March 03, 2017

Preview Film: Lion (2016)


Setelah diterbitkan di Australia pada tahun 2013 yang lalu, A Long Way Home berhasil menyita perhatian khalayak luas. Buku non-fiksi yang berisi kisah nyata perjalanan hidup Saroo Brierley itu sangat inspiratif dan mengharukan bagi siapapun yang membacanya.

Kesuksesan A Long Way Home tersebut membuat para produser film asal Australia tertarik untuk mengadaptasinya ke layar lebar. Seperti bukunya, versi filmnya, yang diberi judul Lion, juga mendapat sambutan sangat positif. Bahkan, menjadi salah satu nominasi film terbaik di Academy Awards, alias Piala Oscar, yang bakal dihelat pada akhir bulan Februari ini.

Saroo Brierley, sang penulis buku, mengaku tak pernah menyangka bahwa perjalanan hidupnya bakal difilmkan, apalagi sampai menembus ajang prestisius sekelas The Oscars. Pria kelahiran tahun 1981 yang kini menjadi pengusaha di Hobart, Tasmania itu sangat tersentuh ketika mengetahui film Lion mendapat apresiasi positif, tidak hanya di Australia, tapi juga di seluruh dunia.

Terlahir dengan nama Sheru Munshi Khan di Khandwa, Madhya Pradesh, India, masa kecil Saroo sangat sengsara. Bokapnya minggat entah ke mana saat dia masih balita. Sang nyokap terpaksa harus banting tulang sebagai pekerja di proyek bangunan untuk menghidupi Saroo dan kedua abangnya, Guddu dan Kallu.

Hubungan Saroo dengan kakaknya yang bernama Guddu sangat dekat. Mereka layaknya Batman and Robin. Di mana ada Guddu, di situ ada Saroo. Setiap hari, kakak beradik itu pergi ke stasiun kereta api untuk melakukan pekerjaan kasar, mengangkut barang-barang penumpang, hingga mengemis, demi sesuap nasi dan sekeping uang.

Pada suatu malam, karena kecapekan dan tertidur di dalam gerbong, Saroo terpisah dari abangnya. Bocah yang baru berusia lima tahun itu terbawa kereta api hingga ke Kolkata, yang berjarak 1.600 kilometer dari tempat tinggalnya!

Tersesat seorang diri di sebuah kota asing, yang bahasanya bahkan tidak ia mengerti, membuat Saroo makin sengsara dan terlunta-lunta. Setiap hari, ia harus bertahan hidup di jalanan Kolkata yang keras dan penuh dengan orang-orang jahat.

Hidup Saroo mulai berubah ketika ia ditampung di sebuah panti asuhan, dan akhirnya mencapai titik balik setelah ada sepasang suami-istri asal Australia, Sue dan John Brierley, yang mengadopsinya. Bocah dengan penampilan kumal dan dekil itu pun dibawa pindah ke Negeri Kanguru.

Dua puluh tahun berlalu, meski sudah hidup enak di Australia, hati Saroo tetap gelisah. Dia mulai mempertanyakan tempat kelahirannya. Penggalan-penggalan dari kenangan masa kecilnya terus memenuhi pikirannya.

Saroo kemudian mulai melakukan pencarian terhadap keluarga aslinya di India. Dia sama sekali tidak mengetahui bagaimana kondisi mereka saat itu. Bahkan, untuk mencari keberadaan ibu kandungnya, Saroo sampai menggunakan fasilitas Google Earth!

Obsesi tersebut nyaris membuat Saroo melupakan ibu adopsinya, Sue Brierley, yang sangat menyayanginya, layaknya anak kandung sendiri. Hubungan Saroo dengan sang pacar di Australia juga terancam kandas karena terlalu sibuk mencari ibunya di India.

Kehidupan Saroo, mulai dari kecil, terpisah dari keluarga, hingga akhirnya bisa bersatu kembali dengan ibunya itulah yang ditampilkan secara detail oleh Lion. Film berdurasi 118 menit tersebut baru diputar di bioskop-bioskop Indonesia mulai hari Kamis (23/2) ini. Dibintangi oleh sejumlah nama beken Hollywood seperti Dev Patel, Nicole Kidman, dan Rooney Mara.

Saat hadir di Jakarta bulan lalu, dalam rangka Festival Sinema Australia Indonesia 2017, Saroo Brierley mengaku sangat bersyukur dan bahagia. Meski ada sedikit perbedaan dari buku memoir A Long Way Home yang ia tulis, menurutnya, film Lion sangat istimewa. Kala menontonnya pertama kali, dia hanya bisa bersandar di kursi, lemas, dan akhirnya meneteskan air mata.

Film yang menjadi debut bagi sutradara Garth Davis ini, kabarnya, memang mengaduk-aduk emosi. Para penonton bakal disuguhi gambaran tentang kehidupan anak-anak jalanan yang rentan terhadap kekerasan dan kejahatan.

Faktanya, setiap tahun setidaknya ada 80.000 anak hilang di India. Banyak orang yang tak peduli dengan nasib bocah-bocah malang tersebut. Kalau pun ada, biasanya mereka dimanfaatkan untuk melakukan hal-hal yang tidak baik.

Melalui Lion, Saroo ingin memberi harapan untuk orang-orang yang senasib dengan dirinya, bahwa masih ada cahaya di ujung terowongan. Dia berharap, semua yang menonton film ini bakal terinspirasi. Bukan hanya di India, tapi juga di pelosok-pelosok dunia lainnya.

Meski telah menemukan keluarga kandungnya di India, hingga kini, Saroo masih tetap tinggal di Australia, bersama ibu angkat yang telah membesarkannya. Dia sangat mengagumi Sue, yang memilih untuk tidak memiliki anak sendiri dan mengadopsi dirinya. Sosok wanita mulia yang di film Lion ini diperankan dengan apik oleh Nicole Kidman itu memang bertujuan membantu anak-anak yang kurang beruntung di dunia.

Selama empat tahun terakhir ini, Saroo sudah 14 kali bolak-balik ke India. Meski sempat terlintas di benaknya untuk membawa sang ibu ke Australia, dia sadar tak mungkin memisahkan ibunya dengan kampung halaman yang sudah seumur hidup ditinggali. Oleh karena itu, Saroo kemudian memutuskan untuk membuatkan rumah bagi ibu kandungnya di India.

Sementara itu, Dev Patel ternyata harus berjuang keras untuk mendapatkan peran sebagai Saroo. Meski sudah cukup terkenal di Hollywood, bintang film terbaik Piala Oscar 2009, Slumdog Millionaire (2008), tersebut tidak dispesialkan oleh sutradara Garth Daves. Dia tetap harus mengikuti audisi seperti yang lainnya.

