February 16, 2017

Preview Film: John Wick: Chapter 2 (2017)


Setelah menjadi terkenal lewat Speed (1994) dan mencapai puncak kejayaan melalui trilogi The Matrix (1999-2003), Keanu Reeves seakan tenggelam. Nama aktor kelahiran 2 September 1964 itu memang masih menghiasi layar lebar nyaris setiap tahun. Namun, tidak ada filmnya yang berhasil meraih respon positif dari para penonton.

Baru pada tahun 2014 yang lalu, saat tampil di John Wick, Keanu Reeves kembali mendapat pengakuan sebagai salah satu aktor jempolan. Film neo-noir action thriller tersebut mendapat banyak pujian dari para kritikus, dan dianggap sebagai penebusan "dosa" bagi Reeves, yang sebelumnya pernah enam kali masuk nominasi Razzie Awards kategori aktor terburuk.

Tahun ini, Keanu Reeves ingin kembali mengulang kesuksesan sebagai John Wick dengan membintangi sekuelnya yang berjudul John Wick: Chapter 2. Film rilisan Summit Entertainment tersebut mulai tayang di Indonesia pada hari Rabu (8/2) ini. Dua hari lebih cepat daripada jadwal rilisnya di Amerika Serikat.

Bagi yang sudah lupa, atau belum pernah menonton film pertamanya, John Wick (2014) berkisah tentang seorang pembunuh bayaran yang berniat pensiun setelah sang istri, Helen (Bridget Moynahan), meninggal dunia. Dia kemudian hanya hidup berdua dengan seekor anjing pemberian mendiang istrinya.

Namun, rencana pensiun John Wick (Keanu Reeves) menjadi berantakan setelah ia mendapati rumahnya disatroni perampok dan anjingnya tewas dibunuh. Wick akhirnya bertekad untuk membalas dendam dan memburu pelakunya hingga ke New York.

Sementara itu, kisah John Wick: Chapter 2 ber-setting hanya lima hari setelah ending dari kejadian di film pertama. Wick terpaksa harus kembali menunda niatnya untuk gantung pistol karena ia harus membantu mantan rekannya, sesama pembunuh bayaran, yang terancam oleh sindikat internasional. Demi menuntaskan misinya, sang hitman legendaris itu pun sampai melanglang buana ke Roma, Italia, dan harus menghadapi para assassin paling mematikan di dunia.

Seperti film pertamanya, John Wick: Chapter 2 kembali dibesut oleh Chad Stahelski. Sutradara berusia 48 tahun itu sebelumnya sudah pernah bekerja sama dengan Keanu Reeves di trilogi The Matrix (1999-2003). Namun, kala itu, dia bertugas sebagai koreografer laga dan stuntman bagi Reeves.

Selain Stahelski, John Wick: Chapter 2 juga menjadi ajang reuni bagi Laurence Fishburne. Setelah berpisah selama 14 tahun, pemeran Morpheus dalam trilogi The Matrix itu kembali beradu akting dengan Keanu Reeves. Kali ini, aktor berusia 55 tahun itu menjadi The Bowery King, seorang pembunuh sadis terkemuka dalam jaringan mafia internasional.

Fishburne sendiri mengaku sangat menyukai film John Wick yang pertama. Oleh karena itu, begitu ada kabar bakal dibuat sekuelnya, dia langsung menghubungi Keanu dan bilang ingin bergabung di film kedua. Bak gayung bersambut, Reeves pun langsung menjawab bahwa sejujurnya memang ada lowongan bagi dia.

Stahelski, selaku sutradara, juga menyambut positif kehadiran aktor berwajah sangar tersebut. Tim produksi kemudian menciptakan satu karakter baru, yang tetap masuk akal dan tidak dipaksakan, agar Fishburne bisa tampil dalam film berdurasi 122 menit ini.

Dengan keterlibatan Fishburne dan Reeves, proyek John Wick: Chapter 2 menjadi sangat personal bagi Stahelski karena dia sudah pernah bekerja sama dengan mereka di The Matrix. Saat itu, usianya baru 26 tahun dan dia sangat mengagumi keduanya.

Bahkan, hingga kini, rasa kagum Stahelski terhadap Reeves dan Fishburne masih belum pudar. Sampai-sampai, saat syuting adegan pertama, dia tercenung dan lupa meneriakkan kata "Cut!" sebagai tanda berakhirnya pengambilan gambar. Dia mengaku, akting dua aktor kawakan itu telah membuatnya terpaku.

Selain The Bowery King, sejumlah karakter baru juga muncul di John Wick: Chapter 2, antara lain: Cassian (Common), Santino (Riccardo Scamarcio), dan Ares (Ruby Rose). Mereka bakal berjibaku dengan para tokoh lama seperti Aurelio (John Leguizamo) dan Winston (Ian McShane).

Seperti film sebelumnya, John Wick: Chapter 2 juga bakal banyak menyajikan adegan laga. Bukan hanya perkelahian, tetapi juga tembak-menembak dan kejar-kejaran mobil. Jika menonton trailer-nya, semua adegan tersebut ditampilkan dengan apik, tampak nyata, seolah-olah bukan akting.

Dalam sebuah wawancara, Keanu Reeves mengaku paling suka saat melakoni adegan perkelahian menggunakan pensil. Selain itu, dia juga excited saat harus bertarung di ruangan penuh cermin dan berduel dengan Common, yang memerankan karakter seorang bodyguard dari boss mafia.

