penampilan Emily Blunt sebagai Rachel Watson ternyata mendapat banyak pujian. Lawan main Tom Cruise di Edge of Tomorrow (2014) itu dianggap sangat total dalam memerankan seorang janda tukang mabuk.
Atas akting briliannya tersebut, Emily Blunt diganjar masuk nominasi Aktris Terbaik di ajang 23rd Screen Actors Guild Awards yang baru diumumkan pekan lalu. Satu-satunya kekurangan wanita berukuran dada 32B itu adalah tetap kelihatan aduhai, meski sudah di-makeup sekusut mungkin, dengan eyeliner yang belepotan. Natural beauty-nya memang susah dihilangkan.
Emily Blunt sendiri menganggap perannya di The Girl on the Train ini sangat menantang. Dia memang jarang mendapatkan peran seorang pemabuk seperti Rachel Watson yang memiliki banyak kekurangan. Biasanya, para aktris lebih suka memerankan sosok yang sempurna dan ideal. Oleh karena itu, sejak ditunjuk memerankan Rachel, MILF berusia 33 tahun itu mengaku benar-benar mempersiapkan fisik dan mentalnya.
Selain Emily Blunt, Kate Mara sebenarnya sempat dibidik sebagai salah satu pemeran dalam The Girl on the Train. Namun, adik Rooney Mara tersebut akhirnya mundur. Mungkin, karena dia lebih memilih tampil dalam film sci-fi thriller, Morgan, yang sudah tayang pada bulan September 2016 yang lalu. Sebagai gantinya, pihak produser kemudian menggaet Rebecca Ferguson dan Haley Bennett.
Di lain pihak, sebagai lawan main Emily Blunt, semula yang disiapkan adalah Jared "The Joker" Leto dan Chris "Captain America" Evans. Namun, kedua aktor papan atas tersebut akhirnya juga batal tampil karena jadwal mereka bentrok. Luke Evans dan Justin Theroux yang kemudian direkrut sebagai pengganti.
Sayangnya, meski secara box office cukup lumayan, meraup pemasukan USD 172 juta sejak dirilis pada 7 Oktober 2016 di Amerika Serikat, film berbujet USD 45 juta ini mendapat rating kurang positif dari sejumlah situs review dan kritikus. Akting luar biasa Emily Blunt tidak mampu mengangkat plot cerita yang terlalu melodramatis dengan skenario yang datar-datar saja. The Girl on the Train versi film ini dianggap lebih buruk daripada versi novelnya.
***
The Girl on the Train
Sutradara: Tate Taylor
Produser: Marc Platt
Penulis Skenario: Erin Cressida Wilson
Berdasarkan: The Girl on the Train by Paula Hawkins
Pemain: Emily Blunt, Haley Bennett, Rebecca Ferguson, Justin Theroux, Luke Evans, Allison Janney, Édgar Ramírez, Lisa Kudrow
Musik: Danny Elfman
Sinematografi: Charlotte Bruus Christensen
Penyunting: Michael McCusker, Andrew Buckland
Produksi: DreamWorks Pictures, Reliance Entertainment, Marc Platt Productions
Distributor: Universal Pictures
Durasi: 112 menit
Budget: USD 45 juta
Rilis: 20 September 2016 (Odeon Leicester Square), 7 Oktober 2016 (Amerika Serikat), 30 Desember 2016 (Indonesia)
Film horror, meskipun menyeramkan, memang selalu bikin nagih untuk ditonton. Apalagi, jika berdasarkan kisah nyata, atau terinspirasi dari lokasi yang benar-benar ada dan terkenal angker. Seperti halnya Eloise, yang tayang di Indonesia mulai hari Rabu (28/12) ini.
Film besutan Robert Legato tersebut memang melakukan syuting di Eloise Insane Asylum. Bekas rumah sakit jiwa terbesar di dunia yang kini tercampakkan itu terletak di Nankin Township, Wayne County, Michigan, Amerika Serikat.
Dibangun pada tahun 1892, Eloise awalnya hanya berupa satu gedung penampungan orang-orang miskin. Namun, institusi tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah kompleks rumah sakit jiwa yang terdiri atas 78 gedung, yang dilengkapi dengan pemadam kebakaran, kantor polisi, stasiun kereta api, kantor pos, hingga lahan pertanian sendiri!
Menariknya, kantor pos di kompleks tersebut, yang dibangun pada 20 Juli 1894, kemudian disebut "Eloise", berasal dari nama putri sang kepala kantor pos: Eloise Dickerson Davock. Nama itu akhirnya menjadi terkenal dan diadopsi sebagai nama resmi untuk seluruh institusi.
Pada tahun 1913, Eloise terdiri dari tiga divisi besar: The Eloise Hospital (rumah sakit jiwa), The Eloise Infirmary (poorhouse), dan The Eloise Sanitarium (rumah sakit khusus penderita TBC). Namun, pada 1945, nama resmi "Eloise" kemudian diubah menjadi Wayne County General Hospital.
Masa kejayaan Eloise berlangsung cukup lama, sebelum akhirnya ditutup sepenuhnya pada tahun 1982, yang diawali dengan penutupan rumah sakit jiwanya pada 1979. Dari 78 bangunan, kini hanya tersisa empat gedung yang digunakan untuk kantor, pusat perawatan, dan penampungan tuna wisma. Selain itu, juga ada tempat pemakaman umum.
Bangunan-bangunan lain yang tak terpakai, seperti toko roti, pemadam kebakaran, ruang kelistrikan, dan lain-lain, dibiarkan terbengkalai begitu saja dan menjadi angker. Pada bulan Maret 2016 yang lalu, bahkan, sempat terjadi kebakaran hebat di area pembangkit listrik tenaga batubara yang digunakan sebagai penghasil uap panas dan listrik untuk seluruh kawasan Eloise.
Keangkeran kompleks tersebut akhirnya menginspirasi para produser untuk membuat sebuah film horror. Robert Legato, yang sebelum ini lebih dikenal sebagai visual effects supervisor, diangkat menjadi sutradara. Eloise pun tercatat sebagai film pertama yang dibesut oleh pria kelahiran 1956 tersebut.
Film yang baru akan tayang di Amerika Serikat pada 3 Februari 2017 ini mengisahkan tentang empat sekawan yang diperankan oleh Eliza Dushku, Chace Crawford, Brandon T. Jackson, dan P. J. Byrne. Mereka menerobos masuk ke dalam Eloise, bekas rumah sakit jiwa yang seram dan tak bertuan.