Menurut Patel, kisah dan perjalanan hidup Saroo sangat menyentuh. Sebagai aktor keturunan India, Dev sangat menginginkan peran tersebut. Oleh karena itu, begitu mendengar kabar tentang proyek film Lion, dia langsung mendatangi rumah sang penulis skenario, Luke Davies, dan bilang ingin ikut main.

Setelah berhasil mendapatkan peran yang dia inginkan, Dev pun mencurahkan seluruh hidupnya untuk film Lion. Dia menyewa seorang trainer untuk membentuk tubuh dan menambah berat badannya. Selain itu, Dev juga memanjangkan rambut dan menumbuhkan cambang.

Tantangan berat lain bagi Dev adalah mempelajari aksen Australia. Aktor kelahiran Inggris itu bahkan rela menghabiskan waktu satu jam per hari untuk belajar logat Aussie dari seorang guru bahasa asal Sydney, Jenny Kent. Lewat Skype, dia berlatih rutin setiap hari selama delapan bulan hingga aksen Australia-nya terdengar paten!

Upaya keras Dev Patel dalam memerankan Saroo akhirnya berbuah manis. Bersama dengan Nicole Kidman, yang berperan sebagai Sue, cowok berusia 26 tahun itu berhasil masuk nominasi Piala Oscar kategori aktor dan aktris pendukung terbaik.

Dev Patel pun tercatat sebagai aktor keturunan India ketiga yang berhasil masuk nominasi Academy Awards. Dia mengikuti jejak Merle Oberon, yang mendapatkan nominasi lewat film The Dark Angel (1935), dan Ben Kingsley, yang tampil apik di film House of Sand and Fog (2004).

Salah satu kejadian menarik adalah ketika Dev bertemu untuk pertama kalinya dengan Saroo, tokoh yang ia perankan. Dari yang awalnya gugup, Dev akhirnya merasa lega  Saroo ternyata adalah sosok pria yang terbuka dan menyenangkan. Mereka bisa langsung akrab dengan mudah.

Saroo pun memuji akting Dev dan Nicole Kidman, yang memerankan ibu angkatnya. Menurutnya, dua bintang Hollywood tersebut telah mencurahkan segenap jiwa dan raganya untuk bermain di film Lion. Saroo menilai mereka berdua mampu menggambarkan apa yang terjadi dalam hidupnya dengan luar biasa baik.

Selain Dev dan Nicole, pemain lain yang berhasil mencuri perhatian adalah aktor cilik, Sunny Pawar, yang memerankan Saroo kecil. Penampilan bocah yang baru berusia delapan tahun itu dianggap sangat brilian. Performa gemilangnya menjadi kunci di setengah bagian awal film Lion. Bahkan, sebenarnya, dialah yang menjadi aktor utama di film berbujet USD 12 juta ini.

Meski belum pernah bermain film sebelumnya, Sunny dinilai mampu menampilkan emosi karakter Saroo kecil yang begitu rumit. Tanpa banyak dialog, bocah asal India itu sangat piawai menggunakan bahasa tubuhnya untuk "berbicara". Lewat tatapan mata dan gerak-geriknya, Sunny mampu menunjukkan rasa takut, frustrasi, hingga pasrah, seperti layaknya anak kecil yang terpisah dari keluarganya.

Para kritikus menilai penampilan hebat Sunny, ditambah dengan plot cerita yang sangat dramatis, itulah yang membuat setengah bagian awal film Lion sangat kuat dan menyentuh. Yang sayangnya, di setengah bagian akhir agak menurun karena lumayan bertele-tele, terutama saat menceritakan tentang pacar Saroo yang bernama Lucy (Rooney Mara). Seandainya hanya fokus pada keluarga Saroo, mungkin kisahnya bakal lebih menggetarkan. 

Yang pasti, secara keseluruhan, Lion mendapat respon positif dari para kritikus dan menjadi salah satu film drama terbaik yang dirilis pada tahun 2016. Kisah perjalanan hidup Saroo ini juga cukup menguras air mata dan bikin baper. Oleh karena itu, ada baiknya para penonton membawa tisu atau sapu tangan. 

***

Lion

Sutradara: Garth Davis
Produser: Iain Canning, Angie Fielder, Emile Sherman
Penulis Skenario: Luke Davies
Berdasarkan: A Long Way Home by Saroo Brierley with Larry Buttrose
Pemain: Sunny Pawar, Dev Patel, Rooney Mara, David Wenham, Nicole Kidman
Musik: Hauschka, Dustin O'Halloran
Sinematografi: Greig Fraser
Penyunting: Alexandre de Franceschi
Produksi: See-Saw Films, Aquarius Films, Screen Australia, Sunstar Entertainment, The Weinstein Company
Distributor: The Weinstein Company, Transmission Films, Entertainment Film Distributors
Durasi: 118 menit
Budget: USD 12 juta
Rilis: 10 September 2016 (TIFF), 25 November 2016 (Amerika Serikat), 19 Januari 2017 (Australia), 23 Februari 2017 (Indonesia)

Ratings
IMDb: 8/10
Rotten Tomatoes: 86%
Metacritic: 69/100


Preview Film: Rings (2017)


Koji Suzuki mungkin tidak pernah menyangka bahwa karyanya yang berjudul Ringu, terbit pada tahun 1991, bisa menjadi legenda dan terkenal seperti sekarang. Novel horror dengan ikon seram bernama Sadako tersebut memang menjadi fenomena, bukan hanya di Jepang, tetapi juga di seluruh dunia.

Kesuksesan Ringu, tak pelak, membuat para produser film Jepang tertarik untuk mengadaptasinya ke layar lebar. Yang pertama adalah Ring: Kanzenban (1995), yang kemudian disusul oleh Ring (1998). Selain itu, juga ada serial televisi Ring: The Final Chapter.

Sambutan positif untuk Ring (1998) akhirnya juga membuat Hollywood ngiler untuk segera me-remake-nya dengan judul sama. Film yang dibintangi oleh MILF caem, Naomi Watts, itu tecatat sebagai film horror klasik Jepang pertama yang diproduksi ulang oleh Amerika.

The Ring versi Hollywood, yang dirilis pada tahun 2002, juga mendapat respon positif dari para kritikus. Secara box office, film berbujet USD 48 juta itu juga berhasil meraup pemasukan hingga USD 250 juta. Kesuksesan ini akhirnya membuka pintu bagi film-film J-horror lainnya untuk di-remake oleh Amerika. Sebut saja The Grudge (2004), Dark Water (2005), dan Pulse (2006).

