December 01, 2016

Preview Film: Nine Lives (2016)


Selama ini, ada mitos yang menyatakan bahwa seekor kucing itu memiliki sembilan nyawa. Entah benar atau tidak, yang pasti, anggapan tersebut masih melekat di kalangan masyarakat hingga saat ini.

Salah satu penyebab seekor kucing dianggap memiliki sembilan nyawa, alias tidak mati-mati, mungkin, adalah fakta bahwa binatang penjilat itu mampu meloncat dan jatuh dari sebuah gedung tinggi, namun tetap hidup. Fenomena tersebut sebenarnya bisa dijelaskan secara ilmiah.

Kucing dikenal sebagai salah satu hewan yang memiliki keseimbangan yang sangat baik. Setiap kali terjatuh, mereka dapat memosisikan diri dengan kaki menapak terlebih dahulu. Jika jatuh dalam posisi terbalik, seekor kucing bakal segera sadar dan mampu memosisikan kakinya di bawah.

Saat terjatuh dan hampir menyentuh tanah, kaki-kaki kucing biasanya akan meregang. Lalu, saat menempel tanah, mereka akan menekuk kaki untuk mengurangi kecepatan jatuh, yang biasanya 100 km/jam. Dua kali lebih lambat daripada manusia yang mencapai 200 km/jam. Jadi, keempat kaki kucing yang panjang dan berotot itu bisa berfungsi sebagai pegas, yang bakal menahan tubuh mereka saat jatuh dari ketinggian.

Nah, mitos dan misteri seputar kucing inilah yang diangkat menjadi sebuah film komedi berjudul Nine Lives. Meski diproduksi oleh studio asal Prancis, EuropaCorp, film besutan sutradara Barry Sonnenfeld ini dibintangi oleh sejumlah bintang terkenal dari Hollywood. Sebut saja Kevin Spacey, Jennifer Garner, Robbie Amell, dan Christopher Walken.

Kisahnya berawal dari Tom Brand (Kevin Spacey), seorang pengusaha sukses dan seorang workaholic yang tidak punya waktu untuk berkumpul dengan keluarganya, yaitu sang istri (kedua), Lara (Jennifer Garner), dan putrinya, Rebecca (Malina Weissman). Hubungan Tom dangan David (Robbie Amell), putranya dari istri pertama, Madison Camden (Cheryl Hines), juga buruk.

Suatu ketika, Rebecca berulang tahun yang ke-11. Tom kehabisan ide untuk memberi kado apa pada putrinya tersebut. Akhirnya, ia membeli seekor kucing dari sebuah pet store eksotik milik Felix Perkins (Christopher Walken).

Sialnya, dalam perjalanan menuju pesta ulang tahun sang putri, Tom mengalami kecelakaan lalu lintas. Saat membuka mata, dia terbangun dalam tubuh si kucing yang diberi nama Mr. Fuzzypants (Jon Olson). Sementara itu, tubuhnya sendiri terbujur koma di rumah sakit.

Untungnya, Rebecca kemudian memelihara Mr. Fuzzypants, yang tak lain adalah "bokap"-nya sendiri. Felix Perkins, pria misterius pemilik pet store, memperingatkan Tom bahwa ia tak akan bisa kembali menjadi manusia jika tak segera memperbaiki hubungan buruknya dengan keluarganya. Mampukah Tom alias Mr. Fuzzypants melakukannya?

Selain "menjual" dua aktor kawakan, Kevin Spacey dan Christopher Walken, serta mantan istri Ben Affleck, Jennifer Garner, Nine Lives juga dibesut oleh sutradara yang cukup berpengalaman. Barry Sonnenfeld, selama ini, dikenal sebagai sosok dibalik kesuksesan franchise Men in Black (1997, 2002, 2012). Selain itu, dia juga pernah menghasilkan Wild Wild West (1999).

Sayangnya, meski ide ceritanya cukup menarik dan diperkuat oleh bintang-bintang yang cukup ternama, Nine Lives gagal memikat hati para kritikus. Sejumlah situs review juga memberi rating yang negatif. Meski demikian, film berbujet USD 30 juta ini mampu meraup pemasukan hingga USD 44 juta. Selain itu, tidak ada salahnya bagi para pencinta kucing untuk menontonnya.

***

Nine Lives

Sutradara: Barry Sonnenfeld
Produser: Lisa Ellzey
Penulis Skenario: Gwyn Lurie, Matt R. Allen, Caleb Wilson, Daniel Antoniazzi, Ben Shiffrin
Pemain: Kevin Spacey, Jennifer Garner, Robbie Amell, Cheryl Hines, Mark Consuelos, Malina Weissman, Christopher Walken
Musik: Evgueni Galperine, Sacha Galperine
Sinematografi: Karl Walter Lindenlaub
Penyunting: Don Zimmerman, David Zimmerman
Produksi: Fundamental Films
Distributor: EuropaCorp
Durasi: 87 menit
Budget: USD 30 juta
Rilis: 31 Juli 2016 (Los Angeles), 3 Agustus 2016 (Prancis), 5 Agustus 2016 (Amerika Serikat), 29 November 2016 (Indonesia)

Ratings
IMDb: 5,2/10
Rotten Tomatoes: 11%
Metacritic: 11/100
CinemaScore: B+



November 27, 2016

Preview Film: Kickboxer: Vengeance (2016)


Sejak memerankan Frank Dux dalam film, yang kabarnya berdasarkan kisah nyata, Bloodsport (1988), Jean-Claude Van Damme telah menancapkan tajinya sebagai aktor bela diri paling terkenal di Hollywood. Sejumlah film laga lainnya pun langsung menyusul. Nyaris setiap tahun namanya muncul dalam film-film yang berbau martial art.

Selain Bloodsport (1988), sebenarnya ada satu lagi film Van Damme yang kemudian dianggap sebagai cult classic, yaitu ada Kickboxer (1989). Dua film tersebut termasuk film aksi bela diri paling legendaris dan ikonis sepanjang masa.

Saat ini, Van Damme memang sudah semakin tua. Aktor asal Belgia kelahiran 18 Oktober 1960 itu sudah tidak segahar masa mudanya. Namun, semangatnya untuk berkarya masih tetap menyala. Selain kembali tampil dalam franchise Universal Soldier, pria bernama asli Jean-Claude Van Varenberg itu juga terlibat dalam proyek reboot Kickboxer, yang baru tayang di Indonesia pada hari Jumat (25/11) ini.

Film berjudul Kickboxer: Vengeance tersebut rencananya menjadi pembuka dari trilogi yang sudah disiapkan oleh pihak produser. Dua film yang bakal menjadi sekuelnya adalah Kickboxer: Retaliation (2017) dan Kickboxer: Syndicate (2018) sebagai pamungkasnya.

