July 23, 2017

Preview Film: Spooks: The Greater Good (2015)


Popularitas karakter agen rahasia asal Inggris, James Bond, rekaan Ian Fleming, membuat nama Secret Intelligence Service (SIS), atau yang lebih dikenal dengan sebutan MI6 (Military Intelligence, Section 6), ikut terangkat. Bahkan, jauh lebih populer daripada "saudara"-nya, Security Service, alias MI5 (Military Intelligence, Section 5).

Sejatinya, MI6 merupakan dinas rahasia milik pemerintah Inggris yang bertugas mengurusi masalah luar negeri. Sementara itu, wilayah kerja MI5 adalah menangani masalah keamanan domestik, alias dalam negeri. Meski tidak apple-to-apple, bisa dibilang, MI5 dan MI6 ini semacam FBI dan CIA di Amerika Serikat.

Pada tahun 2002 yang lalu, untuk mengangkat popularitas MI5 yang kalah dari MI6, sempat dibuat serial televisi berjudul Spooks (di beberapa negara beredar dengan judul MI-5). Tak dinyana, TV series yang ditayangkan oleh BBC One ini cukup sukses dan bisa bertahan hingga 10 musim (baru berakhir pada tahun 2011).

Untuk melanjutkan kesuksesan serial mata-mata tersebut, Pinewood Pictures berniat mengangkatnya ke layar lebar pada bulan November 2013. Namun, bujet yang terbatas membuat proses produksi baru bisa dilakukan pada bulan Maret 2014. Seperti halnya James Bond, lokasi syuting film berjudul Spooks: The Greater Good ini mengambil tempat di berbagai belahan dunia, antara lain di Berlin, Moscow, Isle of Man, London, dan Pinewood Studios sendiri.

Sebagai aktor utama, Spooks versi layar lebar mengusung Kit Harington. Pemeran Jon Snow dalam serial televisi populer Game of Thrones tersebut beradu akting dengan Jennifer Ehle, yang memerankan karakter Geraldine Maltby, Deputy Director-General dari MI5.

Selain itu, Spooks juga kembali diperkuat oleh Peter Firth, yang memerankan sosok Harry Pearce, kepala departemen counter-terrorism (Section D) di MI5. Berbeda dengan Kit Harington dan Jennifer Ehle yang baru membintangi versi filmnya, Firth merupakan aktor utama dalam versi serialnya. Selama 10 season, karakter Harry Pearce selalu muncul di serial Spooks.

Kisah dari versi layar lebar Spooks sendiri mengambil setting waktu beberapa tahun setelah ending dari versi serialnya. Harry Pearce masih menjadi kepala densus anti-teror di MI5. Kali ini, dia harus bekerja sama dengan mantan anak didiknya, Will Holloway (Kit Harington), untuk menghentikan aksi gembong teroris karismatik, Adem Qasim (Elyes Gabel), yang berencana meledakkan sebuah bom di London.

Film berdurasi 104 menit ini sebenarnya sudah tayang di Inggris pada 8 Mei 2015 silam. Namun, baru diputar di bioskop-bioskop Cinema 21 Indonesia mulai hari Selasa (11/7) ini. Sayangnya, sejumlah situs review memberi rating kurang positif. Menurut beberapa kritikus, mungkin, bakal lebih baik jika Spooks: The Greater Good ditayangkan sebagai FTV, alias film televisi, daripada dirilis di layar lebar.

***

Spooks: The Greater Good

Sutradara: Bharat Nalluri
Produser: Jane Featherstone
Penulis Skenario: Jonathan Brackley, Sam Vincent
Pemain: Peter Firth, Kit Harington, Jennifer Ehle
Musik: Dominic Lewis
Sinematografi: Hubert Taczanowski
Penyunting: Jamie Pearson
Produksi: Isle of Man Film, Kudos Film and Television, Pinewood Pictures
Distributor: 20th Century Fox, Saban Films (Amerika Serikat)
Durasi: 104 menit
Rilis: 8 Mei 2015 (Inggris), 4 Desember 2015 (Amerika Serikat), 11 Juli 2017 (Indonesia)

Rating (hingga 11 Juli 2017)
IMDb: 6,2/10
Rotten Tomatoes: 62%
Metacritic: 47/100


Preview Film: Spider-Man: Homecoming (2017)


Sejak muncul di Captain America: Civil War tahun lalu, Spider-Man langsung menyita perhatian. Meski hanya tampil sebentar, sosok superhero ababil yang diperankan oleh Tom Holland itu mampu memikat hati para penonton dengan keluguan dan kelucuannya.

Dibandingkan para anggota Avengers lainnya, Spider-Man memang menjadi superhero paling baru dan paling muda. Alter ego Peter Parker tersebut dikisahkan masih berusia 15 tahun dan duduk di bangku SMA.

Setelah hanya menjadi cameo, tahun ini, Spider-Man akhirnya mendapatkan film solonya sendiri. Si Bocah Laba-Laba itu bakal tampil sendirian, tanpa The Avengers, dalam Spider-Man: Homecoming, yang mulai tayang di bioskop-bioskop Indonesia pada hari Rabu (5/7) ini.

Well, dibilang sendirian, sebenarnya, nggak sendiri-sendiri amat juga, sih. Karena, di film produksi Marvel Studios ini, Spider-Man selalu dibayangi oleh "baby-sitter"-nya, yaitu Tony Stark aka Iron Man (Robert Downey Jr.).

Diberi subjudul Homecoming, karena baru kali inilah Spider-Man benar-benar "pulang". Sang Manusia Laba-Laba akhirnya kembali masuk ke jagad film superhero Marvel, alias Marvel Cinematic Universe.

Sebelum Homecoming, Spider-Man sebenarnya sudah berkali-kali dibuatkan film live-action-nya. Yang paling jadul adalah trilogi Spider-Man (1977), Spider-Man Strikes Back (1978) dan Spider-Man: The Dragon's Challenge (1981), yang dibintangi oleh Nicholas Hammond.

Pada tahun 1999, Sony Pictures, studio asal Jepang yang mengakuisisi Columbia Pictures, berhasil membeli hak untuk memproduksi film-film Spider-Man dari perusahaan komik Marvel, yang saat ini dimiliki oleh The Walt Disney Company. Era baru Sang Manusia Laba-Laba pun dimulai.