Sayangnya, kesuksesan film pertama tadi tidak diikuti oleh sekuelnya yang berjudul The Ring Two. Meski masih dibintangi oleh Naomi Watts, film yang tayang pada tahun 2005 itu mendapat respon negatif dari para kritikus. Secara box office, rilisan DreamWorks Pictures itu juga menurun karena "hanya" mampu mengumpulkan USD 160 juta dengan modal USD 50 juta.

Tahun ini, Paramount Pictures yang mengambil alih hak pendistribusian The Ring dari DreamWorks Pictures, mencoba peruntungan dengan "membangkitkan" kembali Samara (versi Hollywood dari Sadako). Film ketiga ini berjudul Rings. Mirip-mirip dengan dua film pendahulunya, tetapi tidak ada lagi Naomi Watts. Posisi bintang The Impossible (2012) itu digantikan oleh aktris muda, Matilda Lutz.

Saat praproduksi dulu, sempat beredar kabar bahwa Rings (2017) bakal menjadi prekuel dari The Ring (2002). Kala itu, berbagai sumber menyatakan seri ketiga ini akan mengambil setting bertahun-tahun sebelum pembuatan video horror, serta menceritakan asal-usul teror Samara Morgan dan penyebabnya hingga menjadi sosok yang sejahat iblis.

Namun, setelah proses produksi pada tahun 2015, sutradara F. Javier Gutierrez mengumumkan bahwa Rings (2017) merupakan sekuel langsung dari The Ring (2002), tapi tidak berhubungan dengan The Ring Two (2005). Setting-nya mengambil waktu 13 tahun setelah kejadian di film pertama.

Kali ini, yang menjadi tokoh utama adalah seorang gadis bernama Julia (Matilda Lutz). Dia sedang menjalin hubungan jarak jauh, alias LDR, dengan pacarnya, Holt Anthony (Alex Roe). Suatu ketika, sang cowok menonton video rekaman lawas Samara yang legendaris itu. Siapapun yang berani menonton video terkutuk tersebut hanya memiliki waktu tujuh hari untuk menikmati hidup. Setelah itu, mereka bakal mati secara misterius!

Julia yang mengetahui hal tersebut langsung khawatir. Mahasiswi seksi itu kemudian datang menemui sang pacar dan berusaha untuk menyelamatkannya. Namun, kutukan dari video maut tersebut sudah terlanjur menghantui mereka. Mampukah dua sejoli itu lolos dari teror mematikan yang ditebar oleh Samara?

Lima belas tahun yang lalu, di film yang pertama, sosok Samara diperankan dengan apik oleh Daveigh Chase. Kali ini, aktris yang kebagian peran sebagai hantu-cewek-berambut-item-panjang-yang-hobinya-merangkak-keluar-dari-dalam-televisi itu adalah Bonnie Morgan. Patut ditunggu, apakah Samara versi baru ini lebih menyeramkan daripada sebelumnya.

Jika ditilik dari trailer-nya, kejutan-kejutan horror memang masih menjadi andalan dari franchise Rings yang ketiga ini. Si Samara juga masih suka muncul secara tiba-tiba, termasuk saat kita sedang mengintip lewat lubang kunci pintu!

Sebelum akhirnya tayang pada bulan Februari ini, Rings sebenarnya sempat mengalami penundaan rilis beberapa kali. Semula, film berdurasi 102 menit tersebut dijadwalkan keluar pada 13 November 2015. Namun, Paramount Pictures kemudian menundanya dan mengisi slotnya dengan Paranormal Activity: The Ghost Dimension (2015).

Berikutnya, Rings yang dijadwalkan tayang pada 22 September 2016 kembali mengalami penundaan. Mungkin, karena Paramount Pictures tidak pede untuk bersaing dengan Ouija: Origin of Evil (2016) milik Universal Pictures yang dirilis saat Halloween.

Sayangnya, setelah tayang perdana di Amerika Serikat pada awal bulan ini, sejumlah kritikus dan situs review memberi respon sangat negatif untuk Rings. Secara box office, film berbujet USD 25 juta ini juga baru meraup pemasukan USD 66 juta. Masih jauh bila dibandingkan perolehan dua film pendahulunya.

Jebloknya kemunculan ketiga Samara ini semakin menambah derita Paramount Pictures. Film-film rilisan salah satu dari enam studio terbesar di Hollywood itu memang banyak yang menuai respon negatif sepanjang tahun 2016. Sebut saja Zoolander 2, Teenage Mutant Ninja Turtles 2, Ben-Hur, Jack Reacher: Never Go Back, dan Allied. Bahkan, Monster Trucks dan xXx: Return of Xander Cage yang baru tayang bulan lalu juga dianggap boring oleh para kritikus.

***

Rings

Sutradara: F. Javier Gutiérrez
Produser: Laurie MacDonald, Walter F. Parkes
Penulis Skenario: David Loucka, Jacob Aaron Estes, Akiva Goldsman
Pengarang Cerita: David Loucka, Jacob Aaron Estes
Berdasarkan: Ring by Kôji Suzuki
Pemain: Matilda Lutz, Alex Roe, Johnny Galecki, Vincent D'Onofrio
Musik: Matthew Margeson
Sinematografi: Sharone Meir
Penyunting: Jeremiah O'Driscoll, Steve Mirkovich
Produksi: Parkes/MacDonald, BenderSpink, Marci/Edelstein, Vertigo Entertainment, Waddieish Claretrap
Distributor: Paramount Pictures
Durasi: 102 menit
Budget: USD 25 juta
Rilis: 3 Februari 2017 (Amerika Serikat), 22 Februari 2017 (Indonesia)

Ratings
IMDb: 4,5/10
Rotten Tomatoes: 7%
Metacritic: 25/100
CinemaScore: C-


Preview Film: Viral (2016)


Pandemi, alias wabah penyakit menular global, masih menjadi salah satu tema yang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Mulai dari yang zombie-zombie-an, semacam franchise Resident Evil (2002-2017), I am Legend (2007), World War Z (2013), dan lain-lain yang tak terhitung jumlahnya, hingga Contagion (2011) yang mengangkat tema virus flu kelelawar plus babi dan franchise Planet of the Apes (2011-2017) yang dilatarbelakangi oleh virus flu monyet.

Tahun ini, setelah dibuka oleh Resident Evil: The Final Chapter, layar bioskop kembali "terinfeksi" oleh film bertema virus, bukan zombie-zombie-an, tapi semacam parasit yang bisa mengubah pengidapnya menjadi seperti monster cacing. Film yang berjudul Viral tersebut mulai tayang pada hari Sabtu (18/2) di Indonesia.