Kisah dari Kickboxer: Vengeance ini sebenarnya mengulang cerita dari versi jadul. Para karakter utamanya juga masih sama, yaitu Kurt Sloane dan sang antagonis, Tong Po. Oleh karena itu, seri pertama ini sebenarnya lebih cocok disebut sebagai semi-remake daripada reboot.

Meski plotnya sama, Van Damme kali ini tidak lagi memerankan Kurt Sloane. Mungkin karena faktor usia. Sebagai gantinya, aktor yang dijuluki The Muscles from Brussels itu memerankan Master Durand, yang menjadi mentor alias pelatih bagi Kurt.

Tokoh Sloane sendiri diperankan oleh Alain Moussi, yang selama ini lebih dikenal sebagai stuntman. Aktor asal Kanada tersebut sering menjadi pemain pengganti bagi bintang-bintang terkenal seperti Henry Cavill (Immortals, 2011), Aaron Eckhart (Erased, 2012), Hugh Jackman (X-Men: Apocalypse, 2016), dan Jai Courtney (Suicide Squad, 2016).

Sesuai dengan judulnya, inti cerita Kickboxer: Vengeange adalah pembalasan dendam Kurt Sloane terhadap Tong Po (Dave Bautista), yang telah menghabisi nyawa kakaknya, Eric Sloane, secara brutal dalam sebuah turnamen kickboxing underground di Thailand. Kurt kemudian dilatih oleh Master Durand, sebelum akhirnya menantang Tong Po dalam sebuah pertarungan hidup mati.

Sedihnya, pemeran Eric Sloane, Darren Shahlavi, kemudian juga ditemukan tewas setelah menyelesaikan syuting di New Orleans pada 14 Januari 2015. Aktor laga berusia 42 tahun itu mengalami serangan jantung saat sedang tidur. Film Kickboxer: Vengeance ini akhirnya didedikasikan untuk mengenang lawan main Donnie Yen dalam Ip Man 2 (2010) tersebut.

Di lain pihak, meski tidak seikonis Chong Li (Bolo Yeung) dalam Bloodsport (1988), karakter Tong Po, yang di Kickboxer versi jadul diperankan oleh Michel Qissi, termasuk villain yang legendaris. Di versi baru ini, pemeran jago Muay Thai berambut gimbal yang dikuncir ke belakang dengan badan penuh tattoo tersebut adalah Dave Bautista, mantan pegulat profesional WWE.

Kickboxer: Vengeance ini memang dipenuhi oleh bintang-bintang seni bela diri. Selain Bautista, juga ada petarung Mixed Martial Art (MMA), Gina Carano, juara Ultimate Fighting Championship (UFC) kelas berat, Fabricio Werdum dan Cain Velasquez, serta juara UFC kelas menengah, Georges St-Pierre.

Seperti halnya Bautista, yang terkenal sebagai pemeran Drax the Destroyer dalam Guardians of the Galaxy (2014), Gina Carano sebelum ini sudah pernah tampil di Fast and Furious 6 (2013) dan Deadpool (2016). Sementara itu, Georges St-Pierre adalah pemeran teroris Georges Batroc dalam Captain America: Civil War (2014).

Sayangnya, meski dipenuhi oleh aktor-aktor laga ternama, film berbujet USD 17 juta ini mendapat review negatif dari sejumlah situs dan kritikus. Meski demikian, pihak produser ternyata cukup pede untuk merilis sekuelnya, Kickboxer: Retaliation. Syuting sudah mereka lakukan pada bulan Juni hingga Agustus 2016 yang lalu. Bahkan, proses produksi film ketiga, Kickboxer: Syndicate, bakal dimulai pada Februari 2017.

Rob Hickman, sang produser, menjanjikan bakal banyak kejutan di Kickboxer: Retaliation. Mereka melibatkan 14 juara dari dunia olahraga, sebagian besar dari UFC, termasuk mantan juara dunia tinju kelas berat, Mike Tyson! Selain itu, juga ada legenda sepak bola Ronaldinho, serta bintang serial Games of Thrones, Hafthor Julius Bjornsson, sebagai musuh utamanya.

***

Kickboxer: Vengeance

Sutradara: John Stockwell
Produser: Nicholas Celozzi, Ted Field, Dimitri Logothetis
Penulis Skenario: Dimitri Logothetis, Jim McGrath
Pemain: Alain Moussi, Jean-Claude Van Damme, Dave Bautista, Gina Carano, Georges St-Pierre, Darren Shahlavi
Sinematografi: Matteo Londono
Penyunting: Carsten Kurpanek, Chris A. Peterson
Produksi: Headmon Entertainment Productions, Radar Pictures
Distributor: RLJ Entertainment
Durasi: 90 menit
Budget: USD 17 juta
Rilis: 14 Juli 2016 (FIFF), 2 September 2016 (Amerika Serikat), 25 November 2016 (Indonesia)

Ratings

IMDb: 4,9/10
Rotten Tomatoes: 38%

November 26, 2016

Preview Film: Moana (2016)


November ini menjadi bulan yang menyenangkan bagi para penggemar film animasi musikal Disney. Moana, yang digadang-gadang menjadi salah satu calon film animasi 3D terbaik tahun ini, akhirnya dirilis secara worldwide pada hari Jumat (25/11).

Selama ini, film-film animasi Disney, terutama dengan princess-princess-nya, memang hampir selalu berhasil merebut hati para pemirsa dari segala usia. Masih lekat dalam ingatan ketika tiga tahun lalu Frozen (2013) dirilis. Film tentang dua putri dari Kerajaan Arendelle itu sukses meraih Piala Oscar sebagai Film Animasi Terbaik.

Seperti halnya Frozen, Moana juga mengangkat tokoh utama seorang cewek. Meski demikian, dia bukanlah seorang putri kerajaan. Melihat karakternya yang tomboy dan pemberani, Moana lebih cocok disebut sebagai jagoan wanita. Cukup berbeda dengan princess-princess Disney selama ini.

Memang, dalam satu dekade terakhir, Disney pelan-pelan mulai mengubah karakter princess yang kemayu dan lemah menjadi lebih tangguh. Seperti Rapunzel dalam Tangled (2010), Merida dalam Brave (2012), hingga Anna dalam Frozen (2013). Namun, tetap saja, Moana inilah yang terlihat paling "gahar" dibandingkan para pendahulunya tersebut.