Misi Jacob Martin (Chace Crawford) adalah mencari sepucuk surat kematian yang disimpan di Eloise, yang nantinya bakal ia gunakan untuk mendapatkan harta warisan. Namun, bukan hanya situasi menyeramkan yang Jacob dkk temui di sana, melainkan juga rahasia kelam yang menyelimuti tragedi masa lalu di bekas rumah sakit jiwa tersebut.
Salah satu produser Eloise, Tripp Vinson, selama ini memang dikenal kerap menghasilkan film-film horror serta action-thriller yang bernuansa kelam. Sebut saja, Hansel & Gretel: Witch Hunters (2013), Red Dawn (2012) yang dibintangi Chris Hemsworth, The Number 23 (2007)-nya Jim Carey, hingga The Exorcism of Emily Rose (2005) yang didasarkan pada kisah nyata.
Sementara itu, meski Eloise ini merupakan debutnya sebagai sutradara, track record Robert Legato di dunia perfilman juga tidak bisa diremehkan. Jagoan visual efek itu sudah pernah meraih dua Piala Oscar lewat karyanya di film Titanic (1997) dan Hugo (2011). Selain itu, dia juga terlibat dalam film-film terkenal, seperti Apollo 13 (1996), Shutter Island (2010), dan The Jungle Book (2016).
Jadi, meski nantinya kisah Eloise tidak semenegangkan yang diharapkan, minimal, para penonton bakal dipuaskan oleh efek visual garapan sutradara Robert Legato. Setidaknya, begitulah perkiraan para kritikus, yang hingga kini belum bisa memberi penilaian karena film ini memang belum tayang, baik di Eropa maupun Amerika Utara.
***
Eloise
Sutradara: Robert Legato
Produser: Sanford Nelson, Tripp Vinson
Penulis Skenario: Christopher Borrelli
Pemain: Eliza Dushku, Robert Patrick, Chace Crawford, Brandon T. Jackson, Nicole Forester, P. J. Byrne
Musik: Ronen Landa
Sinematografi: Antonio Riestra
Penyunting: Greg D'Auria
Produksi: SLAM Productions, Palm Drive Productions, Vinson Films
Rilis: 28 Desember 2016 (Indonesia), 3 Februari 2017 (Amerika Serikat)
Film-film sci-fi bertema perjalanan luar angkasa memang sedang menanjak dalam tiga tahun terakhir. Dimulai oleh Gravity (2013) yang berhasil mengantarkan sutradara Alfonso Cuaron menyabet Piala Oscar, lalu Interstellar (2014)-nya Christopher Nolan, hingga The Martian (2015)-nya Matt Damon yang menjadi film komedi/musikal terbaik di ajang Golden Globe Awards.
Ketiga film sci-fi tadi, selain berhasil meraih berbagai penghargaan dan mendapat review positif dari para kritikus, juga sukses secara box office. Gravity, Interstellar, dan The Martian masing-masing mampu meraup pemasukan USD 723 juta, USD 675 juta, dan USD 630 juta secara global.
Akhir tahun ini, sebenarnya juga ada satu film sci-fi bertema perjalanan luar angkasa yang digadang-gadang bakal sesukses tiga film pendahulunya tersebut, yaitu Passengers. Para pemerannya pun bukan pemain ecek-ecek, melainkan dua bintang muda Hollywood yang paling terkenal saat ini, Jennifer Lawrence dan Chris Pratt.
Dari trailer-nya yang dirilis oleh Columbia Pictures pada bulan September 2016 yang lalu, terlihat bahwa Passengers ini merupakan film sci-fi romantis yang dikombinasikan dengan petualangan yang menegangkan. Tak salah jika ada yang menyebut film besutan sutradara Morten Tyldum ini sebagai Titanic versi luar angkasa.
Kisahnya ber-setting di masa depan, tentang perjalanan lima ribu penumpang starship Avalon yang tengah berhibernasi. Mereka semua sedang menuju planet bernama Homestead II, yang akan menjadi tempat tinggal baru, karena Bumi sudah tidak bisa dihuni. Perjalanan tersebut diperkirakan memakan waktu hingga 120 tahun!
Sialnya, di tengah perjalanan, yang "baru" berlangsung 30 tahun, seorang mekanik ganteng, Jim Preston (Chris Pratt), dan seorang jurnalis cantik, Aurora Lane (Jennifer Lawrence), tiba-tiba mengalami malfungsi kapsul tidur. Hal itu membuat mereka terbangun 90 tahun lebih awal dari jadwal semula.
Jim dan Aurora akhirnya bekerja sama untuk menyelidiki penyebab rusaknya kapsul tidur mereka. Petualangan berbahaya dan mencekam juga harus mereka jalani selama menjelajahi Avalon, pesawat luar angkasa raksasa tersebut. Menariknya, pepatah Jawa, tresna jalaran saka kulina, juga menjangkiti mereka. Benih-benih cinta mulai tumbuh di antara Jim dan Aurora.
Meski hanya berfokus pada dua karakter tersebut, bukan berarti film berdurasi 116 menit ini hanya menampilkan Chris Pratt dan JLaw saja. Ada tiga aktor kawakan lain yang menjadi pemain pendukung di Passengers, yaitu Michael Sheen, yang berperan sebagai robot bartender bernama Arthur, lalu juga ada Laurence Fishburne dan Andy Garcia.
Oleh karena itu, sutradara Morten Tyldum menjamin para penonton tidak akan bosan. Bakal ada banyak kejutan yang dimunculkan oleh Passengers. Kita akan diajak ikut merasakan ketegangan dan ketakutan yang dialami oleh para karakter. Kita bakal ikut menangis bersama Jim dan Aurora. Seperti naik roaller coaster, menurut sutradara yang pernah masuk nominasi Piala Oscar lewat The Imitation Game (2014) tersebut.
Meski ber-setting di masa depan yang begitu jauh, Tyldum memang berusaha menyajikan kisah Passengers senyata mungkin. Bahkan, sutradara asal Norwegia itu menyatakan para penonton akan merasa bahwa cerita fiksi tersebut terjadi di masa kini.
