May 15, 2017

Preview Film: Free Fire (2016)


Nama Ben Wheatley mungkin belum begitu terkenal di dunia perfilman. Namun, setelah menelurkan Free Fire, yang mulai tayang di bioskop-bioskop Indonesia (CGV dan Cinemaxx) pada hari Jumat (5/5) ini, sutradara asal Inggris itu mulai disebut-sebut sebagai penerus Quentin Tarantino, salah satu filmmaker paling legendaris sepanjang masa.

Jika dilihat dari style-nya, Free Fire sekilas memang dianggap mirip Reservoir Dogs (1992), film pertama garapan Tarantino yang dinobatkan sebagai film indie terbaik sepanjang masa oleh Majalah Empire. Genre-nya adalah action-crime, namun dibumbui dengan unsur drama dan komedi yang kental.

Tokoh utama dalam Free Fire adalah seorang cewek bernama Justine (Brie Larson). Dia menjadi makelar pertemuan dua geng mafia Irlandia pimpinan Vernon (Sharlto Copley) dan Ord (Armie Hammer) yang ingin melakukan jual beli senjata di sebuah gudang tua di Kota Boston pada tahun 1978.

Tak dinyana, ketika beberapa senjata ditembakkan selama uji coba, kekacauan besar terjadi. Semua orang yang berada di gudang usang tersebut kemudian terlibat aksi tembak-menembak. Mereka pun akhirnya terjebak dalam sebuah permainan hidup dan mati.

Pada mulanya, Olivia Wilde dan Luke Evans yang digadang-gadang sebagai pemeran utama Free Fire. Namun, karena jadwal syuting bentrok, mereka akhirnya mengundurkan diri. Posisi Wilde dan Evans kemudian digantikan oleh Brie Larson dan Sharlto Copley. Di samping itu, film berdurasi 90 menit ini juga diperkuat oleh dua nama beken lain, Armie Hammer dan Cillian Murphy.

Setelah tayang di Amerika Serikat pada 21 April 2017 yang lalu, Free Fire mendapat respon cukup positif dari para kritikus. Sutradara Ben Wheatley dianggap berhasil menyajikan adegan action yang kejam dan penuh darah, tetapi juga lucu. Di tangan orang yang salah, film yang hanya menghabiskan bujet USD 7 juta ini bakal berantakan. Namun, di tangan Wheatley, kisahnya menjadi sangat menarik dan dinamis.

***

Free Fire

Sutradara: Ben Wheatley
Produser: Andy Starke
Penulis Skenario: Amy Jump, Ben Wheatley
Pemain: Sharlto Copley, Armie Hammer, Brie Larson, Cillian Murphy,
Jack Reynor, Babou Ceesay, Enzo Cilenti, Sam Riley, Michael Smiley, Noah Taylor
Musik: Ben Salisbury, Geoff Barrow
Sinematografi: Laurie Rose
Penyunting: Amy Jump, Ben Wheatley
Produksi: Film4 Productions, BFI, Rook Films, Protagonist Pictures
Distributor: StudioCanal (Inggris), A24 (Amerika Serikat)
Durasi: 90 menit
Budget: USD 7 juta
Rilis: 8 September 2016 (TIFF), 31 Maret 2017 (Inggris), 21 April 2017 (Amerika Serikat), 5 Mei 2017 (Indonesia)

Rating (hingga 5 Mei 2017)
IMDb: 7,1/10
Rotten Tomatoes: 67%
Metacritic: 63/100

Preview Film: Unlocked (2017)


Film-film action-thriller yang mengangkat kisah teroris dan agen rahasia memang masih laku dan menarik minat penonton di layar lebar. Sebut saja Salt (2010) yang dibintangi oleh Angelina Jolie hingga franchise Has Fallen, Olympus Has Fallen (2013) dan London Has Fallen (2016), yang mengandalkan Gerard Butler sebagai lakon utamanya.

Ditambah lagi, kondisi dunia, terutama Eropa, yang dalam beberapa tahun terakhir selalu dicekam oleh teror-teror bom yang mematikan, semakin membuat film-film yang mengangkat tema tersebut menjadi magnet bagi para moviemania. Hal itulah yang kemudian membuat Di Bonaventura Pictures tertarik untuk memproduksi Unlocked, yang mulai tayang di bioskop-bioskop Cinema 21 pada hari Kamis (4/5) ini.

Jika dilihat dari daftar cast-nya, pemain utama yang diusung oleh Unlocked bukan aktor kacangan, yaitu Orlando Bloom, yang sebelumnya terkenal sebagai lawan main Johnny Depp dalam franchise Pirates of the Caribbean. Kali ini, mantan pacar Katy Perry yang pernah mengumbar foto bugilnya saat liburan di Sardinia, Italia, itu memerankan karakter bernama Jack, seorang agen MI5 (dinas rahasia Inggris).

Dalam film Unlocked, Jack yang diperankan oleh Bloom harus bekerja sama dengan Alice Racine (Noomi Rapace), seorang mantan agen rahasia CIA (Amerika Serikat). Mereka berdua harus bahu-membahu untuk menggagalkan serangan teroris yang mengancam Kota London dengan senjata biologis pemusnah massal.

Saat diwawancarai beberapa waktu lalu, Bloom mengatakan kisah yang diangkat oleh Unlocked bisa benar-benar terjadi di dunia yang kita tinggali. Apalagi, ancaman terorisme akhir-akhir ini semakin masif dan sporadis. Bisa terjadi di mana saja, dan kapan saja.

Yang terbaru, ambil contoh kejadian yang berlangsung pada bulan Maret 2017 yang lalu. Kala itu, lima orang tewas dan sedikitnya 20 orang mengalami luka-luka setelah sebuah kendaraan roda empat menabrak para pejalan kaki dan seorang teroris menikam polisi di dekat gedung parlemen Inggris di Kota London, yang kebetulan juga menjadi setting dari film Unlocked.