Dikisahkan sebagai seorang gadis bangsa Polinesia, Moana Waialiki (Auli'i Cravalho) yang hidup di Kepulauan Oceania, Samudera Pasifik, sejak kecil sudah akrab dengan laut. Atas petunjuk dan dukungan neneknya, yang juga sesepuh desa, yang bernama Gramma Tala (Rachel House), Moana memutuskan untuk berpetualang mengarungi lautan pada usia yang tergolong masih ababil, 16 tahun.

Orang Polinesia dikenal sebagai pelaut dan navigator andal selama ribuan tahun. Namun, suatu ketika, mereka berhenti berlayar. Moana, yang penasaran, ingin melanjutkan tradisi berlayar nenek moyangnya. Selain itu, putri pasangan Kepala Suku Tui (Temuera Morrison) dan Sina Waialiki (Nicole Scherzinger) tersebut ingin menyelamatkan pulau tempat tinggalnya dari bencana.

Meski dilarang oleh bonyoknya, Moana tetap nekat. Satu-satunya orang di Pulau Motunui yang mendukung cita-citanya untuk berlayar hanyalah sang nenek, Gramma Tala. Misi Moana adalah mencari Te Fiti, dewi penciptaan yang bertanggung jawab terhadap keseimbangan alam. Gadis keras kepala nan cerdik itu harus mengembalikan jantung Te Fiti yang dicuri oleh Maui (Dwayne "The Rock" Johnson) seribu tahun sebelumnya.

Dengan hanya ditemani Heihei (Alan Tudyk), seekor ayam jantan, Moana dan Maui pun mengarungi samudera luas untuk menemui Te Fiti. Petualangan dahsyat dan berbahaya sudah menunggu, termasuk ancaman dari para monster. Seperti Tamatoa (kepiting raksasa yang hidup di dasar laut dan suka mencuri barang berharga), Kakamora (monster kelapa imut yang jahat dan suka merampok para pelaut), serta Teka (monster lahar yang sering melemparkan batu panas kepada siapa pun yang mendekati tempat tinggal Te Fiti).

Berbeda dengan princess Disney lainnya yang biasanya langsing, body Moana ini agak bulky dan atletis. Hal itu sesuai dengan kemampuannya yang jago mendayung perahu, berlayar, dan, bahkan, melawan monster! Rambutnya kriwil panjang dan kulitnya sawo matang ,seperti cewek-cewek Polinesia pada umumnya.

Karena dia bukan seorang putri kerajaan, Moana pun tidak bergaun indah. Pakaiannya hanya berupa lilitan kain tapa yang terbuat dari serat pohon mulberry. Demikian juga dengan roknya yang berupa anyaman daun pandan dengan belahan tinggi untuk menunjang kelincahannya dalam bergerak.

Yang menarik, pencipta pola kain tapa, kain tradisional Polinesia yang dipakai oleh Moana, adalah seorang animator asal Indonesia yang bernama Griselda Sastrawinata. Di proyek film animasi berbujet USD 150 juta ini, dia menjabat sebagai visual development artist.

Sementara itu, Maui adalah demigod yang sangat legendaris di kalangan masyarakat Polinesia. Karakternya, sebenarnya, abu-abu. Tidak sepenuhnya baik dan tidak sepenuhnya jahat. Ada yang menganggapnya sebagai pahlawan, tapi juga sekaligus penipu.

Postur Maui tinggi besar, gendut, dan tubuhnya penuh tattoo. Rambutnya keriting dan berkulit sawo matang. Pakaiannya hanya berupa celana dari lilitan kain berlapis daun, khas Polinesia. Sifatnya congkak, sok jagoan, tidak berpikir panjang, namun sangat setia kawan. Selain jago bertarung, dia juga bisa berubah menjadi hewan dan punya kail ajaib. Hal unik lainnya, ada tattoo Mini Maui di badannya yang bisa bergerak-gerak!

Demi menjaga kearifan lokal, semua tattoo yang ditampilkan di film Moana ini merupakan hasil kerja sama dengan tattoo artist asli Polinesia. Untuk menggarap tattoo Mini Maui yang bisa bergerak, Disney menerapkan perpaduan teknik animasi 3D dengan 2D.

Karakter lain yang menarik perhatian dan menjadi penyegar suasana adalah Heihei, seekor ayam jantan yang menjadi teman seperjalanan Moana dan Maui. Sifatnya sangat konyol dan tidak pernah memahami situasi di sekitarnya. Dia suka menelan apapun yang dianggap sebagai makanan, mulai biji-bijian hingga batu! Saking dungunya, sutradara Ron Clements, bahkan, menyebut Heihei sebagai karakter terbodoh sepanjang sejarah Disney.

Selain Heihei, Moana sebenarnya juga punya binatang kesayangan lain bernama Pua. Sayangnya, babi kecil yang lucu dan periang tersebut tidak ikut berpetualang mengarungi lautan bersamanya.

Jika ada yang bertanya apakah Moana punya pacar, tambatan hati, atau gebetan, maka jawabannya adalah: tidak. Iya, dia jomblo, tapi bukan jones. Moana adalah seorang cewek yang mandiri. Meski ditemani oleh Maui yang perkasa, dia tidak bergantung padanya.

Seperti halnya Elsa dalam Frozen (2013), Moana tidak memiliki love interest. Maui bukan pacarnya. Jadi, jangan harap bakal ada pangeran ganteng muncul di film animasi berdurasi 103 menit ini. Sang sutradara memang sengaja menonjolkan kemandirian Moana untuk menginspirasi para perempuan modern agar lebih berani berjuang mengejar impian dan cita-cita, tanpa harus "diganggu" oleh kehadiran prince charming.

Auli'i Cravalho mengaku tidak kesulitan dalam mengisi suara Moana. Aktris dan penyanyi yang baru berusia 16 tahun itu sejak kecil sudah akrab dengan lautan, tari Hula-Hula, dan musik tradisional kepulauan Pasifik karena dia lahir dan besar di Hawai'i, Amerika Serikat.

Cravalho juga setuju bahwa sudah saatnya karakter cewek di film-film animasi Disney dibuat lebih ber-power seperti Moana. Siswi SMA Kamehameha Schools, Kapalama, Hawai'i itu menyatakan para perempuan modern harus bisa mandiri dan bebas menentukan masa depannya sendiri.

Sementara itu, untuk mengangkat budaya bangsa Polinesia yang memiliki kekayaan tradisi yang begitu memikat, tim produksi Disney benar-benar melakukan penelitian dengan serius, bukan hanya sekadar studi literatur. Sutradara John Musker dan Ron Clements, bahkan, benar-benar mengunjungi pulau-pulau utama di Oceania, yaitu Fiji, Samoa, Tahiti, Mo'orea, Bora-Bora, dan New Zealand pada tahun 2011 dan 2014.