Demi melakoni semua adegan laga, Reeves pun rela berlatih keras. Dalam sebuah video promo, Keanu dan tim produksi menceritakan bagaimana persiapan mereka sebelum menjalani syuting, mulai dari berlatih tembak-menembak, membanting setir, hingga judo. Bintang 47 Ronin (2013) itu juga mendapat bimbingan dari Aaron Cohen, mantan anggota Duvdevan, unit khusus kontrateroris dari Israel.

Semua koreografi laga di film produksi Thunder Road Pictures ini memang dikerjakan oleh para ahli dengan tingkat kesulitan yang tinggi. Sutradara Chad Stahelski ingin para aktor benar-benar dilatih keras agar bisa menguasai semua koreografi adegan berkelahi mereka.

Menurut Stahelski, yang pernah menjadi pemeran pengganti almarhum Brandon Lee dalam film The Crow (1994), John Wick: Chapter 2 bakal menyajikan empat jenis ilmu bela diri, yaitu jiu jitsu dari Jepang, jiu jitsu dari Brasil, judo, dan taktis three-gun. Kombinasi dari empat seni bertarung yang berbeda itu akan menampilkan bagaimana cara berkelahi sambil melepaskan tembakan dalam waktu bersamaan.

Karena banyak menampilkan adegan perkelahian yang berdarah-darah dan sadis, John Wick: Chapter 2 pun mendapat rating "R-Rated" alias "Restricted" dari Motion Picture Association of America (MPAA). Jadi, hanya yang berusia 17 tahun ke atas yang boleh menontonnya.

Meski para penontonnya bakal terbatas untuk kalangan dewasa, setelah tayang perdana di Arclight Hollywood, Los Angeles pada 30 Januari 2017 yang lalu, sejumlah situs review dan kritikus memberi rating sangat positif untuk John Wick: Chapter 2. Secara box office, film yang bakal bersaing langsung dengan The Lego Batman Movie dan Fifty Shades Darker ini diperkirakan mampu meraup pemasukan USD 20 juta selama weekend pembuka.

***

John Wick: Chapter 2

Sutradara: Chad Stahelski
Produser: Basil Iwanyk, David Leitch
Penulis Skenario: Derek Kolstad
Pemain: Keanu Reeves, Common, Laurence Fishburne, Riccardo Scamarcio, Ruby Rose, John Leguizamo, Ian McShane
Musik: Tyler Bates, Joel J. Richard
Sinematografi: Dan Laustsen
Penyunting: Evan Schiff
Produksi: Thunder Road Pictures, 87Eleven Productions
Distributor: Summit Entertainment
Durasi: 122 menit
Rilis: 30 Januari 2017 (Arclight Hollywood), 8 Februari 2017 (Indonesia), 10 Februari 2017 (Amerika Serikat)

Ratings
IMDb: 9,7/10
Rotten Tomatoes: 93%
Metacritic: 75/100

Preview Film: A Dog's Purpose (2017)


A Dog's Purpose pernah nangkring di daftar New York Times bestseller selama 49 pekan setelah dirilis pada 2010. Novel karya W. Bruce Cameron itu berkisah tentang perjalanan jiwa seekor anjing yang berinkarnasi dari satu kehidupan ke kehidupan lainnya. Sekuelnya, yang berjudul A Dog's Journey, terbit pada 2012.

Kesuksesan novel laris tersebut memantik DreamWorks Pictures untuk membeli hak atas A Dog's Purpose. Studio yang didirikan oleh Steven Spielberg itu kemudian memfilmkannya. Dan, hasilnya sudah bisa kita nikmati di bioskop-bioskop Indonesia mulai hari Jumat (3/2) yang lalu.

Kisah A Dog's Purpose diawali dengan seekor anjing golden retriever bernama Bailey yang dipelihara oleh seorang bocah bernama Ethan Montgomery (Bryce Gheisar). Seperti halnya manusia, Bailey ternyata juga kerap menanyakan pada diri sendiri, apa tujuan hidupnya sebagai seekor anjing.

Sekian tahun lamanya dia hidup bersama Ethan, hingga bocah tersebut beranjak remaja (diperankan oleh K. J. Apa). Bailey pun terus mempertanyakan apa sebenarnya esensi dari kehidupan ini. Namun, tepat ketika dia merasa sudah menemukan tujuan hidup, maut menjemputnya.

Jiwa Bailey kemudian bereinkarnasi menjadi jenis anjing yang berbeda. Kali ini, dia dilahirkan sebagai seekor anjing gembala Jerman bernama Ellie. Sesuai dengan kodratnya sebagai anjing pelacak, Ellie dipelihara oleh seorang polisi bernama Carlos (John Ortiz). Seperti ketika menjadi Bailey, Ellie pun terus mempertanyakan tujuan hidupnya.

Sayangnya, Ellie juga tidak bisa melawan takdir. Saat sedang bertugas menangkap penjahat bersama Carlos, dia tewas tertembak. Ellie kemudian kembali bereinkarnasi. Dan setelah itu mati lagi. Uniknya, dia masih bisa mengingat kehidupan-kehidupan sebelumnya meski sudah lahir dan mati berulang kali.

Pada reinkarnasinya yang keempat, Bailey ternyata bertemu kembali dengan pemiliknya yang pertama, si bocah Ethan, yang kini sudah menjadi om-om (diperankan oleh Dennis Quaid). Di kehidupan keempatnya inilah, dia baru menemukan jawaban apa sebenarnya tujuan hidup dari seekor anjing.