Dalam film yang berdurasi cukup pendek ini, sekitar 85 menit, dikisahkan sebuah virus mematikan telah menyebar ke seluruh dunia dan membunuh sebagian populasi manusia. Para penduduk yang selamat harus menjalani karantina di kota mereka masing-masing agar tidak terinfeksi.

Di antara para survivor tersebut, ada seorang gadis bernama Emma Drakeford (Sofia Black-D'Elia). Dia hanya tinggal berdua bersama adik perempuannya, Stacey (Analeigh Tipton). Sementara itu, bokap mereka diceritakan nekat melarikan diri dari karantina untuk menjemput nyokap mereka yang terjebak di kota lain.

Pada suatu ketika, meski dalam kondisi terisolasi, Emma dan Stacey menghadiri house party yang diadakan oleh tetangga mereka, seorang cowok bernama Evan Klein (Travis Tope). Saat sedang asyik berpesta, tiba-tiba mereka diserang oleh seorang pemuda yang tampaknya terinfeksi virus mematikan tersebut. Emma dan Stacey lalu melarikan diri dan mengajak Evan bersembunyi di rumah mereka.

Celakanya, beberapa saat kemudian, Stacey, yang wajahnya sempat kecipratan muntahan darah si cowok tadi, juga menunjukkan tanda-tanda bahwa dia tertular virus mematikan. Keadaan menjadi semakin pelik karena pihak yang berwajib juga memburu dan bakal menangkap siapa pun yang terjangkit parasit tersebut. Mampukah Emma bertahan hidup sekaligus menyelamatkan sang adik?

Meski baru tayang di Indonesia bulan ini, Viral sebenarnya sudah dirilis secara terbatas oleh Dimension Films di Amerika Serikat, dalam bentuk video on demand, pada 29 Juli 2016 yang lalu. Beberapa kritikus dan situs review kemudian memberi rating yang tidak jelek-jelek amat untuk film besutan duo sutradara Henry Joost dan Ariel Schulman ini.

Skenario dan dialog yang tersaji dari naskah yang ditulis oleh Christopher B. Landon dan Barbara Marshall dianggap cukup baik. Begitu juga dengan akting Sofia Black-D'Elia, yang dinilai sangat apik dalam memerankan karakter Emma. Sebelum ini, aktris berusia 25 tahun tersebut sudah pernah main di Project Almanac (2015).

Sayangnya, sebagai sebuah film horror, adegan-adegan dalam Viral dianggap sangat lambat dan bertele-tele. Jump scare-nya juga kurang. Meski secara cerita cukup bagus, hal ini bisa membuat para penonton mengantuk karena terlalu lama menunggu kejadian selanjutnya.

***

Viral

Sutradara: Henry Joost, Ariel Schulman
Produser: Jason Blum, Sherryl Clark
Penulis Skenario: Christopher B. Landon, Barbara Marshall
Pemain: Sofia Black D'Elia, Analeigh Tipton, Travis Tope, Machine Gun Kelly, Michael Kelly
Musik: Rob Simonsen
Sinematografi: Magdalena Gorka
Penyunting: Ron Dulin, William Yeh
Produksi: Blumhouse Productions, Busted Shark Productions, IM Global
Distributor: Dimension Films
Durasi: 85 menit
Rilis: 29 Juli 2016 (Amerika Serikat), 18 Februari 2017 (Indonesia)

Ratings
IMDb: 5,5/10
Rotten Tomatoes: 60%

Preview Film: Man Down (2015)


Setelah "putus" dengan franchise Transformers pada tahun 2011, nama Shia LaBeouf seakan-akan tenggelam. Pemeran Sam Witwicky itu memang masih sempat muncul di beberapa big movie, seperti Lawless (2012) dan Fury (2014), tapi bukan sebagai aktor utama, melainkan hanya supporting role saja.

Tahun ini, suami Mia Goth itu kabarnya bakal kembali tampil sebagai pemeran utama di Borg vs. McEnroe. Namun, sebelum film tentang dua legenda tennis itu tayang, para moviegoer di Indonesia akan terlebih dahulu menikmati aksi Shia LaBeouf di Man Down, yang mulai diputar pada hari Jumat (17/2) ini.

Man Down sendiri berkisah tentang seorang tentara Amerika, yang baru saja pulang dari Afghanistan, bernama Gabriel Drummer (Shia LaBeouf). Selama di medan tempur, dia sangat rindu dengan kampung halaman dan ingin segera bertemu dengan keluarganya.

Namun, impiannya untuk bersatu kembali dengan anak dan istri akhirnya kandas. Saat pulang ke rumah, sang istri, Natalie (Kate Mara), sudah tidak ada. Begitu juga dengan putra semata wayangnya, Jonathan (Charlie Shotwell). Mereka telah menghilang tanpa jejak.

Dalam keadaan desperate, dengan dibantu oleh temannya, Gabriel mulai mencari keberadaan anak dan istrinya. Hingga suatu ketika, dia bertemu dengan seseorang yang membawa informasi penting mengenai keluarganya. Di manakah mereka? Dapatkah Gabriel bersatu kembali dengan Natalie dan Jonathan yang sangat dicintainya?

Berperan sebagai tentara dan seorang ayah, sebenarnya, merupakan tantangan tersendiri bagi Shia LaBeouf. Biasanya, aktor yang mulai terkenal setelah membintangi Disturbia (2007) itu selalu kebagian peran sebagai anak muda atau remaja ababil. Meski demikian, beberapa kritikus sempat memberi pujian untuk pria berusia 30 tahun tersebut. Menurut mereka, akting LaBeouf cukup apik dan berhasil membangun chemistry yang natural di Man Down.

Selain LaBeouf, film besutan Dito Montiel ini juga dibintangi oleh beberapa nama beken dari Hollywood. Sebut saja, Kate Mara, Jai Courtney, Clifton Collins, Jr., dan aktor kawakan, Gary Oldman, yang berperan sebagai Captain Peyton.

Man Down sebenarnya ditayangkan pertama kali secara internasional pada 6 September 2015 di Venice Film Festival. Namun, karena tidak ada distributor besar yang tertarik untuk mendistribusikannya, film berdurasi 92 menit ini sempat mendekam beberapa lama. Hingga akhirnya, Lionsgate Premiere mengakuisisi hak pendistribusiannya untuk kawasan Amerika Utara.