Sementara itu, aktris Noomi Rapace mengaku tidak akan pernah melupakan proses syuting Unlocked. Gara-garanya, saat melakoni adegan laga, hidungnya sempat patah terkena sikut Orlando Bloom. Tentu saja hal tersebut tidak disengaja.

Menurut Noomi, Bloom sempat panik dan merasa bersalah setelah mematahkan hidung mancungnya. Namun, aktris asal Swedia itu menyatakan bahwa kejadian tersebut hanyalah sebuah kecelakaan yang tak perlu disesali.

Bahkan, bintang film Prometheus (2012) itu tetap bersikap profesional dan melanjutkan syuting Unlocked meski hidungnya patah. Dia hanya mengompresnya dengan es dan menutupinya dengan make-up agar terlihat lurus kembali. Setelah syuting selesai, barulah Rapace pergi ke dokter untuk mendapatkan pertolongan medis.

Karakter Alice yang diperankan oleh Rapace memang banyak melakoni adegan laga. Bahkan, dia menyebutnya sebagai Jason Bourne versi cewek. Selama ini, aktris dengan ukuran dada 34B itu memang selalu ingin menjadi Bourne versi wanita. Impian tersebut akhirnya terpenuhi di fim Unlocked ini, yang menurutnya penuh kekerasan, hingga sampai ada adegan menabrak lantai segala.

Di lain pihak, Michael Apted yang menggarap Unlocked juga bukan sutradara ecek-ecek. Sineas kawakan berusia 76 tahun itu sudah pernah membesut salah satu film James Bond-nya Pierce Brosnan yang berjudul The World Is Not Enough (1999). Orlando Bloom pun memuji Apted telah melakukan pekerjaan yang fantastis. Dia menangani proses produksi Unlocked dengan sangat baik dan teliti.

Hingga saat ini, belum diketahui bagaimana respon dari para kritikus, karena film yang juga dibintangi oleh Michael Douglas dan John Malkovich ini baru akan tayang secara terbatas di Amerika Serikat pada 1 September 2017. Namun, bagi para penggemar film action-thriller, sepertinya, Unlocked tidak boleh dilewatkan, terutama bagi yang ingin melihat kolaborasi Orlando Bloom dan Noomi Rapace.

***

Unlocked

Sutradara: Michael Apted
Produser: Lorenzo di Bonaventura, Georgina Townsley, Erik Howsam, Claudia Bluemhuber
Penulis Skenario: Peter O'Brien
Pemain: Noomi Rapace, Orlando Bloom, Michael Douglas, John Malkovich, Toni Collette
Musik: Stephen Barton
Sinematografi: George Richmond
Penyunting: Andrew MacRitchie
Produksi: Di Bonaventura Pictures, SRA Productions, Silver Reel, Bloom, Lipsync Productions
Distributor: Lionsgate
Durasi: 98 menit
Rilis: 4 Mei 2017 (Indonesia), 5 Mei 2017 (Inggris), 1 September 2017 (Amerika Serikat)

Rating (hingga 4 Mei 2017)
IMDb: 6,2/10

Preview Film: The Circle (2017)


Tak lama setelah sukses memerankan Belle dalam Beauty and the Beast (2017), wajah cantik Emma Watson kembali menghiasi layar lebar. Aktris asal Inggris itu bermain dalam film The Circle, yang mulai tayang di bioskop-bioskop Cinema 21 pada hari Rabu (3/5) ini.

Pemeran Hermione Granger dalam franchise Harry Potter itu berkolaborasi dengan sejumlah bintang terkenal dalam film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Dave Eggers tersebut, yaitu Tom Hanks, John Boyega dan Karen Gillan. Selain itu, The Circle juga tercatat sebagai film terakhir mendiang Bill Paxton yang meninggal pada bulan Februari yang lalu.

Dalam film ber-genre tecno-thriller ini, Emma Watson berperan sebagai Mae Holland, seorang gadis muda dari keluarga biasa-biasa saja. Dia hidupmu bersama bokapnya, Vinnie (Bill Paxton), yang sakit-sakitan, dan nyokapnya, Bonnie (Glenne Headly).

Suatu ketika, berkat bantuan seorang teman kuliahnya yang berpengaruh, Mae berhasil direkrut untuk bekerja di sebuah perusahaan internet bernama The Circle, yang dipimpin oleh Eamon Bailey (Tom Hanks). Karir Mae di perusahaan high-tech tersebut cepat menanjak. Salah satunya juga karena Bailey yang sering memotivasi para karyawannya untuk menikmati pekerjaan dan hidup secara terbuka.

Namun, lambat laun, semakin lama bekerja di The Circle, Mae semakin merasakan adanya kejanggalan dan membuatnya tidak lagi nyaman. Apalagi, setelah ia terjebak dalam sebuah situasi pelik yang berkaitan dengan privasi, pengawasan, dan kebebasan para pengguna internet. Setiap keputusan yang dia ambil bakal mempengaruhi kehidupan keluarga, teman-temannya, dan, bahkan, bisa mengancam masa depan umat manusia.

Setelah dipublikasikan pertama kali pada bulan Oktober 2013 yang lalu, novel The Circle yang dikarang oleh Dave Eggers memang mendapat respon cukup positif dari para kritikus dan sempat memicu perdebatan tentang kebangkitan media sosial. Teknik storytelling-nya, situasinya, dan temanya dianggap menyerupai dua novel sci-fi dystopis legendaris, Brave New World (1932) karya Aldous Huxley dan 1984 (1949) karangan George Orwell yang sangat terkenal itu.

Melihat kesuksesan novel The Circle, rumah produksi Likely Story milik Anthony Bregman tertarik untuk mengangkatnya ke layar lebar. Lalu, pada bulan Mei 2015, Image Nation Abu Dhabi mengumumkan bakal membiayai sepenuhnya proses pembuatan film yang menelan bujet USD 18 juta tersebut. Tom Hanks kemudian didapuk sebagai bintang utamanya bersama dengan Emma Watson.