Di Kepulauan Pasifik tersebut, duo sutradara yang pernah menghasilkan film animasi musikal klasik The Little Mermaid (1989) dan Aladdin (1992) itu mengamati lokasi dan berinteraksi langsung dengan penduduk dan nelayan lokal di sana. Mereka kemudian juga menggunakan jasa ahli sejarah, budaya, dan bahasa, arkeolog, antropolog, seniman, serta tokoh adat untuk memperkuat cerita Moana.

Selama ini, Disney memang dikenal sangat total dalam melakukan riset untuk menghasilkan film-film animasi agar sesuai dengan dunia nyata. Ketika membuat The Lion King (1995), para animator mereka bahkan rela tinggal selama enam bulan di tengah habitat singa!

Untuk menghasilkan efek deburan ombak dan percikan air laut yang presisi, Disney menggandeng Pixar. Anak perusahaannya tersebut sudah berpengalaman menampilkan akuarium raksasa yang terlihat nyata di film Finding Dory (2016). Mereka menggunakan sistem visual efek bernama Splash untuk menggarap semua adegan yang berkaitan dengan air laut.

Dalam film yang naskahnya ditulis oleh Jared Bush ini, laut tidak hanya menjadi background, melainkan juga salah satu karakter utama. Kabarnya, kita bakal sering disuguhi adegan interaksi antara Moana dan air laut.

Selain visual efek, sisi musikal di film Moana juga tak bisa dianggap enteng karena ditangani langsung oleh Mark Mancina. Selain itu, yang menggarap lagu-lagunya adalah pemenang Grammy Award, Lin-Manuel Miranda, serta Opetaia Foa'i, musisi asli Polinesia yang sudah meraih berbagai penghargaan internasional.

Seperti halnya Frozen (2013) yang memiliki lagu hit Let It Go, Moana juga punya How Far I'll Go. Inti dari lagu ciptaan Lin-Manuel Miranda tersebut adalah tentang kekuatan mimpi serta keinginan seseorang yang sedang mencari jati dan mengejar masa depannya.

Untuk versi filmnya, Auli'i Cravalho sendiri yang menyanyikan How Far I'll Go. Sedangkan, untuk versi studionya, penyanyi asal Kanada, Alessia Cara, yang membawakannya.

Lagu yang dirilis pada 9 November 2016 yang lalu itu tidak hanya dinyanyikan dalam bahasa Inggris saja, melainkan juga dibuat dalam berbagai versi bahasa di dunia. Maudy Ayunda mendapat kehormatan untuk menyanyikan How Far I'll Go, yang dalam versi bahasa Indonesianya berjudul Seb'rapa Jauh Ku Melangkah tersebut.

Secara box office, Moana memang diharapkan bisa sesukses Frozen (2013). Bulan rilisnya pun sama, November. Meski demikian, Osnat Shurer, selaku produser, mengaku tidak berharap yang terlalu tinggi. Apalagi, tanggal rilisnya berdekatan dengan Fantastic Beast and Where to Find Them milik Warner Bros. Pictures yang diperkirakan menjadi pesaing terberatnya.

Secara kualitas, setelah tayang perdana di AFI Fest pada 14 November 2016 yang lalu, Moana mendapat rating sangat positif dari sejumlah kritikus dan situs review. Bahkan, diperkirakan bakal bersaing ketat dengan produk Disney lainnya, Zootopia (2016), untuk meraih Piala Oscar sebagai film animasi terbaik tahun ini!

***

Moana

Sutradara: Ron Clements, John Musker
Produser: Osnat Shurer
Penulis Skenario: Jared Bush
Pengarang Cerita: Ron Clements, John Musker, Chris Williams, Don Hall, Pamela Ribon, Aaron Kandell, Jordan Kandell
Pemain: Auli'i Cravalho, Dwayne Johnson, Rachel House, Temuera Morrison, Jemaine Clement, Nicole Scherzinger, Alan Tudyk
Musik: Mark Mancina, Lin-Manuel Miranda (lagu), Opetaia Foa'i (lagu)
Penyunting: Jeff Draheim
Produksi: Walt Disney Pictures, Walt Disney Animation Studios
Distributor: Walt Disney Studios Motion Pictures
Durasi: 103 menit
Budget: USD 150 juta
Rilis: 14 November 2016 (AFI Fest), 23 November 2016 (Amerika Serikat), 25 November 2016 (Indonesia)

Ratings

IMDb: 8,4
Rotten Tomatoes: 97%
Metacritic: 81
CinemaScore: A



November 22, 2016

Preview Film: Allied (2016)


Berita perceraian Brad Pitt dan Angelina Jolie menjadi salah satu peristiwa yang paling mengejutkan di tahun 2016 ini. Bagaimana tidak, dua sejoli yang terjerat cinta lokasi saat membintangi Mr. & Mrs. Smith (2005) itu disebut-sebut sebagai salah satu pasangan yang paling serasi dan harmonis di Hollywood.

Namun, apa lacur. Nasi sudah menjadi bubur. Kabarnya, kandasnya mahligai perkawinan Brangelina ini disebabkan oleh orang ketiga. Iya, rumornya, Pitt kembali terjebak dalam cinta lokasi dengan Marion Cotillard, lawan mainnya di film Allied yang bakal tayang mulai hari Rabu (23/11) pekan ini.

Saat bertekuk lutut dalam dekapan Jolie dulu, Pitt sebenarnya masih berstatus sebagai suami Jennifer Aniston, bintang serial Friends yang ditahbiskan sebagai perempuan tercantik 2016 versi majalah People. Aniston, yang kala itu geram karena diselingkuhi, meminta pisah ranjang pada Januari 2005. Dua bulan sesudahnya, dia menggugat cerai Pitt.

Kini, cerita yang sama diduga kembali terulang. Jolie kabarnya sampai menyewa mata-mata untuk mengawasi kelakuan suaminya saat melakoni syuting Allied selama berbulan-bulan di London. Karena Pitt menunjukkan gelagat yang mencurigakan, Angie pun menjadi cemburu. Ketika menjenguk Brad di lokasi syuting, hot mommy yang memiliki enam anak itu bahkan menolak bertegur sapa dengan Marion Cotillard.

Di lain pihak, disebut-sebut sebagai orang ketiga dalam noktah merah perkawinan Jolie-Pitt, Cotillard membantah gossip tersebut. Model asal Prancis itu sejak 2007 menjalin hubungan dengan aktor dan penulis, Guillaume Canet, 43, dan sudah dikaruniai seorang anak bernama Marcel, 5. Malahan, kini Marion sedang mengandung anaknya yang kedua.