Sayangnya, setelah dirilis di Amerika Serikat pada 2 Desember 2016 yang lalu, film yang proses syutingnya dilakukan di New Orleans, Louisiana ini mendapat respon negatif dari berbagai situs review. Nama besar Shia LaBeouf, tampaknya, tidak berhasil mengangkat Man Down.

***

Man Down

Sutradara: Dito Montiel
Produser: Steve McEveety, Dawn Krantz, Jon Burton
Penulis Skenario: Adam G. Simon
Pengarang Cerita: Adam G. Simon, Dito Montiel
Pemain: Shia LaBeouf, Jai Courtney, Gary Oldman, Kate Mara, Clifton Collins Jr.
Musik: Clint Mansell
Sinematografi: Shelly Johnson
Penyunting: Jake Pushinsky, Mark Yoshikawa
Produksi: Mpower Pictures, Krannel Pictures, Binary Light, The Solution Entertainment Group
Distributor: Lionsgate Premiere
Durasi: 92 menit
Rilis: 6 September 2015 (Venice), 2 Desember 2016 (Amerika Serikat), 17 Februari 2017 (Indonesia)

Ratings
IMDb: 6,1/10
Rotten Tomatoes: 11%
Metacritic: 27/100

February 16, 2017

Preview Film: Split (2016)


Nama M. Night Shyamalan mulai diakui sebagai legenda di jagad perfilman Hollywood setelah menelurkan The Sixth Sense pada tahun 1999. Sebagai seorang sutradara muda, usianya baru 28 tahun kala itu, Shyamalan dinilai mampu menghasilkan sebuah mahakarya dengan twist ending yang menakjubkan.

Film yang dibintangi oleh Bruce Willis tersebut, bahkan, dianggap sebagai film dengan twist ending (kejutan di bagian akhir) yang paling terkenal hingga saat ini. Shyamalan, yang juga tampil sebagai cameo (memerankan karakter bernama Dr. Hill), berhasil "menipu" para penonton sepanjang film karena tidak ada yang menduga bahwa ending-nya bakal seperti itu.

Berbagai kritikus dan situs review pun akhirnya memberi rating yang positif untuk The Sixth Sense. Secara finansial, film berbujet USD 40 juta tersebut juga sangat sukses karena berhasil meraup pemasukan hingga USD 673 juta.

Setelah kesuksesan The Sixth Sense, Shyamalan tidak berhenti berkarya. Sutradara kelahiran India dengan nama asli Manoj Shyamalan tersebut kemudian juga menghasilkan film-film yang sukses secara finansial dan mendapat respon positif dari para kritikus, seperti Unbreakable (2000), yang kembali dibintangi oleh Bruce Willis, dan film tentang alien, Signs (2002), yang mengandalkan Mel Gibson sebagai aktor utamanya.

Sayangnya, setelah menghasilkan The Village (2004), Shyamalan seakan-akan "lupa" cara membuat karya yang menarik dan dahsyat seperti The Sixth Sense, Unbreakable, dan Signs. Film-film dia selanjutnya, seperti The Last Airbender (2010) dan After Earth (2013), memang tergolong film blockbuster dengan bujet jumbo dan meraup pemasukan hingga ratusan juta dollar, namun dianggap sebagai "sampah" oleh para kritikus.

Baru pada tahun 2016 kemarin, sutradara berusia 46 tahun itu bangkit kembali. Ya, M. Night Shyamalan is back! Split, film psychological thriller, yang memang menjadi spesialisasinya, disambut dengan sangat antusias oleh para kritikus setelah tayang perdana di Fantastic Fest pada 26 September 2016 dan AFI Fest pada 15 November 2016.

Shyamalan menandai comeback-nya bersama Split dengan menyajikan satu hal: twist ending yang super mengejutkan dan membuat para penonton terhenyak, bahkan, setelah meninggalkan gedung bioskop. Seperti halnya The Sixth Sense dulu.

Saking mengejutkannya, saat dirilis di Amerika Serikat pada 20 Januari 2017 yang lalu, Split langsung bikin heboh. Bahkan, kehebohannya mungkin menyaingi acara inagurasi pergantian presiden dari Barack Obama ke Donald Trump!

Split sendiri mengisahkan tentang pria bernama Kevin Wendell Crumb (James McAvoy) yang menderita dissociative identity disorder (DID), sejenis gangguan kejiwaan yang dulu disebut multiple personalities disorder, alias seseorang yang memiliki lebih dari satu kepribadian. Tak tanggung-tanggung, tokoh Kevin di film berdurasi 117 menit ini diceritakan punya 24 identitas!

Pada suatu hari, salah satu kepribadian Kevin yang bernama Dennis membuat ulah. Dia menculik tiga cewek ababil dari sebuah tempat parkir untuk dipersembahkan kepada The Beast, salah satu kepribadian Kevin yang paling ganas, kuat, dan cepat, serta doyan memangsa daging manusia!

Ketiga gadis remaja yang bernama Casey Cooke (Anya Taylor-Joy), Claire Benoit (Haley Lu Richardson), dan Marcia (Jessica Sula) itu kemudian disekap di ruang bawah tanah tanpa jendela. Dalam upaya mereka untuk membebaskan diri, Casey dkk "bertemu" dengan berbagai kepribadian Kevin yang lain.

Salah satunya adalah Hedwig, bocah 9 tahun, sangat enerjik, tetapi juga paling rapuh, dan sangat terobesi kepada Kanye West. Dia juga naksir salah satu gadis yang diculik oleh Dennis. Pada hari yang lain, yang datang adalah Mrs. Patricia, seorang tante-tante paro baya yang hobi memakai sweater turtleneck dan high heels. Dia sangat disiplin dan tegas, layaknya kepala sekolah asrama.

Selain Hedwig dan Mrs. Patricia, salah satu kepribadian Kevin yang menarik adalah Barry, seorang pria ekstrovert, berjiwa pemimpin, sikapnya manis, dan sangat terobsesi pada fashion. Busananya selalu rapi dan tutur katanya santun. Dari ke-24 personality, Barry inilah yang paling mudah diatur dan paling sering berbicara dengan Dr. Karen Fletcher (Betty Buckley), psikiater yang menangani Kevin.

Dr. Fletcher-lah yang selama ini selalu setia membantu Kevin untuk mengatasi DID yang dideritanya. Dia juga yakin, dalam kasus ekstrem, DID bisa menyebabkan perubahan fisiologis pada pengidapnya. Mungkin, itulah penyebab mengapa tubuh Kevin bisa berubah menjadi The Beast, yang kekar, kuat, dan gerakannya cepat, layaknya superhuman!