Saat mempromosikan The Circle dalam Tribeca Film Festival di New York pada 26 April 2017 yang lalu, Tom Hanks tampil bersama CEO Twitter Jack Dorsey melalui aplikasi Periscope. Pemeran Robert Langdon dalam The DaVinci Code (2006) itu menyatakan bahwa Dorsey adalah sumber inspirasinya dalam memerankan karakter Eamon Bailey dalam The Circle.

Sayangnya, setelah dirilis secara luas di Amerika Serikat pada 28 April 2017, film besutan sutradara James Ponsoldt ini mendapat tanggapan negatif, baik dari para kritikus maupun penonton. Meski didukung oleh para bintang terkenal seperti Tom Hanks dan Emma Watson, The Circle versi layar lebar ini tampaknya gagal mengulang kesuksesan versi novelnya.

***

The Circle

Sutradara: James Ponsoldt
Produser: Anthony Bregman, Gary Goetzman, Tom Hanks, James Ponsoldt
Penulis Skenario: James Ponsoldt, Dave Eggers
Berdasarkan: The Circle by Dave Eggers
Pemain: Emma Watson, Tom Hanks, John Boyega, Karen Gillan, Ellar Coltrane, Patton Oswalt, Glenne Headly, Bill Paxton
Musik: Danny Elfman
Sinematografi: Matthew Libatique
Penyunting: Lisa Lassek
Produksi: Image Nation Abu Dhabi, Likely Story, Playtone
Distributor: STX Entertainment, EuropaCorp
Durasi: 110 menit
Budget: USD 18 juta
Rilis: 26 April 2017 (Tribeca), 28 April 2017 (Amerika Serikat), 3 Mei 2017 (Indonesia)

Rating (hingga 3 Mei 2017)
IMDb: 5,2/10
Rotten Tomatoes: 16%
Metacritic: 43/100
CinemaScore: D+


May 02, 2017

Preview Film: The Infiltrator (2016)


Bryan Cranston memang sudah lama malang-melintang di dunia perfilman Hollywood. Namun, namanya baru benar-benar terkenal setelah membintangi Breaking Bad (2008-2013). Dalam serial televisi yang disebut-sebut sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa itu, Cranston memerankan tokoh protagonis bernama Walter White, alias Heisenberg, seorang bandar dan pengedar narkoba paling dicari.

Setelah lepas dari Breaking Bad, pengisi suara Zordon dalam Power Rangers (2017) tersebut kembali membintangi beberapa film layar lebar. Salah satunya adalah The Infiltrator, yang baru tayang di Cinema 21 mulai hari Jumat (28/4) ini.

Uniknya, dalam film yang sudah dirilis di Amerika Serikat pada 13 Juli 2016 yang lalu itu, Cranston memerankan sosok yang berlawanan dengan karakternya di Breaking Bad. Dia menjadi penegak hukum yang berusaha memberantas perdagangan narkoba terbesar dalam sejarah.

Film The Infiltrator sendiri didasarkan dari kisah nyata yang dialami oleh Robert Mazur. Naskahnya diadaptasi dari buku otobiografi "The Infiltrator: My Secret Life Inside the Dirty Banks Behind Pablo Escobar's Medellin Cartel" yang ditulis oleh mantan agen rahasia US Customs Service tersebut.

Ya, pada tahun 1980-an, Robert Mazur memang melakukan infiltrasi, alias menyusup, ke dalam kartel narkoba terbesar di dunia pada saat itu. Pemimpinnya adalah Pablo Escobar, gembong narkoba paling kaya dan paling legendaris sepanjang masa, yang dijuluki sebagai Robin Hood dari Medellin oleh orang-orang Kolombia.

Dengan menggunakan nama samaran Bob Musella, Mazur kemudian menjadi anggota kartel Escobar bagian pencucian uang selama lima tahun. Berkat penyusupannya tersebut, dia berhasil membongkar praktik ilegal yang dilakukan oleh Bank of Credit and Commerce International serta menangkap 85 gembong narkoba. Itu menjadi penangkapan terbesar sepanjang sejarah dunia kriminal di Amerika Serikat.

Selain Bryan Cranston, The Infiltrator juga dibintangi oleh John Leguizamo, yang berperan sebagai Emir Abreu, dan si sexy Diane Kruger, yang memerankan Kathy Ertz, rekan Mazur yang menyamar sebagai tunangannya. Mereka bertiga menjadi sebuah tim agen rahasia yang bertugas membongkar money laundering yang dilakukan oleh kartel narkoba milik Escobar.

Jika dilihat dari trailer-nya, The Infiltrator menyajikan banyak aksi mata-mata yang dibumbui dengan adegan seru, seperti penyerbuan ke bandar-bandar narkoba. Bagi yang kangen dengan penampilan Bryan Cranston di Breaking Bad, film berdurasi 127 menit ini bisa menjadi pengobat rindu, meski kali ini dia memerankan sosok yang sangat berlawanan dengan karakternya di serial tersebut.

Setelah tayang di Amerika tahun lalu, The Infiltrator mendapat respon cukup positif dari para kritikus. Dengan diperkuat aktor bertalenta semacam Bryan Cranston, sutradara Brad Furman dianggap berhasil mengeksekusi fakta-fakta nyata yang mendasari film ini menjadi sebuah kisah yang dramatis.

Sayangnya, secara box office, The Infiltrator bisa dibilang gagal. Dengan modal USD 47,5 juta, hasil produksi Good Films ini hanya mampu meraup pemasukan USD 18 juta.