Seluruh kisah dari film ini memang diceritakan dari sudut pandang seekor anjing. Dialog-dialog yang berputar di dalam pikirannya pasti bakal membuat kita tertawa karena saking polosnya. Apalagi, yang mengisi suaranya adalah seorang komedian, Josh Gad. Sebelumnya, sempat beredar kabar bahwa inner voice si Bailey ini bakal diisi oleh Bradley Cooper.

Meski bergenre drama-komedi, bukan berarti A Dog's Purpose hanya berisi hal-hal lucu dan ringan. Secara cerita, film berdurasi 120 menit ini kabarnya juga cukup mengharukan. Terutama bagi para pemilik binatang peliharaan.

Sang sutradara, Lasse Hallstrom, yang sebelum ini sukses membuat seisi bioskop banjir air mata lewat Hachiko: A Dog's Story (2009), memang piawai menghasilkan karya yang menghibur, sekaligus mengaduk-aduk perasaan para penonton. Meski tidak semengharukan Hachiko, A Dog's Purpose ini dijamin tetap menyentuh.

Sayangnya, sebelum tayang di bioskop, film rilisan Universal Pictures ini sempat menuai kontroversi. Pada proses pembuatannya, terungkap sebuah video yang memperlihatkan seorang pelatih memaksa seekor anjing gembala Jerman masuk ke dalam kolam air berarus deras.

Setelah video tersebut tersebar, berbagai kecaman pun bermunculan, terutama dari organisasi-organisasi pecinta hewan. Bahkan, sempat ada petisi untuk memboikot dan tidak menonton film A Dog's Purpose di bioskop.

Amblin Entertainment, anak perusahaan DreamWorks Pictures, selaku rumah produksi, langsung memberi penjelasan resmi terkait dengan video pemaksaan terhadap anjing bernama Hercules tersebut. Mereka menyatakan, tim produksi sudah mengikuti protokol yang ketat untuk membuat lingkungan yang aman bagi binatang.

Pihak Amblin Entertainment mengakui, memang ada beberapa hari pelatihan di air agar Hercules nyaman dengan semua adegan yang akan diambil. Namun, saat itu mereka tidak melanjutkan pengambilan gambar karena si doggy-nya tidak ingin tampil. Jadi, tidak ada pemaksaan. Saat ini, Hercules dalam keadaan sehat dan bahagia.

Kontroversi video tersebut tampaknya juga berpengaruh terhadap respon dari para kritikus. Sejumlah situs review memberi A Dog's Purpose rating kurang positif. Meski demikian, secara box office, film yang dirilis di Amerika Serikat sejak pekan lalu ini sudah mengumpulkan pemasukan USD 30 juta, melampaui bujetnya.

***

A Dog's Purpose

Sutradara: Lasse Hallström
Produser: Gavin Polone
Penulis Skenario: W. Bruce Cameron, Cathryn Michon, Audrey Wells, Maya Forbes, Wally Wolodarsky
Berdasarkan: A Dog's Purpose by W. Bruce Cameron
Pemain: Dennis Quaid, Britt Robertson, Josh Gad, K. J. Apa, Juliet Rylance, John Ortiz, Kirby Howell-Baptiste, Peggy Lipton
Musik: Rachel Portman
Sinematografi: Terry Stacey
Penyunting: Robert Leighton
Produksi: Amblin Entertainment, Reliance Entertainment, Walden Media, Pariah Entertainment Group
Distributor: Universal Pictures
Durasi: 120 menit
Budget: USD 22 juta
Rilis: 27 Januari 2017 (Amerika Serikat), 3 Februari 2017 (Indonesia)

Ratings
IMDb: 3,8/10
Rotten Tomatoes: 34%
Metacritic: 43/100
CinemaScore: A


Preview Film: Sleepless (2017)


Saat dirilis pada tahun 2011, Sleepless Night mendapat respon sangat positif dari para kritikus. Sejumlah situs review juga memberi rating yang cukup tinggi untuk film Prancis berjudul asli Nuit Blanche tersebut.

Tahun ini, remake dari Nuit Blanche yang berjudul Sleepless dirilis oleh Open Road Films. Dengan mengusung para bintang Hollywood semacam Jamie Foxx, Michelle Monaghan, dan Gabrielle Union, film yang dibesut oleh sutradara asal Jerman, Baran bo Odar, ini berupaya untuk mengulang kesuksesan pendahulunya yang dari Prancis itu.

Kisah Sleepless berkutat pada sepasang polisi, Vincent Downs (Jamie Foxx) dan Sean Cass (T.I.), yang melakukan penyamaran selama dua tahun untuk meringkus gembong narkoba, Rob Novak (Scoot McNairy). Mereka kemudian mencuri 25 kilogram kokain yang akan dikirimkan ke boss mafia tersebut oleh pengusaha hiburan malam, Stanley Rubino (Dermot Mulroney).

Kebakaran jenggot karena pesanan boss-nya dicuri, Rubino kemudian menculik putra Downs yang bernama Thomas (Octavius J. Johnson). Tujuannya jelas. Nyawa Thomas ditukar dengan 25 kilogram kokain. Downs pun langsung panik dan berniat untuk mengembalikan barang haram yang dicurinya.

Namun, keadaan menjadi semakin pelik dengan keterlibatan seorang provost cantik bernama Jennifer Bryant (Michelle Monaghan), yang sudah sejak lama mencurigai dan ingin menangkap polisi yang dia anggap korup tersebut. Downs pun harus menghadapi dua pihak, provost dan bandar narkoba, dalam upayanya untuk menyelamatkan putranya. Mampukah dia melakukannya?