Sementara itu, Dennis, si penculik, merupakan penderita obsessive-compulsive disorder (OCD) yang badannya berotot dan berkarakter genit. Dia pernah "menyamar" sebagai Barry dalam sebuah kunjungan konsultasi ke Dr. Fletcher.

Menurut M. Night Shyamalan, dia memang sengaja membangun 24 personality yang berbeda dengan tidak didasarkan pada masa lalu Kevin seperti kasus DID pada umumnya. Mereka adalah pribadi-pribadi spesial yang "lahir" untuk menjalankan suatu fungsi dalam tubuh dan pikiran Kevin.

Shyamalan mengaku sudah lama ingin membuat film dengan latar belakang DID. Tepatnya, setelah The Sixth Sense tayang pada tahun 1999. Sebelum membuat Unbreakable (2000), karakter Kevin sebenarnya sudah ada di dalam benaknya.

Selama 15 tahun berikutnya, Shyamalan pun mempelajari segala literatur dan segala hal tentang DID. Hasilnya, dia memiliki teori sendiri soal gangguan mental tersebut. Menurutnya, pikiran pengidap DID mampu memproteksi diri sendiri. Mereka mampu melakukan apa yang kita tidak bisa lakukan.

Berkat penelitian panjangnya tersebut, Shyamalan mampu membesut Split dengan sangat ciamik. Dia jugalah yang menulis skenario film rilisan Universal Pictures ini. James McAvoy mengaku bisa berakting sempurna, bahkan, memerankan 24 karakter berbeda sekaligus, salah satunya berkat pemahaman mendalam Shyamalan tentang DID.

James McAvoy sendiri sebenarnya bukan pilihan pertama untuk memerankan sosok Kevin. Pada mulanya, Shyamalan mengincar Joaquin Phoenix, yang pernah bekerja sama dengannya di film Signs dan The Village, sebagai aktor utama. Namun, karena jadwalnya bentrok, Phoenik akhirnya batal membintangi Split.

Untungnya, Shyamalan kemudian menemukan James McAvoy pada menit-menit terakhir. Dan, tampaknya, dia tidak menyesali keputusannya setelah memilih bintang franchise X-Men tersebut. McAvoy mampu tampil apik. Dia tidak hanya memerankan Kevin seorang, namun juga dengan sempurna memainkan seluruh karakternya yang berjumlah 24 identitas tersebut! Bisa dibilang, Split menjadi panggung pertunjukan tunggal bagi McAvoy.

Totalitas McAvoy memang patut mendapat pujian. Padahal, dia baru ditunjuk sebagai pemeran utama hanya sebulan sebelum proses syuting film Split dimulai. Alhasil, aktor yang melejit setelah membintangi Wanted (2008) bersama Angelina Jolie itu diburu waktu untuk melakukan persiapan.

Demi tuntutan peran, McAvoy harus membentuk tubuhnya menjadi lebih berotot dalam waktu singkat. Selain rutin nge-gym dan melakukan power lifting, dia juga menerapkan diet ketat dengan memakan 5.000-6.000 kalori per hari. McAvoy selalu melahap delapan butir telur, dada ayam, dan salmon sebelum melakukan syuting.

Di samping melakukan persiapan fisik, McAvoy juga melakukan pendalaman karakter. Sejumlah riset tentang penderita DID dia pelajari. Dari hasil penelitiannya, aktor asal Skotlandia itu menjadi tahu, ternyata banyak pengidap DID yang menyimpan diary dalam bentuk video. Menurutnya, para pasien DID punya kebutuhan konstan untuk terus menunjukkan diri kepada dunia.

Meski sulit, McAvoy mengaku sangat menikmati perannya di Split. Menurutnya, skenario yang ditulis oleh Shyamalan sangat fun dan menantang. Banyak plot twist di dalamnya yang bakal membuat para penonton terkejut. Satu pertanyaan bakal dijawab dengan pertanyaan lain secara konstan. Dan, apa yang diungkapkan di film ini, semuanya adalah fakta.

Mengenai twist ending yang kabarnya bakal membuat para penonton shock, itu adalah kekuatan terbesar dari Split. Gaya khas Shyamalan di film-filmnya selama ini memang gemar menyajikan sesuatu yang tak terduga di bagian akhir.

Sejak dipromosikan tahun lalu, para calon penonton memang mengira Split adalah sebuah film psychological thriller. Bahkan, saat menonton, hingga film hampir berakhir, orang-orang masih menganggap bahwa Split adalah sebuah psychological thriller yang mencekam.

Hingga akhirnya, di bagian ending, kabarnya, ada satu adegan tambahan yang mengubah segalanya. Ada satu karakter penting, yang diperankan oleh aktor kawakan (Oh.. Oh.. Siapa dia?), tiba-tiba muncul dan mengucapkan sebuah nama. Genre-nya pun langsung berubah. Bukan lagi psychological thriller. Ini bukan twist ending. Seperti yang dikatakan oleh McAvoy, seluruh film Split sebenarnya adalah sebuah twist!

Para penonton di Amerika, kabarnya, banyak yang kaget, sekaligus bingung. Namun, setelah sadar, mereka akhirnya kagum dan bersorak. M. Night Shyamalan mendapat banyak pujian karena telah menghadirkan gebrakan spektakuler di dunia film. Dia menampilkan satu adegan di bagian akhir yang mampu mengubah pandangan terhadap seluruh film yang baru selesai ditonton!

Sedikit bocoran, Split berada di universe yang sama dengan salah satu film Shyamalan sebelumnya. Apakah itu The Sixth Sense, Unbreakable, Signs, atau The Village? Silakan para filmania tebak sendiri. Hehe... Setting lokasinya pun sama, di sebuah kota, di Pantai Timur Amerika Serikat. Kota apa, ya? Hmmm..

Dalam sebuah wawancara, Shyamalan mengaku sempat khawatir bahwa ending film Split bakal bocor. Karena itu, saat diputar untuk screening test, ending tersebut tidak ditayangkan. Shyamalan ingin Split tetap dianggap sebagai psychological thriller oleh para calon penonton, meski pada akhirnya bukan seperti genre yang dipromosikan!

Menurut Shyamalan, karakter Kevin, si penderita DID, memang sudah ada sejak lama. Dia sudah ada dan selalu ada saat Shyamalan menulis naskah salah satu filmnya yang dulu, yang satu universe dengan Split. Bisa dibilang, Kevin sebenarnya adalah karakter orisinal dari film tersebut, tapi tidak dimunculkan!