***

The Infiltrator

Sutradara: Brad Furman
Produser: Paul M. Brennan, Brad Furman, Miriam Segal, Don Sikorski
Penulis Skenario: Ellen Brown Furman
Berdasarkan: The Infiltrator by Robert Mazur
Pemain: Bryan Cranston, Diane Kruger, Benjamin Bratt, John Leguizamo, Amy Ryan, Said Taghmaou
Musik: Chris Hajian
Sinematografi: Joshua Reis
Penyunting: Luis Carballar, Jeff McEvoy, David Rosenbloom
Produksi: Good Films
Distributor: Broad Green Pictures
Durasi: 127 menit
Budget: USD 47,5 juta
Rilis: 6 Juli 2016 (Tampa Theatre), 13 Juli 2016 (Amerika Serikat), 28 April 2017 (Indonesia)

Rating (hingga 29 April 2017)
IMDb: 7,1/10
Rotten Tomatoes: 69%
Metacritic: 66/100

Preview Film: Be Afraid (2017)


Pernah terbangun dari tidur, tapi sulit bergerak atau berteriak? Jika iya, berarti Anda tidak sendirian. Banyak orang yang juga pernah, bahkan, sering, mengalaminya.

Fenomena yang dalam bahasa Jawa disebut "tindihan" itu biasanya kita alami saat hendak bangun dari tidur atau baru saja terlelap. Rasanya, tubuh seperti ditindih sesuatu dan membuat kita sulit bangun atau berteriak minta tolong.

Sering kali, tindihan diikuti oleh rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki ke seluruh tubuh. Untuk bisa bangun, kita harus berusaha menggerakkan tangan, kaki, atau kepala sekuat tenaga hingga seluruh badan bisa digerakkan kembali.

Secara medis, keadaan tindihan itu disebut sebagai sleep paralysis alias lumpuh tidur. Karena seluruh tubuh memang tidak bisa digerakkan. Serasa lumpuh. Berdasarkan penelitian ilmiah, hampir setiap orang pernah mengalaminya. Setidaknya, satu atau dua kali sepanjang hidupnya.

Sleep paralysis bisa terjadi pada siapa saja. Tidak memandang usia maupun jenis kelamin, baik pria ataupun wanita, bisa tua atau muda. Tapi, biasanya, usia rata-rata orang mengalami tindihan pertama kali adalah 14-17 tahun. Berlangsung dalam hitungan detik hingga menit.

Yang menarik, saat mengalami sleep paralysis, biasanya, kita juga berhalusinasi, seperti melihat sosok asing atau bayangan hitam di sekitar tempat tidur. Oleh karena itu, tak heran, fenomena tindihan ini sering dikaitkan dengan hal mistis.

Di berbagai belahan dunia, tindihan dipercayai sebagai sosok roh jahat atau makhluk asing sedang menduduki tubuh kita saat tidur. Di Amerika, urban legend ini disebut sebagai incubus atau old hag. Orang-orang kulit hitam sering menyebutnya dengan ungkapan the devil riding your back, alias setan sedang menindih tubuhmu.

Hampir setiap budaya di dunia ini mengenal fenomena tindihan. Di berbagai negara, mitos sleep paralysis ini punya sebutan masing-masing, antara lain: gui ya shen (Tiongkok), se me subio el muerto (Meksiko), pee umm (Thailand), mara (Islandia), karabasan (Turki), kanashibari (Jepang), ma de (Vietnam), lidercnyomas (Hungaria), haddiela (Malta), suk ninmyo (New Guinea), dll.

Fenomena tindihan inilah yang kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul Be Afraid oleh sutradara Drew Gabreski. Film ber-genre sci-fi thriller ini mulai tayang di bioskop-bioskop Indonesia (CGV dan Cinemaxx) mulai hari Rabu (26/4) kemarin.

Kisahnya berfokus pada Dr. John Chambers (Brian Krause) dan keluarganya yang pindah ke rumah baru mereka di sebuah kota kecil di Pennsylvania. Di sana, John mengalami tindihan saat sedang tidur (sleep paralysis). Dia terbaring lumpuh, terperangkap dalam sebuah mimpi buruk bersama makhluk dari dunia lain yang mengunjunginya. Mereka adalah entitas asing yang bersembunyi di balik bayang-bayang malam dan hanya bisa dilihat oleh orang tertentu.

Pertemuan mengerikan itu mulai menghantui John. Apalagi, setelah dia mengetahui bahwa tujuan makhluk asing tersebut adalah untuk menculik putranya yang baru berusia tujuh tahun. Mampukah John menyelamatkan diri dan keluarganya?

Brian Krause, sang aktor utama, namanya mulai dikenal setelah membintangi film horror Sleepwalkers (1992). Namun, puncak kejayaan bagi pria berusia 48 tahun itu dia capai saat memerankan Leo Wyatt di serial legendaris Charmed (1998-2006) bersama Shannen Doherty dan Alyssa Milano.

Di Amerika, film berdurasi 99 menit yang memiliki judul lain Within the Dark ini baru akan dirilis pada 1 Juni 2017 yang akan datang. Jadi, hingga saat ini, belum diketahui bagaimana pendapat dari para kritikus. Yang pasti, bagi para penonton yang sering mengalami tindihan, wajib waspada. Siapa tau, entitas asing yang mendatangi karakter John, suatu saat juga mengunjungi Anda. Be afraid. Hiiiy..

***

Be Afraid

Sutradara: Drew Gabreski
Produser: Sam Curphey, Drew Gabreski, James Keitel, Jay Lavely
Penulis Skenario: Gerald Nott
Pemain: Brian Krause, Kevin Grevioux, Louis Herthum,
Musik: Corey Wallace
Sinematografi: Scott Peck
Penyunting: Jeff Murphy
Produksi: DarkShed
Distributor: Moxienotion (Indonesia)
Durasi: 99 menit
Rilis: 26 April 2017 (Indonesia), 1 Juni 2017 (Amerika Serikat)

Rating (hingga 27 April 2017)
IMDb: 5,0/10

Preview Film: Guardians of the Galaxy Vol. 2 (2017)


Guardians of the Galaxy Vol. 2 akhirnya tayang mulai hari Rabu (26/4) ini. Para moviegoer di Indonesia, lagi-lagi, cukup beruntung karena bisa menikmati film superhero lansiran Marvel Studios tersebut lebih cepat dari jadwal rilis global. Di Amerika Serikat, yang notabene negara asal mereka, Star-Lord dkk baru akan menghiasi layar bioskop mulai tanggal 5 Mei 2017.