Seperti versi aslinya yang dari Prancis, Sleepless juga menyajikan banyak adegan laga, mulai perkelahian tangan kosong, menggunakan pisau, hingga baku tembak. Uniknya, semua kejadian menegangkan tersebut hanya terjadi dalam satu malam dan mengambil setting utama di sebuah night club.

Meski hanya berkutat di satu tempat, sutradara Baran bo Odar berusaha untuk membuat penonton agar tidak bosan. Sepanjang 95 menit durasi film, para penonton akan diajak untuk menebak-nebak mana polisi yang baik dan mana yang korup.

Sayangnya, setelah dirilis di Amerika Serikat pada 13 Januari 2017 yang lalu, Sleepless mendapat respon negatif dari para kritikus. Film berbujet USD 30 juta ini dianggap tidak menawarkan sesuatu yang baru dibandingkan film bertema crime drama lainnya. Twist ending-nya juga dinilai biasa saja dan tidak mengejutkan.

***

Sleepless

Sutradara: Baran bo Odar
Produser: Roy Lee, Adam Stone
Penulis Skenario: Andrea Berloff
Berdasarkan: Sleepless Night by Frédéric Jardin, Nicolas Saada, Olivier Douyère
Pemain: Jamie Foxx, Michelle Monaghan, Dermot Mulroney, David Harbour, T.I., Gabrielle Union, Scoot McNairy
Musik: Michael Kamm
Sinematografi: Mihai Mălaimare, Jr.
Penyunting: Robert Rzesacz
Produksi: Riverstone Pictures, Vertigo Entertainment
Distributor: Open Road Films
Durasi: 95 menit
Budget: USD 30 juta
Rilis: 13 Januari 2017 (Amerika Serikat), 3 Februari 2017 (Indonesia)

Ratings
IMDb: 5,6/10
Rotten Tomatoes: 14%
Metacritic: 33/100
CinemaScore: B+

February 03, 2017

Preview Film: Bleed for This (2016)


Vinny Paz memang bukan petinju yang terkenal di seantero dunia seperti halnya Julio Cesar Chavez, Oscar De La Hoya, Floyd Mayweather, Jr., ataupun Manny Pacquiao. Meski demikian, mantan juara dunia kelas ringan dan menengah ringan itu memiliki kisah hidup yang inspiratif untuk diangkat ke layar lebar.

Petinju bernama asli Vincenzo Edward Pazienza tersebut memang memiliki perjalanan hidup yang luar biasa. Pada 1991, saat masih berusia 29 tahun, Paz mengalami kecelakaan mobil. Lehernya patah dan terancam lumpuh. Para dokter pun memvonisnya tidak akan bisa bertinju lagi.

Namun, jiwa petarung dari pria asal Rhode Island, Amerika Serikat itu membuatnya tidak mudah menyerah. Petinju berjuluk The Pazmanian Devil tersebut tidak percaya pada vonis dokter. Tidak pernah terlintas di dalam benaknya untuk pensiun dari dunia adu jotos di usia yang masih relatif muda.

Sebulan setelah kecelakaan, Paz memulai kembali latihan fisik untuk memulihkan kondisinya. Dia melakukan peregangan otot, mengangkat beban, dan berlari. Setengah bercanda, pria yang kini berusia 54 tahun itu mengatakan bahwa dia tidak melawan nasehat dokter. Hanya saja, dia tidak memberitahu mereka apa yang dia kerjakan. Hehe..

Pada 15 Desember 1992, atau 13 bulan pasca kecelakaan, Vinny Paz akhirnya kembali naik ring melawan Luis Santana. Hebatnya, setelah bertarung selama 12 ronde, Paz dinyatakan menang angka. Itu adalah salah satu cerita comeback terbaik dalam sejarah tinju.

Kisah inspiratif Paz yang berhasil bangkit dari keterpurukan itulah yang kemudian diangkat menjadi sebuah film berjudul Bleed for This, yang mulai tayang di Indonesia pada hari Rabu (1/2) ini. Miles Teller menjadi pemeran utamanya, bersama dengan Aaron Eckhart, Katey Sagal, Ciaran Hinds, dan Ted Levine.

Teller, yang sebelum ini tampil sangat apik sebagai penabuh drum dalam Whiplash (2014), harus membentuk badan menjadi lebih berotot untuk perannya sebagai Vinny Paz. Bintang Fantastic Four (2015) itu mengaku menghabiskan setiap menit, setiap hari selama delapan bulan, agar bisa semirip mungkin dengan sosok petinju ortodoks tersebut.

Sebelum bermain di Bleed for This, berat badan Teller mencapai 85 kilogram dengan lemak tubuh 19 persen. Setelah berlatih keras selama delapan bulan, berat badannya menyusut hinggan 9 kilogram dan lemak tubuhnya hanya tinggal 6 persen saja. Namun, selama 24 hari proses syuting, berat badannya harus dinaikkan lagi sekitar 6,8 kilogram.

Teller juga mengaku sangat gugup saat harus memerankan karakter Vinny Paz. Ini adalah pengalaman pertamanya memerankan sosok yang benar-benar ada di dunia nyata, dan orangnya masih hidup. Melalui Bleed for This, Teller berharap Paz bisa melihat hidupnya sendiri, 25 tahun yang lalu.

Aktor lulusan Tisch School of Arts NYU itu menyatakan dirinya selalu kagum dengan orang yang berani menghadapi tantangan. Menurut Teller, Vinny Paz adalah sosok pemberani yang tidak menghindar ketika ada peluru atau pukulan yang akan menerpa, tapi malah menghampirinya.