Dalam perjalanannya, Sony Pictures mampu menghasilkan lima film yang mengisahkan petualangan Peter Parker. Dimulai dari trilogi Spider-Man (2002-2007), besutan Sam Raimi, yang dibintangi Tobey Maguire, hingga dua film The Amazing Spider-Man (2012-2014) yang mengandalkan Andrew Garfield sebagai aktor utamanya.

Namun, pada bulan Februari 2015, setelah berkali-kali dirayu oleh Disney, Sony akhirnya sepakat untuk bekerja sama membuat film Spider-Man. Karakter superhero yang mendapatkan kekuatan setelah digigit laba-laba itu bisa muncul dalam film-film produksi Marvel Studios yang merupakan anak perusahaan Disney.

Setelah diperkenalkan di Captain America: Civil War (2016), Spider-Man pun resmi "pulang" ke Marvel Cinematic Universe. Untuk film solo pertamanya ini, produksi sepenuhnya berada di tangan Columbia Pictures dan Marvel Studios. Sedangkan, pihak Sony Pictures hanya memegang kendali di bagian distribusi.

Dalam ajang Comic-Con yang dihelat di San Diego pada bulan Juli tahun lalu, boss Marvel Studios Kevin Feige mengaku sangat bangga bisa membawa pulang Spider-Man. Untuk menggarap film reboot manusia laba-laba ini, dia mendatangkan sutradara muda Jon Watts yang sebelumnya berpengalaman menghasilkan Clown (2014) dan Cop Car (2015).

Menurut Watts, Spider-Man: Homecoming garapannya bakal sangat kontras dengan film-film Marvel lainnya karena dia akan menyoroti kehidupan ababil Peter Parker yang baru berusia 15 tahun. Intinya, di film ini, Spider-Man masih di tingkat dasar, alias superhero pemula. Dia bukan playboy dan orang kaya semacam Tony Stark, dan tidak akan melawan ratusan alien sekaligus.

Trailer perdana yang dirilis pada bulan Desember 2016 memberikan gambaran lebih jauh tentang bagaimana sebenarnya sosok Peter Parker. Tampak bahwa dia harus menyeimbangkan antara kehidupan sekolah yang monoton dengan peran sebagai superhero.

Dalam Captain America: Civil War, Tony Stark dikisahkan merekrut Peter Parker untuk bergabung dengan Team Iron Man. Stark kemudian membekali superhero culun itu dengan utility belt dan kostum Spider-Man yang berteknologi canggih serta mampu menembakkan jaring laba-laba.

Peter pun ingin ikut menyelamatkan dunia seperti Iron Man. Namun, Tony Stark menganggapnya masih belum siap dan lebih suka bila Avengers yang menghadapi para penjahat besar. Alhasil, hal tersebut malah membuat Spider-Man ingin membuktikan bahwa dirinya juga mampu mengatasi musuh-musuh yang berbahaya.

Dalam Homecoming ini, yang menjadi lawan utama Spider-Man adalah Vulture, yang diperankan oleh aktor kawakan Michael Keaton. Dalam versi komik, sosok yang bernama asli Adrian Toomes itu merupakan anggota Sinister Six, yaitu kumpulan kriminal yang kabur dari penjara dan berusaha untuk melenyapkan Spider-Man.

Meski sudah cukup uzur, Vulture dikisahkan masih sangat fit dan mematikan. Sebagai seorang ahli teknik mesin, dia mampu merakit sendiri kostum bersayap yang menyeramkan. Dengan harness canggihnya tersebut, Vulture menjadi lebih kuat dan bisa terbang, layaknya burung besi raksasa.

Untuk menghadapi Vulture, Spider-Man, tentu saja, harus mengerahkan segala kemampuannya. Setelah dicupang laba-laba, Peter Parker memang berubah menjadi seorang superhuman dengan kekuatan dan refleks di atas rata-rata manusia biasa. Selain itu, dia juga memiliki spider-sense dan mampu merangkak di dinding.

Dalam trailer-nya, terlihat bahwa Spidey terbaru ini lebih kuat daripada Spider-Man di film-film sebelumnya. Dia tidak hanya melompat dari Monumen Washington dan menahan bus sekolah yang dilempar ke arahnya, tapi juga mampu menyatukan kapal kargo yang patah dengan jaring laba-labanya!

Selain menghadapi lawan yang kejam, Peter Parker di Spider-Man: Homecoming ini juga harus mengatasi masalah yang sering dihadapi oleh para remaja, yaitu cinta monyet di jaman SMA. Cewek yang dia taksir, kali ini, bernama Liz (Laura Harrier), yang sejatinya merupakan kakak kelasnya.

Selain Liz, cewek lain yang bakal mewarnai kehidupan Peter adalah MJ. Namun, MJ di sini bukanlah Mary Jane, melainkan Michelle Jones (Zendaya), seorang cewek kutu buku yang sangat pintar dan intelek, tapi agak jutek terhadap Peter.

Dalam versi komiknya, dua cewek yang identik dengan Spider-Man adalah Gwendolin "Gwen" Stacy dan Mary Jane "MJ" Watson. Gwen, yang di The Amazing Spider-Man (2012-2014) diperankan oleh Emma Stone, adalah cinta pertama Peter Parker di masa SMA.

Setelah Gwen tewas, Peter kemudian menjalin hubungan dengan MJ, yang diperankan oleh Kirsten Dunst di trilogi Spider-Man (2002-2007). Apakah MJ versi baru yang diperankan oleh Zendaya juga bakal menjadi love interest dari Spidey? Entahlah. Yang pasti, dalam Homecoming ini, nama Gwen dan Mary Jane sama sekali tidak pernah disebut oleh sutradara Jon Watts.

Saat diwawancarai, Zendaya mengaku bahwa mendalami karakter MJ terbilang sangat mudah. Sebagai seorang kutu buku, Michelle Jones adalah sosok yang garing dan kikuk. Mirip seperti dirinya. Oleh karena itu, aktingnya nggak susah-susah amat, menurut aktris yang juga seorang penyanyi tersebut.

Selain MJ, tokoh wanita lain yang bakal menarik perhatian di Spider-Man: Homecoming adalah Aunt May. Diperankan oleh aktris setengah baya, Marisa Tomei, Bibi May versi terbaru ini masih sangat cantik dan sexy. Berbeda dengan sosok Bibi May di film-film sebelumnya yang digambarkan sudah tua dan keriput.