Tyldum juga memastikan hubungan romantis antara karakter Jim dan Aurora bakal sangat menarik sejak awal. Kemampuan akting mumpuni Chris Pratt dan JLaw sangat menunjang dalam hal ini. Chemistry di antara mereka sangat kuat.
Salah satu tantangan utama untuk membuat kisah cinta yang romantis dalam sebuah film adalah kedua pemain yang terlibat tidak saling menyukai. Namun, Pratt dan JLaw, yang belum pernah main bareng sebelumnya, ternyata bisa langsung dekat. Selera humor mereka juga pas, sehingga akhirnya bisa bekerja sama dengan baik dalam menyajikan adegan asmara. Seperti halnya Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet di film Titanic (1997).
Sebelum diperankan oleh Pratt dan JLaw, karakter Jim dan Aurora sebenarnya disiapkan untuk Keanu Reeves dan Emily Blunt. Nama Reese Whiterspoon dan Rachel McAdams juga sempat disebut-sebut bakal membintangi film yang semula bakal dibesut oleh sutradara debutan, Brian Kirk, dengan bujet "hanya" USD 35 juta ini.
Namun, setelah Sony Pictures Entertainment, yang merupakan induk perusahaan dari Columbia Pictures, berhasil membeli hak untuk memproduksi Passengers, bujet film ini membengkak hingga USD 110 juta. Dua bintang mahal pun digaet, Chris Pratt dan JLaw.
Passengers akhirnya sama-sama menjadi film kedua di 2016 bagi dua idola Hollywood tersebut. Sebelumnya, film pertama Pratt yang rilis tahun ini adalah The Magnificent Seven, sedangkan JLaw sempat tampil di X-Men: Apocalypse sebagai Mystique.
Naskah Passengers sebenarnya sudah ditulis sejak tahun 2007 oleh Jon Spaihts, dan masuk Blacklist, alias daftar naskah-naskah terbaik yang belum difilmkan. Spaihts sendiri sebelumnya sudah pernah menghasilkan skenario film sci-fi Prometheus (2012), yang merupakan prekuel dari Alien (1979)-nya Sigourney Weaver yang legendaris itu.
Jon Spaihts memang termasuk scriptwriter yang terkenal di Hollywood. Selain Prometheus, dia juga pernah menggarap naskah sejumlah film sci-fi dan fantasi seperti Doctor Strange, yang baru tayang bulan lalu, reboot The Mummy, yang bakal muncul tahun depan, serta sekuel Pacific Rim: Uprising (2018) dan remake Van Helsing yang belum ditentukan tanggal rilisnya.
Demi memanjakan mata penonton dengan gambar yang optimal, Passengers mengandalkan Rodrigo Prieto sebagai director of photography. Sinematografer ternama asal Meksiko itu sudah berpengalaman dalam melakukan syuting film-film berkualitas, semacam Brokeback Mountain (2005), Babel (2006), Argo (2012), dan The Wolf of Wall Street (2013). Tahun ini, Prieto juga kembali bekerja sama dengan sutradara kawakan Martin Scorsese dalam proyek Silence, yang digadang-gadang menjadi salah satu film terbaik 2016.
Dengan sederet nama besar tersebut, mulai dari pemain hingga kru di belakang layar, tak heran, bujet untuk Passengers lumayan besar. Gaji sang sutradara Morten Tyldum saja mencapai USD 3 juta. Belum lagi dua bintang utamanya, yang termasuk aktor dan aktris berbayaran tertinggi di Hollywood saat ini.
Sejak membintangi franchise The Hunger Games (2012-2015) dan meraih Piala Oscar sebagai aktris terbaik lewat Silver Linings Playbook (2012), tarif JLaw memang langsung melejit. Mantan pacar Nick Hoult itu dinobatkan sebagai Aktris Berpendapatan Tertinggi 2015 dan 2016 oleh majalah Forbes.
Di Passengers, aktris yang kecantikannya membuat para pria menelan air liur itu mendapat honor USD 20 juta plus royalti 30 persen dari pendapatan bersih film. Apa yang diterima oleh pemeran Katniss Everdeen itu jauh lebih tinggi daripada lawan mainnya, Chris Pratt, yang "hanya" dibayar USD 12 juta (bahkan, semula, hanya USD 10 juta, sebelum dinego). Padahal, biasanya, gaji aktor lebih besar daripada aktris.
Meski jauh lebih senior daripada JLaw (26 tahun), Chris Pratt (35 tahun), bisa dibilang, memang terlambat muncul. Namanya baru dikenal luas setelah membintangi Guardians of the Galaxy (2014), sebelum akhirnya mencapai puncak kejayaan lewat Jurassic World (2015). Maka dari itu, wajar saja bayarannya lebih rendah daripada JLaw, yang lebih dahulu tenar dan menjadi public figure favorit.
Hal lain yang membuat bujet Passengers membengkak adalah penggunaan set properti yang mahal. Terutama untuk menciptakan starship Avalon. Setengah bercanda, sutradara Morten Tyldum, bahkan, menyebut pesawat luar angkasa yang mereka buat merupakan yang paling keren setelah Millennium Falcon-nya Han Solo di franchise Star Wars.
Sayangnya, meski sudah jor-joran dengan modal besar, Passengers tampaknya kurang berhasil memikat hati para kritikus. Setelah tayang perdana di Regency Village Theatre pada 14 Desember 2016 yang lalu, sejumlah situs review memberi rating negatif. Penampilan apik dari JLaw dan Chris Pratt tidak mampu menutupi kekurangan plot cerita yang dianggap penuh lubang di sana-sini.
***
Passengers
Sutradara: Morten Tyldum
Produser: Neal H. Moritz, Stephen Hamel, Michael Maher, Ori Marmur
Penulis Skenario: Jon Spaihts
Pemain: Jennifer Lawrence, Chris Pratt, Michael Sheen, Laurence Fishburne, Andy García
Musik: Thomas Newman
Sinematografi: Rodrigo Prieto
Penyunting: Maryann Brandon
Produksi: LStar Capital, Village Roadshow Pictures, Wanda Pictures, Original Film, Company Films, Start Motion Pictures
Distributor: Columbia Pictures
Durasi: 116 menit
Budget: USD 110 juta
Rilis: 14 Desember 2016 (Regency Village Theatre), 21 Desember 2016 (Amerika Serikat), 23 Desember 2016 (Indonesia)
Selama ini, film-film yang diadaptasi dari video game bisa dibilang kurang berhasil di pasaran. Sebut saja, Street Fighter (1994) dan Mortal Kombat (1995). Padahal, dua game tersebut merupakan game yang legendaris pada masanya.
