July 13, 2009

Hukum 80:20 a la Vilfredo Pareto

Pemerataan kekayaan adalah topik yang tidak ada habisnya untuk dibicarakan dan selalu menimbulkan pro dan kontra. Hal inilah yang akhirnya mendorong seorang ekonom Italia pada awal abad yang lalu, tepatnya tahun 1906, mencetuskan sebuah hukum yang saat ini kita kenal sebagai Hukum Pareto, sesuai dengan nama pencetusnya, Vilfredo Pareto.

Dalam hukum tersebut, Pareto mengatakan bahwa 80% kekayaan yang ada hanya dikuasai oleh 20% orang di negaranya. Sedangkan 20% sisanya dikuasai oleh 80% orang lainnya. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Italia, tetapi hampir di seluruh dunia. Bahkan, kerap kali ditemui perbedaan yang lebih ‘njomplang’ lagi daripada angka 80:20 tersebut.

Kali ini, saya tidak akan mempermasalahkan tentang perbedaan atau pemerataan tersebut. Yang ingin saya tanyakan, Anda ingin berada di bagian yang mana? Bagian minoritas yang menguasai 80% kekayaan atau bagian mayoritas yang hanya menguasai 20% sisanya? Sebuah pertanyaan bodoh karena saya yakin Anda semua ingin menjadi bagian minoritas tersebut, bukan?

Nah, di sinilah menariknya. Banyak orang yang ingin menjadi bagian minoritas, tetapi apa yang dilakukan tidak sama seperti orang-orang yang sudah berada di bagian itu. Apakah yang Anda lakukan masih sama dengan bagian 80% yang mayoritas atau sudah berbeda? Bila Anda ingin masuk dalam lingkaran ‘elite’ 20%, maka Anda harus berpikir dan bertindak seperti mereka juga.

Bagaimana cara berpikir dan bertindak seperti orang-orang yang tergabung dalam ‘liga super’ tersebut? Kalau Anda masih belum tahu, maka menjadi PR Anda untuk mencari tahunya. Saya tidak akan memberi tahu karena sampai saat ini pun saya masih mencari tahu dan tidak akan pernah berhenti mencari tahu.

Bagaimana cara untuk mencari tahu? Mudah saja. Bergaul dengan mereka. Tetapi, saya tidak kenal mereka? Untuk bergaul, Anda tidak harus mengenal mereka. Anda cuma harus mencari tahu cara berpikir mereka, cara berbicara mereka, cara bersikap mereka, dsb. Dari yang saya amati, mereka sudah cukup membuka diri. Anda bisa baca buku-buku tentang mereka, baik yang ditulis sendiri atau yang ditulis orang lain. Anda bisa ikuti seminar-seminar di mana mereka menjadi pembicaranya. Bahkan, kalau cukup beruntung, mereka bisa Anda temukan di Facebook.

Jadi, untuk menjadi bagian lingkaran ‘elite’ 20% tersebut, Anda perlu banyak belajar dari orang-orang yang sudah menjadi anggotanya. Anda memerlukan mentor yang bisa membimbing Anda untuk memasuki kelompok minoritas tersebut. Kabar baiknya, mentor atau pembimbing itu ada di mana-mana kalau Anda mau mencarinya. Tidak sulit, bukan?

Menjadi Pemimpin yang Berjiwa Besar a la Al Gore

Al Gore adalah Wapres Amerika di zaman Bill Clinton memerintah sejak tahun 1992. Setelah masa bakti Clinton berakhir pada tahun 2000 dan tidak bisa mencalonkan diri lagi karena sudah dua periode menjabat, Al Gore-lah yang melanjutkannya sebagai calon dari Partai Demokrat pada pilpres tahun 2000. Kompetitor Al Gore saat itu adalah calon dari Partai Republik, George W. Bush, Gubernur Texas, yang juga putra dari Presiden Amerika periode 1988-1992, George Bush, Sr.

Pilpres tahun 2000 dikenal sebagai salah satu pilpres yang paling kontroversial dalam sejarah politik di Amerika. Setelah pemungutan suara diadakan, hasilnya menunjukkan Al Gore memimpin jumlah perolehan suara secara nasional (popular vote), tetapi kalah dalam jumlah perwakilan pemilih (electoral vote). Karena sistem pilpres di Amerika menggunakan sistem electoral vote, bukan popular vote seperti di Indonesia, maka George W. Bush-lah yang berhak menjadi presiden terpilih.

George Bush bisa memimpin jumlah electoral vote karena dia menang di negara-negara bagian lebih banyak daripada Al Gore, sehingga jumlah wakil-wakilnya yang berhak memilih juga lebih banyak. Sedangkan Al Gore, meskipun kalah electoral vote-nya, tetapi jumlah suaranya secara nasional lebih banyak daripada George Bush karena Al Gore menang di bebarapa negara bagian yang berpenduduk padat.

Kalau Anda bingung, kasusnya mirip (meskipun tidak sama) seperti pilpres tahun 1999 di Indonesia. Saat itu pemenang pemilu dengan suara terbanyak adalah PDIP, tetapi presiden yang dipilih oleh para wakil rakyat di MPR adalah Gus Dur dari PKB, bukan Megawati dari PDIP.