Guardians of the Galaxy Vol. 2 masih akan melanjutkan kisah film pertamanya yang rilis pada tahun 2014 yang lalu. Tokoh utamanya tetap Peter Quill (Chris Pratt), alias Star-Lord (who?), manusia bumi yang diculik oleh alien berkulit biru, Yondu Udonta (Michael Rooker), saat masih berusia 9 tahun. Bersama dengan teman seperjuangannya, yaitu Gamora (Zoe Zaldana), Drax the Destroyer (Dave Bautista), Rocket Raccoon (Bradley Cooper) dan Baby Groot (Vin Diesel), Star-Lord kemudian membentuk kelompok Penjaga Galaksi yang termashyur itu.

Jika dibandingkan dengan kelompok superhero Marvel lainnya, seperti X-Men, Fantastic Four dan, apalagi, The Avengers, Guardians of the Galaxy, bisa dibilang, memang yang paling tidak dikenal. Namun, semenjak film live-action pertamanya dirilis tiga tahun silam, popularitas Peter Quill dkk langsung menanjak. Bahkan, saking pesatnya, mungkin kini hanya kalah mashyur dari The Avengers yang digawangi oleh Iron Man dkk.

Yang menarik, karena seluruh superhero Marvel sebenarnya berada dalam satu semesta yang sama, alias Marvel Cinematic Universe, film kedua Guardians of the Galaxy ini juga merupakan jembatan sebelum kita menyaksikan Avengers: Infinity War. Star-Lord cs, kabarnya, memang bakal dipertemukan dengan Iron Man, Spider-Man, dkk dalam film Avengers ketiga yang rencananya dirilis tahun depan itu. Ceritanya, mereka semua akan bahu-membahu untuk melawan supervillain Thanos, musuh terkuat dalam jagad superhero Marvel.

Oleh karena itu, Guardians of the Galaxy Vol. 2 tidak boleh dilewatkan, terutama oleh para Marvelmania. Apalagi, sutradara James Gunn sendiri sudah menjamin bahwa sekuel kali ini bakal lebih seru, lebih rame, lebih besar, lebih aneh, dan, yang pasti, jauh lebih lucu daripada film pendahulunya.

Dalam 3,5 tahun terakhir, Gunn mengaku sangat total dalam menggarap GotG Vol. 2. Dia tidak mengerjakan apapun selain film ini. Di samping menyutradarai, Gunn juga merangkap sebagai penulis naskah. Jadi, setiap adegan yang ditampilkan benar-benar dipertimbangkan secara matang dan merupakan buah pikiran dari novelis yang juga seorang musisi tersebut.

Menurut Gunn, selain menampilkan banyak adegan action superseru dengan visual dahsyat yang memanjakan mata, GotG Vol. 2 bakal menguak latar belakang dari setiap karakter yang belum terungkap di film pertamanya. Salah satu sosok penting yang baru dimunculkan adalah Ego the Living Planet (Kurt Russell), yaitu alien berbentuk planet yang merupakan ayah kandung Peter Quill.

Dari trailer-nya, Ego tampak sebagai manusia biasa, semacam kakek-kakek tua, tanpa riasan prostetik atau efek CGI. Penampakan tersebut berbeda jauh dengan versi komiknya yang terlihat seperti monster raksasa dengan wajah mengerikan.

Selain Ego, juga ada tokoh uzur lain yang diperkenalkan, yaitu Stakar Ogord (Sylvester Stallone). Karakter yang juga dikenal sebagai StarHawk ini sebenarnya berhubungan dengan masa lalu Yondu Udonta. Dulunya, hubungan mereka sangat dekat, ibarat ayah dan anak. Namun, karena ada kesalahpahaman, mereka akhirnya berpisah selama dua dekade.

Seperti halnya Kurt Russell, tampilnya Sylvester Stallone di GotG Vol. 2 sebenarnya merupakan sebuah kejutan. Meski kabarnya hanya muncul di satu adegan, keterlibatan aktor kawakan semacam Sly tentu saja bakal membuat film ini semakin ramai. Apalagi, ada tambahan dua tokoh cewek baru yang tampaknya memegang peranan penting, yaitu si alien sexy mirip belalang sembah, Mantis (Pom Klementieff) dan Ayesha (Elizabeth Debicki).

Dari trailer-nya, sosok Ayesha juga sedikit berbeda dengan versi komiknya. Di film, pemimpin perompak luar angkasa The Sovereign tersebut tampil serbaemas, mulai dari aksesoris, pakaian, hingga singgasananya. Di komik, supervillain yang ingin membersihkan galaksi dari kaum lemah tersebut memang berkulit emas, namun bodysuit-nya merah dengan rambut panjang tergerai.

Hubungan antara dua saudari angkat yang bermusuhan, Gamora (Zoe Saldana) dan luphomoids Nebula (Karen Gillan), juga bakal dieksplor lebih jauh. Masa lalu mereka akan dikuak lebih dalam. Selain itu, jangan lupakan tingkah lucu Baby Groot, Rocket dan Drax, yang dijamin bakal menghibur dan menghanyutkan emosi para penonton.

James Gunn memang ingin menyajikan sesuatu yang baru dalam GotG Vol. 2. Dia ingin para penonton merasakan pengalaman yang berbeda jika dibandingkan dengan film yang pertama. Oleh karena itu, Gunn pun memutuskan untuk mengubah cerita dengan menyatukan tokoh-tokoh yang dulunya bermusuhan. Sebut saja Yondu dan Nebula, dua karakter antagonis di film pertama yang kini tampaknya bergabung dengan Peter Quill dkk.

Menurut Gunn, dirinya memang suka melihat sisi baik dari para tokoh jahat. Alasannya, seburuk-buruknya karakter seseorang, pasti punya sisi lemah dan sisi positif. Di samping itu, di lubuk hati yang terdalam, mereka sebenarnya juga punya keinginan untuk berbuat baik.