Bahkan, Shyamalan juga menyatakan bakal membuat sekuel yang merupakan percampuran antara Split dengan film terdahulunya tersebut. Para pemain lawas yang dulu terlibat sudah bersedia untuk bergabung kembali. Plot ceritanya pun sudah di tangan. Sebanyak 11 halaman. Kini, Shyamalan sudah mulai menulis skenarionya.

Oh, ya. Seperti di film-film sebelumnya, Shyamalan juga ikut tampil di Split sebagai cameo. Dia memerankan karakter bernama Jai, seorang satpam di apartemen Dr. Fletcher. Selalu muncul di film garapannya sendiri, meski hanya sekilas, seolah sudah menjadi trademark bagi sutradara sekaligus screenwriter keturunan India tersebut.

Setelah tayang perdana di Amerika pada bulan Januari yang lalu, Split langsung mendapat sambutan positif dari berbagai kritikus dan situs review. Secara finansial, film dengan durasi terlama (117 menit) yang pernah digarap oleh Shyamalan ini juga sukses besar. Hingga kini, berhasil mengantongi pemasukan USD 170 juta. Padahal, bujetnya "hanya" USD 9 juta.

Bahkan, pada pekan perdana pemutaran di Amerika, Split (USD 40 juta) mampu mengalahkan pendapatan film blockbuster xXx: Return of Xander Cage (USD 20 juta) yang bujetnya mencapai USD 85 juta. Para pengamat film pun ternganga. Ini belum pernah terjadi sebelumnya dan belum pernah terbayang. M. Night Shyamalan mengangkangi Vin Diesel di box office!

***

Split

Sutradara: M. Night Shyamalan
Produser: M. Night Shyamalan, Jason Blum, Marc Bienstock
Penulis Skenario: M. Night Shyamalan
Pemain: James McAvoy, Anya Taylor-Joy, Betty Buckley
Musik: West Dylan Thordson
Sinematografi: Mike Gioulakis
Penyunting: Luke Franco Ciarrocchi
Produksi: Blinding Edge Pictures, Blumhouse Productions
Distributor: Universal Pictures
Durasi: 117 menit
Budget: USD 9 juta
Rilis: 26 September 2016 (Fantastic Fest), 20 Januari 2017 (Amerika Serikat), 15 Februari 2017 (Indonesia)

Ratings
IMDb: 7,5/10
Rotten Tomatoes: 74%
Metacritic: 62/100
CinemaScore: B+


Preview Film: The LEGO Batman Movie (2017)


The LEGO Movie meraup sukses besar saat dirilis pada tahun 2014 yang lalu. Kolaborasi antara perusahaan mainan asal Denmark dengan Warner Bros. Pictures tersebut mampu meraih pemasukan USD 469 juta secara global, dengan modal "hanya" USD 60 juta. Selain itu, berbagai kritikus dan situs review mengganjarnya dengan rating yang sangat positif.

Kesuksesan tersebut langsung membuat Warner Bros. Pictures kepincut untuk menjadikannya sebagai franchise. Tiga buah spin-off dan sebuah sekuel langsung disiapkan, yaitu The LEGO Batman Movie, The LEGO Ninjago Movie, The Billion Brick Race dan The LEGO Movie 2, yang rencananya bakal dirilis pada 8 Februari 2019.

Spin-off yang pertama, The LEGO Batman Movie, sudah bisa kita nikmati di bioskop-bioskop Indonesia mulai hari Jumat (10/2) ini. Sementara itu, untuk The LEGO Ninjago Movie, para filmania harus lebih bersabar sedikit karena baru akan tayang pada bulan September mendatang.

Kisah The LEGO Batman Movie sendiri akan berfokus pada petualangan Batman. Karakter superhero legendaris dari DC Comics tersebut memang paling mencuri perhatian saat muncul di The LEGO Movie (2014). Tak heran, Warner Bros. Pictures kemudian memberinya panggung sendiri dalam sebuah film spin-off.

Meski bertajuk "Batman", dan ceritanya berpusat pada si Manusia Kelelawar, bukan berarti superhero-superhero lainnya tidak muncul. Selain sang musuh abadi, The Joker, film animasi komedi ini juga bakal menampilkan Robin, Batgirl, Catwoman, Harley Quinn, Superman, Green Lantern, The Flash, dll. Bisa dibilang, The LEGO Batman Movie ini adalah Justice League vs. Suicide Squad! Tapi versi LEGO.

Will Arnett, yang dianggap sukses sebagai pengisi suara si Manusia Kelelawar dalam The LEGO Movie, bakal kembali mengulang perannya. Meski tidak harus mengenakan kostum yang ketat dan berat seperti yang dialami Christian Bale maupun Ben Affleck, bintang serial televisi Arrow tersebut tetap menganggap serius perannya sebagai Batman. Bahkan, sangat serius.

Menurut Arnett, sangat penting untuk membuat LEGO Batman menjadi sebuah karakter yang dramatis seperti dalam film live-action-nya. Aktor yang menjadi lawan main Megan Fox di Teenage Mutant Ninja Turtles 2 (2016) itu bahkan secara mendalam mempelajari karakter emosi tokoh animasinya tersebut. Jadi, bukan hanya sekadar mengisi suara karakter kartun, tapi dia benar-benar melakukannya seperti layaknya seorang tokoh nyata.

Yang menarik, Arnett mengaku paling menikmati saat melakukan perekaman suara bersama dengan Zach Galifianakis, yang notabene menjadi dubber musuh utama Batman, The Joker. Saat mengisi suara, mereka saling berhadapan secara langsung, layaknya Batman vs. Joker yang sesungguhnya.

Sang sutradara, Chris McKay, mengakui, Will Arnett memang berhasil membuat karakter LEGO Batman menjadi sangat istimewa. Dia juga seorang pekerja keras dan selalu maksimal dalam menjalankan perannya. Padahal, pada bulan Agustus 2016 yang lalu, Arnett sempat mendapat kendala saat mengisi suara karena ia harus menjalani operasi lutut.

Selain Will Arnett dan Zach Galifianakis, The LEGO Batman Movie juga diperkuat oleh sejumlah nama terkenal. Bahkan, sangat terkenal. Sebut saja, Rosario Dawson, Ralph Fiennes, Hector Elizondo, Zoe Kravitz, Channing Tatum, Jonah Hill, hingga Mariah Carey! Mereka semua bakal menjadi pengisi suara para Lego superhero dan supervillain dari DC Comics.

Bahkan, untuk The LEGO Batman Movie versi bahasa Prancis, ada satu nama terkenal, bukan artis, melainkan pemain sepak bola, yang menjadi dubber-nya, yaitu Antoine Griezmann. Bintang klub Atletico Madrid itu memerankan karakter Superman, yang di versi bahasa Inggrisnya diisi suaranya oleh Channing Tatum.