Meski demikian, para produser film di Hollywood tampaknya masih belum kapok. Upaya mereka mulai menampakkan hasil setelah Paramount Pictures merilis Lara Croft: Tomb Raider (2001). Film yang dibintangi oleh Angelina Jolie itu tercatat sebagai film adaptasi game pertama yang mampu menembus pemasukan di atas USD 100 juta di pasar domestik Amerika Serikat.
Tahun ini, ada dua film adaptasi game yang pencapaiannya melebihi Tomb Raider, yaitu The Angry Birds Movie (animasi) dan Warcraft (live-action). Keduanya mampu meraup pendapatan USD 349 juta dan USD 433 juta secara global. Namun, yang awalnya digadang-gadang bakal sukses di box office sebenarnya adalah Assassin's Creed, yang baru tayang mulai hari Rabu (21/12) ini.
Film yang diadaptasi dari video game rilisan Ubisoft tersebut mengisahkan tentang seorang kriminal bernama Callum Lynch (Michael Fassbender) yang dijatuhi hukuman mati. Demi menyelamatkan dirinya dari eksekusi, Lynch terpaksa menerima tawaran dari Obstergo Industries, yang dipimpin oleh Alan Rikkin (Jeremy Irons), untuk menjadi kelinci percobaan dalam Animus Project.
Dalam eksperimen tersebut, dengan bimbingan Dr. Sophia Rikkin (Marion Cotillard), yang merupakan putri dari Alan Rikkin, Lynch harus memasuki ingatan leluhurnya, Aguilar de Nerha (Michael Fassbender), yang telah meninggal 500 tahun yang lampau. Melalui teknologi revolusioner yang membuka ingatan genetisnya, Lynch bisa melihat, mendengar, dan merasakan petualangan yang dialami oleh kakek moyangnya, yang hidup di masa Inkuisisi Spanyol pada abad ke-15.
Aguilar sendiri adalah anggota dari the Assassins, sebuah organisasi rahasia yang berisikan orang-orang cerdas dengan kemampuan tinggi. Pada kala itu, mereka berjuang untuk meruntuhkan kesewenang-wenangan Templar Order, yang di masa kini berinkarnasi menjadi Abstergo Industries.
Setelah mengikuti Animus Project, selain mendapatkan memori dari Aguilar, Lynch juga memiliki pengetahuan dan kemampuan bela diri seperti leluhurnya tersebut. Apakah si mantan kriminal ini akhirnya mampu mengalahkan Abstergo? Bagaimana kelanjutan hubungannya dengan si sexy Sophia Rikkin?
Callum Lynch sendiri sebenarnya merupakan tokoh baru dalam Assassin's Creed. Karakter tersebut khusus diciptakan untuk versi filmnya. Oleh karena itu, skenarionya juga berbeda dengan cerita asli dari video game-nya yang lebih banyak berkutat di masa lalu.
Patrick Crowley, selaku executive producer, mengungkapkan bahwa 65 persen cerita dalam film Assassin's Creed ber-setting di masa kini. Sedangkan, hanya 35 persen yang mengambil latar di Spanyol pada abad ke-15 melalui sebuah alat virtual reality bernama Animus.
Perbedaan ini membuat kisah Assassin's Creed tidak lagi berfokus pada Aguilar seperti di versi game. Protagonis utama di film yang dibesut oleh Justin Kurzel ini adalah Callum Lynch, yang merupakan keturunan dari sang assassin.
Meski telah melakukan perubahan, Michael Fassbender selaku pemeran utama mengaku tetap menghormati versi game-nya. Mereka hanya sedang berusaha untuk menciptakan pengalaman sinematik yang menarik, sehingga ada elemen-elemen baru yang harus diperkenalkan kepada para penonton, terutama bagi para non-fans atau non-gamer Assassin's Creed.
Dari sebagian besar trailer yang ditampilkan, aksi kejar-kejaran dan peperangan tampak mendominasi dan menjadi menu utama bagi para penonton. Selain itu, ada satu adegan yang menjadi trademark dari video game keluaran Ubisoft ini, yaitu Leap of Faith. Para penggemar Assassin's Creed pasti sudah tidak asing dengan aksi melompat dari ketinggian tersebut.
Dalam video klip behind the scenes yang disebarkan melalui YouTube oleh 20th Century Fox, Leap of Faith di film Assassin's Creed memang benar-benar ada dan merupakan aksi nyata, bukan CGI (computer-generated imagery). Adegan berbahaya tersebut dilakukan oleh seorang stuntman bernama Damian Walters. Pria 35 tahun itu terjun bebas dari ketinggian 125 kaki (38 meter) di atas permukaan tanah!
Saat world premiere, Damian Walters kabarnya juga hadir. Dia memeragakan Leap of Faith dengan melompat dari ketinggian 90 kaki dan jatuh bebas di atas matras raksasa, di hadapan para penggemar Assassin's Creed.
Sayangnya, seperti film-film adaptasi video game sebelumnya, yang acap kali mendapat kritik pedas, Assassin's Creed juga tidak berhasil mendapat sambutan positif setelah acara world premiere di New York City pada 13 Desember 2016 yang lalu tersebut. Sejumlah situs review memberi rating negatif untuk film berdurasi 115 menit ini.
Meski demikian, para gamer, yang menjadi penggemar fanatik Assassin's Creed, mayoritas mengaku cukup puas setelah menonton film rilisan 20th Century Fox ini. Situs IMDb, bahkan, hingga saat ini, masih memberi rating yang cukup tinggi, yakni 8,2.
Secara box office, Assassin's Creed juga diragukan bakal sukses karena harus bersaing langsung dengan Rogue One: A Star Wars Story yang baru dirilis pekan lalu. Selain itu, juga bakal ada Passengers yang dibintangi oleh Jennifer Lawrence dan Chris Pratt.
Michael Fassbender, yang juga bertindak sebagai produser, mengaku tak gentar meski harus head-to-head dengan Rogue One. Menurutnya, Assassin's Creed yang diadaptasi dari video game sangat berbeda dengan franchise Star Wars. Oleh karena itu, para penggemarnya pun juga berbeda.