Paz, yang kini sudah pensiun dari dunia tinju, mengaku sudah menonton Bleed for This. Melihat kisah dirinya dibawakan dengan baik oleh Miles Teller, dia menangis haru. Petinju dengan rekor 50 kali menang (30 di antaranya kemenangan KO) dan 10 kali kalah itu juga mengaku menyesali hidupnya selama ini.

Setelah berhasil comeback dari kecelakaan fatal, Paz memang kembali terbelit masalah. Hobinya berjudi membuatnya bangkrut. Dalam semalam, dia pernah menghabiskan USD 200 ribu. Selain itu, Paz juga pernah ditahan polisi karena beberapa kali kedapatan mabuk hingga melewati batas.

Untuk Bleed for This ini, Paz kabarnya mendapat honor USD 100 ribu karena mengizinkan kisah hidupnya diangkat ke layar lebar. Meski demikian, masa kelamnya sebagai penjudi dan tukang mabuk tidak akan ditampilkan. Film berdurasi 117 menit ini hanya menyoroti kisah Paz pasca kecelakaan hingga comeback luar biasanya ke ring tinju.

Sang sutradara, Ben Younger, menyatakan Bleed for This memang bertujuan untuk memberi inspirasi. Jadi, sisi negatif Vinny Paz sengaja tidak dimunculkan. Dia ingin para penonton merasakan hal yang sama dengannya, melihat sang tokoh utama bangkit dari keterpurukan demi sesuatu yang dicintainya.

Selain Miles Teller, aktor tenar lainnya yang bermain di film rilisan Open Road ini adalah Aaron Eckhart. Pemeran pelatih Vinny Paz, Kevin Rooney, itu mengaku sempat sedikit tertekan karena harus memerankan karakter berdasarkan kisah nyata, dan orangnya masih hidup. Bahkan, proses syuting juga dilakukan di tempat di mana mereka tinggal.

Setelah tayang perdana di 43rd Annual Telluride Film Festival di Colorado, Amerika Serikat pada 2 September 2016 yang lalu, Bleed for This mendapat sambutan hangat. Begitu juga setelah diputar di Busan International Film Festival di Korea Selatan, akting Miles Teller berhasil memukau para penonton. Bahkan, ada yang menjagokannya masuk nominasi Piala Oscar, meski akhirnya tidak kesampaian.

Sejumlah situs dan kritikus juga memberi rating yang cukup tinggi. Sayangnya, review positif tersebut tidak diikuti kesuksesan secara box office. Film berbujet USD 6 juta ini hanya mampu mengumpulkan pemasukan USD 5,5 juta secara global, alias tidak balik modal. Bleed for This tidak berdaya menghadapi Fantastic Beasts and Where to Find Them yang dirilis bersamaan di Amerika Serikat pada bulan November 2016 yang lalu.

***

Bleed for This

Sutradara: Ben Younger
Produser: Bruce Cohen, Emma Tillinger Koskoff, Chad A. Verdi, Noah Kraft, Pamela Thur, Ben Younger
Penulis Skenario: Ben Younger
Pengarang Cerita: Pippa Bianco, Angelo Pizzo, Ben Younger
Pemain: Miles Teller, Aaron Eckhart, Katey Sagal, Ciarán Hinds, Ted Levine
Musik: Julia Holter
Sinematografi: Larkin Seiple
Penyunting: Zac Stuart-Pontier
Produksi: Bruce Cohen Productions, Magna Entertainment, Sikelia Productions, The Solution Entertainment Group, Verdi Productions, Younger Than You
Distributor: Open Road Films
Durasi: 117 menit
Budget: USD 6 juta
Rilis: 2 September 2016 (Telluride), 18 November 2016 (Amerika Serikat), 1 Februari 2017 (Indonesia)

Ratings
IMDb: 6,9/10
Rotten Tomatoes: 71%
Metacritic: 62/100
CinemaScore: A-

Preview Film: Resident Evil: The Final Chapter (2016)


Secara finansial, Resident Evil adalah salah satu film adaptasi video game tersukses yang pernah dibuat. Tak tanggung-tanggung, franchise yang mengusung Milla Jovovich sebagai bintang utama itu sudah diproduksi hingga enam seri! Yang terbaru, Resident Evil: The Final Chapter, bakal tayang di Indonesia mulai hari Rabu (20/1) ini.

Sesuai dengan judulnya, Resident Evil: The Final Chapter juga bakal menjadi seri terakhir dari franchise rilisan Screen Gems tersebut. Setelah 15 tahun, sejak seri pertamanya pada 2002, para penggemar harus mengucapkan selamat tinggal pada Alice not in Wonderland. Petualangan cewek jagoan pembasmi zombie itu memang direncanakan bakal tamat kali ini.

Kisah The Final Chapter mengambil setting tiga pekan setelah kejadian di seri kelima, Resident Evil: Retribution (2012). Boss Umbrella Corporation, Albert Wesker (Shawn Roberts), yang di film sebelumnya bekerja sama dengan Alice (Milla Jovovich), kembali ke tabiatnya semula sebagai orang jahat. Dia mengkhianati Alice yang sedang berada di Washington, D.C., kota terakhir yang menjadi pertahanan para survivor dalam menghadapi zombie apocalypse.

Di ambang kepunahan umat manusia, Alice masih tetap berusaha mencari sumber utama persebebaran T-Virus, yang menjadi penyebab orang-orang berubah menjadi zombie. Satu-satunya cara baginya untuk menyelamatkan dunia adalah kembali ke tempat asalnya, Raccoon City, yang sudah menjadi kota mati.