Di Homecoming ini, karakter Uncle Ben, suami Bibi May, tidak disebut-sebut. Mungkin, dia sudah meninggal. Padahal, di film-film sebelumnya, Paman Ben adalah sosok pembimbing bagi Peter. Peran sebagai mentor Spider-Man, tampaknya, bakal diemban oleh Tony Stark.

Tanpa Paman Ben, status Bibi May juga bisa dipastikan sebagai janda kembang. Dengan penampilannya yang sangat energik dan hot, tak heran, bermunculan komentar-komentar nakal di dunia maya. Ada yang menjulukinya sebagai Aunt-May-zing hingga Aunt MILF, alias Aunt May I'd Like to.. Ah, sudahlah.

Saat menghadiri gala premiere Spider-Man: Homecoming pekan lalu, Marisa Tomei mengaku tidak kesulitan dalam memerankan karakter seorang bibi superhero muda. Dia juga memuji Tom Holland sebagai aktor yang menyenangkan dan easy going. Jadi, cukup mudah membangun chemistry di antara mereka berdua.

Tom Holland sendiri sejatinya harus menjalani audisi hingga delapan kali sebelum terpilih sebagai pemeran Spider-Man. Untuk menarik perhatian tim casting, aktor asal Inggris tersebut mengirimkan video yang berisi rekaman aksinya saat melakukan adegan akrobatik jungkir balik.

Meski baru berusia 21 tahun, Holland memang punya latar belakang penari dan kemampuan gimnastik. Dia sudah cukup lama menekuni dunia tari-menari dan pernah membintangi drama musikal Billy Elliot (2000) saat masih kecil.

Saat audisi final, Holland diminta melakukan adegan pertarungan dengan Captain America (Chris Evans). Bintang film The Impossible (2012) itu akhirnya berhasil memperlihatkan adegan flip alias aksi jungkir balik di depan tim casting.

Dengan kemampuannya tersebut, Holland sebenarnya bisa saja melakukan sendiri semua adegan berbahaya dalam Spider-Man: Homecoming. Namun, demi menjaga keselamatannya, pihak produser kemudian memutuskan untuk menggunakan jasa stuntman.

Boss Marvel Studios Kevin Feige menyatakan bahwa kemampuan akrobatik Holland tersebut sangat membantu selama proses syuting. Dia sering memberikan saran kepada stuntman tentang sejumlah gerakan dan cara mendarat yang baik.

Karena semua adegan berbahaya dilakukan oleh stuntman, Holland memang tidak pernah mengalami cedera selama syuting. Namun, bukan berarti dia terbebas dari kecelakaan.

Setelah selesai syuting dan mengemas barang dalam tas, Holland bersiap pulang dan menuruni tangga. Sialnya, dia kelewatan satu langkah dan akhirnya terpeleset. ACL (anterior cruciate ligament) alias ligamen yang mengikat sendi lututnya robek. Untungnya, cedera tersebut tidak terlalu parah.

Hal lain yang cukup menyiksa saat syuting adalah ketika Holland memakai kostum spandeks Spider-Man yang sangat ketat itu. Di balik suit tersebut, dia tidak memakai apa-apa. Nyaris bugil. Hanya selembar thong, alias g-string, yang menempel di tubuhnya.

So, jika kegerahan, Holland tak bisa asal membuka kostum Spider-Man-nya. Dia kan tidak mungkin berjalan-jalan di lokasi syuting hanya dengan mengenakan thong. Hehehe..

Menurut sutradara Jon Watts, Tom Holland, yang dia temukan di antara 7.000 calon pemeran Spider-Man, merupakan sosok Peter Parker sejati. Meski masih muda, Holland sangat berkarisma dan pantas beradu akting dengan aktor-aktor senior semacam RDJ dan Michael Keaton.

Di samping semua kelebihannya tadi, Tom Holland sebenarnya memiliki satu kelemahan, yaitu sulit menjaga rahasia. Dia pernah beberapa kali keceplosan membocorkan proyek Marvel Studios selanjutnya. Termasuk, tentang reboot Spider-Man, yang kabarnya bakal dibuat menjadi trilogi!

Untuk mengantisipasi mulut ember Holland, Marvel Studios akhirnya tidak memberi naskah full Avengers: Infinity War (2018). Hanya skenario yang menjadi bagiannya saja yang boleh dia baca. Mereka tampaknya takut plot megaproyek tersebut bakal terbongkar sia-sia di media gara-gara ulah Holland.

Kembali ke Homecoming. Dengan modal jumbo, mencapai USD 175 juta, Marvel Studios, tentu saja, ingin film Spider-Man pertama mereka ini sukses di pasaran. Bahkan, kalau bisa, menembus pemasukan di atas satu miliar dollar.

Setelah menggelar gala premiere di TCL Chinese Theatre pada hari Rabu (28/6) pekan lalu, harapan Marvel Studios, tampaknya, bakal menemui kenyataan. Homecoming menuai respon positif dari para kritikus. Tom Holland dinilai sebagai Spider-Man terlucu yang pernah ada. Mengalahkan Tobey Maguire dan Andrew Garfield, yang sebetulnya sama-sama cute.

Para kritikus juga menganggap film berdurasi 133 menit tersebut mampu membangun konflik yang cukup kompleks dengan humor yang smart dan aksi yang menegangkan. Setelah dianggap gagal saat diperankan oleh Andrew Garfield, Spider-Man tampaknya berhasil bangkit kembali kali ini. Welcome home, Peter!