Dengan bujet cukup besar, hingga USD 125 juta, Assassin's Creed banyak mengungkap kejadian masa lalu. Kisah ordo rahasia Templar pada abad pertengahan, masa Renaissance, dan Revolusi Prancis adalah beberapa fakta sejarah yang menghiasi film action adventure ini.
Selain itu, menurut Fassbender, karakteristik para tokohnya juga berbeda dengan Star Wars yang terbagi dalam dua kubu: Sisi Terang dan Sisi Gelap. Di Assassin's Creed, tidak ada karakter yang benar-benar baik atau jahat. Organisasi Assassins dan Templar bersifat ambigu. Pada suatu titik, keduanya sama-sama hipokrit.
Karakter abu-abu, yang tidak sepenuhnya baik ataupun jahat, memang selalu menarik perhatian penonton. Fassbender sendiri sudah berpengalaman memerankan Magneto yang memiliki karakter seperti itu di franchise X-Men.
Menurut pacar Alicia Vikander tersebut, tokoh ambigu biasanya selalu memprovokasi para penonton untuk berpikir, apakah harus mendukungnya, atau membencinya? Hal itu diharapkan bakal membuat film Assassin's Creed ini semakin menarik sehingga mampu menarik para penggemar baru.
Jika pendapatannya cukup memuaskan, memang ada kemungkinan franchise Assassin's Creed dibuat menjadi sebuah trilogi. Pihak produser, kabarnya, sudah menyiapkan dua film lanjutannya. Sutradara Justin Kurzel menyatakan tertarik untuk mengeksplorasi tentang Cold War di sekuelnya. Kita tunggu saja apakah rencana tersebut bakal terealisasi.
***
Assassin's Creed
Sutradara: Justin Kurzel
Produser: Jean-Julien Baronnet, Gérard Guillemot, Frank Marshall, Patrick Crowley, Michael Fassbender, Conor McCaughan, Arnon Milchan
Penulis Skenario: Michael Lesslie, Adam Cooper, Bill Collage
Berdasarkan: Assassin's Creed by Ubisoft
Pemain: Michael Fassbender, Marion Cotillard, Jeremy Irons, Brendan Gleeson, Charlotte Rampling, Michael K. Williams
Musik: Jed Kurzel
Sinematografi: Adam Arkapaw
Penyunting: Christopher Tellefsen
Produksi: Regency Enterprises, Ubisoft Entertainment, New Regency Pictures, Ubisoft Motion Pictures, DMC Film, The Kennedy/Marshall Company
Distributor: 20th Century Fox
Durasi: 115 menit
Budget: USD 125 juta
Rilis: 13 Desember 2016 (New York City), 21 Desember 2016 (Indonesia & Amerika Serikat)
Sebagai aktor kawakan, Will Smith selama ini memang lebih dikenal lewat berbagai filmnya yang bertema action, fantasi, dan sci-fi dengan bumbu komedi, seperti franchise Bad Boys (1995-2003) dan Men in Black (2097-2013). Meski demikian, bukan berarti suami Jada Pinkett tersebut tidak pernah terlibat dalam film-film serius yang bergenre drama.
Perannya yang memukau sebagai petinju legendaris Muhammad Ali dalam film biopic Ali (2001) dan sebagai pialang saham Chris Gardner dalam The Pursuit of Happyness (2006), yang didasarkan pada kisah nyata, membuatnya dua kali masuk nominasi Academy Awards kategori Aktor Terbaik. Sayangnya, hingga kini, pria kelahiran Philadelphia 48 tahun yang lalu tersebut belum kesampaian untuk membawa pulang Piala Oscar.
Akir tahun ini, kita akan kembali melihat Will Smith tampil serius. Setelah membintangi film superhero, atau, lebih tepatnya antihero, karena berisi sekumpulan villain, yaitu Suicide Squad, bokap Jaden tersebut muncul di film drama berjudul Collateral Beauty, yang baru tayang mulai hari Jumat (16/12) ini.
Dalam Collateral Beauty, Will Smith berperan sebagai Howard Inlet, seorang eksekutif sukses di sebuah perusahaan periklanan di New York. Kehidupannya kemudian hancur menjadi tragedi setelah putri kecilnya meninggal. Howard, yang semula pintar, karismatis, dan bersemangat menjalani hidup, berubah menjadi pemurung dan depresi.
Dua orang teman dekatnya, Claire Wilson (Kate Winslet) dan Whit Yardsham (Edward Norton), berusaha membantu Howard keluar dari rasa duka yang mendalam. Mulai dari mendaftarkannya pada sebuah kelompok depresi, hingga meminta rekan-rekannya yang lain untuk berbicara dengan Howard agar ia mau membuka diri.
Segala cara tersebut ternyata tidak ada yang berhasil. Sampai akhirnya, Howard menemukan sebuah metode unik untuk membuatnya keluar dari kesedihan. Dia menulis surat, bukan untuk orang tertentu, melainkan ditujukan kepada tiga hal: Love (Cinta), Time (Waktu), dan Death (Kematian).
Howard tentu saja tidak berharap surat anehnya tersebut bakal dibalas. Namun, ajaibnya, semesta seakan-akan menjawab kegalauannya. Tiba-tiba ia didatangi dan bertemu tiga orang yang mewakili ketiga hal tersebut. Yang pertama adalah Brigette (Helen Mirren), yang mewakili Kematian, lalu Raffi (Jacob Latimore), yang mewakili Waktu, dan yang terakhir adalah Aimee Moore (Keira Knightley), yang tak lain adalah mantan istri yang sangat ia benci, yang mewakili Cinta.
Semula, peran sebagai Howard Inlet dalam Collateral Beauty ini diemban oleh Hugh Jackman. Namun, karena jadwal syutingnya bentrok dengan film Logan yang bakal dirilis pada bulan Maret tahun depan, bintang Wolverine itu akhirnya mengundurkan diri.
Nama Johnny Depp sempat disebut-sebut sebagai pengganti Hugh Jackman, sebelum akhirnya pihak produser menunjuk Will Smith sebagai pemeran utama. Selain itu, Rooney Mara, yang awalnya bakal dipasangkan dengan Jackman, juga digantikan oleh Keira Knightley.
Selain aktor dan aktris utama, pihak sutradara juga mengalami perubahan. Semula, Alfonso Gomez-Rejon yang bakal membesut film yang naskahnya ditulis oleh Allan Loeb ini. Namun, sutradara asal Texas itu kemudian digantikan oleh David Frankel, yang satu dekade lalu pernah menghasilkan The Devil Wears Prada (2006).