Alice yakin, kemunculan para zombie tidak hanya disebabkan oleh Umbrella Corporation. Cewek yang lupa akan masa lalunya itu mendapat informasi rahasia bahwa jawaban yang ia inginkan hanya bisa diketahui dengan masuk kembali ke The Hive, tempat asal pembuatan T-Virus di Raccoon City. Mampukah Alice, yang kali ini juga dibantu oleh kawan-kawan lamanya, menuntaskan misi terakhirnya untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran?

Sang sutradara, Paul W. S. Anderson, yang juga merangkap sebagai penulis skenario, menyatakan bakal mengajak para penonton untuk flashback ke film pertama dengan membawa Alice dkk kembali ke The Hive. Melalui The Final Chapter ini, suami Milla Jovovich itu ingin membuat orang-orang merasa rindu dan bernostalgia dengan Resident Evil sejak awal hingga akhir.

Bagi yang sudah lupa, atau belum pernah menonton sebelumnya, film pertama Resident Evil yang dirilis pada tahun 2002 mengisahkan tentang kebocoran T-Virus di The Hive, laboratorium milik Umbrella Corporation. Akibatnya, semua manusia di sana berubah menjadi zombie.

Umbrella Corporation juga memiliki program kecerdasan buatan bernama Red Queen. Tugasnya adalah mencegah agar T-Virus tidak tersebar, termasuk dengan membunuh siapa pun yang ada di The Hive. Alice akhirnya berhasil menghentikan Red Queen, yang di The Final Chapter ini kembali muncul (diperankan oleh anak Milla Jovovich, Ever Gabo Anderson).

Dimatikannya Red Queen ternyata tidak menyelesaikan masalah. T-Virus malah menyebar ke Raccoon City dan membuat para penduduk menjadi zombie. Di film kedua, Resident Evil: Apocalypse (2004), Alice bertemu dengan polisi cantik bernama Jill Valentine (Sienna Guillory). Mereka kemudian bahu-membahu melawan Umbrella Corporation dan berhasil lolos dari Raccoon City.

Di film ketiga hingga kelima, yang berjudul Resident Evil: Extinction (2007), Afterlife (2010), dan Retribution (2012), cerita masih berkutat pada T-Virus yang semakin menyebar ke seluruh dunia. Umat manusia terancam punah. Selain itu, Alice juga masih terus diburu oleh Umbrella Corporation untuk dijadikan sebagai kelinci percobaan. Sempat ditangkap, dikloning, dan dijadikan cewek dengan kekuatan super, Alice kemudian berhasil melarikan diri.

The Final Chapter, seharusnya, menjadi jawaban atas misteri yang selama ini menyelubungi sosok Alice, Umbrella Corporation, Red Queen, dan T-Virus. Oleh karena itu, seri terakhir Resident Evil tersebut bakal membawa Alice kembali ke titik awal dari petualangan panjangnya.

Untuk menyajikan Raccoon City yang sudah berubah menjadi kota mati, tim produksi Resident Evil: The Final Chapter tidak menggunakan CGI (computer-generated imagery). Mereka melakukan syuting di Afrika Selatan. Di sana ada sebuah jalan tol yang terbengkalai. Suasananya menakjubkan dan tampak nyata, seperti kota yang sudah hancur beneran.

Selain Alice, Albert Wesker dan Red Queen, dua karakter lawas juga kembali muncul di film berdurasi 106 menit ini, yaitu Dr. Alexander Isaacs (Iain Glen) dan Claire Redfield (Ali Larter). Sementara itu, dua nama legendaris lainnya, Jill Valentine dan Rain Ocampo, yang dulu diperankan oleh Michelle Rodriguez, sudah tidak tampak lagi.

Bagi Ali Larter, The Final Chapter ini adalah film Resident Evil-nya yang ketiga setelah Extinction (2007) dan Afterlife (2010). MILF sexy dengan ukuran dada 32B itu mulai dikenal sejak membintangi Final Destination (2000) dan mencapai puncak kejayaan saat memerankan si kembar Niki Sanders dan Tracy Strauss di serial legendaris, Heroes (2006-10).

Bintang cewek lain yang bakal muncul adalah Ruby Rose, yang memerankan karakter baru bernama Abigail. Mantan VJ MTV asal Australia itu tahun ini juga membintangi xXx: Return of Xander Cage (sedang tayang), John Wick: Chapter 2-nya Keanu Reeves, dan Pitch Perfect 3.

Untuk menarik pasar Asia, Resident Evil: The Final Chapter juga menampilkan tokoh baru bernama Commander Lee, yang diperankan oleh Lee Joon-gi. Aktor asal Korea tersebut menjadi lawan main Milla Jovovich. Karena banyak melakukan adegan laga, dia mengaku harus berlatih untuk saling menyinkronkan gerakan dalam scene perkelahian dengan Milla.

Sementara itu, Jovovich, yang selalu tampil dalam enam film Resident Evil, mengaku tak menyangka bisa bertahan 15 tahun sebagai Alice. Baginya, karakter yang diciptakan oleh produsen video game Capcom itu sudah menjadi bagian dari dirinya sendiri. 

Bahkan, proses syuting The Final Chapter sebenarnya sempat ditunda karena aktris berusia 41 tahun itu hamil dan harus menunggu dia melahirkan. Milla Jovovich dan Resident Evil memang ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Setelah ini, para fans mungkin bakal merindukannya.