***

Spider-Man: Homecoming

Sutradara: Jon Watts
Produser: Kevin Feige, Amy Pascal
Penulis Skenario: Jonathan Goldstein, John Francis Daley, Jon Watts, Christopher Ford, Chris McKenna, Erik Sommers
Pengarang Cerita: Jonathan Goldstein, John Francis Daley
Berdasarkan: Spider-Man by Stan Lee, Steve Ditko
Pemain: Tom Holland, Michael Keaton, Jon Favreau, Zendaya, Donald Glover, Tyne Daly, Marisa Tomei, Robert Downey Jr.
Musik: Michael Giacchino
Sinematografi: Salvatore Totino
Penyunting: Dan Lebental, Debbie Berman
Produksi: Columbia Pictures, Marvel Studios, Pascal Pictures
Distributor: Sony Pictures Releasing
Durasi: 133 menit
Budget: USD 175 juta
Rilis: 28 Juni 2017 (TCL Chinese Theatre), 5 Juli 2017 (Indonesia), 7 Juli 2017 (Amerika Serikat)

Rating (hingga 4 Juli 2017)
IMDb: 7,9/10
Rotten Tomatoes: 93%
Metacritic: 73/100


July 03, 2017

Preview Film: Transformers: The Last Knight (2017)


Sejak dirilis pertama kali satu dekade silam, Transformers mampu memikat hati para penonton bioskop dan menjelma sebagai salah satu franchise film tersukses sepanjang masa. Total pemasukan sekitar USD 3,7 miliar berhasil diraup dari empat film yang sudah ditayangkan.

Meski rata-rata mendapat review negatif dari para kritikus, keberhasilan secara finansial tadi membuat Paramount Pictures pede untuk melanjutkan dan mengembangkan franchise yang diadaptasi dari mainan robot-robotan produksi Hasbro tersebut. Film yang kelima, alias yang terbaru, bertajuk Transformers: The Last Knight, pun akhirnya diluncurkan secara global mulai hari Rabu (21/6) ini.

Kisahnya merupakan lanjutan dari film keempat, Transformers: Age of Extinction (2014), yang dibintangi oleh Mark Wahlberg. Setelah tiga film pertamanya mengandalkan Shia LaBeouf sebagai aktor utamanya, Transformers memang mengusung bintang baru yang lebih matang dan senior. Mungkin, untuk menggaet segmen penonton yang lebih dewasa.

Pada ending film keempat, sang pemimpin Autobots, Optimus Prime (Peter Cullen), dikisahkan pergi meninggalkan bumi untuk mencari para pencipta Transformers, alias the Creators. Ketiadaan Optimus membuat dunia dilanda perang antara manusia dan para robot jadi-jadian tersebut.

Untuk menciptakan perdamaian dan menyelamatkan dunia, Cade Yeager (Mark Wahlberg), seorang inventor yang sebelumnya membantu para Autobots di Age of Extinction, kemudian bersekutu dengan Bumblebee, robot muda yang bisa berubah bentuk menjadi mobil Chevrolet Camaro berwarna kuning dan hitam. Selain itu, mereka juga bekerja sama dengan Sir Edmund Burton (Anthony Hopkins), seorang professor ahli sejarah dan astronomi dari Oxford University, Inggris.

Cade Yeager, Bumblebee dan Sir Edmund Burton berusaha menguak rahasia, kenapa para Transformers sangat betah tinggal di bumi. Bahkan, mereka sudah ada sejak masa prasejarah. Kedatangan para Transformers disebut-sebut sebagai salah satu penyebab punahnya dinosaurus dari permukaan bumi jutaan tahun yang lampau.

Untuk menghindari kejenuhan para penonton, mengingat film ini sudah dibuat hingga lima seri, Transformers: The Last Knight memang memberikan beberapa kejutan dan mengusung karakter-karakter baru. Setting-nya pun meliputi berbagai era.

Mulai dari jaman pembangunan piramida Giza di Mesir, eranya King Arthur yang legendaris itu, hingga masa NAZI-nya Adolf Hitler di Perang Dunia II. Para Transformers ternyata sudah ada sejak dahulu kala. Sebenarnya, misteri apa yang mereka simpan?

Dari trailer yang dirilis oleh Paramount Pictures beberapa waktu yang lalu, tampak para Transformers sedang berperang melawan beberapa prajurit berbaju besi. Adegan yang ber-setting di abad pertengahan tersebut tentu saja berkaitan dengan legenda King Arthur dan kelompok Knights of the Round Table-nya yang termashyur itu.

Sementara itu, kata-kata The Last Knight pada subjudul Transformers kelima ini ternyata merujuk pada sosok Cade Yeager. Bukan Optimus Prime ataupun Bumblebee, dua karakter Autobots yang selalu muncul dalam empat film sebelumnya.

Dalam sebuah adegan di trailer-nya, tampak sosok Yeager menemukan medali kuno yang dulu dimiliki oleh King Arthur (Liam Garrigan). Hal tersebut memperkuat dugaan bahwa karakter yang diperankan oleh Mark Wahlberg itulah sosok terpilih, The Last Knight, ksatria terakhir yang bakal menyelamatkan dunia.

Selain terkait dengan legenda King Arthur, Transformers: The Last Knight juga menampilkan Stonehenge. Monumen prasejarah yang terletak di Wiltshire, Inggris itu terdiri dari bongkahan batu-batu besar. Selama ini, Stonehenge memang sering disebut berkaitan dengan para alien, dan, konon, merupakan "pintu gerbang" menuju dimensi lain.

Ditampilkannya Stonehenge sudah pasti ada kaitannya dengan kemunculan para Transformers di abad pertengahan. Selain itu, monumen tersebut sepertinya bakal mengungkap asal-usul para robot alien itu lebih jauh lagi.

Dalam versi film animasinya, dikisahkan bahwa leluhur dari para Transformers adalah Quintessa. Sosok penyihir wanita itu merupakan "pencipta" dari Planet Cybertron dan seluruh penghuninya, seperti Decepticons, Autobots, maupun Dinobots, alias robot yang bisa berubah bentuk menjadi dinosaurus.

Quintessa sendiri selalu berkeliling ke seluruh alam semesta dengan menggunakan pesawat raksasa bernama Unicron. Tujuannya adalah mencari planet organik untuk dikuras sumber daya alamnya. Kedatangannya yang pertama ke bumi pada jaman purba, diyakini, menjadi penyebab utama punahnya dinosaurus.

Dari trailer yang sudah dirilis, terlihat bahwa penampakan Quintessa sangat mirip dengan penampilannya di versi film animasi. Tubuhnya dilapisi baja, memiliki tentakel seperti gurita, dan melayang-layang di angkasa. Sepertinya, dialah tokoh antagonis utama di Transformers: The Last Knight ini.

Selain Quintessa, karakter antagonis lawas, Megatron, kabarnya juga kembali muncul. Dari foto yang diunggah oleh sutradara Michael Bay, pemimpin Decepticons itu tampak lebih sangar. Menariknya, di bagian kepalanya tertera beberapa aksara kuno kaum Cybertron yang artinya adalah "Megatron Knight".