Masalah tidak berhenti sampai di situ. Ada indikasi kecurangan terjadi, yaitu di negara bagian Florida, yang gubernurnya adalah adik George Bush. Saat itu, di Florida, George Bush menang tipis atas Al Gore. Kalau Gore menang di Florida, bisa dipastikan electoral vote-nya akan mengungguli George Bush. Sistem electoral vote adalah winner takes all. Artinya, bila Gore menang di Florida, seluruh kursi perwakilan dari Florida akan menjadi jatahnya.

Kubu Gore menengarai ada kecurangan dan mengajukan gugatan ke pengadilan. Mereka mati-matian berusaha karena inilah harapan satu-satunya bagi Gore. Setelah bersidang, pengadilan memutuskan untuk mengadakan penghitungan suara ulang (bukan pemungutan suara ulang) alias re-count khusus di negara bagian Florida (mirip kasusnya pilgub Jawa Timur, antara Sukarwo vs. Khofifah). Drama menegangkan di seputar penghitungan suara ulang ini juga sempat dibuat film-nya dengan judul Re-Count.

Setelah re-count dilakukan, hasilnya tetap memenangkan Bush dengan keunggulan yang sangat tipis. Kubu Gore tetap tidak puas dan ingin mengajukan gugatan lagi. Tetapi, di sinilah kenegarawanan seorang Al Gore muncul. Gore mengatakan kepada tim suksesnya untuk berhenti.

“Cukup sudah. Bila kita terus mempermasalahkan hal ini, negara yang akan rugi,” kata Gore.

“Terima kasih atas usaha keras kalian. Saya tidak akan melupakannya dan tidak akan bisa membalasnya. Suatu kebanggaan bisa bekerja sama dengan orang-orang seperti Anda semua,” ucap Al Gore kepada jajaran tim suksesnya.

Setelah itu, Al Gore mengucapkan selamat kepada presiden terpilih, George W. Bush, dan mengatakan akan mendukungnya untuk memimpin Amerika. Sebuah sikap seorang negarawan yang berjiwa besar sudah ditunjukkan oleh Al Gore.

Anda semua bisa membayangkan bila ada di posisi seperti Al Gore. Jumlah pemilihnya terbanyak, tetapi tidak bisa menjadi presiden, dan ada indikasi dicurangi. Jujur saja, saya takut membayangkan kalau kasus seperti ini terjadi di Indonesia. Akankah para elite politik di Indonesia bisa bersikap seperti Gore yang tetap berjiwa besar meski dicurangi sekali pun?

Saat ini, di usia yang belum terlalu tua, Al Gore sudah pensiun dari dunia politik dan berkecimpung sebagai aktivis lingkungan hidup yang sangat concern untuk mencegah kerusakan bumi oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.

Bagi saya, Al Gore adalah seorang idola. Dia memang tidak pernah menjabat sebagai presiden, tetapi namanya layak disejajarkan dengan negarawan-negarawan besar dari Amerika lainnya, seperti: George Washington, Thomas Jefferson, Benjamin Franklin, Abraham Lincoln, Ulysses Grant, Theodore Roosevelt, Franklin Delano Roosevelt, Dwight Eisenhower, John F. Kennedy, dan Barrack Obama.

Saya merindukan sosok pemimpin seperti Al Gore di Indonesia. SBY sudah pernah menunjukkan lewat kata-katanya bahwa beliau akan berjiwa besar dan mengucapkan selamat kepada yang menang. Tetapi, sayangnya, SBY tidak akan pernah bisa membuktikan kata-katanya tersebut karena SBY belum pernah kalah.

Sumantri dan Sukasrana

Dalam dunia pewayangan, ada sebuah cerita yang mengisahkan tentang dua bersaudara, Sumantri dan Sukasrana. Sumantri adalah seorang pemuda yang sakti, gagah, tampan, santun dan halus budi pekertinya. Sedangkan adiknya, Sukasrana, adalah seorang pemuda dengan fisik yang kurang sempurna, buruk rupa, cebol (kerdil), bandel, tetapi sangat jujur, baik hati dan sakti mandraguna. Sukasrana juga sangat mencintai kakaknya. Kemana pun Sumantri pergi, Sukasrana yang buruk rupa ini selalu mengikutinya.

Suatu ketika, ada seorang putri kerajaan yang sangat cantik jelita. Sumantri jatuh cinta kepadanya dan ingin melamarnya. Sang putri menerima lamaran Sumantri, tetapi dengan satu syarat, yaitu: Sumantri harus membuatkan Taman Sriwedari yang indah dan megah untuknya dalam waktu satu malam saja.

Sumantri pun kebingungan. Membuat sebuah taman dalam waktu semalam hampir mustahil baginya. Kesaktiannya belum sehebat itu. Harapan satu-satunya hanyalah kepada Sukasrana, adiknya yang sakti mandraguna. Akhirnya, Sukasrana pun berhasil membuat Taman Sriwedari yang disyaratkan hanya dalam tempo satu malam. Sumantri pun berhasil mempersunting sang putri idamannya.

Keberhasilan ini sangat membuat gembira Sumantri. Tetapi, selain rasa gembira, terbersit kekhawatiran di hatinya. Dia takut orang-orang, terutama sang putri, mengetahui bahwa yang membuat taman itu bukanlah dirinya, tetapi adiknya yang buruk rupa, Sukasrana. Selain itu, dia juga malu dengan kelakuan Sukasrana yang tidak santun dan berbudi pekerti seperti dirinya. Apalagi, Sumantri juga akan dicalonkan menjadi raja menggantikan mertuanya. Singkat kata, dengan terpaksa Sumantri mengusir adiknya dan memintanya untuk tidak mengikutinya lagi.