Menurut MILF sexy berukuran dada 32C itu, hubungannya dengan Brad di lokasi syuting adalah hubungan profesional sebagai aktor dan aktris. Meski demikian, Cotillard mengakui, di film Allied ini, mereka memang sempat beradegan sangat panas. Bahkan, ada satu scene yang menampakkan aktris berusia 41 tahun itu menaiki tubuh Pitt, lalu berciuman dengan hot.

Cotillard awalnya mengaku canggung ketika harus beradegan seks. Begitu juga dengan Pitt. Namun, mereka tetap berkomitmen untuk melakukan yang terbaik. Latihan koreografi pun dilakukan oleh Marion dan Brad agar mereka bisa dengan bebas berekspresi dalam berakting. Keduanya juga diberitakan sering menghabiskan waktu bersama untuk mendalami karakter.

Seperti halnya Mr. & Mrs. Smith, Allied mengangkat tema tentang kisah asmara sepasang agen rahasia. Bedanya, kali ini ber-setting jadul. Di masa Perang Dunia II. Kabarnya, cerita tersebut terinspirasi dari kejadian nyata tentang dua assassin yang jatuh cinta saat menjalankan tugas untuk membunuh seorang perwira Jerman.

Pada 1942, seorang intel Kanada bernama Max Vatan (Brad Pitt) mendapat misi berbahaya di Casablanca, Maroko, Afrika Utara, yang kemudian mengantarkannya bertemu seorang pejuang Prancis bernama Marianne Beausejour (Marion Cotillard). Mereka kemudian saling jatuh cinta dan memutuskan untuk menikah.

Meski dalam suasana perang, kehidupan pasangan Max dan Marianne pada awalnya berjalan harmonis. Bahkan, mereka juga dikaruniai seorang anak. Sampai akhirnya, Vatan mendapat informasi rahasia, yang belum tentu benar, bahwa Beausejour adalah seorang mata-mata Nazi Jerman! Apakah yang bakal dilakukan oleh Max? Melenyapkan istrinya, atau, malah membelanya?

Terlibat dalam proyek film perang sebenarnya bukan hal yang baru bagi Brad Pitt. Allied tercatat sebagai film keempatnya yang ber-setting Perang Dunia II. Sebelumnya, aktor berusia 52 tahun itu sudah pernah bermain di Inglourious Bastard (2009), Beyond All Boundaries (2009), dan Fury (2014).

Meski sudah berpengalaman, Pitt mengaku perannya kali ini bukanlah peran yang mudah. Salah satu tantangan terbesarnya adalah mengucapkan bahasa Inggris dengan aksen Prancis. Karakter Max Vatan yang dia perankan memang berasal dari Kanada yang berbicara dengan logat khas negeri anggur tersebut.

Untungnya, lawan main Pitt kali ini adalah Marion Cotillard yang memang asli Prancis. Selama proses syuting, pemeran Achilles dalam film Troy (2004) itu banyak diajari Cotillard untuk melafalkan dialog dalam bahasa Prancis. Meski demikian, pada awalnya, Marion sering mengejek bahwa aksen Pitt kurang hot.

Bagi Cotillard sendiri, bermain dalam film perang juga bukan hal yang baru. Sebelum Allied, pemeran Miranda Tate dalam The Dark Knight Rises (2012) ini sudah pernah tampil di film Lisa (2001) yang juga ber-setting World War II.

Bermodalkan wajah cantik, body sexy, plus kemampuan akting yang cukup mumpuni, membuat Cotillard dijuluki sebagai "The Most Bankable French Actress of the 21st Century". Sepanjang 2001 hingga 2014, total penjualan tiket filmnya di seluruh Prancis mencapai 37 juta penonton!

Pada 2008, Cotillard terpilih sebagai wajah Lady Dior, yang merupakan produk tas tangan terkenal asal Prancis. Selain itu, seperti halnya Angelina Jolie yang menjadi duta PBB untuk masalah pengungsi, Cotillard juga seorang pemerhati lingkungan hidup. Dia adalah juru bicara Greenpeace.

Nama Marion Cotillard sebenarnya sudah melejit sejak ia memerankan penyanyi legendaris Prancis, Edith Piaf, dalam film La Vie en Rose (2007). Kemampuan olah vokal dan akting yang cemerlang membuat putri Jean-Claude Cotillard tersebut meraih Piala Oscar kategori Best Actress pada 2008. Bahkan, dia menjadi orang pertama yang mendapat Academy Award lewat film berbahasa Prancis!

Di lain pihak, Paramount Pictures selaku distributor sempat dituduh memanfaatkan momen perceraian Jolie-Pitt untuk mempromosikan film mereka. Hanya beberapa jam setelah kabar retaknya rumah tangga Brangelina mencuat, Paramount merilis trailer Allied pada bulan September yang lalu.

Dalam cuplikan tersebut, tampak beragam adegan yang mengisahkan kehidupan Max Vatan yang diperankan Brad Pitt. Termasuk aksi tembak-tembakan antara agen rahasia tersebut dengan lawan-lawannya. Selain itu, juga ada adegan intim dengan Marianne Beausejour yang diperankan Marion Cotillard. Salah satunya saat mereka berasyik-masyuk di dalam mobil.

Pihak Paramount sendiri kemudian membantah bahwa mereka memanfaatkan momen pertikaian Brangelina untuk merilis trailer Allied. Menurut mereka, rencana penayangan cuplikan tersebut sudah ada sejak lama. Kebetulan saja waktunya bertepatan dengan keputusan Jolie menggugat cerai Pitt.

Setelah tayang secara terbatas di Regency Village Theatre pada 9 November 2016 yang lalu, Allied mendapat rating cukup positif dari IMDb. Yang pasti, kasus Brangelina sedikit banyak memang berhasil menarik perhatian moviemania untuk menonton film berdurasi 124 menit tersebut.

***

Allied

Sutradara: Robert Zemeckis
Produser: Graham King, Steve Starkey, Robert Zemeckis
Penulis Skenario: Steven Knight
Pemain: Brad Pitt, Marion Cotillard, Jared Harris, Simon McBurney, Lizzy Caplan
Musik: Alan Silvestri
Sinematografi: Don Burgess
Penyunting: Mick Audsley, Jeremiah O'Driscoll
Produksi: GK Films, ImageMovers
Distributor: Paramount Pictures
Durasi: 124 menit
Rilis: 9 November 2016 (Regency Village Theatre), 23 November 2016 (Indonesia & Amerika Serikat)

Ratings

IMDb: 7,9


November 21, 2016

Preview Film: Marauders (2016)


Nama Bruce Willis memang sangat lekat dengan film-film action. Sejak memerankan John McClane dalam film Die Hard (1988), mantan suami Demi Moore tersebut langsung melejit sebagai salah satu aktor laga papan atas di Hollywood.