Karakter lain yang menarik adalah Hot Rod (Omar Sy). Dalam empat film sebelumnya, robot yang bisa berubah bentuk menjadi mobil Lamborghini Centenario ini tidak pernah muncul. Dalam versi animasi, Hot Rod dikenal sebagai pembunuh Optimus Prime. Apakah di versi live-action ini juga bakal sama?

Sosok Optimus Prime sendiri di Transformers: The Last Knight cukup mengundang penasaran. Dari trailer-nya, tampak adegan dia sedang bertarung dengan Bumblebee, yang seharusnya merupakan teman seperjuangannya sejak dulu. Kedua matanya juga berubah menjadi ungu, seperti mata Decepticons.

Dalam versi animasi Transformers: The Movie (1986), Optimus Prime, yang pergi mencari penciptanya, memang akhirnya bertemu dengan Quintessa. Namun, kemudian dia malah dimatikan, lalu dihidupkan lagi, dan dikirim kembali ke bumi dengan misi mencuri Matrix of Leadership. Entah apakah kisah di versi live-action-nya ini juga demikian.

Selain para robot di atas, tokoh-tokoh manusia yang dulu menghiasi tiga film pertama, dan absen di film keempat, juga kembali muncul. Sebut saja Komandan William Lennox (Josh Duhamel), Sersan Robert Epps (Tyrese Gibson), serta Seymour Simmons (John Turturro), mantan agen rahasia yang kocak itu.

Di samping para karakter lawas tersebut, juga ada beberapa tokoh baru yang tampaknya juga memiliki peran penting. Antara lain, Sir Edmund Burton, yang tadi latar belakangnya sudah sempat disinggung di awal tulisan ini, dan Viviane Wembly (Laura Haddock), seorang Professor Sastra Inggris dari Oxford University.

Yang juga membuat penasaran adalah sosok Izabella (Isabela Moner). Gadis ababil tomboy itu dikisahkan telah kehilangan kedua orang tuanya. Mereka tewas saat Kota Chicago diserang Decepticons dalam film Transformers ketiga, Dark of the Moon (2011). Izabella pun akhirnya hidup di jalanan. Ditemani oleh Canopy dan Sqweeks, sebuah robot unyu yang bisa berubah menjadi Vespa.

Sementara itu, sutradara Michael Bay, yang sudah membesut franchise ini sejak film pertamanya pada tahun 2007, mengkonfirmasi bahwa The Last Knight bakal menjadi film Transformers terakhirnya. Sebenarnya, setelah Age of Extinction (2014), Bay sudah memutuskan untuk mundur. Namun, akhirnya dia berubah pikiran.

Di sisi lain, Mark Wahlberg selaku aktor utama mengaku bakal ikut berhenti jika Michael Bay cabut. Namun, bintang Patriots Day (2016) itu juga ragu apakah Bay benar-benar akan mundur. Menurutnya, Transformers adalah "milik" Bay dan dia sangat menyukai franchise ini.

Meski nantinya ditinggal Michael Bay, bukan berarti franchise Transformers bakal tamat. Malah, Paramount Pictures kabarnya sudah menyiapkan sebuah spin-off tentang Bumblebee, yang akan ditayangkan tahun depan, dan film keenam yang bakal dirilis pada 28 Juni 2019!

Paramount sepertinya memang tidak main-main dalam mengembangkan franchise Transformers. Mereka ingin mengikuti jejak Disney yang sukses besar dengan Marvel Cinematic Universe dan Warner Bros. Pictures dengan DC Extended Universe-nya.

Konon, untuk menyaingi dua studio besar itu, Paramount ingin membuat Hasbro Cinematic Universe. Mereka berniat menyatukan para karakter mainan produksi Hasbro dalam satu film. Semacam The Avengers dan Justice League. Jadi, siap-siap saja melihat kolaborasi antara Transformers, Micronauts, dan, yang pasti, G.I. Joe!

Semua rencana di atas bakal semakin mendekati kenyataan seandainya Transformers: The Last Knight sukses di pasaran. Dengan modal superjumbo, mencapai USD 260 juta, termahal bila dibandingkan empat film pendahulunya, film kelima ini diharapkan bisa menjadi blockbuster di box office. Minimal, menyamai prestasi dua film sebelumnya yang meraup pemasukan di atas USD 1 miliar.

Saat menghadiri global premiere di London pada hari Minggu (18/6) yang lalu, Mark Wahlberg menyatakan Transformers: The Last Knight bakal lebih besar, lebih keren dan lebih segalanya. Dia menambahkan, sutradara Michael Bay memang ingin selalu memberikan sesuatu yang lebih buat para fans.

Jika dilihat dari trailer-nya, film Transformers kelima ini memang penuh dengan adegan-adegan heroik khas Michael Bay. Diiringi backsound musik yang patriotis dan menggugah semangat karya Steve Jablonsky. Serta pertarungan robot-robot raksasa yang dahsyat dan menggetarkan.

Pokoknya, dari segi action dan efek visual, Transformers: The Last Knight ini menjanjikan segalanya. Hanya saja, seperti empat seri pendahulunya, meski laris manis di pasaran, belum tentu hal itu mengundang review positif dari para pengamat perfilman.

Hingga saat ini, respon dari para kritikus memang belum diketahui. Apakah bakal negatif seperti tiga film sebelumnya, atau cukup lumayan seperti film yang pertama? Selama ini, plot cerita film-film Transformers selalu dikritik jelek oleh para pengamat. Meski para penonton mungkin tidak terlalu mempedulikannya.

Mark Wahlberg sendiri menjamin bahwa plot Transformers: The Last Knight bakal lebih bagus dan lebih dalam bila dibandingkan dengan empat film sebelumnya. Adik Donnie Wahlberg New Kids on the Block itu mengklaim cerita film kelima ini bakal hebat.

Selain plot cerita, satu lagi yang pasti, durasi The Last Knight ini cukup panjang. Hampir 2,5 jam. Bahkan, sempat beredar rumor bahwa durasinya lebih dari tiga jam. Selama ini, film-film Transformers garapan Michael Bay memang punya ciri khas durasi yang panjang dan menguji kesabaran para penontonnya. Seperti film-film India.