Dengan berat hati, Sukasrana menuruti perintah sang kakak yang sangat dicintainya. Perasaannya terluka. Tetapi, di dalam hatinya yang terdalam, ia bahagia karena sudah berhasil membantu kakak yang disayanginya. Ia rela berkorban asal kakaknya bahagia. Betapa mulia hati seorang Sukasrana. Akhirnya, si buruk rupa yang berhati emas pun pergi mengembara, sedangkan si gagah yang mempesona berhasil menjadi raja.

Beribu-ribu tahun kemudian, Sumantri dan Sukasrana pun mengalami reinkarnasi atau kelahiran kembali. Pada saat itu, Sumantri menjadi seorang calon kepala desa dan Sukasrana menjadi calon wakilnya di sebuah desa yang bernama Sriwedari. Mereka berdua akhirnya berhasil terpilih sebagai kepala desa dan wakilnya untuk periode delapan tahun ke depan.

Selama delapan tahun, mereka bekerja sama membangun desa Sriwedari. Di sini, Sukasrana sangat berperan karena dia adalah pemimpin partai yang mempunyai suara terbanyak di desanya. Sedangkan Sumantri adalah pemimpin partai baru yang saat itu belum terlalu besar pendukungnya.

Berbagai macam kebijakan atau ide Sukasrana, yang memang cerdas dan cepat dalam mengambil keputusan, sangat bermanfaat bagi rakyat desanya. Desa Sriwedari pun tumbuh menjadi desa yang makmur. Semua warga memuja mereka berdua, terutama Sumantri, yang banyak menjadi idola kaum muda di desanya. Meskipun cenderung ragu-ragu dan sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan, Sumantri berhasil memikat warga dengan posturnya yang rupawan, gagah mempesona, budi pekertinya, sopan santunnya, dan keahliannya dalam berbicara.

Berbeda dengan Sukasrana, meskipun banyak ide-ide yang keluar dari pemikirannya, warga kurang memberi apresiasi kepadanya. Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos tanpa tedeng aling-aling dan panampakan fisiknya yang tidak rupawan ala Budi Anduk, membuatnya tidak terlalu populer di kalangan warga desa. Selain itu, karakternya yang selalu bertindak cepat dan penuh inisiatif, pada akhirnya membuat Sumantri, sang kepala desa, resah dan khawatir. Sumantri merasa kesulitan mengendalikan ‘kelincahan’ Sukasrana.

Singkat cerita, delapan tahun pun berlalu dengan cepatnya. Musim pemilihan kepala desa sudah di depan mata, yang sebelumnya didahului dengan pemilihan anggota BPD (Badan Perwakilan Desa). Kali ini, partai Sumantri yang meraih kemenangan. Partai yang dipimpinnya, yaitu Partai Bintang Desa, berhasil menguasai perolehan kursi anggota BPD, mengungguli partai Sukasrana, Partai Beringin Raya.

Dengan modal politik yang dimilikinya, Sumantri berhasrat maju kembali pada pemilihan kepala desa (pilkades) selanjutnya. Tetapi, kali ini tanpa Sukasrana disampingnya. Sumantri memutuskan untuk mencari calon wakil kepala desa yang baru karena dia merasa sudah ‘kerepotan’ dengan berbagai ‘manuver’ yang dilakukan oleh Sukasrana selama menjabat sebagai wakil kepala desa periode sebelumnya. Dia merasa sudah memelihara anak macan, dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk menyingkirkannya.

Sukasrana, yang sebenarnya sangat berhasrat untuk berdampingan kembali dengan Sumantri, terpaksa gigit jari. Dia tidak ingin berpisah dengan Sumantri karena selama ini sudah merasa bisa bekerja sama dengan baik membangun desa. Tetapi, apa mau dikata. Kenyataan berkata lain. Akhirnya, dengan berat hati, Sukasrana pun memutuskan untuk mencalonkan diri menjadi kepala desa, berhadap-hadapan dengan sang incumbent, Sumantri.

Sebuah keputusan nekat sudah diambil oleh Sukasrana. Dengan modal kepopuleran yang sangat rendah, kecil peluangnya untuk terpilih dan mengalahkan Sumantri sebagai kepala desa. Tetapi, hal itu tidak menyurutkan langkahnya. Baginya, membangun desa adalah sebuah kewajiban dan sebuah amanah yang sangat mulia. Dia juga yakin, warga desa akan mendukungnya kalau sudah tahu siapa dia sebenarnya.

Singkat cerita, pilkades pun dilangsungkan. Dan hasilnya sesuai dengan yang diprediksikan sebelumnya. Sejarah seperti terulang kembali. Sriwedari tetap menjadi milik Sumantri yang akhirnya terpilih kembali menjadi kepala desa, melanjutkan pemerintahan dengan didampingi wakilnya yang baru. Sedangkan Sukasrana kembali menjadi orang biasa yang tidak pernah berhenti mencintai dan membaktikan hidup demi desanya.