Meski kini usianya tidak lagi muda, sudah 61 tahun, Willis masih tetap aktif. Nyaris setiap tahun namanya menghiasi layar lebar. Bahkan, tahun ini, bintang utama serial televisi Moonlighting (1985-1989) itu terlibat dalam empat proyek film. Satu di antaranya berjudul Marauders, yang baru tayang pekan ini di Indonesia.

Bergenre action crime-thriller, Marauders berkisah tentang sebuah bank milik Jeffrey Hubert (Bruce Willis) yang dirampok oleh sekelompok penjahat profesional. Selain menggondol uang USD 3 juta, dalam aksinya tersebut, mereka juga menyandera adik sang pemilik bank, yang akhirnya tewas terbunuh.

FBI pun langsung turun tangan untuk menyelidiki kasus tersebut. Dalam proses investigasi, Agent Jonathan Montgomery (Christopher Meloni) menemukan fakta bahwa ada konspirasi rumit di belakang aksi perampokan bank tersebut. Apa yang menjadi motif para penjahat itu dan siapa sebenarnya yang menjadi dalang utamanya?

Selain Bruce Willis, Marauders juga dibintangi oleh Christopher Meloni yang dulu mulai dikenal setelah membintangi serial televisi Law & Order: Special Victims Unit di NBC dan Oz di HBO. Kedua aktor senior tersebut sebenarnya sudah pernah main bareng di beberapa film, di antaranya 12 Monkeys (1995) dan Sin City: A Dame to Kill For (2014).

Nama besar lain yang menghiasi Marauders adalah Dave Bautista. Para penggemar film superhero Marvel tentu saja mengenal mantan pegulat profesional WWE itu sebagai Drax the Destroyer dalam Guardians of the Galaxy (2014).

Di Amerika Serikat, film berdurasi 107 menit ini sebenarnya sudah dirilis sejak 1 Juli 2016 yang lalu oleh Lionsgate Premiere. Sayangnya, selain jeblok secara komersial, hanya meraup pemasukan USD 120 ribu hingga saat ini, Marauders juga mendapat rating kurang positif dari sejumlah situs review dan kritikus.

***

Marauders

Sutradara: Steven C. Miller
Produser: Randall Emmett, George Furla, Joshua Harris, Rosie Charbonneau, Mark Stewart
Penulis Skenario: Michael Cody, Chris Sivertson
Pemain: Christopher Meloni, Bruce Willis, Dave Bautista, Adrian Grenier, Johnathon Schaech, Lydia Hull, Tyler Jon Olson, Texas Battle
Musik: Ryan Dodson
Sinematografi: Brandon Cox
Penyunting: Vincent Tabaillon
Produksi: Grindstone Entertainment, Emmett/Furla/Oasis Films, Aperture Media Partners, The Fyzz Facility, 4th Wall Entertainment
Distributor: Lionsgate Premiere
Durasi: 107 menit
Rilis: 1 Juli 2016 (Amerika Serikat), 20 November 2016 (Indonesia)

Ratings

IMDb: 5,4
Rotten Tomatoes: 40%
Metacritic: 42

November 17, 2016

Preview Film: Fantastic Beasts and Where to Find Them (2016)


Bulan ini mungkin menjadi bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh para Potterhead. Spin-off, yang merupakan perluasan cerita dari dunia sihir Harry Potter, yaitu Fantastic Beasts and Where to Find Them, akhirnya tayang di bioskop mulai hari Rabu (16/11) ini di Indonesia.

Meski tidak menceritakan penyihir ababil berkacamata minus tersebut, kehadiran Fantastic Beasts tentu saja bakal mengobati kerinduan para Potterhead yang terakhir kali menyaksikan Harry Potter and the Deathly Hallows - Part 2 pada tahun 2011. Film yang kembali dibesut oleh sutradara David Yates ini diadaptasi dari novel karangan J. K. Rowling berjudul sama, yang ditulis pada 2001.

Kisahnya mengambil setting saat musim dingin di Amerika Serikat, bukan di Inggris, pada tahun 1926. Jauh sebelum Harry Potter lahir. Menceritakan petualangan Newt Scamander (Eddie Redmayne), pengarang buku Fantastic Beasts and Where to Find Them, yang kelak bakal menjadi salah satu bacaan wajib bagi Harry Potter dkk saat menimba ilmu di Sekolah Sihir Hogwarts.

Newt Scamander adalah seorang magizoologist nyentrik. Penyihir introvert yang bekerja di Kementerian Mejik Inggris itu dikisahkan sedang bertugas memburu dan mendapatkan kembali para makhluk ajaib yang hilang. Misi berbahayanya tersebut membawanya sampai ke Kota New York.

Di sana, Newt bertemu dengan seorang penyihir cantik bernama Porpentina "Tina" Goldstein (Katherine Waterston), yang bekerja di Magical Congress of the USA (MACUSA). Dulunya, Tina adalah seorang Auror yang bertugas memburu dan menangkap para penyihir jahat.

Katherine Waterston, pemeran Tina, adalah seorang aktris asal London berusia 36 tahun. Sebelum ini, aktingnya bisa kita nikmati dalam film Steve Jobs (2015). Kala itu, dia berperan sebagai Chrisann Brennan, mantan pacar sang pendiri Apple tersebut.

Awalnya, saat menjalani audisi, Waterston mengaku tidak yakin bakal diterima menjadi pemain di Fantastic Beasts. Baginya, segala hal yang berhubungan dengan franchise Harry Potter itu terlalu besar. Selama ini, aktris serial Boardwalk Empire (2012) itu memang belum pernah terlibat di film-film blockbuster. Oleh karena itu, dia sangat terkejut ketika akhirnya diumumkan sebagai pemeran Tina dengan menyisihkan dua kandidat lainnya, yaitu Kate Upton dan Elizabeth Debicki.

Bagi Waterstone, kesulitan terbesar bermain di film berdurasi 133 menit ini adalah menguasai peran sebagai Tina. Dia harus mampu menampilkan sosok penyihir yang pintar sekaligus menawan. Apalagi, referensinya tentang tokoh tersebut sangat minim. Bahkan, bisa dibilang tidak ada.

Baik Tina maupun Newt memang tidak pernah muncul dalam tujuh novel Harry Potter. Begitu juga di buku Fantastic Beasts and Where to Find Them yang sama-sama dikarang oleh J. K. Rowling. Maka dari itu, Waterston dan Eddie Redmayne akhirnya berimajinasi sendiri dalam memunculkan karakter dua penyihir jadul tersebut.