Namun, lewat Twitter, sutradara Michael Bay langsung membantah hal tersebut. Menurutnya, durasi film kelima Transformers ini lebih pendek daripada tiga film terakhir. Well, semoga saja kali ini ceritanya lebih seru dan tidak membosankan!

***

Transformers: The Last Knight

Sutradara: Michael Bay
Produser: Don Murphy, Tom DeSanto, Lorenzo di Bonaventura, Ian Bryce
Penulis Skenario: Art Marcum, Matt Holloway, Ken Nolan
Pengarang Cerita: Akiva Goldsman, Art Marcum, Matt Holloway, Ken Nolan
Berdasarkan: Transformers by Hasbro
Pemain: Mark Wahlberg, Josh Duhamel, Stanley Tucci, Anthony Hopkins
Musik: Steve Jablonsky
Sinematografi: Jonathan Sela
Penyunting: Mark Sanger, John Refoua, Adam Gerstel
Produksi: Di Bonaventura Pictures, Hasbro Studios
Distributor: Paramount Pictures
Durasi: 149 menit
Budget: USD 260 juta
Rilis: 18 Juni 2017 (Odeon Leicester Square), 21 Juni 2017 (Indonesia & Amerika Serikat)

Rating (hingga 20 Juni 2017)
IMDb: -
Rotten Tomatoes: -
Metacritic: -


Preview Film: 47 Meters Down (2017)


Musim panas tahun lalu, para moviemania disuguhi aksi menegangkan si sexy Blake Lively yang diburu oleh hiu ganas dalam film The Shallows. Tahun ini, menyusul kesuksesan film rilisan Sony Pictures tersebut, hadir satu lagi survival thriller berjudul 47 Meters Down. Yang sudah bisa dinikmati di bioskop-bioskop Cinema 21 mulai hari Kamis (15/6) kemarin.

Sejak kemunculannya di film legendaris Jaws (1975), hiu putih besar memang menjadi andalan para filmmaker untuk menghadirkan kisah yang memacu adrenalin. Bahkan, saking traumatisnya, banyak orang yang takut berenang di laut dan di pinggiran pantai setelah menonton karya sang Maestro Steven Spielberg tersebut.

Seperti halnya Jaws dan The Shallows, 47 Meters Down juga mengangkat tema pertarungan antara manusia dan ikan hiu. Kisahnya juga sangat klasik. Sang pemeran utama tak bisa melarikan diri dan harus mempertaruhkan nyawa untuk melawan sang predator ganas tersebut.

Bedanya, jika di The Shallows hanya Blake Lively seorang diri yang harus menghadapi si hiu putih, di 47 Meters Down ini ada dua orang cewek cantik yang bernasib sial. Kakak-beradik. Lisa dan Kate. Diperankan oleh Mandy Moore dan Claire Holt.

Awalnya, mereka berdua pergi berlibur ke Meksiko untuk having fun bersama. Lalu, datanglah sebuah tawaran yang berbahaya. Tapi menantang. Sejumlah penduduk lokal menawari Lisa dan Kate untuk menyelam di dalam kandang observasi hiu. Di bawah laut.

Meski pada mulanya ragu, karena penasaran dan merasa tertantang, mereka akhirnya mencoba. Dan mulai menikmatinya.

Namun, petualangan yang mendebarkan itu tiba-tiba berubah menjadi bencana. Rantai yang mengikat kerangkeng besi tiba-tiba terlepas dari kapal. Mereka kemudian tenggelam hingga 47 meter ke dasar laut yang dipenuhi oleh hiu-hiu ganas!

Dengan persediaan oksigen di dalam tabung yang semakin menipis, dan hiu putih lapar yang terus mengintai, Lisa dan Kate harus berpacu dengan waktu untuk menemukan cara keluar dari kerangkeng dan kembali ke permukaan laut. Berhasilkah mereka survive? Atau, tubuh mulus mereka harus berakhir sebagai santapan hiu?

Btw, bagi yang bertanya-tanya, apakah Mandy Moore yang menjadi bintang 47 Meters Down ini adalah Mandy Moore yang penyanyi itu? Jawabannya adalah iya. Ini Mandy Moore yang dulu terkenal dengan lagu "I Wanna Be with You"-nya itu.

Setelah menjalani debut sebagai pengisi suara dalam film komedi Dr. Dolittle 2 (2001), penyanyi sexy tersebut memang banyak berkiprah di dunia seni peran. Film-filmnya yang terkenal antara lain The Princess Diaries (2001) bareng Anne Hathaway dan A Walk to Remember (2002) yang romantis itu.

Pada tahun 2010 yang lalu, Mandy Moore juga kembali menjadi pengisi suara dalam film animasi Disney, Tangled. Janda kembang berusia 33 tahun tersebut berperan sebagai Rapunzel, si gadis berambut panjang. Dan, tahun ini, dia bakal mengulang perannya tersebut dalam Tangled versi serial televisi.

Sementara itu, 47 Meters Down sendiri awalnya hanya akan dirilis dalam bentuk DVD dan home video dengan judul In the Deep oleh Dimension Films. Namun, Entertainment Studios kemudian membeli hak pendistribusiannya dan merilisnya di bioskop-bioskop Amerika Serikat.

Sejauh ini, respon dari beberapa kritikus dan situs review cukup lumayan. Meski masih jauh bila dibandingkan dengan Jaws, dan tidak semenegangkan The Shallows, film berdurasi 85 menit ini tetap menawarkan adegan-adegan yang mendebarkan.

***

47 Meters Down

Sutradara: Johannes Roberts
Produser: James Harris, Mark Lane
Penulis Skenario: Johannes Roberts, Ernest Riera
Pemain: Mandy Moore, Claire Holt, Chris J. Johnson, Yani Gellman, Santiago Segura, Matthew Modine
Musik: Tomandandy
Sinematografi: Mark Silk
Penyunting: Martin Brinkler
Produksi: The Fyzz Facility, Dragon Root, Flexibon Films, Lantica Pictures, Tea Shop & Film Company
Distributor: Entertainment Studios
Durasi: 85 menit
Rilis: 15 Juni 2017 (Indonesia), 16 Juni 2017 (Amerika Serikat)

Rating (hingga 16 Juni 2017)
IMDb: 6/10
Rotten Tomatoes: 51%
Metacritic: 53/100


Preview Film: A Family Man (2016)


Gerard Butler selama ini lebih dikenal sebagai aktor film-film laga. Yang paling ikonis, tentu saja, perannya sebagai King Leonidas dalam 300 (2007) besutan Zack Snyder. Selain itu, beberapa tahun terakhir, namanya semakin melejit setelah membintangi franchise Has Fallen, yaitu Olympus Has Fallen (2013), London Has Fallen (2016), dan yang baru akan dirilis tahun depan, Angel Has Fallen (2018).