Inilah kehidupan. Orang yang berjasa belum tentu dihargai oleh setiap manusia. Tetapi, saya yakin, orang yang berjasa akan mendapat pahalanya sendiri dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Don’t Judge a Book by It’s Cover

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan berjalan dengan malu-malu menuju kantor pimpinan Harvard University. Mereka meminta janji.

Sang sekretaris universitas langsung mendapat kesan bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge. "Kami ingin bertemu pimpinan Harvard," kata sang pria lembut. "Beliau hari ini sibuk," sahut sang sekretaris cepat. "Kami akan menunggu," jawab sang wanita.

Selama empat jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi nyatanya tidak. Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk melaporkan kepada sang pimpinan. "Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan pergi," katanya pada sang pimpinan Harvard.

Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka. Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul.

Sang pimpinan Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut. Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini. Bolehkan?" tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang pimpinan Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia tampak terkejut. "Nyonya," katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal. Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan."

"Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat, "Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan sebuah gedung untuk Harvard." Sang pimpinan Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung?! Kami memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard."

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang pimpinan Harvard senang. Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang. Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita buat sendiri saja?" Suaminya mengangguk. Wajah sang pimpinan Harvard menampakkan kebingungan.

Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi, melakukan perjalanan ke Palo Alto, California. Di sana mereka mendirikan sebuah universitas yang menyandang nama mereka, sebuah peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard. Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu universitas favorit kelas atas di AS.

(Sumber: dari sebuah mailing-list)

Dalam menilai sesuatu, seringkali kita seperti pimpinan Harvard itu, acap silau oleh baju dan lalai. Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya kadang sangat tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai karena baju-baju acap menipu.

Demikian juga yang saya amati ketika sedang berbelanja buku. Saya mendapati buku-buku yang menjadi best seller di toko buku kebanyakan adalah buku-buku yang mempunyai cover menarik dan ditulis oleh orang-orang yang sudah mempunyai nama ‘besar’ dan populer. Saya tidak mengatakan buku-buku yang ‘menarik’ tersebut tidak bermutu. Yang ingin saya kritisi, sebagai pembaca, kadang-kadang saya juga menemukan sebuah buku yang ternyata sangat bagus, menurut penilaian saya, tetapi kurang laku dan letaknya ‘nyelempit’ di rak buku yang tidak mudah dijangkau. Setelah saya teliti, ternyata buku tersebut ditulis oleh orang yang ‘tidak dikenal’ dan penerbitnya dari ‘antah-berantah’ serta covernya ‘asal-asalan’. Intinya, secara kemasan sangat tidak menarik, tetapi brilian isinya.

Fenomena ini juga terjadi di situs jejaring sosial facebook. Teman-teman saya di situs itu sangat beragam, mulai dari politisi, artis, penulis, motivator, profesional, pengusaha, wartawan, guru, dosen, atlet, ibu rumah tangga, rekan bisnis, teman sekolah, teman kuliah, dsb. Pokoknya, mulai dari orang-orang yang terkenal sampai orang-orang yang tidak saya kenal sebelumnya.

Dari sekian ratus teman-teman saya di dunia maya tersebut, banyak yang mem-posting catatan atau sekedar meng-update statusnya setiap hari. Nah, saya amati, bila yang mem-posting catatan atau status adalah teman-teman yang mempunyai nama ‘besar’, maka dengan segera puluhan bahkan ratusan orang yang menyatakan ‘suka’ dan memberikan komentar. Sedangkan bila yang mem-posting teman-teman yang ‘biasa’, seringkali tidak ada satu pun yang menyatakan ‘like’ atau memberi ‘comment’. Padahal, posting-an teman-teman yang ‘biasa’ ini acapkali lebih bermutu (menurut saya) daripada posting-an teman-teman dengan nama ‘besar’ tersebut. Tetapi, bukan berarti posting-an nama-nama ‘besar’ itu tidak bagus, lho...

Dalam hal menghargai sesuatu atau seseorang, tampaknya kita memang harus banyak belajar dari Amerika. Pada bulan November 2008 lalu, bangsa tersebut sudah membuktikan dirinya mampu memberikan penilaian yang objektif, bukan subjektif. Ya, dengan terpilihnya Barrack Obama sebagai presiden keturunan Afro-Amerika pertama, menjadi tanda bahwa mayoritas orang-orang Amerika sudah mementingkan substansi (pokok, inti, atau isi yang terkandung di dalam) daripada figur atau citra luar seorang pemimpin.

Ada yang mengatakan, dan saya setuju sekali dengan pendapat ini, kalau kasus seperti Barrack Obama vs. John McCain terjadi di Indonesia, bisa dipastikan McCain yang akan menang. Mayoritas orang-orang di Indonesia masih sangat dipengaruhi oleh figur daripada gagasan/ide dalam menentukan pilihannya. McCain, seorang kulit putih yang sepuh tapi masih ganteng dan gagah itu pasti lebih digemari. Apalagi, dia adalah pensiunan tentara, pahlawan perang dan berpengalaman puluhan tahun dalam dunia politik. Rambutnya yang putih beruban juga semakin meneguhkan dirinya sebagai seorang ‘begawan’ yang bijaksana. Bisa dipastikan figur seperti ini akan ‘membius’ pemilih-pemilih di Indonesia. Bandingkan dengan Obama yang kurus, keriting, berkulit hitam (dari kaum minoritas), anak Menteng (asalnya dari negeri antah-berantah), masih muda, dan lebih minim pengalaman politik daripada McCain (kita bisa mengibaratkan posisi Obama saat itu sebagai keturunan Tionghoa dan beragama Buddha yang mencalonkan diri menjadi capres Indonesia). Bisa-bisa akan muncul pernyataan dari tim kampanye pesaingnya: “Kaum minoritas belum saatnya menjadi presiden Indonesia.”