Jika melihat daftar pemainnya, Collateral Beauty ini bukan film drama ecek-ecek. Lihat saja nama-nama beken selain Will Smith, semacam Edward Norton, Keira Knightley, Kate Winslet, Naomie Harris, Michael Pena, Jacob Latimore, dan aktris sepuh, Helen Mirren.
Mungkin karena diperkuat sejumlah bintang itulah, Warner Bros. Pictures, selaku distributor, cukup pede merilis Collateral Beauty berbarengan dengan Rogue One: A Star Wars Story pada 16 Desember 2016. Awalnya, tanggal tersebut diperuntukkan untuk Chicken Soup for the Soul: The Movie, yang akhirnya digeser menjadi tahun depan.
Bersaing langsung dengan franchise Star Wars memang bukan perkara mudah. Tahun lalu, film-film yang dirilis pada bulan Desember banyak yang jeblok secara box office karena dilibas oleh The Force Awakens. Menarik untuk ditunggu, apakah Collateral Beauty yang berbujet cukup besar, hingga USD 36 juta, mampu "survive" di layar bioskop.
Bagi Will Smith sendiri, film berdurasi 96 menit ini juga menjadi pembuktian bahwa karirnya tidak memudar. Belakangan ini, film-film yang dibintanginya memang mendapat kritik negatif dari para pengamat. Bahkan, setelah membintangi After Earth (2013) bersama Jaden, ayah dan anak tersebut kompak dianugerahi Razzie Award sebagai aktor utama dan aktor pendukung terburuk.
Sayangnya, setelah dirilis di Dubai pada hari Selasa (13/12) kemarin, Collateral Beauty juga mendapat rating negatif dari berbagai situs review. Nama besar Will Smith dan bintang-bintang tenar lainnya, tampaknya, tidak mampu mengangkat film drama yang mengharukan ini.
***
Collateral Beauty
Sutradara: David Frankel
Produser: Bard Dorros, Michael Sugar, Allan Loeb, Anthony Bregman, Kevin Scott Frakes
Penulis Skenario: Allan Loeb
Pemain: Will Smith, Edward Norton, Keira Knightley, Michael Peña, Naomie Harris, Jacob Latimore, Kate Winslet, Helen Mirren
Musik: Theodore Shapiro
Sinematografi: Maryse Alberti
Penyunting: Andrew Marcus
Produksi: New Line Cinema, Village Roadshow Pictures, Anonymous Content, Overbrook Entertainment, PalmStar Media, Likely Story
Distributor: Warner Bros. Pictures
Durasi: 96 menit
Budget: USD 36 juta
Rilis: 13 Desember 2016 (Dubai),16 Desember 2016 (Indonesia & Amerika Serikat)
Saat merilis Star Wars pada 1977, George Lucas mungkin tidak menyangka bahwa film besutannya tersebut bakal menjadi fenomena global. Dengan jalinan cerita yang menarik, serta tokoh-tokohnya yang unik, opera luar angkasa tersebut mampu menghipnotis jutaan penonton menjadi penggemar setia.
Hingga kini, sudah ada tujuh film dari franchise Star Wars yang tayang di layar lebar. Semenjak Lucasfilm diakuisisi oleh The Walt Disney Studios pada 2012, kisah dari galaksi yang sangat, sangat jauh tersebut memang semakin berkembang. Apalagi, selain cerita utama, yang terdiri dari sembilan episode, juga bakal ada spin-off, alias cerita sempalannya.
Rencananya, Lucasfilm bakal memproduksi tiga film spin-off Star Wars Anthology. Rogue One, yang tayang mulai hari Rabu (14/12) ini, adalah pembukanya, yang nantinya akan disusul oleh film tentang masa ababil Han Solo dan Boba Fett.
Rogue One sendiri mengambil setting sebelum kejadian di Star Wars: A New Hope (1977) berlangsung. Di opening crawl episode keempat tersebut, diceritakan ada sekelompok pemberontak yang berhasil menyusup ke markas Galactic Empire dan mencuri rancangan rahasia Death Star, sebuah senjata raksasa berupa stasiun luar angkasa yang bisa menghancurkan sebuah planet dalam sekejap.
Kelompok Rebel tersebut menamai diri mereka sebagai Rogue One. Dipimpin oleh Captain Cassian Andor (Diego Luna), serta beranggotakan Jyn Erso (Felicity Jones), Chirrut Imwe (Donnie Yen), Baze Malbus (Jiang Wen), Bodhi Rook (Riz Ahmed), dan Saw Gerrera (Forest Whitaker). Selain itu, juga ada K-2SO (Alan Tudyk), sebuah droid milik Imperial yang memorinya kemudian dihapus dan diprogram ulang oleh Andor.
Berbeda dengan para droid yang muncul di film-film Star Wars sebelumnya (R2-D2, C-3PO, dan BB-8), K-2SO ini merupakan droid yang nakal dan merupakan prajurit yang terlatih untuk bertempur. Menurut sang pengisi suara, Alan Tudyk, K-2SO ini punya peran yang vital di Rogue One. Jadi, karakternya bukan hanya sebagai penghibur semata.
Rogue One juga bakal menjadi film Star Wars pertama yang tidak dibuka dengan opening crawl. Jadi, jangan berharap ada tulisan kuning yang diawali oleh kalimat "a long time ago, in a galaxy far, far away" berjalan di atas background langit malam berbintang.
Menurut executive producer John Knoll, mereka ingin membedakan film spin-off ini dengan trilogi maupun prekuelnya. Cerita Rogue One merupakan stand alone yang tidak membutuhkan opening crawl. Sebab, ini bukan bagian dari saga Skywalker.
Yang menarik, di film Rogue One ini, tokoh antagonis ikonis di jagad Star Wars, Lord Darth Vader, kembali muncul. Dalam trailer yang dirilis pada bulan September yang lalu, penguasa the Dark Side itu nongol di bagian akhir, hanya beberapa detik. Meski cuma bagian punggung dan belakang kepalanya saja yang tampak, para fans sudah bisa mengenali sosoknya yang legendaris.