Meski lebih banyak membintangi film-film action, bukan berarti aktor asal Skotlandia itu tidak pernah menjajal genre lainnya. Tercatat, pria gagah pujaan para ibu muda itu sudah berpengalaman bermain di berbagai film drama, seperti P.S. I Love You (2007), Chasing Mavericks (2012), Playing for Keeps (2012), maupun film komedi romantis, The Ugly Truth (2009), bareng si sexy Katherine Heigl.

Tahun ini, tampang macho Gerard Butler akan kembali menghiasi layar lebar lewat Geostorm. Namun, sebelum menikmati perannya dalam disaster movie yang mengisahkan tentang bencana dahsyat tersebut, para moviemania bisa terlebih dahulu menonton A Family Man. Sebuah drama keluarga yang tayang di bioskop-bioskop Cinema 21 Indonesia mulai hari Rabu (14/6) kemarin.

A Family Man berkisah tentang seorang headhunter bernama Dane Jensen (Gerard Butler). Setelah sekian lama berusaha, ayah satu anak itu berhasil mengambil alih perusahaan agency tempatnya bekerja, Blackrock Recruiting, dan mengalahkan pesaingnya yang ambisius, Lynn Vogel (Alison Brie).

Namun, belum lama menikmati kesuksesan tersebut, Dane harus menghadapi cobaan berat. Putra semata wayangnya yang baru berusia 10 tahun, Ryan (Maxwell Jenkins), didiagnosis menderita kanker.

Dane pun langsung dihinggapi kegalauan berat. Apakah dia harus meninggalkan karir profesionalnya yang sedang berada di puncak demi merawat anaknya yang sedang sakit? Atau, dia harus mengorbankan keluarganya demi kesuksesan dan ambisi pribadinya?

Awalnya, naskah dari film drama berdurasi 108 menit yang ditulis oleh Bill Dubuque ini diberi judul The Headhunter's Calling. Namun, setelah melalui berbagai pertimbangan, pihak produser, dalam hal ini Zero Gravity Management, memutuskan untuk mengubah titelnya menjadi A Family Man.

Sayangnya, meski diperkuat oleh para aktor berpengalaman, seperti Gerard Butler dan Willem Dafoe, serta memiliki premis cerita yang cukup menjanjikan, respon yang didapat dari para kritikus kurang positif. Setelah tayang di Toronto International Film Festival tahun lalu, A Family Man dianggap tidak berhasil menyajikan drama keluarga yang memikat hati.

***

A Family Man

Sutradara: Mark Williams
Produser: Gerard Butler, Nicolas Chartier, Craig J. Flores, Patrick Newall, Alan Siegel, Mark Williams
Penulis Skenario: Bill Dubuque
Pemain: Gerard Butler, Gretchen Mol, Alison Brie, Anupam Kher, Alfred Molina, Willem Dafoe
Sinematografi: Shelly Johnson
Penyunting: Thom Noble
Produksi: Zero Gravity Management
Distributor: Vertical Entertainment
Durasi: 108 menit
Rilis: 13 September 2016 (TIFF), 14 Juni 2017 (Indonesia), 28 Juli 2017 (Amerika Serikat)

Rating (hingga 15 Juni 2017)
IMDb: 6,3/10
Rotten Tomatoes: 22%


Preview Film: The Wall (2017)


Hollywood memang paling jago dalam membuat film perang. Bukan hanya perang kolosal yang melibatkan banyak orang, tetapi juga "perang" antar-penembak jitu, alias sniper, yang hanya melibatkan satu atau dua orang saja.

Salah satu film tentang penembak jitu terbaik adalah American Sniper (2014), yang diadaptasi dari kisah nyata dan dibintangi oleh Bradley Cooper. Selain itu, juga ada Enemy at the Gates (2001), based on true story sniper Rusia, Vassili Zaitsev, semasa Perang Dunia II. Dan, tak lupa, Sniper (1993)-nya Tom Berenger yang legendaris dan menjadi franchise itu.

Tahun ini, para moviemania, terutama penggemar film perang, kembali disuguhi oleh kisah sniper berjudul The Wall. Mulai tayang di bioskop-bioskop Cinemaxx Theater dan CGV Cinemas Indonesia pada hari Rabu (14/6) ini.

Dibintangi oleh pemeran Quicksilver di Avengers: Age of Ultron (2015), Aaron Taylor-Johnson, dan mantan pegulat WWE terkenal, John Cena, The Wall menjanjikan sebuah thriller perang yang menegangkan. Sutradaranya adalah Doug Liman, yang berpengalaman menghasilkan Edge of Tomorrow (2014)-nya Tom Cruise dan memproduseri Jason Bourne (2016).

Cerita The Wall sendiri mengambil setting di Irak. Dua orang sniper Amerika Serikat, Sersan Allen Isaac (Aaron Taylor-Johnson) dan Sersan Shane Matthews (John Cena), ditugaskan untuk mengintai sebuah desa, di mana rombongan PBB diserang dan dibunuh oleh para penembak jitu pasukan lawan.

Celakanya, setelah berhari-hari mengendap-endap dan bersembunyi, posisi mereka akhirnya diketahui oleh sniper Irak. Satu-satunya perlindungan mereka adalah sebuah tembok (the wall) sisa bangunan yang sudah hancur di tengah gurun yang panas.

Tak bisa berbuat banyak karena posisi mereka sudah terjepit, dua tentara Amerika tersebut hanya mengandalkan sebuah tembok rapuh untuk bersembunyi. Mampukah keduanya bertahan dari incaran peluru sniper lawan, sambil mengharapkan bala bantuan, yang entah kapan bakal datang?

Dalam naskah awal The Wall yang ditulis oleh Dwain Worrell, sebenarnya, hanya ada satu tentara Amerika yang terjebak di balik tembok, yaitu Sersan Isaac. Namun, setelah John Cena bergabung, kisahnya berubah menjadi dua tentara.