Di Indonesia, kuantitas; bungkus; kemasan; baju; penampilan; dan citra (image) masih sangat dominan mempengaruhi opini masyarakat dibandingkan kualitas; substansi; dan isi (content). Elektabilitas SBY yang jauh lebih tinggi dibandingkan pesaing-pesaingnya dalam pilpres 2009 (menurut hasil quick count) membuktikan teori ini. Dalam hal pencitraan atau ‘jaga image’, SBY memang sangat brilian dan unggul jauh dibanding kompetitornya. Penampilannya yang selalu rapi dan necis, fisiknya yang gagah, sikapnya yang santun, gaya bicaranya yang sopan dan terstruktur rapi, sifatnya yang pendiam dan terlihat ‘berwibawa’, menjadi ‘bungkus’ yang memikat banyak orang, apalagi ditunjang dengan sumber daya politik yang besar karena posisinya sebagai incumbent, membuat SBY menjadi sosok yang ‘undefeatable’ alias tidak terkalahkan dalam ‘membirukan’ Indonesia. Padahal, dalam soal isi (content) atau gagasan yang ditawarkan, saya pikir SBY tidak lebih baik dibandingkan lawan-lawannya. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan kalau ada calon lain yang menawarkan program yang lebih berkualitas, SBY tetap akan terpilih karena orang-orang sudah ‘terbius’ dengan pesonanya.

Dari contoh-contoh di atas, saya menyimpulkan bahwa kemasan memang penting, tetapi ada yang lebih penting lagi, yaitu isi. Saya juga mulai untuk membiasakan diri belajar dari SIAPA PUN dan APA PUN karena yang saya cari adalah substansinya, bukan figurnya. Apa yang dibawa, bukan siapa yang membawa. Yang cantik, belum tentu menarik dan yang menarik, belum tentu baik. Nama-nama ‘besar’ dan populer tersebut memang baik (dan menarik), tetapi mereka bukan Tuhan yang sempurna. Mereka juga bisa membuat kesalahan. Jadi, berhentilah mengkultuskan individu seakan-akan mereka semua adalah dewa. Berikan apresiasi atau penghargaan secara objektif kepada yang layak, siapa pun orangnya. Don’t judge a book by it’s cover. Jangan menilai (isi) buku berdasarkan sampulnya saja, tetapi baca dulu sampai tuntas, setelah itu baru beri penilaian sesuai dengan perspektif Anda masing-masing. Kalau positif, lanjutkan! Kalau negatif, HANYUTKAN!

Sedikit tambahan, dalam mengapresiasi sesuatu atau seseorang, jangan takut untuk mengkritik nama-nama ‘besar’ tersebut bila (menurut Anda) ada yang tidak sesuai karena kritik itu membangun. Kritik itu seperti obat, pahit, tapi dibutuhkan asal dosis dan waktunya tepat.

Saya sendiri memang suka mengkritik, tetapi saya lebih suka dikritik karena kritikan tersebut saya anggap sebagai peringatan bahwa saya masih seorang manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Bayangkan, kalau saya tidak pernah dikritik, mungkin saya akan menjadi orang yang pongah dan sombong. Mungkin saya akan merasa diri saya sudah matang. Dan kabar buruknya, buah yang sudah matang selanjutnya akan menjadi busuk, entah karena membusuk dengan sendirinya atau karena sudah melalui saluran pencernaan yang mengkonsumsinya. Lebih baik dikritik daripada dibiarkan membusuk. Lagi pula, makin dikritik, makin menarik. Lebih kritis, lebih dinamis. Betul?

July 06, 2009

Negarawan Sejati

Kemarin dalam Debat Capres terakhir, hanya satu kandidat yang ketika ditanya apa yang akan dilakukan bila kalah, jawaban pertamanya, "Saya akan memberikan ucapan selamat kepada yang menang..... dan akan meminta semua pendukung saya mendukung beliau yang menang." Ini negarawan namanya, dan cuma satu yang menyatakan itu.

Di atas adalah posting-an status salah seorang teman saya di facebook beberapa hari yang lalu.

Saya menghormati (bukan berarti sepakat) pendapat yang mengatakan bahwa salah seorang kandidat atau para kandidat yang lain adalah seorang negarawan karena saat ini tidak ada kriteria yang jelas tentang apa itu negarawan (ada yang bisa membantu?). Yang sangat tidak saya sepakati adalah pendapat yang HANYA menilai kenegarawanan itu didasarkan atas ucapan saat debat.

Menurut saya, masih terlalu dini menyebut para kandidat tersebut seorang negarawan kalau HANYA berdasarkan kata-katanya (sekedar retorika belaka) karena seorang negarawan dilihat dari tindakan dan perbuatannya. Saya baru akan menyebut mereka NEGARAWAN sejati kalau sudah benar-benar KALAH, lalu mengucapkan selamat kepada si pemenang dan meminta semua pendukungnya untuk mendukung yang menang, bukan pura-pura, bukan basa-basi, kalau perlu koalisi (lalu siapa yang jadi oposisi?). Masalahnya, apakah itu akan menjadi kenyataan? Tampaknya gelar negarawan itu masih harus disimpan cukup lama karena gelar presiden-lah yang sepertinya (bila menang) lebih pantas disandang selama lima tahun mendatang.