Aktor kawakan James Earl Jones tetap menjadi pengisi suara Darth Vader, seperti di trilogi Star Wars yang pertama. Sementara itu, secara fisik, tokoh berjubah hitam di balik topeng tersebut diperankan oleh berbagai aktor yang berbadan tinggi besar. Salah satunya adalah Spencer Wilding, yang pernah berperan sebagai monster dalam Victor Frankenstein (2015).
Hingga kini, belum ada detail terperinci mengenai seberapa dominan peran Darth Vader. Sutradara Gareth Edwards hanya memberi petunjuk bahwa di timeline Star Wars, Rogue One terletak dua dekade setelah kejadian di Episode III: Revenge of the Sith (2005), saat Death Star sedang dibangun, dan Darth Vader menduduki posisi yang sangat berkuasa.
Dalam trailer selanjutnya yang dirilis pada bulan Oktober yang lalu, Darth Vader juga kembali muncul. Kali ini, dia tidak sendirian, tapi bersama dengan Orson Krennic (Ben Mendelsohn), yang menjabat sebagai Direktur Riset Senjata Canggih dari pihak militer Imperial.
Hampir dipastikan, Krennic, yang seharusnya merupakan bawahan dari Vader, adalah villain utama di Rogue One. Dia bakal memimpin pasukan andalan Imperial, Stormtrooper, untuk membasmi para Rebel dan menggagalkan misi mereka yang ingin mencuri rancangan Death Star.
Di bagian bawah poster yang dirilis dua bulan lalu, tampak sepasukan Stromtrooper sedang berpatroli di tepi pantai. Di belakang mereka ada kendaraan perang raksasa AT-ACT Walker. Selain itu, juga tampak kapal induk Star Destroyer dan pesawat tempur TIE Fighter.
Pertempuran antara Stormtrooper dan pasukan Rebel kali ini memang tidak hanya terjadi di luar angkasa, tetapi juga di darat. Ada dua planet yang menjadi latar belakang dan muncul di trailer Rogue One. Yaitu, Planet Scarif yang beriklim tropis dengan pantai pasir putihnya, seperti yang tampak di poster. Lalu, Planet Jedha yang beriklim gurun seperti di Timur Tengah.
Jedha, yang disebut-sebut sebagai planet suci, merupakan tempat para Jedi bermula. Dua karakter utama di Rogue One, Chirrut Imwe, seorang petarung buta, dan Baze Malbus, seorang pembunuh bayaran, berasal dari planet yang tampak gersang tersebut.
Berbeda dengan film-film Star Wars sebelumnya, para ksatria Jedi tidak muncul di Rogue One. Begitu juga dengan lightsaber, senjata andalan mereka. Tidak ada lagi sosok yang bijaksana seperti Master Yoda ataupun Obi-Wan Kenobi. Meski demikian, kehadiran the Force tetap terasa dalam diri pendekar buta, Chirrut Imwe, yang bakal mengucapkan kalimat legendaris, "May the Force be with you."
Menurut executive creative director dan visual programming Doug Chiang, setting Rogue One memang dibuat berbeda dengan film-film Star Wars sebelumnya. Ibaratnya, mereka ingin menggarap sisi lain dari jagad Star Wars yang selama ini belum pernah diungkap ke para fans.
Dari trailer dan poster, juga bisa kita ketahui bahwa yang menjadi fokus utama di Rogue One adalah seorang cewek bernama Jyn Erso. Sejak diambil alih oleh Disney, yang terkenal dengan princess-princess-nya, franchise Star Wars memang mulai bernuansa girl power. Hal itu sudah diawali oleh tokoh Rey (Daisy Ridley) yang mendominasi Episode VII: The Force Awakens tahun lalu.
Latar belakang Jyn Erso sendiri dijelaskan lebih detail dalam Catalyst: A Rogue One Novel yang ditulis oleh James Luceno. Cewek tomboy tersebut merupakan anak dari pasangan Lyra (Valene Kane) dan Galen Erso (Mads Mikkelsen). Di bagian awal trailer, tampak Jyn kecil disembunyilan bokapnya dari buruan pasukan Imperial.
Galen Erso memang memiliki kecerdasan dan keahlian khusus untuk membangun Death Star, yang membuatnya diincar oleh Rebel Alliance maupun Orson Krennic dari Galatic Empire. Setelah dewasa, Jyn akhirnya direkrut oleh Cassian Andor, yang merupakan anggota intelijen berpengalaman dari pihak pemberontak, atas petunjuk dari bokapnya tersebut.
Seperti halnya film-film Star Wars sebelumnya, yang sebenarnya merupakan sebuah drama keluarga, Rogue One pun demikian. Menurut Mads Mikkelsen, pemeran Galen Erso, meski film spin-off ini dibanjiri berbagai adegan action dan fantasi, inti ceritanya tetaplah sama, tentang keluarga. Tentang hubungan ayah dan anaknya.
Yang membuat penasaran para fans, apakah Jyn Erso bakal menjadi heroine baru yang punya porsi besar dalam Star Wars Cinematic Universe? Menurut sang pemeran utama, Felicity Jones, untuk sementara ini, jawabannya adalah: Tidak. Kisah petualangan Jyn dkk bakal langsung berakhir di film Rogue One. Tidak akan ada sekuelnya.
Felicity sendiri mengaku sangat terpikat pada karakter Jyn yang menurutnya merupakan karakter perempuan yang paling realistis dalam jagat Star Wars. Aktris asal Inggris itu sempat tak percaya dan serasa bermimpi ketika akhirnya mendapat peran utama sebagai Jyn Erso di Rogue One.
Tokoh Star Wars perempuan pertama yang dibuat action figure-nya itu sangat cool dan jago bela diri. Dia tahan banting dan sangat pede, baik secara fisik dan mental. Kualitas tersebut biasanya ada pada karakter cowok. Jyn Erso ini merupakan tipikal cewek jaman sekarang yang mencerminkan girl power, menurut produser Allison Shearmur.
Demi totalitas perannya sebagai seorang cewek jagoan, Jones berlatih penuh, setiap hari. Bersama Diego Luna, bintang Inferno (2016) itu latihan tinju. Seperti Rocky. Bahkan, dia juga latihan kung fu. Hasilnya, setiap gerakan yang ia lakukan terlihat keren dan garang. Namun, ada konsekuensinya, dia jadi punya bekas memar di sekujur tubuhnya.