Untungnya, Redmayne, selaku lawan main Waterston, juga bukan aktor kemarin sore. Meski baru berusia 34 tahun, pengalamannya sangat mumpuni. Pemeran si bencong Lili Elbe dalam The Danish Girl (2015) tersebut sudah pernah meraih Piala Oscar lewat perannya sebagai Stephen Hawking di The Theory of Everything (2014).

Sebelum menjalani proses syuting Fantastic Beasts, salah satu hal yang menarik bagi Redmayne dan Waterstone adalah boleh mendesain tongkat sihir dan peralatan mereka sendiri. Keistimewaan tersebut bahkan tidak dimiliki oleh dua bintang franchise Harry Potter sebelumnya, Daniel Radcliffe dan Emma Watson.

Meski peran mereka berbeda, tantangan utama bagi Redmayne dan Waterston adalah dibanding-bandingkan dengan Radcliffe dan Watson oleh para fans. Oleh karena itu, mereka dituntut untuk merebut hati jutaan penggemar Harry Potter dengan tampil apik sebagai Newt Scamander dan Tina Goldstein.

Selain Newt dan Tina, tokoh lain yang menarik perhatian di Fantastic Beasts adalah Percival Graves, Kepala Magical Security di MACUSA, yang diperankan oleh Colin Farrell. Bintang film Alexander (2004) itu mengungkapkan bahwa karakter yang dia perankan sangat frustrasi dengan kerahasiaan yang harus dijaga dari dunia sihir di Amrik. Percival melakukan segala cara untuk menjaga agar para penyihir tidak harus bersembunyi.

Sementara itu, sebelum Fantastic Beasts tayang, sudah ada kabar mengejutkan yang dirilis oleh Warner Bros. Pictures. J. K. Rowling, selaku penulis naskah dan pengarang novel, mengkonfirmasi bahwa prekuel Harry Potter ini bakal dikembangkan menjadi lima film!

Iya. Lima film. Padahal, Fantastic Beasts dianggap memiliki materi cerita yang dangkal, karena novelnya termasuk tipis. Hanya setebal 128 halaman. J. K. Rowling harus mampu menjawab tantangan dan memperdalam kisahnya hingga proyek ini bisa diperlebar sampai lima seri.

Sejauh ini, belum diketahui siapa saja pemain yang bakal terlibat dalam empat seri selanjutnya. Yang pasti, sutradara David Yates bakal tetap membesutnya hingga tuntas sampai lima film. Eddie Redmayne masih akan tetap berperan sebagai Newt Scamander, karena ia merupakan lakon utama dalam saga Fantastic Beasts ini.

Kabar mengejutkan lainnya adalah dipastikannya Johnny Depp ambil bagian dalam lanjutan prekuel Harry Potter ini. Aktor pujaan ibu-ibu yang sedang tersandung kasus KDRT tersebut bakal memerankan penyihir jahat, Gellert Grindelwald, di masa mudanya.

Baik J. K. Rowling maupun David Yates telah mengindikasikan bahwa Grindelwald bakal menjadi villain utama di saga Fantastic Beasts, seperti halnya Voldemort di saga Harry Potter. Meski demikian, di film pertama ini, dia mungkin hanya akan muncul sekilas sebagai cameo.

Grindelwald pada mulanya adalah sobat lama Albus Dumbledore. Namun, mereka akhirnya menjadi musuh bebuyutan. Menurut Rowling, kisah Fantastic Beasts sendiri bakal memiliki rentang waktu hingga 19 tahun. Kemungkinan akan diakhiri dengan duel epik antara dua sahabat, Dumbledore vs. Grindelwald, yang menjadi ending dari Perang Sihir Global pada 1945.

Hingga kini, masih belum diketahui siapa yang bakal memerankan Dumbledore di masa mudanya. Sejumlah pemain dan karakter dalam sekuel Fantastic Beasts diperkirakan baru akan terungkap saat film tersebut memulai syuting pada awal tahun 2017 mendatang.

Faktor utama dari keberlangsungan franchise Fantastic Beasts yang baru dirilis ini, tentu saja, adalah keberhasilan dalam menembus box office. Jika film pertamanya sukses secara finansial, serta mendapat review positif, ambisi untuk melanjutkannya menjadi lima seri tampaknya bakal terwujud.

Warner Bros. Pictures selaku distributor pun dengan gencar melakukan promosi. Sejak bulan lalu, para Potterhead mereka hujani dengan sejumlah teaser yang menggelitik. Trailer-nya pun dicicil sedikit demi sedikit hingga membuat para fans penasaran.

Tak ketinggalan, Warner Bros. Pictures juga bekerja sama dengan berbagai pihak. Salah satunya adalah Empire Magazine. Majalah asal Inggris tersebut merilis edisi khusus yang formatnya mirip The Daily Prophet, yaitu koran para penyihir yang gambarnya mampu bergerak-gerak, seperti yang pernah kita tonton dalam franchise Harry Potter.

Editor Empire, Jonathan Pile, menyebutkan bahwa edisi eksklusif yang hanya dicetak 5.000 eksemplar tersebut memiliki sampul yang terdiri dari dua lapis karton. Mereka menyisipkan screen tipis dan microchip yang berisi dua konten video di sana. Jadi, foto di covernya bakal terlihat "hidup", alias bergerak-gerak sendiri. 

Dua video yang ditampilkan adalah special trailer dan behind the scenes Fantastic Beasts. Keduanya tidak dirilis di media lain. Jadi, benar-benar eksklusif untuk para pembaca Empire Magazine. Sayangnya, majalah mejik tersebut hanya dijual di gerai-gerai Sainsbury's pada 27 Oktober 2016 yang lalu.

Selain lewat media massa, tim marketing Fantastic Beasts juga menggeber promosi lewat media sosial. Pada 11 Oktober 2016, mereka merilis video klip berdurasi 30 detik yang hanya bisa dibuka dengan "mantra" yang tepat.

Untuk menontonnya, para fans wajib nge-tweet dengan tagar #FB, yang bakal berubah menjadi emoji, lalu diikuti dua dari empat nama tokoh utama dalam Fantastic Beasts (Newt, Tina, Queenie, dan Jacob). Jika jawaban benar, akun Twitter @fantasticbeasts bakal menampilkan isi dari video klip ekslusif tersebut.

Di samping aktif di dunia maya, Warner Bros. Pictures juga tak melupakan dunia nyata. Sejumlah promosi offline mereka galakkan, terutama di kawasan Times Square, New York. Poster dan baliho raksasa Newt Scamander dkk menghiasi lokasi yang sangat terkenal tersebut. Hal itu menegaskan bahwa film Fantastic Beasts ini ber-setting di Amerika Serikat, bukan di Inggris seperti Harry Potter. Mereka bertujuan melakukan penetrasi ke pasar ababil Negeri Paman Donald yang jauh lebih besar.