Yang pasti, dalam perspektif saya, gelar negarawan adalah gelar yang MULIA (setara dengan PAHLAWAN) dan hanya PANTAS disandang oleh seseorang yang sudah membaktikan hidup-matinya kepada bangsa dan negara lewat bidangnya masing-masing, tanpa sekali pun tergiur oleh kekuasaan atau pun kekayaan (kalau pun harus berkuasa, itu karena keadaan yang memaksa dan mengharuskan mereka naik tahta – tidak ada orang lain yang pantas dan bisa).

Gajah Mada adalah negarawan sejati karena seumur hidupnya dibaktikan kepada kejayaan Majapahit tanpa mengejar kenikmatan duniawi (sumpah palapa benar-benar dilakukan, bukan hanya sekedar slogan kampanye), termasuk membuang jauh-jauh ambisi untuk menjadi raja (padahal dia punya peluang untuk itu).

Mahatma Gandhi adalah negarawan sejati karena sepanjang hayatnya dibaktikan untuk kemerdekaan India tanpa keinginan untuk menjadi presiden atau pun perdana menteri (padahal banyak pihak yang mendukungnya) dan tetap hidup sederhana (miskin, lebih tepatnya) sampai maut menjemputnya.

Che Guevara adalah negarawan sejati karena rela mengorbankan nyawanya demi memperjuangkan kebebasan dan memimpin rakyat miskin di negara-negara Amerika Latin (padahal dia, yang sebenarnya adalah seorang dokter, sudah diberi jabatan ‘empuk’ sebagai salah seorang menteri oleh Fidel Castro di Kuba, tetapi dia menolaknya dan memilih untuk hidup sengsara dengan bergerilya di hutan belantara sampai akhir hidupnya).

Nelson Mandela adalah negarawan sejati, meskpun dia pernah menjabat sebagai presiden Afrika Selatan yang pertama, sebelumnya dia sudah merelakan dirinya mendekam selama 27 tahun di penjara rezim apartheid dan dia siap mati demi menghapuskan rasialisme dari bumi Afrika.

Bisma Dewabrata (dalam Epos Mahabharata) adalah negarawan sejati karena sudah mengorbankan haknya untuk naik tahta demi keutuhan Astinapura (semula dia adalah anak tunggal dan putra mahkota kerajaan Astinapura). Dia pun rela mengorbankan jiwanya demi kejayaan Astinapura dalam perang Bharatayudha di Kurusetra.

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah negarawan sejati (bukan politisi, karena itu gagal terus dalam berpolitik) karena sudah mengabdikan hidupnya demi membela keutuhan NKRI, Pancasila, UUD 1945 dan Bhinneka Tunggal Ika. Dengan fisiknya yang sudah sakit-sakitan, dengan kejujurannya yang ceplas-ceplos tanpa retorika, beliau masih tetap mengayomi yang lemah dan membela yang benar, bukan yang bayar, meskipun terus-terusan digembosi dan diganggu oleh pihak yang tidak menyukainya (atau penguasa yang takut kalah populer, lebih tepatnya). Beliau naik tahta bukan karena keinginannya, tetapi karena dipaksa, dan dilengserkan juga dengan paksa oleh para politisi.

Demikian juga dengan Bung Karno, Bung Hatta dan Sutan Sjahrir, mereka adalah beberapa dari sederet negarawan-negarawan sejati lainnya yang pernah dimiliki oleh Indonesia.

Pertanyaan saya: Adakah di antara para kandidat dalam ‘pesta’ demokrasi tahun 2009 ini yang PANTAS disejajarkan dengan negarawan-negarawan sejati seperti yang saya sebutkan di atas? Terserah opini Anda masing-masing. Bagi saya, BELUM (bukan berarti tidak) ada yang pantas. Mereka baru sebatas politisi, bukan negarawan sejati. Entah kalau di kemudian hari.

Kesalahan Fatal

Ada seorang suami yang baik hati, bertanggung jawab, dan selalu memenuhi semua kebutuhan keluarganya. Suatu hari, si suami ini membuat sebuah kesalahan dengan berselingkuh dengan wanita lain. Ini adalah sebuah kesalahan fatal menurut sang istri. Saya tidak menyalahkan kalau si istri sangat sakit hati atas tindakan suaminya tersebut, meskipun banyak orang menyarankan dia untuk mengampuninya, mengingat sederet kebaikan yang sudah pernah dilakukan suaminya selama ini. Bagi Anda para wanita, bila pasangan Anda selingkuh, itu adalah kesalahan yang sangat menyakitkan, bukan? Sebuah kesalahan fatal yang harus dibayar dengan sangat mahal dan tidak mudah dimaafkan.

Begitu juga dengan kasus seperti ini: Mungkin Anda mengenal seseorang yang menurut Anda orang tersebut baik, saleh, religius, dsb, tetapi ternyata kehidupannya (misalnya secara ekonomi) memprihatinkan. Sedangkan ada orang lain yang sepertinya tidak terlalu baik, tidak religius, dsb, tetapi kehidupannya serba berkecukupan. Mungkin Anda bertanya-tanya, apakah Tuhan sudah bertindak tidak adil? Kenapa orang yang ‘baik’ dibuat menderita sedangkan orang yang ‘kurang baik’ hidupnya berlebihan?