Di film Rogue One ini, penampilan Felicity yang biasanya anggun memang terlihat kucel. Selama menjalani syuting, sutradara Gareth Edwards selalu meminta tim make-up untuk melemparinya dengan lumpur. Dia ingin menampilkan sosok Jyn sebagai seorang petarung betulan. Tidak ada lagi rambut yang rapi. Tidak ada lagi wajah yang bersih.
Edwards memang seorang sutradara yang brilian dan menaruh perhatian lebih pada detail. Bahkan, dia juga memastikan setiap Stormtrooper yang berkostum putih itu tampak lusuh dan berlumpur. Semuanya dia buat senyata mungkin.
Selain penampilan, pengucapan dialog juga sangat diperhatikan. Felicity Jones bahkan pernah harus mengulang take gambar sampai 25 kali hanya untuk satu adegan. Yaitu, saat dia mengucapkan kalimat "may the Force be with us" yang sangat ikonis tersebut.
Executive producer John Knoll juga mengungkap ada satu adegan supersulit yang digarap selama dua tahun. Padahal, dalam film, scene tersebut hanya ditampilkan selama dua menit. Bayangkan, dua tahun dihabiskan hanya untuk dua menit!
Syuting Rogue One sendiri dimulai pada 8 Agustus 2015. Sebagian besar scene dilaksanakan di London, melibatkan lebih dari 25 ribu kru! Laamu Atoll di Maladewa digunakan sebagai lokasi syuting untuk Planet Scarif yang indah. Sedangkan, pengambilan gambar untuk Planet Jedha dilakukan di Yordania. Selain itu, stasiun subway London Underground di Canary Wharf juga digunakan sebagai lokasi markas Imperial.
Seluruh set, termasuk pesawat luar angkasa dan interiornya dibuat secara manual. Termasuk pesawat X-Wing yang diparkir di depan lokasi world premiere di Hollywood hari Sabtu (10/12) kemarin. Pesawat tersebut didatangkan langsung dari London dan dirakit ulang selama lima hari!
Proses produksi sebenarnya sudah berakhir pada 11 Februari 2016. Namun, setelah melalui tahap editing pada pertengahan bulan Juni yang lalu, Edwards merasa ada beberapa adegan yang kurang sempurna, sehingga harus dilakukan syuting ulang.
Gara-gara reshoot tersebut, ada penyesuaian scoring dengan adegan yang di-take ulang. Namun, sang komposer musik, Alexandre Deplatt, sudah terlanjur punya agenda lain. Michael Giacchino kemudian ditunjuk sebagai penggantinya.
Sebelum ini, Giacchino memang sudah sering dipakai Disney untuk menggarap scoring film Up, Zootopia, dan Doctor Strange yang baru tayang bulan lalu. Alhasil, meski terbilang mendadak dan waktunya mepet, Giacchino mampu menyelesaikan komposisi musik Rogue One yang baru dalam tempo hanya enam pekan.
Sementara itu, George Lucas, sang kreator sekaligus "mahaguru" Star Wars, ternyata sudah menonton Rogue One. Menurut juru bicaranya, pendiri Lucasfilm itu menyukai spin-off ini. Berbeda halnya dengan The Force Awakens tahun lalu, yang mana dia merasa kecewa setelah menonton film garapan J. J. Abrams tersebut.
Sutradara Gareth Edwards juga mengungkapkan hal serupa. Dia sudah memperlihatkan film Rogue One ke Lucas, dan ternyata tanggapannya sangat positif. Setengah bercanda, Edwards kemudian mengaku bahwa kini dia sudah bisa mati dalam keadaan bahagia karena sudah mampu memuaskan si empunya Star Wars.
Secara box office, Rogue One juga diperkirakan bakal sukses. Meski mungkin tidak akan sefenomenal The Force Awakens, yang menjadi film terlaris ketiga sepanjang sejarah. Dalam pekan pertama penayangannya tahun lalu, Episode VII itu mampu memecahkan rekor tertinggi sepanjang masa dengan angka USD 528 juta.
Disney memang cukup ciamik dalam memasarkan Rogue One. Mereka sengaja memasang jajaran artis internasional dari berbagai negara untuk bermain di film berdurasi 133 menit ini. Tujuannya, untuk menarik penonton dari negeri masing-masing. Sebut saja Felicity Jones dari Inggris, Mads Mikkelsen dari Denmark, Forest Whitaker dari Amerika Serikat, Diego Luna dari Meksiko, Ben Mendelsohn dari Australia, Jiang Wen dari Tiongkok, serta Donnie Yen dari Hong Kong.
Oleh karena itu, Rogue One, yang bujet produksinya sangat besar, mencapai USD 200 juta, diperkirakan sudah bisa balik modal dalam seminggu pertama, dengan estimasi pemasukan USD 280-350 juta. Animo para penonton memang sangat tinggi. Situs Fandango bahkan sempat nge-hang setelah dibanjiri ratusan ribu permintaan, hanya dalam beberapa menit setelah penjualan tiket dibuka pada 28 November 2016 yang lalu!
Setelah tayang perdana alias world premiere di The Hollywood Pantages Theatre, Los Angeles pada hari Sabtu (10/12) kemarin, Rogue One dihajar review positif, bahkan sangat positif dari para kritikus. Standing ovation dari para penonton juga langsung membahana begitu film berdurasi 133 menit ini selesai diputar. Rogue One disebut-sebut sebagai salah satu film Star Wars terbaik yang mind blowing dan spektakuler!
***
Rogue One: A Star Wars Story
Sutradara: Gareth Edwards
Produser: Kathleen Kennedy, Allison Shearmur, Simon Emanuel
Penulis Skenario: Chris Weitz, Tony Gilroy
Pengarang Cerita: John Knoll, Gary Whitta
Berdasarkan: Karakter-karakter ciptaan George Lucas
Pemain: Felicity Jones, Diego Luna, Ben Mendelsohn, Donnie Yen, Mads Mikkelsen, Alan Tudyk, Jiang Wen, Forest Whitaker
Musik: Michael Giacchino
Sinematografi: Greig Fraser
Penyunting: Jabez Olssen
Produksi: Lucasfilm Ltd.
Distributor: Walt Disney Studios Motion Pictures
Durasi: 133 menit
Budget: USD 200 juta
Rilis: 10 Desember 2016 (Pantages Theatre), 14 Desember 2016 (Indonesia), 16 Desember 2016 (Amerika Serikat)