Selain Griezmann, gelandang asal Paris Saint-Germain, Blaise Matuidi, kabarnya, juga menjadi dubber bagi The Flash di The LEGO Batman Movie versi bahasa Prancis. Di versi bahasa Inggrisnya, si Manusia Kilat itu diisi suaranya oleh Adam DeVine.

Jika dilihat dari trailer-nya, The LEGO Batman Movie bakal sangat lucu, seperti halnya The LEGO Movie. Film berdurasi 104 menit ini memang dibuat penuh dengan humor. Bahkan, beberapa di antaranya cenderung kasar. Oleh karena itu, rating-nya adalah PG. Yang artinya, bagi anak-anak yang ingin menonton, harus didampingi oleh orang tua.

Selain menampilkan hal-hal konyol, The LEGO Batman Movie kabarnya juga tak segan-segan untuk mengolok-olok film-film superhero DC Comics lainnya, seperti Batman v Superman: Dawn of Justice dan Suicide Squad, yang baru diputar tahun lalu. Seperti yang kita tahu, dua film blockbuster rilisan Warner Bros. Pictures tersebut, meski sukses secara finansial, mendapat respon negatif dari para kritikus.

Berbeda dengan dua film superhero pendahulunya tadi, setelah tayang perdana di Dublin, Irlandia, pada 29 Januari 2017, The LEGO Batman Movie mendapat sambutan sangat positif. Beberapa situs review bahkan memberi rating yang sangat tinggi.

Tidak hanya lucu sejak awal hingga akhir, menurut para kritikus, The LEGO Batman Movie juga menawarkan adegan-adegan yang menyentuh hati. Pesan moralnya tidak terkesan dipaksakan dan bisa konek dengan jalan pikiran orang dewasa. Unsur komedinya juga sangat natural.

Para pengisi suaranya, terutama Will Arnett, dianggap mampu menyuarakan karakter masing-masing dengan pas. Mereka dengan apik membawakan segala macam emosi yang ada, mulai dari marah, gembira, hingga sedih.

Dari segi animasi, kualitas film berbujet USD 80 juta ini juga sangat baik. Tidak kalah dengan pendahulunya, The LEGO Movie. Hanya saja, kali ini, tidak ada adegan live-action-nya. Semuanya full berada di dalam dunia LEGO.

Intinya, The LEGO Batman Movie ini disebut-sebut sebagai salah satu calon film animasi terbaik tahun 2017. Kisahnya sangat kocak, seru, dramatis, dan menghibur!

***

The LEGO Batman Movie

Sutradara: Chris McKay
Produser: Dan Lin, Roy Lee, Phil Lord, Christopher Miller
Penulis Skenario: Seth Grahame-Smith, Chris McKenna, Erik Sommers, Jared Stern, John Whittington
Pengarang Cerita: Seth Grahame-Smith
Berdasarkan: Batman by Bob Kane and Bill Finger, LEGO Construction Toys
Pemain: Will Arnett, Zach Galifianakis, Michael Cera, Rosario Dawson, Ralph Fiennes
Musik: Lorne Balfe
Penyunting: David Burrows, Matt Villa, John Venzon
Produksi: Warner Animation Group, DC Entertainment, Vertigo Entertainment, Animal Logic, Lord Miller Productions
Distributor: Warner Bros. Pictures
Durasi: 104 menit
Budget: USD 80 juta
Rilis: 29 Januari 2017 (Dublin), 10 Februari 2017 (Amerika Serikat & Indonesia)

Ratings
IMDb: 8,1/10
Rotten Tomatoes: 98%
Metacritic: 77/100


Preview Film: Don't Knock Twice (2016)


Sutradara Caradog W. James sempat mendapat pujian dari para kritikus saat menelurkan The Machine (2013), yang menjadi debutnya di layar lebar. Film sci-fi thriller yang naskahnya juga ditulis sendiri oleh pria asal Wales itu meraih rating cukup positif dari berbagai situs review.

Tahun ini, James kembali menghasilkan karya. Bukan lagi thriller, melainkan film horror. Berjudul Don't Knock Twice, yang mulai tayang di bioskop-bioskop Indonesia pada hari Rabu (8/2) ini.

Kisahnya tentang sebuah legenda urban, yaitu sebuah rumah kosong yang dulu ditinggali oleh seorang penyihir jahat. Konon, jika ada yang berani mengetuk pintu rumah angker tersebut dua kali, si penyihir yang suka menculik anak-anak itu bakal bangkit dari kematiannya.

Suatu malam, ada sepasang ababil, Chloe (Lucy Boynton) dan pacarnya, Danny (Jordan Bolger), yang iseng ingin menguji kebenaran urban legend di atas. Mereka pun mengetuk pintu rumah kosong tersebut. Dua kali. Dan, hasilnya bisa ditebak. Si Danny langsung ilang diculik oleh arwah si penyihir jahat.

Ketakutan, Chloe kemudian kabur ke rumah ibunya, Jess (Katee Sackhoff). Relasi ibu dan anak ini sebenarnya sedang bermasalah setelah Jess kawin lagi dengan seorang banker tajir bernama Ben (Richard Mylan). Mampukah mereka memperbaiki hubungan sekaligus menyelamatkan diri dari cengkeraman hantu penyihir?

Seperti film-film horror pada umumnya, sutradara Caradog W. James juga menggunakan jump scare, spooky-dim lighting, dan electronic musical score yang menyeramkan. Sayangnya, setelah tayang perdana di Inggris pada 29 September 2016 yang lalu, Don't Knock Twice mendapat rating negatif dari berbagai kritikus dan situs review.

***

Don't Knock Twice

Sutradara: Caradog W. James
Produser: John Wiwa-Amu, Claire Moorsom
Penulis Skenario: Mark Huckerby, Nick Ostler
Pemain: Katee Sackhoff, Lucy Boynton, Nick Moran, Richard Moylan, Pooneh Hajimohammadi, Javier Botet
Musik: James Edward Barker, Steve Moore
Sinematografi: Adam Frisch
Penyunting: Matt Platts-Mills
Produksi: Red & Black Films, Seymour Films
Distributor: IFC Midnight
Durasi: 93 menit
Rilis: 29 September 2016 (Inggris), 3 Februari 2017 (Amerika Serikat), 8 Februari 2017 (Indonesia)

Ratings
IMDb: 5,6/10
Rotten Tomatoes: 30%
Metacritic: 47/100