Seperti halnya sang sutradara, Chris Pratt, selaku bintang utama, juga menjamin kisah GotG Vol. 2 bakal dinamis dan berbeda dengan yang pertama. Menurutnya, plot cerita dari film kedua ini akan lebih berkembang dengan adanya background story dari masing-masing karakter. Termasuk Peter Quill, tokoh yang ia perankan, yang di film ini bakal bertemu bokapnya, Ego the Living Planet, untuk pertama kalinya.

Sementara itu, Dave Bautista mengungkap, Drax bakal tampil lebih lucu dan lebih aneh di GotG Vol. 2. Sosok berbadan gede namun lugu tersebut juga semakin sayang dan mencintai para anggota Guardians of the Galaxy, termasuk anggota baru, Mantis, yang ia anggap sebagai anak sendiri.

Berbeda dengan Pratt dan Bautista, saat diwawancarai, Zoe Saldana lebih banyak menyoroti tentang perjuangannya di-makeup selama 5 jam setiap hari sebelum menjalani proses syuting. Capeknya, jika sampai ada adegan yang merusak makeup-nya, dia harus mengulang dari awal lagi.

Saldana juga mengungkap, karakter Gamora yang ia perankan kali ini bakal bekerja sama dengan saudari angkatnya, Nebula. Menurutnya, Gamora sebenarnya sedih melihat Nebula berbuat jahat. Oleh karena itu, cewek berkulit hijau tersebut berjuang untuk menyadarkan dan membawa Nebula ke jalan yamg benar.

Di antara para karakter di GotG Vol. 2, yang paling menarik perhatian sebenarnya adalah Baby Groot. Meski mungil, tokoh berbentuk pohon ini sangat lucu dan menggemaskan. Proses pembuatannya pun sangat sulit karena menggunakan efek CGI (computer-generated imagery). Bahkan, untuk menampilkan scene Baby Groot menari di awal film dibutuhkan waktu lebih dari dua tahun karena saking rumitnya!

Satu hal lagi yang sangat penting dan sudah menjadi ciri khas dari Guardians of the Galaxy adalah iringan musik lawas era 70-an di berbagai adegan, terutama yang melibatkan Star-Lord. Kali ini, bakal ada kaset Awesome Mix Volume 2, berisi kumpulan lagu-lagu pilihan, hadiah dari Meredith, mendiang nyokap Peter Quill, yang biasanya dia dengarkan lewat walkman.

Lagu-lagu tersebut merupakan pilihan dari sutradara James Gunn. Sebagai seorang musisi, dia punya koleksi lebih dari seribu lagu era 70-an yang menjadi sumber inspirasinya. Gunn kemudian menyortir sendiri ribuan lagu dari playlist-nya dan memilih beberapa lagu terbaik untuk dijadikan sebagai soundtrack.

Gunn mengaku tidak sembarangan dalam memilih. Dia selalu mencari lagu dengan emosi paling pas untuk setiap adegannya. Di film yang pertama, lagu-lagu lawas pilihannya terbukti memang sangat cocok, enak didengar, dan disukai oleh para penonton.

Kali ini, dengan bujet yang lebih besar, Gunn berhasil mendapatkan hak untuk menggunakan lagu-lagu karya George Harrison, Fleetwood Mac, hingga Electric Light Orchestra. Bahkan, seluruh personel Fleetwood Mac meminta Gunn untuk memperlihatkan adegan dalam film yang dilatari oleh lagu mereka.

Selain lagu-lagu dari ketiga artis tadi, Gunn yang juga merupakan anggota dari band The Icons itu juga memasukkan lagu-lagu indie yang dirilis pada tahun 1980-an. Semua lagu tersebut sebenarnya mewakili perasaan ibunda Peter Quill, yang dikisahkan sebagai pecinta musik, seperti anaknya.

Chris Pratt sendiri juga mengaku suka dengan lagu-lagu era 70-an. Dia selalu memutar playlist Awesome Mix Volume 2 yang pilihan lagunya memang emosional, seru dan tidak membosankan meski didengarkan berulang kali.

Setelah menggelar world premiere di Tokyo pada 10 April 2017 yang lalu, GotG Vol. 2 mendapat respon positif dari para kritikus. Seperti pendahulunya, film yang kedua ini dinilai sangat lucu dan menghibur, dengan visual yang menakjubkan. Plot ceritanya juga sangat padat dengan berbagai adegan action yang seru.

Oh, ya. Seperti film-film superhero Marvel lainnya, bakal ada post-credit scene di GotG Vol. 2. Bukan hanya satu, James Gunn melalui akun media sosialnya, bahkan, mengkonfirmasi akan ada lima cuplikan adegan penting setelah film berakhir! Jadi, buat para penonton, jangan keburu pulang dulu sebelum benar-benar selesai dan layar bioskop menjadi gelap.

***

Guardians of the Galaxy Vol. 2

Sutradara: James Gunn
Produser: Kevin Feige
Penulis Skenario: James Gunn
Berdasarkan: Guardians of the Galaxy by Dan Abnett, Andy Lanning
Pemain: Chris Pratt, Zoe Saldana, Dave Bautista, Vin Diesel, Bradley Cooper, Michael Rooker, Karen Gillan, Pom Klementieff, Elizabeth Debicki, Chris Sullivan, Sean Gunn, Sylvester Stallone, Kurt Russell
Musik: Tyler Bates
Sinematografi: Henry Braham
Penyunting: Fred Raskin, Craig Wood
Produksi: Marvel Studios
Distributor: Walt Disney Studios Motion Pictures
Durasi: 136 menit
Rilis: 10 April 2017 (Tokyo), 26 April 2017 (Indonesia), 5 Mei 2017

Rating (hingga 26 April 2017)
IMDb: 8,5/10
Rotten Tomatoes: 85%
Metacritic: 66/100


Preview Film: Kartini (2017)


Untuk memperingati Hari Kartini yang jatuh setiap tanggal 21 April, film Kartini mulai tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai hari Rabu (19/4) yang lalu. Film biopik yang menampilkan kisah nyata dari sang pahlawan emansipasi wanita tersebut dibesut oleh sutradara ternama, Hanung Bramantyo, dan merupakan film ketiga tentang Kartini setelah R.A. Kartini (1984) dan Surat Cinta Untuk Kartini (2016).