Ini adalah jawaban versi saya (yang belum tentu benar menurut Anda): Orang baik yang berkekurangan tersebut mungkin sudah pernah melakukan SEBUAH kesalahan fatal dalam hidupnya, mungkin tidak banyak orang yang tahu dan hanya Tuhan yang tahu perbuatan buruknya tersebut. (Dalam ajaran Buddha, ini disebut karma buruk, atau mungkin sangat buruk. Bahkan, bisa saja kesalahan itu dibuat dalam kehidupan sebelumnya karena para pengikut Buddha mempercayai adanya reinkarnasi atau tumimbal lahir).

Sedangkan orang yang ‘kurang baik’ tetapi berkecukupan tersebut, mungkin tidak pernah membuat sebuah kesalahan fatal, hanya ‘ribuan’ kesalahan-kesalahan kecil dan sudah pernah melakukan SEBUAH perbuatan yang amat sangat baik dalam hidupnya atau kehidupan sebelumnya (bila Anda percaya reinkarnasi), di mana mungkin tidak banyak orang yang tahu dan hanya Tuhan yang tahu perbuatan baiknya itu.

Contoh lainnya: Andaikata Anda mempunyai dua orang anak. Keluarga Anda adalah keluarga yang ‘tidak kaya’ dan sederhana. Anak yang pertama sangat sayang dan perhatian kepada Anda dan dia selalu menghargai pemberian Anda. Suatu saat, anak pertama ini terlibat dalam suatu kasus kejahatan, misalnya membunuh dan memutilasi orang (seperti kasusnya Rian Jombang). Sedangkan anak yang kedua tergolong anak yang ‘bersih’ dan tidak pernah berbuat suatu kejahatan. Tetapi, suatu saat dia menyakiti hati Anda dengan mengatakan Anda orang tua miskin yang tidak bertanggung jawab karena tidak bisa memberikan banyak hal kepadanya. Kira-kira mana yang lebih Anda sayangi, anak pertama yang mutilator tersebut atau anak kedua yang sudah pernah menyakiti hati Anda? Mutilasi atau pembunuhan adalah sebuah kejahatan besar di muka hukum. Tetapi, di hati Anda sebagai orang tua, mungkin tindakan anak kedua lebih pantas dihukum seberat-beratnya.

Sudah menjadi persepsi umum di dalam masyarakat bahwa kesalahan-kesalahan besar adalah perbuatan yang illegal dan melanggar hukum, seperti membunuh, memperkosa, merampok, mencuri, mengkorupsi uang rakyat, mengedarkan narkoba, melacurkan diri, mencemarkan nama baik seseorang, dll, yang sering menjadi headline di media massa. Tetapi, tidak banyak yang menyadari bahwa sebuah perbuatan yang kita anggap ‘sepele’, seperti kemalasan, ketidakadilan, kemunafikan, kebohongan, ketidakjujuran, ketidaksetiaan, dsb, seringkali lebih berakibat fatal dan menyakitkan bagi orang-orang tertentu daripada rentetan penyakit masyarakat seperti yang saya sebutkan di atas.

Wah, kalau begitu kita harus menjadi manusia yang tanpa cacat sedikit pun? Tidak. Bukan itu yang saya maksud. Sebagai manusia, kita pasti membuat banyak kesalahan karena tidak ada manusia yang sempurna. Yang harus kita pahami, sebuah kesalahan, meskipun cuma sekali, tetapi kalau menyakitkan, akan fatal akibatnya. Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Berhati-hatilah, jangan sampai membuat orang lain, terutama orang-orang yang mencintai kita, sakit hati karena kesalahan fatal yang kita buat. Lebih baik membuat seribu kesalahan kecil daripada satu kesalahan fatal. Seribu kesalahan kecil bisa ditebus dengan satu kebaikan besar. Tetapi, satu kesalahan fatal sulit dilunasi dengan apa pun, bahkan dengan seribu kebaikan besar sekali pun.

Nah, bagi Anda yang mungkin sudah pernah melakukan sebuah kesalahan fatal, jangan berkecil hati terlebih dahulu dengan tulisan saya di atas. Ambil hikmahnya. Jadikan sebagai pembelajaran untuk memperbaiki kehidupan Anda. Orang yang menyadari dan mengakui kesalahannya adalah orang yang patut diberi kesempatan kedua. Dan yakinlah, meskipun tidak ada orang yang mau memaafkan, harapan akan selalu ada karena Anda masih memiliki Tuhan. Dengan bertobat, saya percaya Anda masih bisa terselamatkan karena Tuhan bukan manusia yang tidak mudah memaafkan.

PS:
Ada sebuah film lawas tahun 80’an berjudul Fatal Attraction yang bercerita tentang perselingkuhan dan dibintangi (kalau tidak salah) oleh Michael Douglas (lawan main Sharon Stone dalam Basic Instinct) dan Kim Bassinger. Mungkin bisa menjadi bahan pelajaran bagi kita semua.

Kebebasan atau Keamanan?