***

Resident Evil: The Final Chapter

Sutradara: Paul W. S. Anderson
Produser: Paul W. S. Anderson, Jeremy Bolt, Robert Kulzer, Samuel Hadida
Penulis Skenario: Paul W. S. Anderson
Berdasarkan: Resident Evil by Capcom
Pemain: Milla Jovovich, Ali Larter, Shawn Roberts, Ruby Rose, Eoin Macken, William Levy, Iain Glen
Musik: Paul Haslinger
Sinematografi: Glen MacPherson
Penyunting: Doobie White
Produksi: Constantin Film, Capcom Co, Ltd., Davis-Films, Don Carmody Productions, Impact Pictures
Distributor: Screen Gems
Durasi: 106 menit
Rilis: 23 Desember 2016 (Jepang), 25 Januari 2017 (Indonesia), 27 Januari 2017 (Amerika Serikat)

Ratings
IMDb: 6,4/10
Rotten Tomatoes: 41%
Metacritic: 54/100
CinemaScore: B

Preview Film: Monster Trucks (2016)


Tahun lalu, Lucas Till sempat menjadi buah bibir setelah diumumkan sebagai pemeran utama dalam serial reboot MacGyver. Aktor berusia 26 tahun itu resmi menjadi penerus Richard Dean Anderson untuk memerankan sosok jenius yang banyak akal tersebut.

Sebelum menjadi MacGyver, Lucas Till lebih dulu dikenal oleh publik Hollywood saat muncul di Hannah Montana: The Movie (2009). Namun, namanya baru benar-benar tenar setelah memerankan Alex Summers, alias Havok, dalam franchise reboot X-Men (2011-2016).

Tahun 2016 kemarin, selain kembali tampil sebagai mutan ganteng di X-Men: Apocalypse, Lucas Till juga membintangi The Disappointments Room dan Monster Trucks. Film yang disebut terakhir itu baru mulai tayang di Indonesia hari Jumat (27/1) ini.

Film Monster Trucks sendiri tergolong sebagai film live-action yang dipadu dengan animasi. Kisahnya tentang persahabatan seorang cowok ababil, Tripp Coley (Lucas Till), dengan seekor monster laut lucu yang bernama Creech.

Tripp, yang masih duduk di bangku SMA, berhasrat untuk memiliki sebuah kendaraan yang bisa membawanya pergi meninggalkan kota tempat tinggalnya, North Dakota, yang ia anggap sepi dan membosankan. Satu-satunya sumber kehidupan di kota tersebut adalah sebuah perusahaan minyak, Terravex Oil Company.

Suatu ketika, saat sedang mengebor minyak di lepas pantai, tiga ekor monster laut ikut tersedot dan mengakibatkan kerusakan serta kebakaran pada kilang minyak. Terravex pun langsung menangkap para monster laut tersebut. Namun, ada satu di antara mereka yang berhasil lolos dan melarikan diri.

Monster malang itu kemudian masuk ke sebuah tempat penghancuran mobil usang dan bersembunyi di dalam sebuah truk rusak milik Tripp, yang kebetulan memang belum ada mesinnya. Meski semula kaget dan takut, Tripp akhirnya menjadi terkesan setelah si monster polos tersebut mampu membuat truk rongsoknya melaju kencang tanpa mesin!

Tripp pun langsung melihat si monster, yang kemudian ia beri nama Creech, sebagai jalan keluarnya untuk pergi dari North Dakota. Namun, rencana Tripp tidak berjalan mulus. Terravex ternyata masih mengejar si monster. Mampukah Tripp dan Creech meloloskan diri dari buruan perusahaan jahat tersebut?

Selain Lucas Till, Monster Trucks juga mengusung Jane Levy yang berperan sebagai Meredith, seorang guru muda sexy yang ditaksir oleh Tripp. Tahun lalu, aktris dengan ukuran dada 32B itu sempat naik daun setelah membintangi Don't Breathe, salah satu film thriller yang paling mencekam sepanjang 2016.

Yang menarik, di beberapa situs, masih tercantum nama Cinta Laura sebagai pemeran karakter Ariel di Monster Trucks. Beberapa waktu yang lalu, memang sempat beredar kabar aktris cantik asal Indonesia itu terlibat dalam film rilisan Paramount Pictures ini. Namun, hingga kini, tidak ada lagi berita lanjutannya. Apakah Cinta Laura batal tampil atau adegannya dihapus? Entahlah.

Dari segi cerita, Monster Trucks memang tergolong sederhana. Jika dilihat dari trailer-nya, penampakan Creech pun menggemaskan, tidak menyeramkan seperti monster-monster pada umumnya. Dengan bumbu komedi, film berdurasi 104 menit ini tampaknya memang ditujukan sebagai tontonan untuk anak-anak dan keluarga.

Sebelum tayang secara worldwide pada 13 Januari 2017 yang lalu, Monster Trucks sempat mengalami penundaan jadwal rilis hingga tiga kali. Awalnya, film yang diproduksi oleh Nickelodeon ini direncanakan tayang pada 29 Mei 2015, namun kemudian digeser oleh Paramount Pictures karena berdekatan dengan Mission: Impossible - Rogue Nation (2015)-nya Tom Cruise.

Dengan bujet jumbo, hingga USD 125 juta, Monster Trucks diharapkan bisa sukses secara finansial. Sayangnya, setelah tayang secara global selama dua pekan, film besutan sutradara Chris Wedge ini hanya mampu mengumpulkan pemasukan USD 30 juta. Paramount pun diperkirakan bakal rugi besar. Beberapa situs review dan kritikus juga memberikan rating yang kurang positif.