Proyek film yang diproduksi oleh Legacy Pictures ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2014 yang lalu. Kala itu, Hanung bertemu sang produser, Robert Ronny, dan mengutarakan niatnya untuk membuat film biografi yang tidak hanya mengisahkan perjuangan Kartini dalam mengangkat derajat kaumnya, namun juga mengungkap hal-hal yang selama ini jarang diketahui khalayak umum.

Hanung paham, bahwa Kartini adalah sosok legendaris di Indonesia, tetapi juga kontroversial pada masanya. Pemikiran putri bupati Jepara tersebut sangat revolusioner, jauh melampaui zamannya. Dia tidak hanya menuntut persamaan hak antara wanita dengan pria, namun juga ingin meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

Oleh karena itu, Hanung pun memutuskan untuk memberi nilai plus pada kisah dan karakter Kartini. Film yang naskahnya dia tulis bersama Bagus Bramanti ini bukanlah film biopik biasa. Melainkan, film yang mengekspos perjuangan Kartini di masa muda, yang sisi kepahlawanannya begitu kuat bagi kaum wanita.

Masa perjuangan Kartini, yang meninggal di usia muda (25 tahun) setelah melahirkan anaknya, terjadi saat dia berusia 18 hingga 23 tahun. Sebelum dinikahi oleh Bupati Rembang R.M. Adipati Joyodiningrat (Dwi Sasono) pada usia 24 tahun, Kartini memang sangat gencar memperjuangkan kesetaraan gender. Dia melawan tradisi dan budaya patriarki yang kala itu dikuasai oleh laki-laki.

Perjuangan Kartini (Dian Sastrowardoyo) untuk mengangkat derajat kaum wanita dimulai saat dia menjadi Raden Ayu. Semula, dia tidak mau mengikuti ayahnya, Bupati Jepara R.M. Ario Sosroningrat (Deddy Soetomo), untuk hidup di lingkungan bangsawan yang sarat tradisi dan membatasi kebebasannya sebagai seorang perempuan. Selain itu, jika hidup sebagai ningrat, Kartini harus meninggalkan ibunya, M.A. Ngasirah (Nova Eliza/Christine Hakim), yang hanya rakyat biasa.

Namun, Kartini akhirnya bersedia menjadi Raden Ayu demi mendapatkan pendidikan yang layak. Kala itu, para perempuan yang boleh bersekolah hanyalah dari kaum bangsawan, itupun hanya sampai bangku sekolah dasar. Dengan menjadi Raden Ayu, Kartini pun bisa belajar membaca, menulis, berhitung, dan, bahkan, berbahasa Belanda dengan fasih. Kemampuan tersebut nyaris mustahil diperoleh jika dia hanya menjadi rakyat jelata, seperti Ngasirah, ibunya.

Proses untuk menjadi Raden Ayu itulah yang disorot secara mendalam oleh film Kartini. Menurut sang sutradara, Hanung Bramantyo, pergumulan batin Kartini saat hendak menjadi bangsawan itu memang jarang diketahui oleh publik karena memang tidak pernah ditulis dalam buku pelajaran sejarah yang kita baca di sekolah. Padahal, keputusan Kartini untuk menjadi Raden Ayu itu, bisa dibilang, merupakan keputusan yang krusial dalam hidupnya karena menjadi awal dari gerakan emansipasi wanita yang ia perjuangkan.

Hal lain yang juga jarang diketahui adalah upaya gigih Kartini dalam memberikan pendidikan untuk rakyat kecil. Selain itu, dia juga getol mengangkat perekonomian masyarakat di sekitarnya. Dalam suatu kesempatan, Kartini pernah mengajak para pengrajin ukiran asal Jepara untuk memamerkan hasil karya mereka di negeri Belanda.

Semua perjuangan Kartini tersebut akhirnya terancam tamat setelah dia dilamar oleh bupati Rembang. Kartini sangat sedih karena dia harus menjalani masa "dipingit" sebelum menikah, sesuai tradisi Jawa. Hal itu membuat kebebasannya terpasung. Dia tidak lagi bisa bertemu dan berdiskusi dengan koleganya, para feminis dari Belanda, seperti Wilhelmina (Rianti Cartwright).

Hanung pun berusaha menampilkan dengan gamblang kegalauan yang dialami oleh Kartini. Di film ini, pergumulan emosi Kartini yang naik turun memang digambarkan dengan jelas. Banyak adegan di mana dia merasa sedih, tidak terima, tapi akhirnya hanya bisa diam, tanpa kata-kata.

Untuk menyajikan sosok Kartini yang apa adanya tersebut, Hanung melakulan riset hingga dua tahun lamanya. Dengan dibantu oleh komunitas Rumah Kartini, suami Zaskia Adya Mecca tersebut pergi ke Jepara, melihat rumah masa kecil Kartini, menelusuri perjalanan hidupnya, hingga mengunjungi makamnya.

Sebagai bahan untuk menulis skenario, Hanung juga melahap berbagai macam literatur. Yang paling utama adalah buku Habis Gelap Terbitlah Terang, yang merupakan kumpulan dari surat-surat yang ditulis oleh Kartini. Selain itu, juga ada Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer dan buku biografi Kartini yang ditulis oleh Elizabeth Keesing dan Joost Cote.

Proses syuting film Kartini sendiri berlangsung selama 45 hari di Jakarta, Jogjakarta, dan Belanda. Tim produksi juga membangun set khusus di daerah Ceger, Jakarta Timur untuk menampilkan pendapa dan rumah yang ditinggali keluarga Kartini. Lokasi aslinya yang ada di Jepara, saat ini, kondisinya sudah berbeda jauh jika dibandingkan dulu. Hal lain yang menarik, para kru juga sampai membuat sendiri kereta kuda yang digunakan untuk syuting.