Warner Bros. Pictures sebenarnya tidak mematok target pemasukan yang terlalu tinggi. Mereka hanya berharap Fantastic Beasts bisa meraup USD 75 juta saat opening weekend. Angka itu lebih rendah daripada Harry Potter and the Order of the Phoenix (2007), yang tercatat sebagai film Harry Potter dengan pendapatan pekan perdana terkecil (USD 77 juta).

Meski tidak memancang target tinggi, para pengamat yakin Fantastic Beasts bakal mampu menembus box office. Apalagi, setelah mengadakan world premiere di Alice Tully Hall, New York City, pada 10 November 2016 yang lalu, sejumlah kritikus dan situs review memberi rating sangat positif. Bahkan, Rotten Tomatoes, untuk sementara ini, menampilkan angka 100%, yang artinya sangat layak untuk ditonton!

***

Fantastic Beasts and Where to Find Them

Sutradara: David Yates
Produser: David Heyman, J. K. Rowling, Steve Kloves, Lionel Wigram
Penulis Skenario: J. K. Rowling
Berdasarkan: Fantastic Beasts and Where to Find Them by J. K. Rowling
Pemain: Eddie Redmayne, Katherine Waterston, Dan Fogler, Alison Sudol, Ezra Miller, Samantha Morton, Jon Voight, Carmen Ejogo, Colin Farrell
Musik: James Newton Howard
Sinematografi: Philippe Rousselot
Penyunting: Mark Day
Produksi: Heyday Films
Distributor: Warner Bros. Pictures
Durasi: 133 menit
Budget: USD 180 juta
Rilis: 10 November 2016 (Alice Tully Hall), 16 November 2016 (Indonesia), 18 November 2016 (Inggris & Amerika Serikat)

Ratings

Rotten Tomatoes: 100%
Metacritic: 73



November 12, 2016

Preview Film: Before I Wake (2016)


Sejak menelurkan Absentia (2011), nama Mike Flanagan mulai dikenal sebagai sutradara spesialis film horror. Pria kelahiran tahun 1978 itu memang kerap menghasilkan karya yang berkaitan dengan "hantu-hantuan" sejak masih kuliah di Towson University, Maryland. Salah satu kelebihannya, selain menjadi sutradara, dia juga menulis skenario dan mengedit sendiri semua film horror-nya!

Karir Flanagan semakin menanjak setelah dia menghasilkan Oculus (2013), yang mendapat review cukup positif dari para kritikus. Kisah horror tentang cermin kuno berhantu tersebut didasarkan pada film pendek berjudul Oculus: Chapter 3 - The Man with the Plan (2006), yang juga disutradarai, ditulis skenarionya, diedit, dan diproduseri oleh Flanagan.

Tahun ini, suami aktris Kate Siegel tersebut kembali merilis film horror. Tidak tanggung-tanggung, ada tiga karya sekaligus yang dia hasilkan, yaitu Hush dan Ouija: Origin of Evil, yang dua-duanya kembali mendapat review positif dari para kritikus, serta Before I Wake yang baru tayang di Indonesia pada hari Jumat (11/11) ini.

Berbeda dengan empat film sebelumnya, di mana dia selalu bekerja sama dengan aktor dan aktris yang kurang ternama, di Before I Wake, Flanagan harus mengarahkan nama-nama yang cukup tenar semacam Thomas Jane dan Kate Bosworth. Selain itu, juga ada bintang cilik, Jacob Tremblay, yang namanya mencuat setelah beradu akting dengan Brie Larson dalam film nominasi Piala Oscar, Room (2015).

Before I Wake mengisahkan tentang sepasang suami-istri, Jessie (Kate Bosworth) dan Mark Hobson (Thomas Jane), yang baru saja ditimpa musibah. Sang putra semata wayang, Shawn, meninggal secara mendadak. Untuk menghapus kesedihan, mereka kemudian mengadopsi seorang anak laki-laki bernama Cody Morgan (Jacob Tremblay).

Sayangnya, kehadiran Cody ternyata tidak membawa keceriaan, malah mendatangkan masalah baru bagi Jessie dan Mark. Bocah berusia delapan tahun tersebut memiliki keanehan saat tidur nyenyak. Semua yang ada dalam mimpinya menjadi kenyataan, baik itu mimpi indah maupun mimpi buruk yang dipenuhi oleh hantu dan teror maut.

Jessie dan Mark, yang akhirnya menyadari bahaya tersebut, kemudian berusaha sekuat tenaga untuk mengungkap misteri di balik mimpi-mimpi Cody yang menakutkan dan mengancam nyawanya. Dapatkah mereka menyelamatkan sang putra angkat dan hidup berbahagia?

Saat pertama kali diumumkan pada 7 September 2013, proyek film berdurasi 97 menit tersebut semula berjudul Somnia. Entah kenapa, kemudian diganti menjadi Before I Wake pada Maret 2015. Kabarnya, itu atas permintaan sang sutradara, yang mungkin merasa kurang sreg dengan judul sebelumnya.

Perilisan film bergenre horror fantasy ini awalnya direncanakan pada 8 Mei 2015, tetapi kemudian mengalami penundaan dan dijadwal ulang beberapa kali. Hal tersebut dikarenakan kebangkrutan yang dialami oleh Relativity Media, selaku distributor untuk kawasan Amerika Serikat.

Before I Wake akhirnya tayang perdana pada 31 Juli 2016 di Fantasia International Film Festival dan kemudian dirilis secara serentak di Amerika Utara pada 9 September 2016. Sayangnya, sejumlah situs review memberi rating kurang positif. Untuk pertama kalinya, film horror karya Mike Flanagan, yang biasanya bagus, mendapat review negatif dari para kritikus.

***

Before I Wake

Sutradara: Mike Flanagan
Produser: Sam Englebardt, William D. Johnson, Trevor Macy
Penulis Skenario: Mike Flanagan, Jeff Howard
Pemain: Kate Bosworth, Thomas Jane, Jacob Tremblay, Annabeth Gish, Dash Mihok
Musik: Danny Elfman, The Newton Brothers
Sinematografi: Michael Fimognari
Penyunting: Mike Flanagan
Produksi: Intrepid Pictures, Demarest Films, MICA Entertainment
Distributor: Relativity Media
Durasi: 97 menit
Rilis: 31 Juli 2016 (Fantasia), 9 September 2016 (Amerika Serikat), 11 November 2016 (Indonesia)

Ratings

IMDb: 6,1
Rotten Tomatoes: 36%