Worrell sendiri menulis skenario The Wall saat dia mengajar bahasa Inggris di Tiongkok. Naskah tersebut kemudian masuk dalam Black List, alias kumpulan skenario-skenario terbaik yang belum sempat difilmkan. Baru pada 12 November 2014, Amazon Studios tertarik dan membeli hak untuk mengangkatnya ke layar lebar.

Setelah dirilis di Amerika Serikat pada 12 Mei 2017 yang lalu, film yang hanya berdurasi 81 menit ini mendapat respon cukup lumayan dari para kritikus. Kisahnya bukan sekadar perang, tapi semacam pertandingan tanpa akhir antara dua sniper yang memiliki kemampuan seimbang.

***

The Wall

Sutradara: Doug Liman
Produser: Dave Bartis
Penulis Skenario: Dwain Worrell
Pemain: Aaron Taylor-Johnson, John Cena, Laith Nakli
Sinematografi: Roman Vasyanov
Penyunting: Julia Bloch
Produksi: T SERIES, Big Indie Pictures, Picrow, Amazon Studios
Distributor: Roadside Attractions
Durasi: 81 menit
Budget: USD 3 juta
Rilis: 12 Mei 2017 (Amerika Serikat), 14 Juni 2017 (Indonesia)

Rating (hingga 14 Juni 2017)
IMDb: 6,4/10
Rotten Tomatoes: 69%
Metacritic: 58/100

Preview Film: Planetarium (2016)


Buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya. Meski baru berusia 18 tahun, Lily-Rose Depp sudah mampu membuktikan bahwa dia juga punya talenta akting yang tidak kalah dengan bokapnya, yang merupakan seorang aktor papan atas Hollywood.

Ya, bagi yang belum tahu, dari nama belakangnya, kita sudah bisa menebak bahwa Lily-Rose adalah anak dari Johnny Depp, bintang franchise Pirates of the Caribbean yang saat ini sedang menghiasi bioskop-bioskop di seluruh dunia. Cewek cantik kelahiran Paris tersebut adalah putri Depp dari Vanessa Paradis, seorang penyanyi asal Prancis.

Memulai karir sebagai cameo di Tusk (2014), Lily-Rose kemudian mendapat porsi lebih besar, sebagai pemeran utama, di spin-off film produksi Prancis tersebut, yaitu Yoga Hosers (2016). Setelah itu, dia juga berperan sebagai Isadora Duncan di The Dancer (2016).

Total, sepanjang tahun 2016 kemarin, Lily-Rose bermain dalam tiga film. Yang terakhir adalah Planetarium, yang baru tayang di bioskop-bioskop Cinemaxx Theater dan CGV Cinemas Indonesia mulai hari Rabu (14/6) ini.

Seperti tiga film dia sebelumnya, Planetarium juga merupakan produk Prancis. Namun, lawan main Lily-Rose kali ini bukan aktris sembarangan. Bintang Hollywood. Salah satu wanita tercantik di muka bumi ini. Peraih Piala Oscar. Natalie Portman.

Setelah menikah dengan koreografer asal Prancis, Benjamin Millepied, pada 2012, dan membuat jutaan cowok di kolong jagad ini patah hati, Natalie Portman memang pindah ke Paris sejak bulan November 2014 yang lalu. Mereka bertemu saat terlibat syuting Black Swan (2010), yang mengantarkan bidadari kelahiran Israel tersebut meraih Piala Oscar dan Golden Globe kategori Aktris Terbaik.

Bagi Portman, Planetarium merupakan kali kedua sepanjang karirnya bekerja sama dengan sutradara Prancis. Sebelumnya, pemeran Queen Padme Amidala dalam franchise Star Wars ini sudah pernah diarahkan oleh sutradara asal Negeri Anggur, Luc Besson, dalam film Leon (1994), saat usianya masih 12 tahun.

Kisah Planetarium sendiri ber-setting pada tahun 1930-an, menceritakan petualangan kakak-beradik, Laura (Natalie Portman) dan Kate Barlow (Lily-Rose Depp), yang memiliki kemampuan supranatural. Mereka bisa berhubungan dengan hantu serta berkomunikasi dengan makhluk halus dan sejenisnya.

Suatu ketika, dalam perjalanan menuju ke Paris, Laura dan Kate bertemu dengan seorang produser film bernama Andre Korben (Emmanuel Salinger). Dia tertarik dengan kemampuan mistis kakak-beradik tersebut dan ingin menampilkan mereka dalam film bertema spiritualisme.

Karakter Andre Korben kabarnya didasarkan pada sosok nyata bernama Bernard Natan. Dia adalah filmmaker asal Prancis keturunan Yahudi, yang berkiprah pada tahun 1920 hingga 1930-an, yang akhirnya meninggal secara tragis di kamp konsentrasi NAZI di Auschwitz, Polandia, saat Perang Dunia II.

Dalam menggarap Planetarium, sutradara Rebecca Zlotowski, yang bekerja sama dengan penulis naskah Robin Campillo, lebih menitikberatkan pada konsep supranatural. Mereka terinspirasi dari sebuah serial drama yang tayang di Canal+. Selain itu, film berdurasi 106 menit ini juga dibumbui dengan unsur politik, terutama gerakan-gerakan ekstrimis yang berkembang di Prancis pada tahun 1930-an.

Sayangnya, setelah dirilis pada 16 November 2016 yang lalu di Prancis, Planetarium mendapat respon kurang positif dari para kritikus. Meski demikian, bagi para pemuja Natalie Portman, tidak ada salahnya untuk menonton film drama ini. Apalagi, bagi yang masih penasaran dengan akting putri Johnny Depp.

***

Planetarium

Sutradara: Rebecca Zlotowski
Produser: Frédéric Jouve
Penulis Skenario: Rebecca Zlotowski, Robin Campillo
Pemain: Natalie Portman, Lily-Rose Depp
Musik: Robin Coudert
Sinematografi: George Lechaptois
Penyunting: Julien Lacheray
Produksi: Les Films Velvet
Distributor: Ad Vitam Distribution (Prancis)
Durasi: 106 menit
Rilis: 6 September 2016 (Venice), 16 November 2016 (Prancis), 14 Juni 2017 (Indonesia)

Rating (hingga 13 Juni 2017)
IMDb: 4,8/10
Rotten Tomatoes: 18%
Metacritic: 41/100