Sementara itu, para pemain yang terlibat dalam film Kartini sebelum syuting diharuskan untuk belajar bahasa Jawa dan Belanda. Mereka juga harus mempelajari logatnya supaya tidak kaku saat berbicara. Khusus untuk para aktris, agar lebih menghayati peran, mereka diwajibkan memasang sanggul sendiri sebelum syuting.

Dian Sastrowardoyo, yang menjadi bintang utama dari film Kartini, tak luput dari kewajiban tersebut. Bersama dengan Acha Septriasa yang memerankan Roekmini dan Ayushita Nugraha yang memerankan Kardinah, keduanya adalah adik Kartini, mereka bertiga harus rela bersanggul dan berkebaya setiap menjalani syuting.

Menurut Dian, peran sebagai Kartini merupakan peran tersulit sepanjang karirnya. Meski sudah berpengalaman membintangi berbagai judul film, Kartini adalah film biografi sekaligus film bertema sejarah pertama bagi ibu dua anak yang masih terlihat sangat manis tersebut.

Seperti halnya Hanung, untuk menghayati peran sebagai Kartini, Dian pun melakukan riset sebelum syuting. Buku Habis Gelap Terbitlah Terang dan Panggil Aku Kartini Saja dia baca hingga habis. Dian juga belajar budaya Jawa beserta bahasa dan logatnya. Begitu pun dengan bahasa tubuh yang anggun dan lemah gemulai ala kaum ningrat dan bangsawan.

Beruntung, ada komunitas Rumah Kartini yang banyak membantu Dian dalam melakukan penelitian. Mereka sering menggelar diskusi dan dialog untuk mengupas jasa, karakter, serta pemikiran R.A. Kartini. Dian pun akhirnya memiliki wawasan dan pemahaman yang lebih kaya mengenai sosok pahlawan yang dikaguminya tersebut.

Menurutnya, peran sebagai Kartini bukan sekadar akting biasa, melainkan sebuah tugas mulia. Dian mengaku harus bisa memerankannya dengan sempurna untuk menghargai jasa Kartini yang sangat besar. Untuk ukuran perempuan pada abad ke-19, apa yang dilakukan Kartini memang sangat revolusioner. Bagi Dian, jasa Kartini tersebut harus dirayakan dan dihargai setiap hari, bukan cuma setahun sekali.

Selain menonjolkan perjuangan Kartini, Dian juga dituntut untuk mampu menampilkan kegalauan batinnya. Alhasil, sebelum syuting, bintang Ada Apa dengan Cinta? tersebut sering mendengarkan lagu-lagu klasik untuk memancing perasaannya agar lebih emosional dalam berakting.

Yang menarik, sutradara Hanung Bramantyo semula mengeplot Dian Sastro sebagai Ngasirah, ibu Kartini. Namun, Distro akhirnya meminta sendiri kepada Hanung untuk memilihnya sebagai pemeran Kartini.

Meski sempat ragu, terutama karena perbedaan umur (Kartini dalam film berusia 18-23 tahun, sedangkan Dian sudah 35 tahun), Hanung kemudian memberikan peran tersebut. Kualitas akting dan jam terbang Dian Sastro yang sudah tinggi menjadi pertimbangan utamanya.

Selain Dian, film produksi Legacy Pictures ini juga diperkuat oleh berbagai aktor dan aktris papan atas tanah air. Mereka berperan sebagai ayah, ibu, kakak, dan adik-adik Kartini. Sebut saja nama-nama seperti Deddy Soetomo, Christine Hakim, Djenar Maesa Ayu, Reza Rahadian, Denny Sumargo, Adinia Wirasti, Acha Septriasa, hingga Ayushita Nugraha.

Dalam hidup Kartini, keluarga memang sangat berperan. Ada yang mendukung perjuangannya, seperti sang kakak, R.M. Panji Sosrokartono (Reza Rahadian), yang bersekolah di Belanda dan membuat Kartini suka membaca dan berpikiran luas. Serta kedua adiknya, Kardinah (Ayushita), yang enggan menikah, dan Roekmini (Acha Septriasa), yang membantu Kartini mengupayakan pendidikan untuk kaum wanita dan rakyat jelata.

Namun, juga ada anggota keluarga yang tidak sependapat, seperti sang ayah, R.M. Adipati Ario Sosroningrat (Deddy Soetomo), yang meragukan pemikiran Kartini. Selain itu, sang kakak tertua, R.M. Slamet Sosroningrat (Denny Sumargo), bahkan memberikan tekanan keras. Dia dengan tegas melarang Kartini surat-suratan dengan teman-teman feminisnya dari Belanda.

Upaya para pemain dan tim produksi untuk memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang sosok Kartini dan keluarganya, tampaknya, cukup berhasil. Setelah tayang hampir seminggu, film biopik ini mendapat respon sangat positif dari para kritikus. Bahkan, disebut-sebut sebagai salah satu film terbaik Indonesia tahun ini.

***

Kartini

Sutradara: Hanung Bramantyo
Produser: Robert Ronny
Penulis Skenario: Hanung Bramantyo, Bagus Bramanti
Pemain: Dian Sastrowardoyo, Deddy Sutomo, Christine Hakim, Acha Septriasa, Ayushita Nugraha, Reza Rahadian, Adinia Wirasti, Nova Eliza, Djenar Maesa Ayu, Denny Sumargo, Dwi Sasono, Rianti Cartwright
Musik: Andi Rianto, Charlie Meliala
Sinematografi: Faozan Rizal
Penyunting: Wawan I. Wibowo
Produksi: Legacy Pictures, Screenplay Films
Durasi: 122 menit
Rilis: 19 April 2017 (Indonesia)

Rating (hingga 24 April 2017)
IMDb: 8,1/10