Bila diharuskan untuk memilih, mana yang Anda pilih antara bebas atau aman? Saya tahu ini adalah sebuah pilihan yang sulit karena setiap orang, kalau bisa, memilih dua-duanya, bebas DAN aman. Kabar buruknya, Anda tidak bisa melakukannya karena mereka adalah dua hal berbeda yang tidak bisa dinikmati bersama.

Anda tahu, tempat yang paling aman di dunia adalah tempat yang paling tidak bebas. Penjara, seperti di Pulau Nusakambangan, adalah tempat yang paling aman, karena itu namanya ‘supermaximum security’ alias keamanan supermaksimum. Jadi, rasa aman yang Anda dapatkan harus dibayar dengan ketidakbebasan. Demikian juga sebaliknya, rasa bebas yang Anda nikmati harus ditebus dengan ketidakamanan. Ini adalah sebuah hukum alam yang tidak bisa diganggu gugat.

Nah, kembali pada soal pilihan di atas, mana yang akan Anda pilih? Sebuah penelitian menunjukkan bahwa 80% orang memilih keamanan daripada kebebasan (beberapa penelitian yang lain menunjukkan angka yang lebih tinggi, mencapai di atas 90%). Oleh karena itu, jangan heran bila saat ini banyak orang yang terlihat bebas, tapi sebenarnya mereka hidup di dalam ‘penjara’ pilihannya sendiri. Keamanan seolah-olah sudah menjadi candu yang membius banyak orang untuk melupakan kebebasan.

Berapa banyak orang yang sepanjang hayatnya bertahan menjadi karyawan, padahal di dalam hatinya yang terdalam, mereka tidak ingin seumur hidup menjadi orang gajian? Sangat banyak sekali, bukan? Mereka ‘terpaksa’ menjadi pegawai karena lebih memilih ‘rasa aman’ dibandingkan dengan ‘rasa bebas’ yang ditawarkan bila mereka berwirausaha secara mandiri. Mereka lebih memilih untuk tergantung pada ‘bos’ daripada menjadi ‘bos’ bagi diri sendiri. Mereka semua sudah menciptakan ‘Nusakambangan’ bagi dirinya sendiri. Apakah itu menyenangkan? Sungguhkah mereka ingin terus melanjutkan seperti itu? Apakah pekerjaan yang mereka benci sungguh satu-satunya harapan bagi mereka? Coba lihat ke sekitar. Siapa pun mereka, kebebasan di sisi yang lain pasti tersedia. Lanjutkan memilih yang aman atau berubah memilih yang bebas? Ini semua adalah soal PILIHAN.

Yang juga menjadi tanda tanya besar bagi saya, kenapa saat ini banyak orang Indonesia yang memilih aman, padahal dulu bangsa Indonesia sebenarnya sudah memilih kebebasan? Tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan Pancasila sebagai dasar negara, UUD 1945 sebagai konstitusinya, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pemersatu bangsa. Proklamasi Kemerdekaan itulah yang menjadi simbol pilihan bangsa kita. Bagi para founding fathers (para pendiri bangsa) dan para pemuda-pemudi Indonesia saat itu, kemerdekaan atau kebebasan adalah HARGA MATI yang tidak bisa digadaikan dengan apa pun, termasuk keamanan (nyawa masing-masing).

Kalau bangsa ini memilih aman, waktu itu kita sudah menyerah kepada sekutu (Belanda). Bila hal itu kita lakukan, mungkin saat ini kita sudah menjadi negara persemakmuran Belanda (seperti halnya Malaysia yang menjadi negara persemakmuran Inggris sampai sekarang). MUNGKIN kita bisa menjadi ‘sedikit’ lebih maju seperti Malaysia, bila dikuasai oleh Belanda, tetapi yang pasti, kita tidak akan bebas.

Saat ini juga, bila kita masih ingin memilih yang aman, kita bisa melanjutkan ketergantungan kita pada pihak asing, melanjutkan penambahan hutang-hutang luar negeri, melanjutkan penyerahan asset-asset dan kekayaan negara kepada pihak asing daripada mengelolanya sendiri, melanjutkan apatisme, melanjutkan ketidakmandirian, melanjutkan pekerjaan kita sebagai karyawan seumur hidup, dsb. Apakah kita ingin terus seperti ini? Saya percaya ada di antara kita yang ingin berubah, sebagian kecil yang ingin bebas dan mandiri di antara sebagian besar yang masih ingin meringkuk dalam zona nyaman dan aman serta melanjutkan ketergantungan kepada orang lain.

Saya sendiri, dengan penuh kesadaran, MEMILIH untuk menjadi bagian minoritas yang berpihak pada kebebasan. Konsekuensinya, ‘rasa’ aman dan nyaman yang saya korbankan. Memang, terdengar sangat idealis, tetapi, dalam perspektif saya, ‘rasa’ aman ibarat ekstasi yang membuai, menawarkan kenikmatan ‘semu’, dan akhirnya akan merusak sel-sel syaraf di dalam otak saya karena sebenarnya TIDAK ADA YANG AMAN di dunia ini. Yang NYATA hanyalah kebebasan dan tidak ada yang lebih berharga dibandingkan kebebasan. Saya juga tidak akan menukar kebebasan dengan apa pun. Dan saya sangat bahagia dengan pilihan saya tersebut, karena andai saya memilih hidup yang aman, saya tidak akan pernah tahu bagaimana nikmatnya kebebasan.