***

Monster Trucks

Sutradara: Chris Wedge
Produser: Mary Parent, Denis L. Stewart
Penulis Skenario: Derek Connolly
Pengarang Cerita: Matthew Robinson, Jonathan Aibel, Glenn Berger
Pemain: Lucas Till, Jane Levy, Amy Ryan, Rob Lowe, Danny Glover, Barry Pepper, Holt McCallany
Musik: Dave Sardy
Sinematografi: Don Burgess
Penyunting: Conrad Buff IV
Produksi: Paramount Animation, Nickelodeon Movies, Disruption Entertainment
Distributor: Paramount Pictures
Durasi: 104 menit
Budget: USD 125 juta
Rilis: 21 Desember 2016 (Prancis), 13 Januari 2017 (Amerika Serikat), 27 Januari 2017 (Indonesia)

Ratings
IMDb: 5,4/10
Rotten Tomatoes: 32%
Metacritic: 41/100
CinemaScore: A


Preview Film: The Warriors Gate (2016)


Luc Besson adalah filmmaker legendaris asal Prancis. Karya-karya pria berusia 57 tahun tersebut, baik yang dia sutradarai maupun produseri, sudah menghiasi layar lebar selama lebih dari tiga dekade terakhir. Beberapa di antaranya yang terkenal adalah Subway (1985), Nikita (1990), Leon: The Professional (1994), The Fifth Element (1997), franchise Taxi (1998-2007), franchise The Transporter (2002-2015), franchise Taken (2008-2014), dan Lucy (2014).

Tahun ini, film besutan Besson yang paling ditunggu-tunggu adalah Valerian and the City of a Thousand Planets. Namun, sebelum film sci-fi yang diadaptasi dari komik asal Prancis itu dirilis pada bulan Juli nanti, para moviemania akan lebih dahulu dihibur oleh The Warriors Gate, yang diproduseri oleh Besson, dan mulai tayang di Indonesia sejak hari Selasa (24/1) yang lalu.

The Warriors Gate sebenarnya merupakan film yang digarap oleh EuropaCorp, rumah produksi milik Besson, dan Fundamental Films yang berasal dari Tiongkok. Ini adalah film ketiga yang mereka produseri bersama setelah The Transporter: Refueled (2015) dan Nine Lives (2016).

Karena sering bekerja sama itulah, Fundamental Films akhirnya mengakuisisi 27,9% saham EuropaCorp pada bulan September 2016. Valerian and the City of a Thousand Planets, yang dibintangi oleh Dane DeHaan dan Cara Delevingne, digadang-gadang bakal menjadi proyek terbesar mereka dengan bujet USD 180 juta!

Sementara itu, The Warriors Gate sendiri berkisah tentang seorang ababil asal Amerika bernama Jack (Uriah Shelton) yang secara ajaib pindah ke Tiongkok di masa lampau. Dengan menggunakan keahliannya bermain video game, Jack harus membantu para pendekar kung fu untuk melindungi kerajaan mereka dari serangan pasukan bar-bar yang dipimpin oleh Arun the Cruel (Dave Bautista).

Sang bintang utama, Uriah Shelton, sebelum ini sudah pernah bermain di film Lifted (2011). Aktor yang baru berusia 19 tahun itu juga pernah membintangi serial The Glades (2010-2013) dan tampil di serial Girl Meets World sejak tahun 2014.

Selain Shelton, The Warriors Gate juga mengusung nama beken Dave Bautista. Mantan pegulat profesional yang usianya hampir setengah abad itu sudah berpengalaman membintangi berbagai film action. Namun, karirnya mulai menanjak sebagai aktor laga papan atas setelah memerankan Drax the Destroyer di Guardians of the Galaxy (2014).

Pemain lainnya yang punya nama cukup beken adalah Sienna Guillory. MILF dengan ukuran dada 34B itu memerankan ibu Jack yang bernama Annie. Aktris asal Inggris tersebut mulai terkenal setelah berperan sebagai Jill Valentine di franchise Resident Evil (2002-2016)-nya Milla Jovovich.

Karena The Warriors Gate ber-setting di Tiongkok, dan diproduksi oleh studio asal Tiongkok, maka bintang-bintang Mandarin pun ikut tampil. Yang paling menarik perhatian adalah Ni Ni. Aktris berusia 28 tahun itu mulai naik daun setelah membintangi The Flowers of War (2011) besutan sutradara legendaris, Zhang Yimou. Bersama dengan Angelababy, Yang Mi, dan Liu Shishi, Ni Ni dinobatkan sebagai New Four Dan Actresses, alias empat aktris Mandarin paling top, pada 2013.

Dengan bujet cukup besar, hingga USD 48 juta, The Warriors Gate diharapkan bisa meraup untung. Sayangnya, setelah dirilis di Tiongkok pada 18 November 2016 yang lalu, film berdurasi 108 menit mendapat rating kurang positif dari situs IMDb.

***

The Warriors Gate

Sutradara: Matthias Hoene
Produser: Mark Gao, Luc Besson
Penulis Skenario: Luc Besson, Robert Kamen
Pemain: Mark Chao, Ni Ni, Uriah Shelton, Dave Bautista, Sienna Guillory, Francis Ng, Ron Smoorenburg, Dakota Daulby
Produksi: EuropaCorp, Fundamental Films
Durasi: 108 menit
Budget: USD 48 juta
Rilis: 18 November 2016 (Tiongkok), 24 Januari 2017 (Indonesia)

Ratings
IMDb: 5,4/10